Aku Memaafkanmu Tapi

1845 Kata
Kekhawatiran dan tatapan cinta yang terpancar dari mata Lara membuat Luruh mengusap-usap kepala Lara lembut sambil ia menenangkan bahwa suatu saat Rajan pasti akan hidup dengan caranya sendiri seperti ia hidup dalam cintanya selama ini untuk Lara jadi sebaiknya Lara tidak perlu lagi mengkhawatirkan banyak hal jika ia masih bisa melakukan hal hebat lainnya. "Jangan menyingkirkan ketakutanmu, tetapi jadikanlah rasa takutmu sebagai kekuatanmu untuk terus yakin bahwa suatu saat kakak bisa membahagiakan kak Rajan dan juga diri kakak! Aku percaya kalau nantinya kak Rajan pasti akan hidup dengan caranya sendiri seperti ia berusaha untuk mempertahankan cintanya! Lagipula kakak hebat loh jadi jangan sedih seperti ini lagi ya? Aku yakin suatu saat semua hal ini akan berakhir," tutur Luruh lembut. Lara memandang adiknya lekat berusaha untuk mencari tau apakah Luruh bersungguh-sungguh dengan ucapannya atau ia hanya membual demi menghibur kakaknya dan ternyata Lara bisa merasakan jika Luruh benar-benar tulus mengatakan hal itu hingga Lara hanya bisa mengulas senyumannya lembut. "Rasanya semakin melihat Luruh aku merasa sedikit bingung apakah ia bersungguh-sungguh mengatakan hal ini? Atau sekedar menghibur kakaknya saja? Cuma kalau aku perhatikan baik-baik saja sepertinya ucapan terlihat tulus dan tidak main-main jadi aku percaya bahwa aku yang berpikir sendiri akan lebih baik nyatanya dengannya aku bisa sebahagia ini bahkan aku merasa jika tanpanya mungkin aku aka lebih sedih daripada ini mungkin ya," batin Lara senang. Di tengah-tengah perasaan sedih dan haru yang di rasakan Luruh dan Lara tak lama suara pintu kamar rawat terbuka kemudian ekspresi Luruh dan Lara terlihat berbeda saat mata mereka melihat ke arah pintu yang ternyata orang yang datang adalah Giran yang sedang tersenyum dengan senyuman yang memuakkan menurut Luruh. "Tak baik jika pasien sepertimu memikirkan banyak hal, Lara! Bagaimana jika kamu bercerita padaku agar kamu bisa menemukan solusi yang lebih bermanfaat di banding mengobrol dengan Luruh yang tidak membantu banyak hal ini! Lagipula memang hanya aku yang mampu menjadi sandaranmu Lara," ucap Giran santai. Dalam diam pemuda itu berpikir jika mungkin Lara akan berusaha menerimanya karena tadi ia mendengar jika kelemahan Lara sekarang adalah Rajan sebab sejak kepergian Rajan tak lama Giran ikut menguping pembicaraan antara Luruh dan Lara jadi diam-diam Giran berpikir bahwa dengan cara ini Lara akan kembali padanya. "Ternyata dia mulai menaruh hati pada Rajan ya? Kalau begitu aku bisa membuatnya tertekan dan ia tunduk padaku karena dengan begini itu artinya aku tau kelemahan Lara! Sepertinya aku jadi memiliki cara untuk membuat Lara kembali padaku! Baguslah setidaknya dengan hal luar biasa ini pada akhirnya Lara memang tak pernah bisa melawanku!" batin Giran senang. Sayangnya apa yang di pikirkan Giran tidaklah benar karena Lara sekarang tidak lagi menjadikan siapapun sebagai kelemahannya sebab ia sudah berdamai dengan perasaannya yang telah ratusan kali di patahkan bahkan di hancurkan oleh Giran hanya demi kesenangan pemuda itu. "Sejak kapan kamu ingat jika aku ini seorang pasien? Bukankah selama ini kamu selalu bilang kalau aku ini orang sehat? Kamu tidak perlu menilai adikku seenak mulutmu! Aku lebih paham adikku dan orang yang menyakitiku jadi sudah jelas aku tak akan terbantu sedikitpun olehmu, Giran! Lupakah kamu jika sudah sejak lama kamu itu bukan lagi sandaranku," ujar Lara datar. Giran yang mendengar ucapan tak biasa dari Lara ini membuatnya terdiam sebab gadis itu tak lagi meneteskan air matanya ataupun terlihat rapuh di hadapan Giran hingga membuat dirinya seperti melihat orang lain yang tidak pernah Giran lihat sebelumnya dan tidak hanya Giran saja yang memiliki keyakinan karena Lara yang sekarang telah yakin bahwa ia harus lebih tegar "Seorang Lara bisa berbicara seperti ini? Bukannya dia selalu meneteskan air mata dan terlihat rapuh jika berurusan denganku? Terus kenapa sekarang dia malah terlihat seperti orang lain ya? Rasanya aku kayak tidak pernah mengenal Lara yang seperti ini, dia sangat berbeda dari sebelumnya? Ini beneran Lara yang itu ya?!" batin Giran terkejut "Mungkin ia pikir dirinya bisa terus-menerus menyakiti aku? Aku yang sekarang harus lebih ikhlas dan ikhlas dari sebelumnya! Sekarang aku paham alasan kenapa dia terus mengusik aku ya karena aku tidak pernah melawannya! Bukan hanya dia yang memiliki keyakinan bahwa dirinya itu paling hebat, aku juga memiliki keyakinan bahwa aku harus lebih tegar dari diriku yang sebelumnya," batin Lara serius. Semenjak terakhir kali Rajan melindungi Lara membuatnya berpikiran jika Lara harus membuat pemuda itu megerti bahwa Lara sudah memaafkannya, tetapi dirinya tidak akan lupa bahwa hubungan dan rasa sakit yang Giran berikan telah menghancurkan hati dan kepercayaan dirinya. "Bukankah terakhir kali aku dan Rajan telah memintamu untuk jangan datang lagi ya? Kalau memang kedatanganmu untuk memperbaiki hubungan kita yang telah hancur maka kamu tidak perlu memikirkannya sebab aku telah memaafkanmu, tapi aku tidak akan lupa bahwa hubungan dan rasa sakit yang kamu berikan telah berhasil menghancuekan kepercayaan diriku bahkan kini aku menjadi seperti ini juga berkat sikapmu," tutur Lara lembut. Seketika Giran merasa setiap sendi-sendi di tubuhnya seolah-olah tak memiliki tenaga dan Lara meminta pemuda itu untuk jangan melewati batas kesabarannya karena dengan Lara memilih untuk mendiamkan Giran artinya itu adalah batas dimana harusnya pemuda itu tidak mengusik kesabarannya. "Kenapa rasanya ucapan Lara sekarang seperti menakutkan ya? Baru kali ini aku merasakan setiap sendi-sendi di tubuhku seperti bergetar takut seperti orang yang tak memiliki tenaga gini sih aku? Ini aku kan hanya berbicara dengan mantan tak berguna itu, lalu kenapa aku macam orang payah gak sangat takut padanya ya," batin Giran takut. "Setelah semua sikapmu padaku harusnya kamu jangan melewati batas kesabaranku! Karena dengan aku memilih untuk mendiamkan dirimu itu artinya di sana adalah batas di mana harusnya kamu tidak perlu mengusik kesabaranku! Sebab sikapku yang selama ini sepertinya membuatmu semakin seenaknya pada diriku Giran jadi aku sudah tak ingin seperti dulu lagi dan tolong sadar dirilah," ujar Lara datar. Wajah yang di lihat Giran mungkin tersenyum, tetapi nada dan tatapan yang Lara berikan pada Giran benar-benar membuatnya tersentak sebab setelah bertahun-tahun lamanya gadis itu kesal ataupun marah padanya Lara tidak terlihat seperti saat ini, rasanya Giran seperti berurusan dengan orang salah. "Sejak kapan Lara jadi memiliki nada dan tatapan yang mengerikan seperti ini? Rasanya ucapan Lara seperti menyentakku walaupun wajahnya tersenyum seperti biasanya! Baru kali ini melihat orang yang aku kenal selama bertahun-tahun terlihat lain? Padahal semarah atau kesal apapun dirinya Lara tidak pernah terlihat begini? Apakah ini sungguhan Lara ya?!" batin Giran terkejut. Lalu tanpa menyahuti ucapan Lara, tiba-tiba saja Giran memilih pergi dari sana dan Luruh hanya bisa merasa kagum dengan kakaknya yang sudah lebih kuat dari sebelumnya sedangkan Lara yang dirinya seperti ditatap lekat oleh adiknya membuat Lara bertanya mengapa Luruh melihat dirinya seperti ini memang apa yang gadis itu pikirkan. "Wah, kak Lara hebat! Ternyata setelah banyak hal berat yang di lalui oleh kakak justru membuat kak Lara menjadi lebih kuat dari sebelumnya! Aku jadi merasa lega jika sekarang kakak sudah tak takut lagi pada pria gak jelas itu?! Syukurlah jika kakak sudah bisa berdamai dengan masa lalu dan rasa sakit yang memang tidak harus ia pikirkan," batin Luruh kagum. "Loh? Kenapa kamu melihat kakak sampai segitunya dek? Emang dari ucapan kakak ada yang aneh ya? Lagi mikirin apa sih sebenarnya kamu tuh, Luruh? Tumben banget cara melihat kakak gak biasa gini? Perasaan kakak gak berbicara yang terlalu bagaimana-bagaimana deh ya? Apa ucapan kakak sudah keterlaluan ya?" tanya Lara bingung. Luruh hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu ia balik bertanya mengapa kakaknya malah memaafkan pria tak jelas macam Giran itu padahal jika Luruh pikir-pikir rasanya Giran tak layak di maafkan ataupun