Bab 2 - Kaos Kaki

489 Kata
"Mati! Spertinya aku bakalan telat." Tasya merapikan baju yang ia kenakan, menuang bedak tabur ke tangannya lalu menepuk-nepukkan ke wajahnya, mengambil ikat rambut kemudian mengikat rambutnya dengan asal. Tasya mengambil tas dan perlengkapan yang diperlukan untuk praktikum kimia organik hari ini, kemudian mengeluarkan motor dari dalam rumah. Tasya melirik jam dari ponselnya yang menunjukkan bahwa 10 menit lagi praktikum akan dimulai, padahal ia membutuhkan waktu 15 menit untuk tiba di kampus. TINGG Pesan dari Nadya. Kamu dimana, Sya? Ini bentar lagi sudah mau masuk lho. Tasya mengetik balasan pesannya dengan singkat. Mau gerak. Dia langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celana kemudian melajukan motornya dengan cepat. 'Semoga tidak macet. Semoga mereka belum masuk Tuhan, kabulkanlah permohonanku ini, aku berjanji untuk tidak terlambat lagi.' Ucapnya di dalam hati. ~ "Nad, kamu dari mana aja sih? Gila aja, kamu baru bangun jam segitu. Perlengkapan bawa semua kan?" Katanya panik. Saat sampai di ruangan lab lantai tiga, teman-teman sekelasnya sudah berdiri di depan kelas menyerahkan buku jurnal mereka untuk diperiksa asisten lab kelas mereka. Tasya sangat bersyukur doanya dikabulkan, meski di jalan dia harus dimaki-maki pengendara lain karena membawa motor dengan ugal-ugalan. "Ini." Tasya menyerahkan satu kantong plastik bewarna hitam yang berisi perlengkapan untuk praktikum. Nadya membuka dan mengeceknya. Sembari dia mengatur napas dan mengambil jas lab, buku jurnal praktikum dan juga masker labnya dari dalam tas. Tasya menyerahkan buku jurnalnya kepada salah seorang anggota kelompoknya kemudian mengenakan jas lab. "Oke, perlengkapan kelompok sudah." Ucap Nadya yang kemudian memperhatikan Tasya secara keseluruhan. "Kaos kakimu mana, Sya?" Tanyanya. "Oia!" Tasya membuka tasnya dan mencari kaos kaki yang seingatnya sudah dimasukkan ke dalam tas. "Gawat, Nad. Sepertinya kaos kakiku ketinggalan. Gimana ini?" "Ck, tunggu sebentar aku coba hubungi temanku dulu." Nadya terlihat sibuk menelepon temannya. "Perlengkapan sudah ada semua?" Asisten lab tersebut menghampiri kami, ia tidak ingat siapa namanya. "Hmm, kaos kaki saya ketinggalan kak. Tetapi sepatu saya tertutup kok. Kami boleh masuk, kan?" Tasya menunjukkan sepatunya yang model slip-on. Ass lab itu melirik Tasya sinis. "Kamu usahain harus dapat kaos kakinya, yang lainnya boleh masuk." Dia masuk ke dalam meninggalkan mereka. Nadya menghentikan pembicaraannya di telepon. "Aku sudah minta tolong temanku untuk meminjamkan punyanya. Aku juga sudah kirim poto dan nomornya ke hapemu. Kami masuk duluan." Lima menit berlalu, teman Nadya tidak kunjung terlihat. Tasya berniat untuk menunggunya di lantai pertama, hingga akhirnya tampak seorang yang terlihat seperti di poto yang dikirimkan Nadya. Dia berhenti di hadapan Tasya, kemudian membuka sepatunya, melepaskan kaos kakinya dan memberikannya kepadanya. 'Well, aku tidak punya pilihan lain, setidaknya aku dapat mengikuti praktikum hari ini.' Saat Tasya hendak menerima kaos itu, orang itu menarik kembali tangannya. Tasya langsung memandang orang tersebut. "Ini tidak gratis." Dia menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum. Tasya sedikit berjinjit dan mengambil paksa kaos kaki tersebut. "Fine! Nanti kutraktir makan siang." Tasya memakai kaos kaki tersebut dan bergegas masuk ke dalam lab. "Oke, aku tunggu nanti!" Teriaknya lalu berbalik arah dan keluar dari jurusan kimia. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN