Seharusnya Axton memarahi sikap kekanak-kanakan Luruh sayangnya ia hanya mengusap-usap kepala istrinya lembut dan ia bercerita jika menyarankan hal ini sebab Axton tak ingin berjauhan dari istrinya yang telah berhasil memenuhi ruang dihatinya.
"Lu selalu jadi pemenangnya kok, Luruh! Gue begini karena gue cuma mau memberikan hal yang terbaik buat lu! Ya bisa dibilang juga kalau emang gue yang gak mau berjauhan dari lu jadi mulai sekarang tolong biasain diri lu untuk nurut sama nasihat gue toh semua yang gue lakuin demi kebaikan lu," tutur Axton lembut.
Samar-samar Lara melihat adik kesayangan tersenyum saat mendengar ucapan dari suaminya sontak saja ia ikut tersenyum karena Lara memang ingin Luruh bahagia seperti ini, tetapi gadis itu tetap tak bisa membohongi perasaannya sebab ia juga merindukan Giran walaupun ia telah jahat pada diri Lara.
"Akhirnya kamu bisa tersenyum seperti ini dek! Hanya satu pinta kakak! Kakak ingin melihatmu bahagia selamanya! Sebab kakak tidak mungkin bisa meminta hidup selamanya jadi setidaknya kamu tak bersedih jika suatu saat kakak harus pergi meninggalkan dunia ini," batin Lara sendu.
Rasanya hati Lara masih tidak bisa mempercayai apa yang terjadi hari ini, ia pikir setelah Lara dan Giran putus maka seharusnya tidak ada masalah lagi dan sayangnya pemuda itu masih saja mencari masalah dengan dirinya.
"Bagaimana bisa dia ada di sana? Bukankah ia bilang jika sudah putus maka tidak akan bertemu atau membuat masalah lagi? Lalu mengapa ia malah masih saja mencari masalah dengan gini sih?! Apakah ucapannya saat itu hanya kebohongan belaka ya! Dasar pria yang memuakkan ya dia itu! Bikin orang emosi saja," lirih Lara sebal.
Dalam diam hari itu langit menggelap dan hujan bahkan tak henti-hentinya turun membasahi tanah yang semula terlihat begitu tandus kini sudah berubah warna dan keheningan malam itu terasa begitu menyejukkan membuat siapa saja tertidur dengan lelap.
Dinginnya malam itu perlahan-lahan berganti menjadi silaunya mentari yang menghangatkan dan membuat Lara terbangun dengan wajah yang kebingungan sebab ia tak melihat adiknya dan adik ipar yang seharusnya masih tertidur di sofa itu.
"Jam berapa sekarang? Kok rasanya silau banget mataharinya? Eh! Luruh sama suaminya mana? Bukannya semalam mereka tidur di sofa ya? Ini gue halusinasi atau mereka udah pergi? Gak apa-apa kalau pergi untuk melanjutkan aktivitas mereka asal jangan sampe terjadi sesuatu yang buruk aja, eh gimana sih? Mereka ke mana?" gumam Lara bingung.
Melihat Lara yang khawatir dan begitu kebingungan membuat seseorang yang memang berjanji untuk menjaga Lara di pagi hari menenangkannya, mendengar suara yang terasa familiar di telinganya membuat Lara menanyakan dimana keberadaan Luruh dan Axton.
"Lu gak berhalusinasi kok! Mereka emang menjaga lu semalaman dan pagi ini gue yang akan jagain lu sampe nanti sore orang tua lu ke sini, Lara! Udah lu tenang aja mereka pasti bisa jaga diri mereka sendiri kok! Gimana semalam tidur lu nyenyak? Mau minum air?" tutur Rajan lembut.
"Begitukah? Syukurlah kalau mereka tidak seperti yang aku pikirkan, tapi tunggu dulu mereka ada di mana? Pergi ke mana mereka? Bukankah mereka seharusnya masih berlibur ya? Eh atau aku salah dengar ya? Rajan serius gak sih? Mereka beneran baik-baik aja?" tanya Lara khawatir.
Rajan mengerti jika gadis yang ia cintai sedang merasa khawatir dengan adik dan keluarga baru yang pergi tanpa berpamitan padanya, dalam diam Rajan tak ingin melihat Lara kebingungan seperti ini membuatnya menjelaskan pesan yang dititipkan Luruh dan Axton.
"Tadi mah Luruh sama Axton bilang mereka mau pulang buat bersih-bersih rumah sama mandi di rumah aja katanya? Gak tau libur atau gaknya, Lara! Mereka cuma minta gue nenangin dan jagain lu sampe sore dan lu tenang aja mereka pasti baik-baik aja kan cuma di rumah aja toh? Axton pasti bisa melindungi Luruh kok," ucap Rajan serius.
Lara yang mendengar hal ini membuat gadis itu menghela nafasnya lega lalu tiba-tiba saja Lara teringat jika Rajan harus menjaga cafe miliknya jadi gadis itu meminta Rajan untuk membiarkan dirinya sendiri saja di sini.
"Jadi memang seperti itu ya? Setidaknya mereka baik-baik saja! Eh tunggu dulu deh? Kalau lu jagain gue di sini? Terus siapa yang jaga cafe lu? Udah lu biarin aja gue di sini sendiri toh gue bisa melakukan beberapa hal sendiri, Rajan! Saat ini yang lebih penting itu usaha lu, udah sana balik ke cafe lu lagi aja!" ujar Lara khawatir.
Mendengar ucapan Lara justru semakin membuat Rajan tersenyum sambil ia menenangkannya bahwa Rajan bisa mempercayai tangan kanan yang telah bekerja cukup lama dengan dirinya, tetapi Lara justru memperingati jika kepercayaanlah yang membuat hati merasa tersakiti.
"Cafe gue masih bisa diurus sama tangan kanan gue jadi lu gak perlu panik gini kok! Gue udah percaya sama dia jadi dia gak akan mungkin bertindak gegabah apalagi membuat masalah, Lara! Udah sekarang lu tenang aja toh hal seperti ini bukan masalah yang besar Ra," tutur Rajan santai.
"Bisa di urus sama tangan lu? Kepercayaan yang membuat hati kita suatu saat merasa tersakiti tau, Rajan! Jangan pikir kalau semua orang di dunia ini sebaik diri lu, mereka bisa tersenyum sambil menyembunyikan rencana yang suatu saat akan mendorongmu jatuh dan ketika itu terjadi rasanya seperti menerima kabar kematian! Sulit diterima, tapi nyata!" gumam Lara sendu.
Dalam diam Rajan mengerti jika hal yang dimaksud Lara adalah mantan kekasihnya yang hadir dan membuka luka lamanya lalu dengan sekuat mungkin Rajan menanyakan apakah Lara masih belum bisa memaafkan pemuda itu.
"Ah jadi lu teringat masalah lu sama Giran ya, Ra? Apakah lu masih belum bisa memaafkan dia atau rasa cinta lu terlalu besar hingga semua perbuatan dia masih lu anggap benar? Gue pikir lu ngasih nasihat yang spesifik buat gue? Nyatanya gue terlalu percaya diri ya?" tanya Rajan datar.
Tatapannya langsung tertuju pada mata Rajan dan tanpa ragu Lara menyahuti ucapan Rajan dengan yakin dan tak ada luka yang tersirat dari tatapan mata indahnya hingga tanpa sadar ia menanyakan apakah rasa sakit di hati Lara sudah sembuh sepenuhnya.
"Mungkin iya, tapi apa yang gue omongin ini demi kebaikan lu! Cukup gue aja yang naif! Lu gak perlu begini! Gue udah maafin dia bahkan sebelum dia minta maaf dan gak ada alasan buat gue gak mau maafin dia! Toh semua ini terjadi juga bukan karena salah dia aja," sahut Lara yakin.
"Anggap aja gue percaya sama ucapan lu, Ra! Terus sekarang apakah rasa sakit di hati lu udah sembuh sepenuhnya? Sampai-sampai gue lihat lu berbicara dengan percaya diri begini! Apa lu gak kasihan sama diri lu? Serius lu gak masalah memendam semua ini?" tanya Rajan khawatir.
Mendengar pertanyaan Rajan membuat tatapan gadis itu perlahan-lahan berubah menjadi sedih sayangnya gadis itu memaksakan senyuman yang semakin membuat hati Rajan seperti diiris-iris oleh tatapan mata indah itu.
"Hati gue selalu merasa gak masalah, Rajan! Cuma balik lagi kata maaf sekalipun gak berarti kalau hati gue udah sembuh, jujur berat banget buat gue terima semua ini! Setidaknya sekarang gue udah lebih tenang toh mungkin emang ini bukan jalan untuk kita berdua jadi ya gak apa-apa juga kalau akhirnya harus begini," ujar Lara tegar.
Jika saja Rajan tak mengingat bahwa bukan saatnya ia mengeluarkan emosinya sudah pasti ia akan memaki-maki Lara yang terlalu pandai membiarkan orang lain menyakiti dirinya padahal gadis itu berhak mengakhiri hubungannya sejak lama.
"Gak apa-apa katanya? Dia jelas banget kelihatan rapuh dan telah tak bersisa apapun di mata indah itu! Kalau aja gue gak inget dia gak boleh sedih rasanya pengen gue omelin sikap dia yang seolah-olah membiarkan orang lain menyakiti dirinya padahal dia berhak mengakhiri hubungan yang menyakitkan ini dari lama! Kenapa sih dia kepintaran begini sih?!" batin Rajam geram.