Luruh yang masih sibuk dengan pemikirannya sendiri justru terlihat begitu sedih dan Axton berusaha untuk mengendalikan amarahnya sebab ia tidak boleh semakin membuat gadis itu tertekan dengan kehadirannya yang mungkin tak diinginkan Luruh.
"Sabar, Axton ... sabar! Gue gak boleh kepancing sama dua manusia gak jelas itu! Pokoknya mau bagaimanapun perilaku tidak jelas mereka! Gue harus tenang dan jangan sampe bikin Luruh malah jadi tertekan dan gak nyaman di hari bahagianya! Tenang Axton," batin Axton tegar.
Waktu seakan-akan bergerak dengan lambat hingga membuat Luruh berusaha menenangkan dirinya yang sebenarnya ingin sekali berlari ke rumah sakit sekarang juga, sayangnya Luruh cukup sadar jika ia tidak boleh egois di sini.
"Perasaan waktu bergeraknya kok lambat ya? Kalau aja gue boleh kabur dari sini udah pasti gue pergi sekarang! Masalahnya gue gak boleh egois di sini! Saat ini yang terpenting gue harus sabar dan tenang dulu walaupun hati gue rasanya khawatir banget sama Lara setidaknya untuk sekarang yang penting adalah bersikap tenang dan biasa aja," batin Luruh gelisah.
Sementara Axton yang masih sibuk dengan beberapa tamu tak menyadari jika Luruh sudah tak ada lagi di sampingnya sebab pesta telah berakhir dan gadis itu bergegas mengganti pakaian untuk pergi ke rumah sakit dan menjenguk kakaknya.
Axton yang diingatkan abangnya bahwa istrinya telah bersiap-siap pergi membuat pemuda itu bergegas berganti baju karena ia tidak mungkin membiarkan istrinya sendirian ke rumah sakit, tak butuh waktu yang lama Axton dan Luruh telah rapih dan langsung masuk ke mobil untuk menjenguk Lara.
"Dek! Itu istri kamu udah mau pergi tuh mending kamu siap-siap karena bagaimanapun juga kamu tidak boleh dibiarkan pergi sendiri! Mulai sekarang kamu harus menjaga gadis itu dengan sebaik mungkin! Sebab saat ini kalian adalah keluarga jadi keduanya harus saling menjaga dengan baik ya Axton," ucap Terang serius.
"Iya bang, iya ... yaudah gue pergi dulu sekarang ya! Assalamualaikum bang," sahut Axton santai.
Perjalanan mereka terasa begitu hening karena baik Axton maupun Luruh tidak ingin membahas apapun sedangkan jarak dari tempat pesta menuju rumah sakit cukup jauh jadi mau tidak mau mereka hanya bisa fokus dengan apa yang mereka lihat.
Gadis itu fokus memandang ramainya jalanan sedangkan Axton memilih fokus dengan mobil-mobil yang melaju serampangan seolah-olah jalan ini milik mereka, beberapa kali Luruh tidak sengaja mendengar omelan Axton pada pengendara dan ia memilih untuk tidak memperkeruh keadaan saat ini.
"Jalanan mungkin ramai, tetapi rasanya tetap ada yang kurang apalagi kakak dalam keadaan begini! Mana sekarang aku belum tau bagaimana kak Lara di sana? Aduh semakin dipikirin rasanya semakin menyakitkan juga membingungkan, tapi aku juga gak bisa apa-apa? Semoga kakak baik-baik saja ya kak Lara," batin Luruh sendu.
"Dasar manusia gak beres! Segini gedenya jalanan masih aja gak bisa teratur! Dia pikir cuma dia aja yang buru-buru gitu? Entah dia lupa taruh dimana akal sehatnya sampai bisa-bisanya dia gak berpikir dengan benar! Mereka tuh dapat surat izin mengemudinya gimana sih! Bikin orang kesel aja! Dikira gue orang gabut aja gitu hah?!" omel Axton kesal.
Setelah melewati banyak hal panjang yang menyebalkan menurut Axton, akhirnya Luruh dan Axton sampai di rumah sakit lalu dengan cepat keduanya langsung menanyakan keberadaan kamar rawat Lara sebab mereka tidak tau keberadaan Lara ada di mana.
"Permisi, suster! Saya mau nanya dimana ya kamar rawat kakak saya? Namanya Lara Patricia Angel Hunt dan dia dibawa ke sini menggunakan ambulan dalam keadaan pingsan, suster! Bisa tolong sebutkan letak dan nomer kamar rawatnya?" tanya Luruh serius.
"Oh nona Lara ya, mba? Dia ada di lantai 1 ruang mawar nomer 5! Dari sini silahkan kalian lurus terus nanti ada nomer yang saya sebutkan mba," ucap perawat itu lembut.
Tanpa berlama-lama lagi Axton dan Luruh bergegas ke ruangan kamar rawat Lara lalu sesampai di sana tak lama Luruh menghampiri kakaknya yang sedang tertidur di temani mommy dan daddy yang menatap putrinya khawatir.
"Mom? Dad? Bagaimana keadaan kak Lara sekarang, mom? Apakah lukanya serius? Maaf kami baru datang karena pesta baru berakhir dan sekarang kak Rajan dimana? Eh itu kak Lara sedang tertidurkan? Dia biak-baik saja kan, dad? Mom?" tanya Luruh khawatir.
Mendengar nada sedih dari putrinya membuat Barbara menenangkan Luruh dan mereka pamit karena harus pulang ke rumah sebab tadi Barbara dan Daizen tidak menemani Luruh dan Axton di pesta hanya untuk menjaga Lara yang sedang sakit.
"Tenang saja, Luruh! Kakakmu baik-baik saja hanya luka ringan dan besok pagi Rajan akan datang lagi untuk menemani Lara pemeriksaan terakhir sebelum Lara bisa pulang ke rumah dan harusnya mommy yang minta maaf karena membuatmu lelah ke sana-sini sayang! Maaf juga tadi daddy sama mommy tidak menemani kalian ya! Kalau begitu kami pulang dulu ke rumah ya sayang! Assalamualaikum," ucap Barbara lembut.
Dalam diam Luruh hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti sedangkan Axton memilih mengistirahatkan tubuhnya di sofa sebab seharian ini dia lelah berdiri dan menyambut tamu yang hadir di pesta.
Tak lama Barbara dan Daizen pulang ke rumah sebab Rajan akan datang besok hari jadi malam ini biar Luruh dan Axton saja yang menjaga Lara, setelah kepergian kedua orang tuanya tidak lama mata gadis cantik itu melihat Axton yang menutup matanya dengan lengan dan seingat dirinya ia belum makan apapun dari siang hari.
"Sepertinya yang kelelahan gak cuma gue atau mommy sama daddy aja ya? Kasihan juga lihat Axton yang harus ikut merasa cape? Astagfirullah mana dia belum makan apapun dari siang ya? Apakah perutnya baik-baik aja? Dia kelihatan butuh istirahat ya," batin Luruh khawatir.
Ia tau jika dirinya memang belum mencintai pemuda itu, tetapi bagaimanapun juga Axton telah menjadi suaminya dan ia perlu membantu Axton untuk makan dan istIrahat yang cukup jadi dengan langkahnya yang pasti Luruh pergi membeli makanan di dekat rumah sakit.
Axton yang tanpa sadar tertidur pulas karena rasa penat benar-benar membuat badannya terasa sakit hingga ia tidak memperdulikan suara pintu ataupun kepergian Luruh, tak lama samar-samar Axton mendengar suara batuk-batuk yang membuatnya seketika terbangun dan melihat Lara yang memegang tenggorokkannya.
Sontak saja Axton menghampiri Lara dan memberikan gadis itu gelas minum yang berada di samping tempat tidurnya, awalnya gadis itu merasa canggung dengan sikap Axton hanya saja ia tau jika pemuda ini hanya iba saja padanya.
"Sakit ya? Ini minum! Tolong minum dengan perlahan-lahan dan jangan banyak berbicara dulu pasti tenggorokan Lara masih sakit iya kan? Tenang saja Lara pasti akan segera kembali pulih jadi silahkan istirahat dulu saja ya," gumam Axton serak.
Perlahan-lahan tenggorokan Lara sedikit membaik terlebih Axton juga menepuk-nepuk lembut punggung Lara yang mungkin pemuda itu berpikir jika tepukan seperti ini bisa sedikit membantu Lara dari rasa sakitnya.
Di saat kedua manusia itu terlihat biasa saja di lain sisi ada tatapan gadis itu terlihat sedih dan ia sendiri juga tidak mengerti dengan suasana baru ini, ia tau jika Lara tidak berniat tak baik pada suaminya dan memang seharusnya mereka berdua yang menikah bukan dirinya.
"Mereka ... gak! Wajar kalau Lara dibantu Axton toh yang ada di sanakan cuma mereka berdua dan lagi seharusnya yang menikah itu kak Lara sama Axton bukan gue! Jadi serba salah kalau lihat mereka begini! Ada sedihnya cuma gue juga gak bisa apa-apa juga," gumam Luruh dilema.
Melihat suaminya sedang membantu Lara membuat Luruh seketika enggan masuk sebab jika ia masuk ke sana yang ada hanya situasi aneh dan ia tidak ingin hal seperti itu terjadi untuk itu dirinya memilih mendudukkan dirinya di kursi yang ada di depan kamar rawat Lara.
"Masuk ke kamar rawat di saat seperti ini pasti agak canggung buat Axton sama Lara jadi lebih baik gue duduk dulu di sini sampe nanti gue berpura-pura gak tau apapun! Suasana ini emang baru cuma tetap aja gue gak bisa bohongin diri gue kalau seperti ini sakit sekali cuma gue juga gak bisa apa-apa," batin Luruh tegar.