Melukis Cinta

1232 Kata
Dalam diam Lara hanya berusaha menahan air matanya karena baru pertama kali ia mendengar bahwa ada seorang pria yang rela melakukan apapun untuknya di saat ia hanyalah seorang gadis penyakitan yang tak di inginkan oleh pria yang ia cintai. "Lu memikirkan gue sampai sejauh ini? Jujur gue terharu banget loh! Baru pertama kali gue dengar ada seorang pria yang menghibur gue sampai seperti ini? Padahal pria lain seolah-olah berusaha menjauhi gadis penyakitan ini dan lu emang orang baik Rajan," gumam Lara sendu. Sejenak tatapan Rajan terlihat seperti ia ikut merasakan rasa sedih yang entah mengapa tidak bisa di pahami Lara saat ini lalu ketika gadis itu hendak mengingatkan Rajan untuk lebih dulu membahagiakan dirinya malah terhenti karena mendengar suara yang ia kenal. "Terima kasih banyak untuk semua perhatian dan kebaikan lu, Rajan! Hanya saja bagaimanapun juganlu harus lebih dulu membahagiakan diri lu di banding gue sebab apa yang terjadi sama gue masih bisa gue hadapin semampu gue jadi mulai sekarang seharusnya lu ...," ucap Lara terhenti. "Kak Lara! Selamat pagi cintaku, bagaimana tidurnya semalam? Masih ada yang sakit gak? Kalau ada yang sakit bilang aja ya sayangku," panggil Luruh lembut. "Luruh?! Astaghfirullah adek aku! Semalam aku tidur dengan baik hanya saja aku rindu sama adek aku! Syukurlah hari ini kamu datang ke sini jadi kakak bisa mengobati rindu kakak! Tadi kamu ke sini sama siapa dek? Aduh seharian temenin kakak ya sampe sore aja juga gak apa-apa deh! Ya dek, ya?" sahut Lara senang. Seolah-olah Lara larut dalam rasa senang dan rindu terhadap adiknya hingga ia memeluk Luruh dengan erat sementara Rajan hanya tersenyum dan ikut merasa senang saat melihat Lara bisa tersenyum sebahagia ini. "Bagaimana bisa aku mendahulukan diriku saat kebahagiaanku adalah kamu? Aku mungkin bukan penyebab dirimu tersenyum bahagia seperti ini, setidaknya kamu merasa senang dan aku juga ikut merasakan perasaan senang ini! Please tetaplah bahagia seperti ini ya, Lara! Seakan-akan kamu tak mengenal apa itu kesedihan, aku menyukai senyum itu!" batin Rajan bahagia. Di saat ketiga orang ini sibuk dengan kebahagiaan yang mereka rasakan, di lain sisi Axton baru sampai di cafenya sebab tadi ia mengantar Luruh dulu ke rumah sakit jadi sudah pasti ia akan kena sindir Laninna yang melihat dirinya datang terlambat. "Maaf gue datangnya terlambat, La! Tadi gue nganterin istri gue dulu nengokin kakaknya jadi kalau lu mau marah kayak apapun ya bebas aja sih sebenarnya mah! Setidaknya gue udah ada di sini dan sebelum ke sini gue udah berusaha secepat mungkin yang gue bisa," ujar Axton datar. "Bagus ya sekarang lu udah jadi suami yang pengertian dan selalu siaga! Dulu mana pernah lu begini ke gue! Susah sih kalau udah cinta pasti akan rela lakuin apapun demi istrinya jadi ya gak baik juga kalau kerja keras lu malah gue omelin toh terlambat itu udah melekat kuat di nama tengah lu sepertinya Axton," sahut Laninna santai. Mendengar ucapan mantan kekasihnya membuat Axton mengangkat bahunya tidak perduli lalu ia menanyakan apa tujuan Laninna mengajaknya bertemu seperti ini biasanya gadis itu selalu menjaga jarak darinya. "Berpikirlah semau lu, La! Oh iya ngomong-ngomong ada tujuan apa lu minta ketemu begini? Bukannya lu selalu menelpon dan menjaga jarak dari gue ya? Gue gak datang ke sini untuk buang-buang waktu loh! Gue masih harus memantau keadaan cafe gue jadi sebaiknya lu jelasin masalah lu yang benar loh ya?!" tanya Axton serius. Bukannya jawaban yang Axton dengar melainkan gadis itu malah menatapnya dengan lekat dan tak lama ia menangis sesegukkan karena Laninna berpikir masalah ini terlalu berat jika ia pikul sendirian. "Gue gak tau harus cerita ke siapa, Axton! Gue tuh di jebak sama keluarga pria yang mau di jodohin sama gue gara-gara gue menolak rencana pernikahan gue sama itu cowok terus mereka bilang kalau gue lagi mengandung anak itu cowok coba! Padahal gue deket dia aja gak, jadi mana mungkin gue mengandung! Gue sakit hati banget sama mereka," ucap Laninna sedih. Axton yang memang mengenal baik gadis itu membuatnya menepuk-nepuk punggung tangan Laninna karena Axton berpikir jika hal ini mungkin bisa menenangkannya, sayangnya Axton tak menyadari jika Narunna ada di sana dan ia menyimpulkan pikirannya sendiri tanpa bertanya pada Axton perihal apa yang terjadi. "Loh? Itukan orang yang kemarin marahin gue sama Giran! Itu cewek siapanya? Wah baru juga nikah dalam hitungan hari eh Luruh udah di selingkuhin aja? Benar-benar cara terbaik untuk gue membalaskan rasa sakit yang mereka berikan kemarin! Lihat aja lu cowok aneh! Gue akan bilang ke Luruh kelakuan gak baik lu ini hahaha!" batin Narunna senang. Tanpa berlama-lama lagi Narunna memotret Axton dan gadis yang ia akui tak lebih cantik dari Luruh, tetapi sepertinya mereka telah bersama cukup lama lalu dengan cepat Narunna bergegas pergi ke rumah sakit untuk memberi pelajaran pada Luruh dan Lara. Kedua gadis itu sayangnya tak berada di tempat yang sama sebab Rajan sedang menemani Lara berjalan-jalan di taman rumah sakit sedangkan Luruh merapihkan tempat tidur kakaknya agar jika nanti Lara kembali ia sudah bisa beristirahat dengan nyaman. Di saat Luruh sibuk dengan ruang rawat kakaknya, di lain tempat Rajan dan Lara terlihat asik mengobrol santai agar gadis itu tak lagi merasa sedih karena belum bisa pulang ke rumah lalu tak lama mereka menatap pemandangan yang kala itu terlihat begitu menenangkan membuat Lara mengukir senyumannya. "Lihat pemandangan yang di atas sana, Lara! Langitnya berwarna terang dan cocok untuk kita memulihkan tenaga tau! Apalagi cocok buat melukis perasaan cinta sepertinya paling pas tau di sini, Lara! Kadang kita tuh harus memberi warna pada diri kita terlebih cinta itu perlu di lukis dengan orang yang tepat jadi sebaiknya kamu juga memulai warnamu sendiri loh! Siapa tau kamu juga bisa berbahagia karena melukis cintamu sendiri," ucap Rajan lembut. "Benar juga! Di atas sana memang terlihat indah ya, Rajan! Sepertinya aku memang lebih butuh hal yang memulihkan di saat begini jadi tolong bantu aku untuk pulih walaupun mungkin kadang aktivitas kita hanya hal sederhana setidaknya aku bersyukur mengenalmu," sahut Lara senang. Dalam diam Rajan berusaha mengutarakan perasaannya pada gadis itu dan ia berharap jika suatu hari nanti Lara akan memahami mengapa ia mengatakan hal ini sedangkan Lara malah setuju dengan ucapan Rajan yang terdengar masuk akal untuknya. "Aku lebih bersyukur karena bisa mengenal dan menemanimu! Selebihnya ada hal yang juga aku syukuri dan suatu saat nanti kamu akan mengerti mengapa aku berpikir seperti ini, Lara! Tolong simpan ini untuk masa yang akan datang! Karena aku percaya apa yang aku katakan ini akan menjadi kenangan yang baik untuk kamu ingat nantinya," tutur Rajan serius. "Sepertinya aku setuju dengan pemikiranmu! Sesuatu menjadi kenangan ketika ia tidak lagi bisa bersama dan satu-satunya hal bisa kita lakukan adalah mensyukuri segala hal yang telah terjadi toh pada akhirnya tidak akan merubah banyak hal selain menerima keadaan yang mungkin memang sudah seperti ini jalan ya," gumam Lara sendu. Hari itu mungkin Lara tak mengerti bahwa Rajan hanya melukis cinta untuk gadis yang berhasil menepati seluruh ruang di hatinya sementara Narunna yang sudah sampai di rumah sakit tanpa berlama-lama lagi mencari keberadaan Luruh dan Lara. "Suster! Sebaiknya anda buruan bilang sama saya di mana kamar pasien yang bernama Lara Patricia Angel Hunt! Saya perlu menemui mereka jadi tolong katakan dengan jelas dan jangan basa-basi ya, sus! Cepetan sus," ujar Narunna datar. "Nona Lara? Tolong jangan membuat keributan ya mba, nona Lara ada di lantai 1 ruang mawar nomer 5! Dari sini silahkan kalian lurus terus nanti ada nomer yang saya sebutkan mba! Sekali lagi tolong jaga sikap anda ya mba," ucap perawat itu lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN