Lebih Baik Aku Sendiri

1855 Kata
Lara yang berada dalam pelukan Rajan hanya bisa menangis sambil mencengkram kemeja pemuda itu erat sebab hanya Rajan yang menjadi obat untuk dukanya sementara Lara sadar jika suatu saat ia akan menjadi penyebab Rajan merasa tersakiti lebih dari diri rasa sakitnya yang di khianati Giran. "Luka ini tercipta bukan karena Rajan, tetapi hanya Rajan yang menjadi satu-satunya obat untuk setiap rasa sakitku dan aku sadar kalau suatu mungkin aku akan menjadi penyebab luka dalam hati Rajan karena selama ini aku merasa menyakitinya lebih dari apa yang Giran lakukan padaku dan kalau boleh aku memilih rasanya aku ingin sendiri saja dulu agar aku tak selalu melukai Rajan lagi," batin Lara sendu. Rajan yang melihat ekspresi wajah Lara terlihat begitu sedih membuat pemuda itu hanya bisa berusaha menenangkan Lara sambil mengusap-usap punggung Lara lembut karena selain ini Rajan sudah tak tau lagi harus bagaimana menghibur Lara yang benar-benar hancur di keadaannya saat ini. "Sudahlah jangan terlalu memikirkan hal yang tidak perlu kamu pikirkan, Lara! Terkadang dari apa yang menimpa kita membuat kita memahami bahwa semua hal memiliki alasan untuk itu jangan terlalu bersedih sebab tidak ada yang tau alasan mengapa semua ini terjadi! Tolong yakin saja pada dirimu karena semua masalah selesai oleh dirimu sendiri," tutur Rajan lembut. Di tengah-tengah rasa sedih dan perasaan yang campur aduk antara Lara dan Rajan, di lorong dekat kamar rawat Lara berdiri seseorang pemuda yang tidak ingin Luruh temui selama hidupnya dan sayangnya ia malah menanyakan apakah Lara pernah bercerita sesuatu tentang dirinya. "Yah dia lagi, dia lagi! Males banget aku ketemu sama manusia satu itu! Cuma nyakitin kak Lara aja terus sekarang dia malah datang buat gangguin kakak aku?! Ngapain sih dia ke sini lagi ke sini lagi! Harusnya pemuda itu tuh sadar diri dan urus aja hidup dia sendiri bukan malah bikin orang lain susah kayak begini dong!!" batin Luruh sebal. "Hey! Adiknya Lara, lu pernah dengar Lara cerita soal gue gak? Gue pengen tau aja selama ini tuh apa sih pendapat orang sekitar dia tentang gue dan apa artinya gue di mata dia! Kalau emang lu tau sesuatu mending lu kasih tau gue dah, hal apa aja yang sering Lara ceritain soal gue ke adiknya ini?" tanya Giran serius. Luruh yang mendengar pertanyaan Giran membuat gadis itu tersenyum sinis dan memilih untuk menyahutinya dengan datar seolah ia tidak perduli dengan ucapan Giran bahkan Luruh berjalan menjauhi pemuda itu sebab rasanya akan lebih baik jika Lara sendiri saja di banding kakaknya terluka terus oleh pemuda itu dan Giran malah balik memarahi Luruh yang di anggap sok tau dengan hubungan mereka. "Pengen tau pendapat orang sekitar Lara kata anda? Setelah berselingkuh dan memutuskan kakak saya lalu sekarang anda bersikap seolah-olah perduli padanya? Kak Lara gak butuh usaha dari orang yang bertahun-tahun hanya hidup untuk menghakimi dan menyakiti dirinya! Kalau anda berpikir usaha gak jelas ini meluluhkan hatinya sudah jelas anda salah," ujar Luruh datar. "Lah, bocah bau kencur macam lu tau apaan sih soal hubungan gue sama Lara?! Lu tuh cuma sok tau doang sama kehidupan orang lain! Lu gak tau aja alasan sebenarnya gue seperti ini karena apa terus ya namanya manusia wajarlah salah! Manusia tuh bukan malaikat yang hidup benar tanpa kesalahan jadi kalau gue berusaha buat dia bagus dong!!" omel Giran kesal. Sayangnya Luruh tidak merasa takut ataupun kesal dengan ucapan Giran karena menurutnya tidak penting jika mengurusi orang seperti Giran ini, dalam diam Giran memandang kesal gadis yang memilih pergi begitu saja sedangkan Luruh tersenyum lembut melihat kakaknya berada di pelukan orang yang tepat. "Beginikah cara orang tua mendidik kedua putrinya! Lara bersikap angkuh seolah-olah cuma dia gadis di muka bumi ini, eh satunya lagi pergi tanpa menyahuti ucapan orang lain dengan benar! Yaudahlah emang itu anak gak jelas aja mending gue tunggu sini aja siapa tau ada orang lain yang bisa gue tanyain