Sejenak Axton merasa ia jika ia bisa memanggilkan Lara untuk Luruh sedangkan gadis itu tidak ingin mengikuti ucapan Axton bahkan ia memaksakan dirinya menemui kakaknya sendiri karena yang ia butuhkan saat ini adalah Lara.
"Lu kenapa, Luruh? Lu baik-baik aja kan? Sakit banget ya? Udah lu duduk sini aja biar gue aja yang panggilin Lara buat ke kamar ini ...," ucap Axton terhenti.
"Gak! Gue mau ketemu sama Lara! Jadi lu harus bawa gue ke kakak gue! Axton ... saat ini yang gue butuhin itu gue lihat Lara secara langsung! Dia lebih tua dari gue jadi harusnya gue lebih menghargai dia bukan malah nyuruh-nyuruh dia seenak gue," tolak Luruh datar.
Langkah Luruh mungkin terlihat tertatih-tatih, tetapi Axton tetap berada di sampingnya dan pria itu juga menahan tubuh Luruh yang seperti kehilangan tenaga agar ia tidak terjatuh. Sayangnya Luruh bukan lagi jatuh melainkan tubuhnya seperti kehilangan kekuatannya untuk berdiri.
"Lara ... kakak! Kenapa kakak gue bisa sampai seperti itu?! Apa yang terjadi sama dia? Seingat gue tadi Lara gak begini! Terus kenapa dia jadi seperti ini, Axton? Katakan ini cuma bercanda saja ya kan? Kakak gue gak mungkin terluka kalau tanpa alasan begini loh ...," lirih Luruh sedih.
Bagaimana gadis cantik itu tidak jatuh terduduk seperti ini, ia melihat kakaknya terkapar dalam pelukan sahabat Lara dan dengan cepat Luruh berlari ke arah Lara dan berusaha memanggil-manggil nama kakaknya sebab ia tidak ingin di hari pernikahannya ia kehilangan Lara.
"Kakak ... tolong bilang ini bercanda? Kak Lara gak mungkin begini kan? Ayok kak bangun! Jangan bercanda di hari yang bahagia ini kak! Please bangun kak! Aku gak mau liat kakak sakit seperti ini! Tolong jawab dan tatap mata aku sekarang juga ya kak! Kakak," panggil Luruh sendu.
Seketika rasa sakit dan takut merayap begitu kuat di dalam hati Luruh, bukan seperti ini hal yang ingin Luruh lihat di hari pernikahannya. Dirinya melakukan pernikahan ini juga demi melindungi dan membahagiakan Lara, tapi mengapa sekarang malah jadi seperti ini.
"Kenapa kakak masih aja merem sih, kak? Tolong bilang bahwa ini cuma candaan aja kan? Hari ini seharusnya menjadi hari kebahagiaan buat aku bukan malah jadi begini, Lara! Please bangun dan bilang sama gue kalau ini tuh cuma bohongan aja kan? Jangan buat gue takut kehilangan lu, Lara! Gue mau melindungi lu bukan malah liat lu pingsan sampai begini," gumam Luruh sendu.
Tangisan gadis cantik yang kini masih terduduk di tanah seperti ini membuat Axton menanyai Rajan apakah ia sudah menghubungi ambulan dan apakah mommy dan daddy Lara tau hal ini, sebelum pemuda itu menyahuti pertanyaan Axton sekilas Rajan melirik tajam pada Giran lalu ia menjawab ucapan Axton dengan datar.
"Lu yang namanya Rajan kan? Daritadi lu udah nelpon ambulan belum? Oh iya apakah mommy sama daddy Lara tau hal ini? Terus kenapa bisa Lara jadi begini? Kronologi dia terluka itu kenapa? Seingat gue tadi dia masih baik-baik aja! Ada yang gak beres nih?!" tanya Axton serius.
"Iya benar ... udah! Katanya sedang dalam perjalanan! Mereka belum tau dan gue gak siap kalo harus memberi tau masalah ini ... awalnya cuma perkelahian biasa antara gue sama Giran eh cewek di sampingnya malah memberikan pot yang ingin dipukul ke gue dan sayangnya Lara malah melindungi gue! Mereka adalah penyebab Lara terluka," sahut Rajan datar.
Axton yang mengerti jika pemuda yang ada di hadapannya sedang menahan amarahnya, lalu tak lama dirinya menghantamkan bogem mentah ke arah Giran yang seketika jatuh ke tanah dan gadis yang di sebelahnya memaki Axton.
"Apa-apaan sih ini!! Kenapa tiba-tiba anda memukul pacar saya? Dia tidak salah apapun dan seharusnya anda bisa menggunakan akal anda!! Apakah anda melupakan pikiran anda di suatu tempat hah! Payah sekali sih anda jadi orang! Bisa-bisanya anda tidak tau diri begini! Bahkan sampai menyerang pacar saya sembarangan! Tidak tau malu," maki Narunna kesal.
Mendengar ucapan yang tidak perlu dari orang yang tidak di kenal oleh Axton, membuat pria itu menyeringai sekilas dan ia membalikkan ucapan Giran dan Narunna yang kini seketika merasa ketakutan dengan ucapan pemuda itu.
"Saya tidak tau malu? Bukankah kalian sudah menyakiti kakak ipar saya? Kalian yang duluan memukulnya sampai terluka! Apakah kalian pikir saya akan diam saja setelah perbuatan ini? Saya bisa melaporkan masalah ini terlebih ada korban di sini jadi seharusnya kalian berkaca diri di banding menghina keluarga yang kalian lukai! Sadar diri ya tolong!" tutur Axton serius.
Tak cukup hanya di sana Axton menarik kerah kemeja Giran dan hendak membuat pemuda itu ikut merasakan rasa sakit yang di rasakan Lara, tetapi Luruh meminta Axton untuk membawa kakaknya ke ambulan karena tadi ia mendengar ada suara sirene yang mulai mendekat.
"Cukup, Axton! Saat ini yang lebih penting itu membantu kakak gue buat masuk ke ambulan! Tolong biarin aja mereka! Toh mereka bukan urusan kita untuk membuat mereka berpikir karena sepertinya otak mereka tidak digunakan dengan baik dan belum tentu mereka paham bagaimanapun penderitaan yang di alami, Lara! Nah itu ambulannya Axton," ucap Luruh sendu.
Suasana yang terlihat begitu panas seketika langsung berubah sedikit mereda ketika Axton tak lama bangkit dari manusia yang sangat ingin ia lenyapkan karena ia berani-beraninya membuat Luruh sampai menangis seperti ini di hari pernikahannya.
"Dasar manusia gak jelas!! Kalau aja Luruh gak memperingatkan gue soal ambulan, udah pasti dia bakalan gue lenyapkan sekarang juga! Bisa-bisanya dia membuat Luruh menangis sampai seperti ini di hari pernikahannya! Liat aja nanti akan gue balas berkali-kali lipat?! Tunggu aja waktunya dan gue akan bikin mereka menyesal!!" batin Axton geram.
Merasa tak ada gunanya berurusan dengan Giran membuat Axton bergegas membantu Rajan untuk mengangkat Lara ke ambulan dan ia meminta Rajan untuk menemaninya sampai nanti keluarga mereka akan menyusul setelah akad dan pesta ini selesai.
"Hari ini terlalu bersejarah dan gak mungkin gue membatalkan pernikahan ini, Rajan! Please lu temenin Lara dulu nanti setelah akad sama pesta ini selesai gue sama keluarga besar akan menyusul ke rumah sakit jadi mohon bantuannya ya, Rajan! Terima kasih ya," ucap Axton santai.
Rajan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti lalu mobil ambulan perlahan-lahan menjauh sedangkan Axton meminta security untuk membawa pergi Giran dan Narunna dari rumah ini sebab kehadiran mereka tak dibutuhkan di sini.
"Security!! Saya membayar kalian untuk berjaga-jaga di sekitaran tempat ini! Jadi seharusnya hal ini tidak terjadi selama ada kalian?! Karena ini sudah terjadi saya perintahkan kalian untuk membawa dua orang ini pergi dari tempat ini! Mereka tidak di butuhkan di sini jadi cepatlah bawa Giran dan entah siapa itu enyah dari hadapan saya sekarang juga!!" ujar Axton tegas.
Lalu dengan cepat para security membawa Giran dan Narunna pergi dari area pesta sedangkan Luruh yang masih shock yang bisa diam saja selama akad dan pesta berlangsung seperti gadis itu kehilangan semangat dan pikirannya entah pergi ke mana.
Sebenarnya Axton berusaha ingin menghibur Luruh, tetapi melihat tatapan kosong itu seketika membuat Axton merasa geram terlebih di hari pernikahan yang harusnya membahagiakan gadis itu malah menjadi hari yang paling mengerikan seolah-olah menikah untuknya adalah berperang dengan orang yang menyakiti kakak tersayangnya.
"Dasar dua manusia memuakkan! Gara-gara mereka Luruh jadi sedih dan seharusnya hari ini tuh menjadi hari yang bahagia buat dia bukan malah menangisi keadaan kakaknya yang seolah-olah ia menikah hanya untuk berperang dengan orang yang menyakiti kakaknya! Emang gak bisa di biarkan mereka tuh," batin Axton geram.
Di saat Axton merasa geram dan berusaha menahan amarahnya sekuat tenaga, di lain sisi gadis yang pemuda itu pikirkan masih saja memikirkan keadaan kakaknya yang ia sendiri tak pernah menyangka bahwa luka, masa lalu bahkan penyebab Lara menderita akan hadir lagi seperti ini.