Axton yang melihat istrinya membuang muka ketika bertatapan dengan dirinya membuat hati yang sebelum berdegup karena saling memandang kini dipenuhi berbagai pertanyaan yang entah sejak kapan terasa menakutkan untuk Axton.
"Lah dia kenapa membuang muka begitu? Muka gue emangnya kenapa? Perasaan muka gue ini ganteng kok? Jangan bilang dia menyesal menikah sama gue gitu! Gak mungkinlah ya? Keren begini gue! Aduh, tapi kalau benar begitu gimana? Masa gue baru nikah udah jadi duda aja sih? Gak boleh dibiarin nih," batin Axton waspada.
Namun belum sempat Axton bertanya pada istrinya tak lama Luruh justru meminta tolong untuk memotong daun bawang sebab Luruh perlu menumis bumbu yang lainnya agar masakan yang ia nantikan bisa selesai dengan cepat jika suaminya membantunya.
"Seingat gue gak ada masalah apa-apa dah, Luruh? Terus kenapa lu begini? Sekiranya lu ada masalah ya di omongin sini! Lu sebenarnya ada masalah apa sih, Luruh?" tanya Axton terhenti.
"Nah ini udah, kalau begitu gue tinggal tumis bumbu dan lebih enak kalau pakai daun bawang ya? Axton! Tolong bantuin gue potongin daun bawang ya! Biar masakannya cepat jadi dan kita bisa makan nih! Daritadi perut gue udah demo aja nih mending agak cepetan ya!" ucap Luruh serius.
Mendengar permintaan istrinya membuat pemuda itu langsung mengerjakan permintaan Luruh dengan serius hingga akhirnya masakan mereka selesai dibuat, lalu Luruh dengan sigap mulai menyiapkan makan malam di meja makan dan Axton juga menyiapkan kursi untuk Luruh duduk di samping dirinya.
"Akhirnya selesai juga! Nih duduk sini dan makan dengan lahap makan malamnya, gak usah buru-buru toh semua makanan ini milik lu jadi rasa dan kenyangin aja perut lu," ujar Axton santai.
Malam itu suasana makan malam terasa begitu hening karena memang baik Axton maupun Luruh tidak sedang ingin membahas apapun dan tiba-tiba saja Axton mengajak Luruh menonton movie yang biasanya di tayangkan di televisi.
"Biasanya jam segini ada movie yang ditayangkan di televisi loh, Luruh! Gimana kalau kita nonton aja sambil nunggu makanannya turun? Kalau habis makan langsung tidur itu gak baik jadi ayok luangkan waktu untuk menonton film yang mungkin bisa aja seru," ucap Axton lembut.
Mendengar ajakan pemuda itu membuat Luruh menaikkan alisnya bingung, tapi jika Luruh pikir-pikir lagi apa yang Axton katakan sepertinya bukan ide yang buruk jadi mau tidak mau gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya setuju.
"Benar juga ya! Kalau begitu boleh saja toh biasanya film action yang bikin seru sih! Lagian gak ada salahnya mencari kesibukan di waktu luang seperti ini kan ya Axton," sahut Luruh santai.
Awalnya gadis cantik itu masih berusaha memahami filmnya, tapi lama-kelamaan Luruh merasa terbawa dengan adegan sedih yang dimana tokoh prianya lebih memilih gadis baru dibanding gadis yang telah bertahan lama dengannya.
"Ih kenapa malah jadi begini filmnya? Ngapain sih dia meninggalkan gadis yang bertahan lama cuma demi gadis baru! Kasihan banget ceweknya harusnya dia gak perlu diperlakukan seperti ini! Apa cowoknya tidak mikirin gimana perjuangannya mereka selama ini," gumam Luruh sedih.
Sementara Axton yang mendengar suara gumaman dari Luruh membuat pemuda itu menyahuti istrinya lembut dan sebisa mungkin ia menenangkan Luruh yang mungkin masih memikirkan film yang sebenarnya tidak perlu ia ingat seperti ini.
"Yaudah gak usah di pikirin, Luruh! Itukan cuma film dan gak perlu di ambil pusing ya, udah tenang aja! Gak ada untungnya juga lu sedih begini? Udahan sedihnya toh berarti filmnya emang terbukti luar biasa sih kalau lu sampai jadi terbawa suasana sama filmnya," tutur Axton lembut.
Sayangnya Luruh masih merasakan sedih hingga tanpa sadar Luruh menanyakan kenapa Axton memilih dirinya dibanding Lara yang ia tau kakaknya lebih baik dari dirinya, pemuda itu menatap istrinya lekat sebab ia tak menyangka jika Luruh memikirkan hal ini.
"Iya sih emang luar biasa banget, tapi gue jadi keinget sama status gue sekarang! Kenapa lu memilih gue? Apa bagusnya gue di mata lu? Seingat gue kak Lara masih lebih baik di bandingin sama gue mah! Lu kenapa milih yang jauh lebih buruk kalau ada yang lebih baik? Apa lu gak menyesal sama pilihan lu ini, Axton?" tanya Luruh sendu.
"Lah kenapa jadi bahas masalah pribadi? Dia ini lagi kenapa sih? Kenapa tiba-tiba nanya soal alasan gue? Bukankah dengan menanyakan hal seperti ini sama saja mengorek luka yang bisa saja terjadi karena kesalah pahaman ya? Ini dia terlihat sedih, tapi serius juga tatapannya? Luruh beneran gak apa-apa nih dia?" batin Axton khawatir.
Suasana yang tadinya terasa biasa saja seketika berubah menjadi hening sebab keduanya tidak menyangka jika akan seperti ini dan Axton sendiri tidak pernah berpikir demikian, dimatanya Luruh sudah menjadi gadis yang tepat untuk dirinya.
"Jujur gue gak tau kenapa lu tiba-tiba nanya begini, Luruh! Cuma buat gue pribadi, gue gak pernah menyesali setiap keputusan yang gue buat! Apapun itu udah gue pikirin matang-matang dan apa yang lu pikirin itu gak benar! Di mata gue, lu udah menjadi gadis yang tepat untuk gue karena lu menjadi diri lu sendiri dan itu cukup buat gue, Luruh!" ujar Axton serius.
Dalam diam Luruh merasa jika ucapan Axton terdengar seperti hanya bualan dan ia berusaha menghibur dirinya hingga dengan sebal Luruh meminta pemuda itu untuk jangan berbohong pada dirinya seperti ini.
"Bisa gak sih kalau di ajak ngobrol serius tuh jawabnya serius gitu! Saat ini gue gak butuh bualan dan kebohongan dari lu, Axton! Pleaselah jujur sama gue dan gak usah sok-sok an menghibur gue! Gue butuh jawaban yang serius bukan sebatas omong kosong doang, Axton?! Paham gak sih lu," sahut Luruh sebal.
Bukannya Axton memarahi istrinya karena tak mempercayainya, ia malah terkekeh sejenak lalu ia menjelaskan pada Luruh jika apa yang Luruh pikirkan tidak benar dan ia sungguhan memilih Luruh karena hatinya yang menginginkan gadis itu untuk menemaninya sampai akhir hayatnya.
"Hahahaha, gue serius Luruh! Masa iya gue bercanda? Nih denger ya! Gue itu memilih lu karena emang hati gue menginginkan lu menemani gue sampe akhir hayat! Jadi gak usah berpikir yang gak-gak deh! Di mata gue memilih lu itu adalah pilihan terbaik buat kita loh," tutur Axton lembut.
Tatapan teduh yang diberikan Axton entah mengapa membuat hatinya merasa lebih tenang dan tak lama Luruh mengulurkan jari kelingkingnya lalu ia meminta Axton untuk menepati ucapan yang ia katakan padanya sebab Luruh tidak ingin hatinya dihancurkan nantinya.
"Terbaik buat kita? Emangnya lu janji mau menepati ucapan lu? Gue gak mau nantinya hati gue malah dihancurkan sama lu jadi mending lu mulai dari sekarang harus tau diri dan jangan biarin gue malah patah hati karena lu! Buat gue sekarang itu yang penting kejelasan," ujar Luruh serius.
Pemuda itu terkekeh lalu ia menautkan jari kelingkingnya pada Luruh sambil ia menatap Luruh dengan tatapan lembut bahkan pemuda itu berjanji akan melalui banyak hal bersamanya, butuh beberapa menit untuk Luruh memahami maksud ucapan Axton.
"Bukankah seorang lelaki itu yang di pegang ucapannya jadi udah pasti gue gak akan lupain omongan gue kok! Seberat apapun hal yang akan kita lalui nantinya, sebisa mungkin kita akan melalui banyak hal bersama jadi ke depannya lu tuh gak boleh menyerah ya," tutur Axton lembut.
"Ok deal! Eh gak boleh nyerah? Dalam kamus hidup gue gak ada kata menyerah! Walaupun nanti akhitnya entah akan gimana setidaknya jangan biarkan gue kebingungan nantinya ya! Awas lu cuma ngomong doang kayak begini?! Jangan-jangan lu lagi membual?" gumam Luruh bingung.
Mendengar suara gumaman dari Luruh membuat Axton mengusap-usap kepala istrinya lembut karena baru kali ini ia menemukan gadis yang unik dan menyenangkan sepertinya sedangkan Luruh menaikkan alisnya bingung.