atau bantuin gue gitu! Dasar adik Lara gak jelas?!" gumam Giran kesal. "Masyaallah, syukurlah kalau akhirnya kak Lara bisa bersandar pada pelukan orang yang tepat seperti kak Rajan ini! Di saat kak Lara menangis dan merasa sedih atas sikap pria aneh itu kak Rajan selalu ada dan semoga saja mereka bisa terus bersama selamanya agar kak Lara bahagia dengan pria baik serta sabar seperti kak Lara yang memang penyabar juga," batin Luruh senang. Namun tanpa Luruh sadari, Gidan masih menunggu Luruh dan siapapun yang bisa ia ajak bicara untuk menanyakan soal Lara sedangkan Rajan dan Lara yang tiba-tiba mendengar candaan Luruh seketika melepaskan pelukan mereka dengan ekspresi wajah yang berbeda dimana Rajan hanya terkekeh dan Lara menundukkan wajahnya malu. "Gue ini sebenarnya nungguin siapa sih? Satu-satunya orang yang bisa gue tanyain kan cuma adiknya tadi itu! Selain dia ya gak ada orang lain kan? Lagian mana Lara punya temen sih! Dia yang penyakitan gitu gak punya siapa-siapa dan gimana caranya gue luluhin dia kalau arti gue di mata orang sekelilingnya aja minim begini? Terus gue harus nanya siapa?" batin Giran gelisah. "Duh yang lagi bahagia, dalam rangka apa nih pelukan-pelukan begitu? Kayaknya daritadi aku ketinggalan banyak cerita ya? Ih gemes banget liat kalian yang kayak bahagia terus saling mengandalkan satu sama lain gitu! Jangan lupa traktirannya ya! Gak apa-apa misalkan gak hari ini juga aku tungguin terus kok," canda Luruh senang. Rajan yang menyadari jika mungkin kakak beradik itu membutuhkan waktu untuk mengobrol satu sama lain jadi pemuda itu memilih keluar dari kamar rawat itu dan langkahnya terhenti saat matanya tidak sengaja melihat Giran yang seperti gelisah akan sesuatu hal, tetapi Rajan memilih untuk mengabaikannya. Hingga tak lama Giran memanggil Rajan dan menanyakan apakah Lara pernah bercerita sesuatu hal mengenai dirinya atau tidak sementara Rajan hanya membalikkan pertanyaan apakah Giran pernah menceritakan Lara pada orang lain lalu tanpa menunggu jawaban apapun darinya ia sudah berlalu pergi dari hadapan Giran. "Udah gak usah pura-pura gak lihat gue deh! Ada hal yang mau gue tanyain sama lu, apakah Lara pernah bercerita sesuatu hal soal diri gue ke lu atau lu gak tau apa-apa? Gue pengen tau aja kenapa sekarang dia seperti memilih sendiri padahal gue tau cinta dia itu masih milik gue dan kalau lu gak tau apa-apa gue harus nanya siapa nih?" tanya Giran serius. "Begitukah? Terus apakah anda pernah menceritakan Lara pada orang lain? Keinginan lu untuk tau apakah Lara perduli sama lu atau gak rasanya terlambat! Dia memilih sendiri karena dia sudah terlalu dengan semua luka dari manusia model lu jadi sebelum lu tanya gue mending periksa diri lu sendiri apakah selama ini sikap lu keterlaluan atau gak?" tanya Rajan datar. Setelah kepergian Rajan seketika tatapan Giran terlihat sangat kesal dan ia menganggap jika Rajan hanya bersikap sok pahlawan padahal menurutnya Rajan sangat tidak cocok bersikap seperti itu bahkan Giran berjanji akan merebut Lara dari sisinya agar pemuda itu paham seperti apa perasaannya saat ini. "Dih, apa-apaan sih itu cowok satu! Dia pikir ucapannya logis gitu, palingan dia cuma iri sama gue makanya dia bersikap sok pahlawan padahal boro-boro cocok! Dasar cowok gak jelas pantas saja Lara lebih memilih gue karena dia bentukannya aja begitu ya malas banget gue kalau harus berurusan sama orang kayak dia," gumam Giran kesal. Sementara Luruh yang melihat kakaknya malu-malu seperti ini membuat gadis itu menanyakan apakah kakaknya sudah memiliki hubungan sampai terlihat sangat dekat lebih dari biasanya seketika tatapan yang awalnya terlihat berwarna malah berubah menjadi redup membuat Luruh bingung dengan kakaknya ini. "Baru kali ini aku melihat kakak kayak malu-malu begitu kak, sangat langka dan oh iya apakah kakak sudah memiliki hubungan sama kak Rajan ya? Rasanya tadi kalian terlihat sangat dekat kayak lebih dari biasanya begitu deh? Duh akhirnya aku punya kakak ipar dan ada penawar untuk hati kakak ya? Syukurlah aku ikut senang kalau kakak senang kak," canda Luruh santai. Pandangan mata Lara yang terlihat begitu suram membuat Luruh ikut merasakan perasaan sedih yang terpancar dari mata itu kemudian gadis itu mengusap-usap bahu kakaknya lembut sambil menanyakan apa yang terjadi pada kakaknya sebab ia pikir Lara sudah bahagia karena tak lagi terlihat sedih. "Ih perasaan kakak barusan kayak bahagia gitu terus kenapa sekarang jadi suram tatapan sama ekspresinya? Kak Rajan tidak mungkin menggantung perasaan kakak bukan? Cerita sama aku kalau memang ada masalah lain di antara lain kak! Apa yang terjadi pada kakak sebenarnya kak? Padahal tadi aku pikir kakak sudah bahagia eh ternyata aku salah ya?" tanya Luruh khawatir. Dalam diam Lara hanya bisa memandang ke arah langit sambil bergumam-gumam bahwa akan lebih baik jika mereka tak bersama dan lebih baik jika Lara sendiri sebab ia tidak sanggup jika suatu saat dirinya adalah penyebab hancur hatinya Rajan jadi ia meminta Luruh untuk jangan berharap apapun pada dirinya yang seperti ini. "Dia tidak pernah menggantung perasaanku, Luruh! Hanya saja akan lebih baik jika kita tidak bersama bahkan lebih baik aku sendiri karena aku tak sanggup kalau suatu saat aku adalah penyebab hancur hatinya sekaligus luka terbesar dalam hidupnya hingga nantinya ia sulit untuk melanjutkan hidupnya dek! Sejak awal kami memang tidak di takdirkan bersama jadi mungkin memang seperti ini jalanku," gumam Lara sendu. Luruh yang mendengar ucapan seperti ini membuat gadis itu menanyakan apakah Lara yakin bahwa menjadi sendiri adalah pilihannya sebab daripada terus menjauh seperti ini menurut adiknya ada baiknya jika Lara membahagiakan dirinya di banding mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi. "Kenapa kakak berpikiran seperti itu kak? Apakah kakak yakin bahwa menjadi sendiri adalah pilihan kakak yang paling tepat dan bahagia untuk kalian? Pernahkah kakak bertanya bagaimana perasaan ia dengan pilihan kakak ini? Kalau menurutku daripada terus menjauh dan membuat kakak sedih lebih baik kakak bahagiakan diri kakak di banding khawatir sama hal yang belum terjadi mah buat apa kak? Kakak juga berhak bahagia loh," ucap Luruh lembut. Mendengar nasihat Luruh yang ada benarnya membuat Lara menangis dan menjelaskan jika ia tidak ingin meninggalkan Rajan dengan luka yang tercipta karena kebersamaan mereka dan Luruh mengusap air mata kakaknya lembut sambil ia bercerita bahwa lebih baik ia memiliki kenangan di banding Rajan menyesali banyak hal setelah kepergian Lara. "Bagaimana aku bisa bahagia kalau suatu saat aku akan meninggalkan Rajan, dek? Aku takut jika nantinya Rajan malah hancur karenaku dan pada akhirnya aku menjadi luka yang tercipta karena waktu yang ia miliki selalu bersamaku! Lalu ke depannya bagaimana caranya Rajan tetap tegar saat kehadiranku mungkin tak ada lagi di sisinya dek," lirih Lara sendu. "Perihal meninggalkan seseorang memang tak pernah bisa kita hindari kak, malah menurutku lebih baik kak Rajan memiliki kenangan bersama kakak di banding suatu saat nanti kak Rajan merasa menyesali banyak setelah kepergian kakak itu mungkin lebih menyakitkan sebab bisa saja di hatinya ia ingin membahagiakan kakak! Yakinlah bahwa kepergian bukan tugas kita, tapi kebahagiaan itu kakak yang ciptakan loh kak," tutur Luruh lembut. Tangisan Lara perlahan-lahan berhenti kemudian ia menanyakan apakah dirinya tak keterlaluan karena membuat Rajan hidup dalam kenangan yang pada akhirnya hanya menyakiti Rajan sebab rasa rindunya tak bisa terbayarkan dengan benar saat dunia mereka mungkin sudah tak lagi sama. "Aku harus apa untuk bisa meyakinkan diriku bahwa ketakutanku ini harus aku singkirkan? Apakah aku tak keterlaluan karena membuat Rajan hidup dalam kenangan yang pada akhirnya kenangan itu hanya akan menyakiti Rajan sebab rasa rindu yang ia miliki tak bisa terbayarkan dengan bertemu aku! Suatu saat aku mungkin sudah tak lagi di sisinya," gumam Lara khawatir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN