Di saat Rajan larut dalam pikirannya sendiri tak lama suara ketukan di pintu membuat Rajan dan Lara menolehkan pandangannya lalu keduanya saling melempar pandangan bingung karena seingat Lara dan Rajan tidak ada orang yang datang di saat seperti ini.
"Loh? Ketukan pintu ya itu, Ra? Emang siapa yang mau jenguk lu? Bukannya tadi gue di kabarin cuma Luruh aja yang ke sini ya? Terus yang mengetuk pintu itu siapa? Mommy sama daddy lu nanti malam kan, Lara? Lah ini masih belum terlalu malam, harusnya bukan daddy sama mommy lu ya? Itu siapa dong?" ujar Rajan bingung.
"Seingat gue juga emang cuma Luruh aja yang ke sini, Rajan! Terus itu siapa dong? Ini bukan jam pemeriksaan gue?! Jangan bilang itu orang yang berniat gak baik ya? Duh apaan sih! Kok gue jadi gak tenang begini ya? Palingan cuma orang lewat aja mungkin ya?" ucap Lara gelisah.
Dalam diam keduanya merasa kebingungan hingga tanpa aba-aba apapun pintu terbuka dengan lebar dan terlihatlah orang yang mengetuk pintu dan ternyata adalah Giran yang menatap Lara dengan pandangan sendu.
Rajan yang melihat kehadiran Giran membuat pemuda itu berdiri di hadapan Lara sebab ia tidak ingin gadis yang ia cintai kembali menangisi hidupnya di saat ia sedang dalam masa pemulihan jadi sebisa mungkin Rajan memperingatkan Giran untuk pergi saja dari sini.
"Ternyata lu ya, Giran? Ada perlu apa gue ke sini hah?! Lara gak butuh lu jadi sebaik lu pulang aja karena gue gak akan main-main terlebih saat ini dia butuh istirahat yang cukup setelah luka yang lu perbuat ke dia! Sekali lu berani menginjak kaki lu ke sini udah pasti gue bawa lu pergi dari sini jadi jangan buang-buang tenaga lu dah!!" tutur Rajan serius.
Sayangnya Giran justru tetap saja berani masuk ke ruang perawatan Lara seperti ada hal yang memang ingin ia sampaikan pada gadis itu sedangkan Rajan sendiri tidak ingin jika Lara terluka lagi hanya karena pemuda itu menginginkan sesuatu darinya.
"Terserah lu bawa gue ke mana! Itu urusan nanti yang akan gue urus belakangan! Sekarang ada hal yang mau gue bicarain sama Lara jadi sebaiknya lu tau diri dah! Toh lu gak di butuhin di sini mending lu pergi duluan dah daripada gue yang ngusir dengan serampangan," ujar Giran datar.
"Gue gak di butuhin kata lu? Jelas-jelas Lara butuh gue karena emang gue yang diminta Luruh sama keluarganya untuk jagain Lara! Jadi sebaiknya lu pulang dari sini sekarang juga karena gue gak mau Lara terluka lagi sama orang macam lu! Pintu keluarnya di sana!" ucap Rajan tegas.
Entah mengapa suasana saat ini terasa begitu dingin hingga membuat Lara melerai Rajan dan Giran sebab mereka sedang berada di rumah sakit sementara Rajan berusaha memperingati Lara untuk tak terpengaruh lagi dengan ucapan pemuda itu.
"Udah, Giran! Rajan! Berhenti berdebat begini! Kalian lupa apa?! Ini tuh di rumah sakit jadi kalian harusnya gak boleh bertindak begini! Kamar gue emang cuma ada gue, tapi mana tau suara lu berdua terdengar ke luar! Seharusnya kalian gak perlu sampe berdebat tau gak!" ujar Lara serius.
"Gue tuh gak bermaksud berdebat sama dia, Ra! Gue khawatir aja kalau dia akan mempengaruhi lu lagi, Lara! Asli gue gak mau melihat lu terluka hanya karena ucapan Giran yang menjebak dan mengambil keuntungan pribadi dari lu, Ra! Tolong dengarkan gue kali ini," tutur Rajan khawatir.
Giran yang merasa tidak memerlukan Rajan di antara mereka membuatnya memancing hal yang seharusnya bisa mengusir Rajan sayangnya pemuda itu justru menyahutinya dengan santai dan tak lama perdebatan terjadi di antara keduanya.
"Mulut serampangan siapa itu hah?! Mempengaruhi apanya! Mana pernah gue mengambil hal yang bukan milik gue! Lain kali pikir dulu sebelum berbicara omong kosong begini! Lagian lu siapanya sih sampai rempong begini! Bersikap seolah-olah cuma lu aja yang benar di sini! Gak punya kaca ya lu, Rajan!!" omel Giran kesal.
"Kenapa emangnya? Lu gak terima! Mulut gue yang ngomong nih, mana pernah kata lu? Mau gue sebutin satu-satu nih?
Gue rempong? Wajar gue diberi tanggung jawab melindungi Lara! Lah lu siapa? Datang-datang ngoceh begini! Sepertinya lu yang butuh kaca," sahut Rajan santai.
"Emang orang gak waras mana yang terima di tuduh begini hah?! Sini lu maju biar gue kuncir tuh mulut lu yang serampangan itu!! Tanggung jawab apanya! Paling lu cuma gabut doang makanya baikin dia kan! Gue siapa? Lu tanya Lara dah gue ini siapanya dia! Lu ngapain membalikkan ucapan orang apa lu gak merasa malu gitu hah!!" maki Giran marah.
"Bukannya lu emang orang gak waras itu ya, Giran?! Sini kalau berani! Baku hantam kita! Jangan pernah lu samain gue sama lu tau gak! Gue bukan lu dan seharusnya yang malu di sini lu karena masuk tanpa izin dan sekarang lu berbicara omong kosong begini! Benar-benar memuakkan sekali ya lu," balas Rajan datar.
Lara yang tidak menyukai hal ini membuat gadis itu menengahi perkelahian dua pria yang tidak seharusnya bersikap kekanak-kanakan seperti ini sedangkan Rajan yang tak ingin meninggalkan Lara sendirian lagi mau tau mau ia memohon pada Lara untuk mempercayainya.
"Astagfirullah!! Apa kalian gak ngerti di omong pelan ya? Daritadi udah gue bilang berhenti ya harusnya kalian gak perlu sampai ngomel-ngomel begini! Kalian tuh terlalu tua untuk bersikap kekanak-kanakan tau gak! Sekarang kalian yang pergi atau gue yang pergi nih!" ucap Lara serius.
"Tolong lu jangan pergi dari sini, Ra! Gue juga gak akan pergi kemanapun! Karena gue gak mau lu terluka sendirian jadi gue akan menemani lu di saat seperti ini! Percaya sama gue, Ra! Jangan biarin dia bertingkah semuanya lagi! Ini bukan pertama kalinya dia melukai lu jadi tolong buka mata lu lebar-lebar, Ra!" pinta Rajan khawatir.
Mendengar permintaan Rajan sontak saja membuat Giran jelas-jelas menolak ucapan tersebut sedangkan Lara yang merasa jika ucapan Rajan ada benarnya lantas membuatnya membiarkan Rajan di sini toh Giran harus pergi dari sini setelah ia selesai berbicara jadi Giran tak perlu repot-repot mengurusi keinginannya.
"Ungkit aja terus masa lalu orang lain! Kayak lu gak punya masa lalu aja! Semua orang pernah salah dan gue berhak untuk memperbaiki kesalahan gue! Jadi gak usah bersikap paling benar dah lu! Gue percaya sama lu, Lara! Lu pasti bisa berpikir dengan benar ya kan!" sindir Giran kesal.
"Sayangnya gue lebih percaya sama Rajan, Giran! Apa yang di ucapkan Rajan memang ada benarnya juga! Untuk itu Rajan tetap di sini dan lu harus pergi setelah mengatakan hal yang mau lu bilang ke gue?! Selain daripada itu lu gak perlu repot-repot mengurusi apa yang gue mau toh sejak awal lu hidup dengan jalan lu sendiri tanpa mikirin gue kan," sahut Lara serius.
Ucapan gadis itu kali ini benar-benar berhasil membuatnya kehilangan kata-kata yang biasa ia gunakan untuk membuat Lara takut padanya dan kini semua itu berubah sementara Rajan tidak lupa memperingatkan Giran untuk memanfaatkan waktunya atau ia pergi saja daripada pemuda itu melamun seperti ini.
"Dia sungguhan Lara? Baru kali ini dia berhasil membuat gue kehilangan kata-kata yang biasa gue ucapkan untuk melawannya! Rasanya gue seperti berhadapan dengan gadis lain dan gue gak kenal sama sekali dengan Lara yang berubah jadi berani seperti ini dah!" batin Giran terkejut.
"Bagus ya lu dikasih kesempatan malah melamun begitu?! Harusnya lu menggunakan waktu yang di kasih Lara dengan sebaik mungkin atau lebih baik lu pergi aja sekarang daripada kita lihat orang yang bengong begini buat apaan! Lara butuh istirahat jadi jangan buang-buang waktu Lara untuk beristirahat tau gak!" tutur Rajan tegas.