di simpan di dalam hati kakaknya terlebih sikap Giran selalu menyakiti Lara. "Gak gitu loh kak, aku cuma kagum saja sama kakak yang seperti ini! Cuma kalau di pikir-pikir lagi kenapa kakak malah memaafkan pria gak jelas macam cowok aneh itu? Menurut aku pribadi mah dia tuh gak layak di maafkan apalagi di simpan di hati kakak loh! Kan dia yang selalu menyakiti kakak ya harusnya diemin aja dia kak! Kenapa dimaafin?" ujar Luruh serius. Tak lama sebuah senyuman hadir di wajah Lara kemudian dengan lembut ia mengusap-usap kepala Luruh lembut sambil ia bercerita jika memusuhi dan memendam amarah hanya akan melukai diri Lara jadi lebih baik Lara berdamai dengannya, tetapi meskipun Lara memaafkan Giran tetap saja luka itu masih ada di hatinya. "Kalau ditanya kenapa kakak memaafkannya itu bukan demi diri dia melainkan untuk diri kakak sendiri karena memusuhi dan memendam amarah hanya akan melukai diri kakak sendiri jadi lebih baik aku berdamai dengan dirinya untuk kebaikan diriku juga! Aku memaafkannya, tapi aku dan hatiku masih terluka karenanya setidaknya aku berusaha melanjutkan hidupku dengan memulai lembaran baru," tutur Lara lembut. Senyuman kakaknya mungkin terlihat berusaha untuk menenangkan Luruh, tetapi dari tatapan mata Lara membuat Luruh mengerti bahwa Lara lebih dari sekedar hancur bahkan kini gadis itu hanya bersikap tegar walaupun di dalam dirinya sudah tak tersisa apapun lagi yang terlihat jika ia baik-baik saja sudah tidak ada. "Aku tidak paham dia ini manusia atau malaikat? Hatinya terlampau tulus kepada orang lain dan aku mengerti bahwa kakak lebih dari sekedar hancur, tetapi ia berusaha bersikap tegar walaupun di dalam dirinya sudah tak tersisa apapun lagi yang membuatnya terlihat baik-baik saja! Harusnya kakak bahagia bukan malah sedih seperti ini," batin Luruh sendu. Dalam diam Rajan hanya bisa bersandar di dinding dekat pintu kamar rawat Lara sebab tidak hanya Luruh yang berpikir demikian saja, tetapi Rajan juga bisa merasakan jika gadis yang ia cintai masih mencintai penyebab lukanya dan saat ini Lara hanya berpura-pura tak terluka padahal hatinya sudah meringis kesakitan di dalam sana. "Lara yang terluka, tetapi malah dia yang memaafkan? Harusnya dia bisa lebih bahagia dengan semua rencana di masa mudanya bukan malah menderita karena terus-terusan mengalah pada orang lain apalagi orang itu macam Giran! Dia tak perlu berpura-pura tegar seperti ini jika hati Lara sedang menangis ya jangan ditahan Lara! Aku ingin kamu bahagia bukan malah seperti ini loh," batin Rajan sedih. Pemuda itu hanya bisa tertunduk sambil mengepalkan tangannya kesal karena sebagai pria yang mencintai Lara ia malah tidak bisa melindungi Lara dan parahnya gadis itu berusaha kuat meskipun hatinya benar-benar sedang berada dalam keadaan tak baik, Lara masih terlihat tidak ingin lemah sedikitpun. "Apanya yang mencintai! Apanya yang tulus demi Lara, jika aku tidak bisa melindungi dan melakukan apapun untuknya! Dia sudah terluka separah inipun masih saja berusaha kuat dan aku tau ia tidak ingin terlihat lemah sedikitpun di depan aku dan adiknya," gumam Rajan sendu. Suasana sore itu menjadi semakin sedih, tetapi Rajan dan Luruh ingin memberi ruang yang lebih baik untuk menenangkan perasaan Lara sedangkan gadis itu masih berusaha tersenyum karena Lara tidak ingin membuat Luruh khawatir hingga kemudian pintu kamar rawatnya terbuka dan hadirlah Rajan yang menanyakan apakah obrolan mereka masih berlanjut atau sudah berganti topik. "Ayok kuat, Lara! Selama ini kamu telah menyusahkan banyak orang dan mulai sekarang kamu harus yakin bahwa sudahi rasa sakit dan amarah yang menyakitimu sebab ke depannya dirimu perlu melanjutkan hidupmu dan tak bisa selamanya kamu bergantung pada orang lain terus jadi mulai detik ini kamu harus tegar ya," batin Lara tegar. "Eh? Kalian masih mengobrol yang tadi apa sudah ganti topik? Kalau masih yang tadi aku pergi keluar lagi nih? Atau kalian mengizinkan aku untuk ikut bergabung? Ya aku sih tidak keberatan kalau harus bergosip dengan kalian, bagaimana?" tanya Rajan lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN