Pulih Dengan Waktu

1259 Kata
Lara yang mengerti jika tatapan Rajan terlihat berbeda membuat gadis itu berusaha untuk tetap tenang dan ia meminta Rajan agar tidak terlalu memikirkan dirinya sebab semua hal sudah Lara terima jika memang harus seperti ini. "Udah gak usah terlalu lu pikirin, Rajan! Toh gue aja udah bisa menerima semua ini sedikit-dikit ya emang berat sih! Cuma kalau memang jalan yang harus gue laluin seperti ini adanya yaudah gue gak berhak apapun selain cuma bisa mengikuti arus yang membawa jalan hidup gue nah lu juga harus lebih tenang lagi dong ya," tutur Lara lembut. Kali ini Rajan benar-benar tak bisa menahan segala kemarahan yang membuat dirinya sengaja menjatuhkan dirinya sambil memukuli lantai yang ia tau bukan salah lantai itu, tapi Rajan muak dengan semua kesabaran Lara. "Tenang kata lu, Ra?! Setelah semua hal yang menimpa lu gue harus tenang? Entah hati lu itu terbuat dari apa cuma kesabaran lu udah memuakkan banget sih! Sadar dong kalau lu tuh juga punya perasaan! Lu bisa merasa lelah dan sakit hati! Lu pikirin diri lu sendiri!!" omel Rajan murka. Bukannya merasa takut dengan apa yang dilakukan teman baiknnya, tetapi Lara malah berjalan menghampiri Rajan lalu ia mengusap-usap bahu pemuda itu lembut sambil ia menenangkan Rajan bahwa ia tak perlu marah seperti ini. "Iya tenang aja, Rajan! Semua yang menimpa gue itu pasti ada alasannya dan kalau gue sendiri aja bisa tenang kenapa lu gak? Lagipula gak ada gunanya kalau kita marah-marah begini, Rajan! Untuk itu lu hanya perlu tenang ya! Gue punya cuma udah gak berbentuk dan gak perlu lu ambil pusing kok! Gue gak apa-apa," tutur Lara lembut. Senyuman itu tak pernah berubah sedikitpun masih saja terlihat menenangkan padahal Rajan tau jika hatinya telah terluka di balik senyuman itu, tidakkah ia merasa lelah bangkit dari luka yang ia tau tak seharusnya terjadi kalau bukan karena sifat naifnya. "Gak apa-apa kata lu? Berhenti tersenyum seperti ini, Lara! Gue tau lu emang orang baik cuma di senyuman itu ada luka kenapa lu harus menahan semuanya sendirian? Tidakkah lu merasa lelah bangkit dari luka yang lu tau bahwa lu gak seharusnya terjadi kalau bukan karena sifat naif dan payah lu ini! Lu ngerti gak sih Luruh," gumam Rajan sedih. Tentu Lara mengerti jika pemuda itu pasti sulit memahami bagaimana perasaannya saat ini, tapi ia juga tak mungkin memaksakan Rajan untuk mengerti dirinya jadi ia memilih untuk tidak perlu membahas luka yang semakin membuat Lara merasa perih saat mengingatnya. "Sepertinya pemahaman kita berbeda, Rajan! Kalau lu emang berpikir begitu gue gak akan mau memaksakan lu mengerti perasaan gue jadi mari kita akhiri saja percakapan perihal topik ini ya? Oh iya bukannya lu bilang mau menceritakan bagaimana hari lu selama di cafe ya? Bagaimana kalau kita bahas itu saja," ucap Lara lembut. Mendengar nada ucapan Lara yang seperti tidak ingin menjawab pertanyaannya membuat Rajan mengusap-usap kepala gadis cantik itu lembut sebab mungkin memang hanya sampai di sini saja Rajan membuat mata indah itu kini terlihat menyakitkan untuk Lara dan dirinya sendiri. "Mungkin apa yang lu bilang ini ada benarnya juga ya Luruh! Kalau begitu mari kita bahas yang lain saja! Hari gue selama di cafe ya? Boleh juga, biasa aja sih cuma di cafe terlalu bikin pusing karena ramai terus dan mending gue di sini lebih tenang terus melihat lu aja udah cukup buat gue kok," ujar Rajan santai. Sementara di lain sisi Axton dan Luruh telah selesai membereskan rumah baru dan segala hal yang mereka perlukan untuk tinggal di sini, tanpa Luruh sadari ada sebuah vas bunga yang tidak benar di letakkan hingga bergoyang-goyang dan hendak jatuh di atas kepala Luruh. Axton yang tidak ingin istrinya terluka membuat pemuda itu mendorong Luruh agar vas bunga itu tidak melukainya, tetapi Luruh yang tidak menyadari apa yang terjadi membuat gadis itu malah memarahi Axton yang dikiranya sedang usil. "Astagfirullah, Axton! Lu punya masalah hidup apa sih sama gue?! Orang lagi bersih-bersih malah di dorong-dorong aja! Lu kira kita lagi mengantri sembako apa gimana sih? Heran dah gue kenapa lu usil banget sih jadi orang! Di kira di dorong begitu enak kali ya!" omel Luruh kesal. Tak ada sahutan apapun dari pemuda itu kecuali tangannya menunjuk ke arah vas bunga yang kini pecah berantakan dan tanpa mengatakan apapun Axton mengambil alat bersih-bersih agar Luruh tidak terluka pecahan kaca itu. Dalam diam Luruh tak menyangka jika Axton bisa bersikap sebaik ini padanya lalu ketika Luruh ingin membantu membersihkan pecahan vas bunga, ia malah dimarahi Axton hingga membuat gadis itu terdiam karena terkejut dengan nada tak biasa pemuda itu. "Luruh Tzania Lovely Hunt! Siapa yang nyuruh lu megang pecahan vas itu hah?! Apa gue bilang kalau gue butuh bantuan lu? Tidak bukan, kalau begitu lu dapat keberanian darimana sampe lu berani bertindak gegabah begini hah! Apa lu sanggup nahan nangis jika sampai terluka? Gak sanggup iya kan! Aneh banget sih lu!" murka Axton marah. Melihat Luruh terdiam seperti ini membuat Axton menyadari jika nada ucapannya mungkin agak keterlaluan untuk gadis itu jadi ia meminta maaf sambil menjelaskan jika Axton tak ingin Luruh terluka toh ia bisa mengurus hal ini. "Astagfirullah, gue ini bicara apaan sih? Maaf, Luruh! Maafin ucapan gue yang mungkin gak baik ini! Kali ini gue sepertinya agak keterlaluan sama lu jadi tolong jangan masukin hati ya, gue tadi cuma takut lu terluka dan gue bisa mengurusi masalah sepele ini kok! Lain kali jangan begini ya? Jangan buat gue takut setengah hidup karena melihat lu dalam bahaya," tutur Axton lembut. Tatapan itu terlihat begitu tulus hingga membuat Luruh hanya mengangguk-anggukkan kepala tanda jika dirinya mengerti sedangkan Axton kembali melanjutkan membersihkan pecahan vas bunga ini dengan teliti, sebab ia tidak ingin ada yang tersisa dan melukai mereka nantinya. Setelah menghabiskan bermenit-menit membersihkan dan menata rumah mereka akhirnya baik Axton maupun Luruh bisa mengistirahatkan tubuh mereka di sofa sambil keduanya tanpa sadar berbicara bersamaan perihal ingin makan apa untuk makan malam. "Akhirnya selesai juga, lu lagi pengen makan apa Luruh? Gue bisa masakin atau pesanin menu makanan yang mau lu makan kok! Tenang aja lu boleh makan apapun yang lu mau makan jadi lu bisa bilang sama gue mau makan malam apa? Hm?" tanya Axton serius. "Alhamdulillah rumah ini akhirnya bersih juga! Aduh rasanya lapar banget dah! Lu mau makan apa, Axton? Gue bisa masakin makanan sederhana sih? Mau makan apa buat makan malam ini hm? Rasanya sup yang hangat atau makanan yang pedas enak ya, Axton?" ujar Luruh bingung. Keduanya saling menatap bingung lalu tak lama Axton terkekeh sambil mengusap-usap kepala Luruh lembut sebab ia tau jika ia tetap diam maka gadis itu akan merasa canggung untuk itu memilih menyahuti ucapan Luruh yang kini wajahnya tersenyum lembut. "Boleh kok, masih bisa ditahan gak laparnya? Kalau bisa lu tahan yaudah ayok kita masak dulu toh mau makanan sederhana atau apapun bisa gue makan kok! Nah mari kita makan menu yang lu mau masak toh buat gue semua makanan mah sama aja sih," sahut Axton santai. Luruh yang merasa sudah tau perlu menyiapkan apa untuk makan malam membuatnya mulai berjalan ke dapur karena ia harus meracik dan memasak makan malam mereka berdua, dalam diam Axton merasa jika ia perlu membantu istrinya. Sebenarnya Luruh ingin mengomeli Axton seperti pemuda itu mengomel padanya, sayangnya saat mata mereka berdua bertatapan membuat semua kemarahan gadis itu lenyap seketika jadi Luruh berusaha fokus dengan masakannya saja. "Perasaan gue gak minta bantuan dia deh? Ngapain sih dia ngikut-ngikut! Kalau aja gue sebel udah gue omelin balik dia persis kayak dia ngomelin gue! Cuma yaudahlah gue gak boleh marah-marah begini! Ini kenapa perasaan begini sih? Mending gue fokus masak aja gak usah mikir yang aneh-aneh dah," batin Luruh gelisah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN