Cinta Yang Lebih Besar

1214 Kata
Di saat Axton menatap istrinya kagum tak lama Luruh justru menimpuk bantal sofa karena ia berpikir jika Axton sedang melamun sedangkan Axton yang merasa tak salah apapun membuat pemuda itu mengomeli Luruh yang terlihat menyebalkan kali ini. "Aduh, Luruh! Bisa-bisanya lu nimpuk gue?! Perasaan gue gak salah apa-apa kenapa lu malah seenaknya begitu hah! Gue tuh gak ngapa-ngapain malah di timpuk begini dah!! Sekiranya lu ada apa-apa tuh ya ngomong aja gak usah nimpuk gue kayak nimpuk nyamuk aja!" omel Axton sebal. Sementara orang yang diomeli hanya memandang Axton datar sebab Luruh merasa jika hal ini tidak jelas untuk mereka perdebatkan dan lebih baik mereka tidur karena besok Luruh perlu menjenguk kakaknya yang masih di rumah sakit. "Lu kenapa sih?! Masa begitu doang lu marah! Masalah begini mah gak seharusnya lu debatin! Udahlah mending tidur aja gak sih? Udah malem woy! Percuma ngurusin hal yang gak penting mah gak ada untungnya sama sekali gak sih! Lagian besok gue mau nengok kak Lara juga jadi harus tidur cepet nih!" ucap Luruh serius. Sebenarnya Axton masih merasa kesal dengan istrinya ingin sekali memarahi Luruh, tetapi jika di pikir-pikir lagi besok ia memang harus menemui Laninna Veenintya Ayu yang sudah menjadi temannya semenjak Axton memilih mengakhiri hubungannya dengan pemuda itu. "Benar juga sih ya? Kalau begitu yaudah ayok istirahat aja dah, kebetulan besok gue juga harus menemui teman lama jadi emang lebih penting kita tidur sekarang biar gak kurang tidurnya! Jujur gue juga cape banget seharian bersih-bersih rumah tadi! Ayok tidur dah," sahut Axton lelah. Malam itu terasa membosankan dan bergerak dengan lambat sedangkan Luruh bisa tertidur dengan nyaman meskipun pikirannya tiba-tiba kepikiran dengan ucapan Axton tadi lalu perlahan-lahan bulan berganti menjadi matahari pagi yang menyilaukan. "Gue kan pengen tidur nyenyak ya? Kenapa malah jadi gak nyaman begini sih? Rasanya kayak waktu bergerak dengan lambat, masa iya sih? Aduh kalau begini sih membosankan sekali mana di tambah kerjaan gue numpuk terus harus hadir di janji yang gue buat juga," batin Axton gelisah. "Tadi Axton ngomong apa? Besok dia mau menemui teman lamanya? Emang teman-teman dia siapa aja? Dia barusan janji gak nyakitin hati gue kan ya? Terus ini siapa yang mau ditemuin? Teman lama? Kira-kira cewek apa cowok ya? Ketemuan di mana Axton ya?" batin Luruh bingung. Axton yang merasa waktu tidurnya terganggu membuat pemuda itu menutup matanya dengan lengan agar cara matahari tidak menyakiti penglihatannya sedangkan Luruh yang sudah selesai membersihkan rumah dan menyiapkan makanan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat kelakuan Axton pagi ini. Dalam diam Luruh berpikir jika suaminya harus bergegas bangun saat ia memasang tampang seperti ini, tetapi pikirannya salah sangka jadi mau tidak mau Luruh membangunkan Axton dan pemuda itu malah mengira jika Luruh adalah ibunya. "Astagfirullah gue kira dia udah bangun karena mau ada janji? Eh ternyata pikiran gue salah besar! Dia malah masih nyenyak di kasurnya? Axton! Bangun woy! Lu hari ini ada janji pergi sama teman lama lu kan? Buruan bangun, Axton?! Jangan biarin orang nunggu bisa gak sih! Kalau udah berjanji tuh harus tepat waktu," ujar Luruh serius. "Allahu akbar, mom! Berisik banget sih pagi-pagi udah ngoceh-ngoceh aja?! Tunggu 5 menit lagi juga nanti Axton bangun tidur sendiri kok! Udahlah gak usah ganggu Axton dulu bisa gak sih, mom! Aku tuh gak tidur nyenyak tau semalam jadi biarin aku tidur sebentar," sahut Axton sebal. Luruh yang merasa sebal dengan ucapan pemuda itu membuatnya menepuk pipi Axton agak lebih keras dari sebelumnya hingga Axton sontak langsung terduduk dengan wajah bingung dan ia menanyakan apakah yang menepuknya adalah Luruh. "Aduh sakit, mom! Eh astagfirullah?! Gue kira mommy gue, Luruh! Maaf-maaf gue gak tau kalau gue udah gak sama mommy lagi! Ini lu ngapain nepuk pipi gue? Tunggu deh! Lu yang tadi sengaja nepuk pipi gue kan? Kenapa lu gangguin tidur gue sih? Ada apa?" ucap Axton terkejut. Merasa tugasnya telah selesai membuat gadis itu menyiapkan pakaian suaminya lalu ia bersiap-siap untuk mandi di kamar mandi lainnya sebab bagaimanapun juga Luruh tidak ingin membuat kakaknya menunggu terlalu lama. "Bisa-bisanya lu gak tau! Lu pikir siapa lagi dah?! Di rumah ini cuma berdua ya udah pasti gue yang nepuk pipi lu! Emang mau di tepuk sama siapa lu? Mantan lu gitu? Apa gadis yang lu taksir? Hm? Udahlah gak usah kebanyakan mikir mending lu siap-siap mandi sana," sahut Luruh santai. Melihat istrinya yang terlihat lebih tenang membuat Axton menaikkan alisnya bingung sebab ia tak menyangka jika Luruh bisa bersikap bar-bar seperti ini sedangkan Luruh yang melihat Axton hanya melamun saja membuat gadis itu mengingatkan pemuda itu jika ia punya janji pagi ini. "Lu tuh dengerin gak sih! Malah melamun aja lagi lu?! Udah sana buruan siap-siap, Axton! Lu tuh butuh siap-siap karena bagaimanapun juga harus tau bisa menepati ucapan lu sendiri lah! Masa lu yang mau janji nemuin teman lama malah nyantai begini! Cepetan mandi!!" ujar Luruh tegas. Axton yang teringat dengan janjinya membuat pemuda itu langsung menganggukkan kepala tanda ia mengerti lalu tanpa berlama-lama lagi ia bergegas masuk ke kamar mandi sementara Luruh juga bersiap-siap di kamar mandi yang lainnya. Pagi itu terasa sibuk karena baik Axton maupun Luruh memiliki janjinya masing-masing dan Lara yang sudah membaik hanya bisa memandang langit sebab rasanya ia merindukan adik kecil kesayangannya yang selalu menemani dirinya saat sakit seperti ini. "Tidak terasa ya udah pagi lagi aja? Gue pikir ini cuma mimpi karena gue kira Giran gak akan hadir apalagi melukai orang-orang yang baik sama gue ternyata gue salah! Setidaknya Luruh baik-baik saja, dia lagi apa ya? Gue rindu banget! Biasanya dia selalu menemani kakaknya dan sekarang kami harus terpisah begini ya," lirih Lara sedih. Tanpa sadar air mata menetes dari matanya karena baru pertama kali Lara berjauhan dari Luruh yang selama ini menjadi sandarannya dalam sedih dan senang, ia sadar jika mungkin dirinya memang tak memiliki siapapun selain gadis itu dan hanya Luruh yang mencintainya sebesar ini. "Bayi mungil yang selalu aku tatap kini sudah pergi jauh dengan pria yang tepat, ini pertama kali gue sama Luruh berjauhan sebab selama ini cuma Luruh yang menjadi sandaran gue ketika sedih dan senang! Cuma dia yang memberikan cinta yang lebih besar dari orang-orang yang lebih sering melukai gue! Jujur gue jadi makin rindu sama Luruh," gumam Lara sendu. Di saat kesedihan begitu memeluk Lara erat tak lama suara pintu terbuka membuat gadis itu menolehkan wajahnya dan tak lama sebuah senyuman terukir di wajahnya yang sudah tak lagi pucat seperti sebelumnya. "Rajan?! Gue gak menyangka kalau lu akan datang sepagi ini ya ampun," lirih Lara senang. Kehadiran Rajan di pagi hari seperti ini memang sudah biasa untuk Lara, tetapi pemuda itu tak datang sendirian melainkan ia memeluk kucing kesayangan Rajan yang selalu diajak main Lara ketika ia pergi ke cafe Rajan. "Emang boleh ya bawa hewan peliharaan ke rumah sakit, Rajan?" tanya Lara bingung. Pemuda itu terkekeh sejenak sambil menunjukkan tas besar yang isinya kosong dan ia berniat mengisi tas itu dengan kucingnya walaupun resleting tasnya tadi tidak Rajan tutup sempurna sebab ia ingin menghibur Lara yang masih belum di izinkan pulang. "Ahahaha, udah pasti gak boleh makanya gue bawa tas begini buat tempat melindungi dia aman nengokin teman terbaiknya yang lagi sakit, Lara! Dokter belum memberi kabar soal izin pulang lu makanya gue ajak anak kesayangan kita supaya dia bisa menghibur lu karena lu senang banget kalau main sama kucing kesukaan gue ini," tutur Rajan lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN