Keduanya larut dalam perasaan mereka masing-masing hingga tak lama ponsel Luruh terdengar berdering membuat gadis itu mengangkat panggilan telepon tersebut dan ternyata orang yang menelpon adalah Axton yang khawatir padanya.
"Halo, Luruh? Lu masih di rumah sakit kan? Lu lagi ngapain sekarang? Hm? Tolong katakan sama gue kalau lu baik-baik aja kan ya? Asli gue gak tenang dan kepikiran sama lu nih, nanti balik biar gue jemput aja sekalian gue jelasin kesalah pahaman ini ya? Lu mau nitip apa biar gue bawain sekalian ke sana," ujar Axton khawatir.
Sebenarnya Luruh tidak ingin bertemu dengan pria itu untuk sementara hanya saja kakaknya mengusap-usap punggung tangan adiknya lembut sambil menatap Luruh hinga mau tidak mau ia menyahuti Axton dengan santai seolah-olah hati Luruh tak terluka sedikitpun.
"Iya masih di rumah sakit kok! Lagi nemenin kak Lara, iya gue baik-baik aja kok! Udah fokus aja dulu di sana toh masalah tadi bisa dibicarain nanti! Gue gak mau nitip apa-apa jadi lu gak perlu beli-belian buat gue! Lagian nanti juga mau makan di luarkan? Mau beli apa lagi kalau mau makan ya makan aja gak apa-apa kok," sahut Luruh santai.
Sayangnya Axton yang menyadari jika istrinya berusaha tegar di hadapannya membuat pemuda itu menenangkan Luruh dan tak lama manajer cafenya meminta untuk membahas mengenai perkembangan cafe selama beberapa hari ini.
"Perempuan kalau ditanya jawabnya gak apa-apa pasti ada sesuatu dibalik itu, lu gak perlu tegar di hadapan gue karena lu bisa menyerahkan segala beban yang terpendam ke gue kok Luruh! Yaudah kalau lu gak mau beli apa-apa nanti gue beliin coklat aja ya? Bohong kalau lu gak kenapa-kenapa jadi gue mau menenangkan hati yang mungkin lagi sedih," tutur Axton lembut.
"Pak Axton! Maaf jika ucapan saya menganggu telepon anda pak, tolong luangkan waktu pak Axton sebentar karena ada yang mau di bahas mengenai perkembangan cafe selama beberapa hari ini! Mohon bantuan dan kerja sama ya pak," ucap manajer cafe serius.
"Baiklah tunggu sebentar nanti saya akan mengurusnya," sahut Axton datar.
Tanpa mengatakan apapun panggilan telepon diakhiri sedangkan Luruh hanya bisa menangis dan mengeluarkan segala perasaannya yang tak pernah Lara lihat sebelumnya, jujur Lara juga merasa sedih saat melihat adiknya seperti ini.
"Mungkin dia jujur perihal apa yang terjadi, hanya saja sikap manisnya dan segala perhatian yang seperti hanya menyayangi aku saja bahkan lebih menyakitkan dari sebuah kebohongan?! Aku tidak sekuat kakak! Kalau boleh aku jujur aku tak sanggup menahan rasa sakit ini kak cuma gak mungkin juga aku mundur begitu saja," tangis Luruh sendu.
"Bukan hal seperti ini yang ingin kakak lihat, Luruh! Kakak ikut merasa sedih karena sudah tak bisa membahagiakanmu sekarang orang yang kakak percaya justru membuatmu menangis hebat begini?! Sepertinya keinginan kakak terlalu egois untukmu ya? Maaf karena kamu harus menderita hanya demi mengikuti ucapan kakak yang payah ini," batin Lara iba.
Bukan seperti ini yang ingin Lara lihat pada adiknya, ia ingin membahagiakan adiknya dan kini entah mengapa hatinya menjadi ragu sedangkan Rajan berusaha menghibur kedua gadis yang sudah ia anggap lebih dari teman ini.
"Terkadang hal yang tak terduga selalu hadir untuk menguatkan jadi kalian tidak perlu bersedih atas apa yang terjadi lagipula Narunna bisa saja menyimpulkan pikirannya sendiri tanpa tau hal yang sebenarnya di alami Axton! Untuk itulah kalian bisa tenang sedikit ya," ucap Rajan lembut.
"Satu-satunya alasan aku berani memutuskan hal ini karena aku pikir Luruh akan bahagia dan Axton juga telah berjanji membahagiakan adik mungilku kan?! Lantas mengapa malah jadi begini? Sepertinya pikiran aku terlalu konyol ya? Lalu sekarang harus bagaimana? Narunna sih benar-benar tak berperasaan sekali ya," batin Lara gelisah.
Sayangnya baik Lara maupun Luruh tidak menolehkan pandangannya sedikitpun hingga Rajan bersandar pada dinding yang ada samping jendela dengan tatapan kosong pada langit di atas sana sambil mengatakan hal yang Rajan ketahui entah di dengar oleh mereka atau tidak.
"Tak ada yang bisa lari dari luka ketika memulai cinta, Luruh! Mungkin sekarang kamu masih tak mempercayai hal ini! Tak masalah toh aku hanya ingin bilang bahwa cinta itu tak hanya tentang bahagia saja! Tangis dan sakit bahkan remuk sekalipun adalah bentuk dari cinta yang kadang selalu kita abaikan saat pikiran kita tertuju pada kebahagiaan saja jadi jangan mudah percaya pada ucapan orang lain yang ingin melihat kamu bersedih," tutur Rajan datar.
Seketika Luruh berhenti menangis dan ia mempertanyakan hal yang ia rasa sangat tidak cocok dengan apa yang Rajan katakan barusan sedangkan Rajan justru menyahuti ucapan gadis itu santai sebab hanya dirinya yang paham dengan perasaan itu.
"Kak Rajan ini bicara apaan sih?! Siapa juga yang mencintai Axton! Aku tuh sedih karena dia udah tau salah malah baik-baikin aku! Kenapa dia bisa berhati sedingin itu sama aku! Eh kakak malah berbicara omong kosong begini sih!! Kak Rajan paham maksud aku gak sih? Emang kakak ngerti gimana rasanya jadi aku ini?" tanya Luruh sebal.
"Barusan kakak bilang mungkin sekarang kamu masih tak mempercayai hal ini jadi wajar kalau kamu masih menyangkal ucapan kakak gak masalah kok, dari beberapa orang yang pernah terluka sepertinya hanya kakak yang paham dengan perasaan itu Luruh! Mengerti? Kakak sudah lebih dari mengerti dan lebih ke arah terima konsekuensinya! Sudah sekarang kamu sabar dan lalui saja dengan tenang ya," sahut Rajan santai.
Entah mengapa mendengar ucapan Rajan seolah memberi angin segar untuk hati Luruh dan tak lama ada pesan masuk dari Axton yang mengatakan jika ia sudah sampai di parkiran jadi pria itu meminta Luruh untuk bergegas pulang.
"Sepertinya kak Rajan benar ya? Kalau begitu mungkin aku harus lebih sabar lagi ya kak? Terima kasih untuk nasihat kakak yang seperti angin segar untukku ya kak," gumam Luruh lega.
"Urusan cafe sudah selesai jadi sekarang aku sudah sampai di parkiran, Luruh! Ayok kita pulang sebab kamu tidak boleh terlalu kelelahan di rumah sakit loh," pesan Axton lembut.
"Barusan Axton mengirimkan pesan kalau dia udah di parkiran kak, kalau begitu Luruh pulang dulu ya kak Rajan! Kak Luruh! Tolong makan dan istirahat yang cukup ya kak Lara! Tenang saja aku baik-baik saja kok kak! Assalamualaikum kak," ucap Luruh pamit.
Setelah kepergian Luruh, Rajan hanya bisa berdiam sambil menatap luasnya langit yang terlihat berubah warna menjadi mendung seolah-olah langit juga mengerti perasaan Rajan saat ini dan dalam diam Rajan menatap pantulan bayangan Lara yang terlihat memandang kosong ke luar jendela dengan perasaannya yang ingin sekali membahagiakan Lara.
"Aku berpikir seolah-olah hanya aku yang terluka sedangkan Lara jauh lebih terluka dari apa yang aku bayangkan! Harusnya aku bisa membahagiakanmu! Harusnya kamu jauh lebih senang dari hari ini ya? Sayangnya aku tidak mampu untuk itu dan hanya bisa berandai-andai bahwa suatu hari nanti aku ingin sekali membahagiakanmu Lara," batin Rajan sendu.
Sebenarnya ia cukup sadar jika memang seperti ini jalan yang harus Rajan lalui dan tak akan ada jalan yang mudah terlebih Rajan sendiri memilih memperjuangan Lara walaupun ia tau hati gadis itu sulit menerimanya setelah luka yang begitu dalam di hatinya.
"Lagipula semua ini terjadi atas pilihan aku sendiri! Aku yang memilih untuk memperjuangkan Lara walaupun aku tau hati gadia itu pasti sulit menerima pria payah ini terlebih ia telah begitu dalam menerima semua luka di hatinya jadi aku hanya bisa berjuang semampuku meskipun nantinya kami tak bisa bersama," batin Rajan Pasrah.
Apapun yang akan terjadi nantinya Rajan tak ingin terlalu mengkhawatirkan toh di matanya saat ini yang terpenting adalah membahagiakan Lara lebih dari dirinya sendiri sebab mencintai Lara adalah pilihannya jadi bukan tugas Lara untuk membalas perasaannya.