Malam ini Lady Vega masih resah memikirkan tentang hutan kegelapan. Sebab setiap hari ia masih memimpikan hal yang sama. Ia duduk di atas tempat tidurnya. Rasa kantuk membuat matanya berat dan ingin terpejam. Namun keinginan untuk menghindari mimpinya, membuat Lady Vega bertarung dengan rasa kantuknya.
“Aku tidak ingin tidur hari ini... Mungkin dengan begitu, aku akan berhasil memutus mata rantai mimpiku itu....” Vega berharap ia bisa hidup normal tanpa dihantui mimpi-mimpi yang dialaminya setiap hari. Ia masih duduk sambil memakan cabai yang ia petik di kebun miliknya. Ia tidak ingin orang lain mengetahui keadaannya. Jika rasa kantuk itu datang, ia langsung memakan satu tangkai cabai untuk membuat mata dan pikirannya cerah kembali karena merasakan sensasi pedas di mulutnya.
“Hah...ssssshhaaahh... Lumayan mengurangi rasa kantuk ini... Walau perutku harus merasakan panas.” Vega meminum air putih karena kepedasan.
“Aaarrrgggghhh... Kenapa harus seperti ini?” Vega semakin resah. Ia mondar-mandir di kamarnya karena bingung harus bagaimana menyikapi mimpi yang sama yang selalu datang di setiap tidurnya.
Pikiran yang tidak tenang melawan rasa kantuk, membuatnya gelisah. Lady Vega membuka jendela kamarnya, ia menatap bintang di langit malam. Pikirannya terasa damai, ia berharap segera mengetahui semua teka-teki dalam mimpinya.
Secara tidak sengaja Lady Vega melihat sekelebat bayangan seseorang yang mengenakan jubah menunggangi kuda pergi menuju gerbang rumahnya.
“Siapa dia? Victor? Atau Ayah? Untuk apa pergi malam-malam seperti ini?” Vega yang merasa penasaran berniat mengikuti ke mana sosok misterius itu pergi. Dengan segera, Vega mengambil jubah, pedang, dan kudanya.
Tanpa pikir panjang, ia mengikuti ke mana pun sosok itu pergi. Hingga Vega tersadar dirinya memasuki hutan lotus. Rasa penasaran membuatnya terus mengejar sosok misterius di depannya dan mengesampingkan rasa takutnya.
Lady Vega menyadari bahwa dirinya sudah melewati batas hutan lotus dengan hutan kegelapan Donkerwald. Kini dirinya benar-benar memasuki Donkerwald.
“Apa? Tidak... Ini tidak mungkin! Aku pergi berkuda sejauh ini? Malam-malam seperti ini? Tapi... Siapa penunggang kuda di depanku itu?” Lady Vega mulai bingung dengan suasana malam itu.
Ia memperlambat laju kudanya. Tampak pepohonan menjulang dengan ranting-ranting menjulur seakan mengintai Vega ke mana pun ia melangkah. Secercah cahaya bulan menyelusup melalui celah dedaunan. Kesunyian menjalar di setiap jejak langkahnya. Kabut tebal memberi nuansa mistis di dalam hutan itu. Semakin masuk ke dalam hutan yang gelap itu, Vega merasa semakin penasaran. Ia masih melajukan kudanya dengan penuh hati-hati.
Angin malam berdesir membelai dedaunan. Cahaya bulan yang mulai temaram membuat nyali Vega semakin ciut. Namun rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Vega mendengar gemercik air tidak jauh di depannya. Ia turun dari kuda dan mengikat tali penuntun Jitender pada sebuah batang pohon.
Napasnya semakin sesak, karena hawa dingin berkabut yang semakin menebal, memenuhi hutan itu. Sesekali Vega menoleh sekelilingnya. Sikap waspada selalu ia sematkan dalam hatinya.
Vega berjalan mendekat menuju sungai yang tampak tidak jauh lagi di depannya. Ia mulai melihat seseorang mengenakan jubah hitam berdiri di dekat sungai. Langkah Vega terhenti tidak jauh dari sosok itu.
“Ma... Maaf, ka... Kamu siapa?” Vega memberanikan dirinya bertanya dengan jarak yang sangat dekat tepat di belakang sosok itu. Sosok yang mengenakan jubah dengan penutup kepala, belum menoleh ke arah Vega.
Sosok itu masih berdiri dan terpaku di sana tidak menoleh sama sekali. Vega pun masih terpaku dan menunggu sosok itu menoleh. Suasana semakin hening membuat nyali Vega semakin ciut. Ia merasa takut tapi juga penasaran. Beberapa kali Angin berdesir lebih kencang dari sebelumnya, sehingga menyibakkan jubah penutup kepala sosok yang berdiri di hadapan Vega.
Rambutnya panjang mirip seperti rambut Lady Vega. Tinggi badan dan posturnya pun sangat mirip. Vega berusaha menghirup napas yang mulai terasa mencekik lehernya karena kabut yang semakin tebal juga rasa takut yang mulai menyelimuti jiwa dan pikirannya. Lady Vega fokus pada sosok di hadapannya. Secercah cahaya bulan yang menyelusup dedaunan menyinari sosok itu.
Mata Lady Vega terbelalak dan kakinya perlahan melangkah mundur, ketika sosok itu menoleh dan menatap Lady Vega.
“Ti... Tidak mungkin! Ka... Kamu... Siapa?” Vega terus melangkah mundur. Ia masih menatap dengan fokus sosok wanita di hadapannya.
Sosok di hadapannya semakin dekat dengan Vega. Wajahnya semakin jelas dan tidak bisa dipungkiri jika Vega merasa sosok itu adalah dirinya. Mereka saling menatap dan terpaku. Lady Vega merasa lemas dan ketakutan. Pikirannya penuh dengan tanda tanya sesaat setelah sosok itu tersenyum padanya tanpa ada sepatah kata pun yang ia ucapkan. Matanya sendu dengan senyum yang manis. Tapi semua membuat Vega semakin takut dan bingung, karena ia merasa seperti melihat dirinya sendiri. Kaki Vega perlahan mulai mundur dan rasanya ia ingin berlari.
Namun tiba-tiba muncul beberapa sosok berjubah lainnya yang mendekat pada sosok wanita yang mirip dengan Lady Vega. Mereka mendekat ke arah Vega seraya berbisik.
“Xylina....”
“Xylina....”
“Xylina....” Suara bisikan yang mendesis itu membuat Lady Vega ketakutan dan berlari menuju kuda Jitender.
“Aaaaaarrrggghhh.” Vega berlari sekuat tenaga. Semak belukar dan ranting pepohonan yang menjuntai ia terjang untuk segera pergi dari hutan kegelapan. Namun tiba-tiba Vega terjatuh karena tersandung akar pepohonan.
“Aaarrrrggghh.” Vega masih berteriak, tapi lama kelamaan semakin melemah.
Vega tidak ingat apa yang terjadi setelah itu.
“Vega... Hei... Vega....” Sayup-sayup suara seseorang memanggil namanya.
Vega masih merasakan lemas dan sedikit pusing. Perlahan Vega membuka matanya. Sorot sinar matahari menyilaukan mata Vega sehingga dengan spontan ia menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
Vega terbelalak kaget ketika ia menyadari Victor dan beberapa dayang sudah berada di hadapannya. Vega bingung dengan apa yang terjadi. Ia baru saja terbangun dari tidurnya. Sontak Vega duduk dan menoleh ke segala arah.
“Hei... Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu tidur di depan kandang kuda?” Victor menatap Vega dengan penuh tanda tanya.
“Hah? Ap... Apa? Kandang kuda?” Vega menoleh ke belakang dan ia baru menyadari berada di depan kandang Jitender kuda kesayangannya. Ia juga masih mengenakan jubah merahnya dan pedang yang berada di sampingnya.
“Bagaimana mungkin?” Vega menatap Victor.
“Sudah cepat bersihkan tubuhmu dan kita pergi ke istana!” Victor berlalu dari pandangan Vega.
Vega masih duduk dan bingung dengan semua yang terjadi. Ia melihat mentari pagi mulai menghangatkan negeri Terrazura. Kicauan burung menambah kehangatan suasana pagi ini.
“Apa yang terjadi? Vega masih merasa kebingungan.” Ia berusaha bangun dan berjalan.
“Awww... Lututku? Memar? Mengapa? Apa aku terjatuh?” Vega menatap luka memar yang lumayan besar di lututnya. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi.
“Apakah peristiwa semalam itu nyata? Aku bertemu dengan Xylina? Tapi mengapa selalu ada dia yang menyerupaiku di sana?” Vega mengernyitkan dahinya.
“Haaaahhhh! Semua ini membuatku gila!” Vega berjalan dengan cepat untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap menuju istana.
Pagi ini Vega sudah tampil anggun dengan gaun dan dandanan rapi layaknya putri bangsawan. Ia pergi ke istana untuk menimba ilmu. Walau hati dan pikirannya masih memikirkan peristiwa semalam antara mimpi dan kenyataan.
Vega tetap menunggangi kuda Jitender untuk pergi ke istana. Ia tidak mau diantar menggunakan kereta kuda.
“Kalau sudah selesai belajar di istana... Tunggu aku di taman dekat perpustakaan! Aku akan mengantarmu pulang.” Victor menatap adiknya yang sudah menunggang kuda.
“Baiklah, Kak!” Vega tersenyum pada kakaknya.
Sesampainya di istana, Lady Vega langsung memasuki ruangan untuk belajar. Kebetulan hari ini ia akan belajar mengenai sejarah negeri Terrazura bersama putri bangsawan lainnya. Karena kelas putri dan putra di pisah agar mereka bisa fokus dalam belajar.
Vega sudah menempati kursinya. Ia sangat antusias belajar mengenai sejarah negeri Terrazura. Ia mencoba fokus dan mengamati dengan rinci apa saja yang dijelaskan oleh guru sejarah mereka bernama Aslan yang terlihat sangat berwibawa.
“Apakah ada pertanyaan?” Aslan menatap murid mereka.
“Tuan guru, maaf saya mau bertanya.” Vega mengangkat tangannya.
“Silakan Lady Vega.” Aslan tersenyum pada Vega.
“Apakah mitos atau sebuah fakta bahwa di negeri Terrazura terdapat dua kehidupan yang saling berdampingan? Antara manusia dan Elf?” Lady Vega sangat serius mempertanyakan hal itu, apa lagi setelah kejadian yang ia alami semalam.
“Lebih tepatnya adalah legenda, menurut nenek moyang kita sebagai pendiri Braden Kingdom, di negeri Terrazura ini memang terdapat dua makhluk yang hidup saling berdampingan antara manusia dan elf... Rex Alexis Magna I telah membuat kesepakatan dengan Queen Azurea Lily seorang ratu dari kerajaan Hemel atau dikenal dengan kerajaan langit, mereka sepakat bahwa akan hidup saling berdampingan dan saling mendukung antara manusia dan Elf, tetapi ada satu wilayah di Terrazura yang terlarang untuk dilalui manusia... Yaitu hutan kegelapan Donkerwald... Sebab di sana hiduplah beberapa Xylina dari kaum mereka.” Aslan menatap Vega.
“Lalu... Apa itu Xylina?” Lady Vega semakin penasaran.
“Menurut legenda... Xylina berasal dari bangsa Elf yang diutus Queen Azurea Lily untuk tinggal di sana... Mungkin mereka adalah kaum elf yang mendapat hukuman dari kesalahan mereka di kerajaan Hemel... Karena saking berbahayanya mereka, maka menurut legenda... Tidak ada satu manusia yang akan selamat jika memasuki wilayah Donkerwald... Hanya Rex Alexis Magna I yang mengetahui bagaimana wujud mereka... Peraturan ini ada sejak berdirinya Braden Kingdom.” Aslan menjelaskan semua yang ia ketahui tentang Donkerwald.
“Lalu jika ada manusia yang memasuki hutan kegelapan Donkerwald...Apa yang akan terjadi?” Lady Vega masih penasaran.
“Menurut legenda... Pilihannya antara selamat atau tidak. Jika dia selamat dan bisa keluar dari Donkerwald, maka akan terjadi kekacauan yang akan ia sebabkan, karena melanggar kesepakatan yang telah dibuat oleh nenek moyang kita.” Aslan kembali menatap Vega.
“Seperti apa wujud mereka?” Vega masih penasaran.
“Konon katanya mereka sama seperti manusia, dengan telinga yang lebih runcing dan kehidupan mereka sangat tertutup, tapi tidak ada yang mengetahui dengan tepat seperti apa wujud mereka kecuali Rex Alexis Magna I.” Aslan menjawab pertanyaan Vega berdasarkan semua yang pernah ia pelajari.
“Baiklah... Hari ini cukup sampai di sini.” Aslan meninggalkan kelas.
Lady Vega masih merasa penasaran sehingga ia berjalan menuju perpustakaan. Sesampainya ia dalam perpustakaan kerajaan, terdengar riuh gemuruh dari putra putri bangsawan. Decak kagum mereka melihat putra mahkota melewati perpustakaan membuat Vega tidak berkonsentrasi.
“Rasa-rasanya hanya aku saja yang tidak penasaran dengan yang mulia putra mahkota... Lihatlah gadis-gadis itu tebar pesona di hadapan yang mulia... Seperti apa rupanya pun aku tidak akan penasaran! Aku rasa mungkin lebih gagah pengawalnya dibanding yang mulia... Baguslah kalau yang mulia tidak mengenalku... Ya pasti dia akan memilihku dan menjadikan aku ratu... Jika ia melihatku... Hmmm... Ada yang lebih penting dari yang mulia... Teka-teki mimpiku... Tapii... Haaasssh! Aku penasaran juga bagaimana penampilan yang mulia! Sampai-sampai gadis-gadis itu benar-benar tebar pesona!” Vega memutuskan melihat pangeran Argan.
Ia berjalan menuju taman di dekat perpustakaan. Namun karena terhalang oleh banyak gadis dan pemuda bangsawan, Vega tidak bisa melihatnya dengan jelas.
“Hah! Sia-sia saja! Tapi... Aku coba melihatnya sekali lagi!” Vega berhasil melihat seorang pemuda di sana. Namun bukannya pangeran Argan yang ia lihat, justru pangeran Morgan yang sedang berjalan menuju paviliunnya dengan pengawalan prajurit kerajaan.
“Dia putra mahkota? Kelihatannya dingin dan tidak ramah! Hmmm... Awas saja kalau dia menindas kakakku!” Vega mengumpat dalam hati. Lalu Vega berdiri di dekat taman di depan perpustakaan sambil menunggu Victor yang akan mengantarnya pulang.
“Kenapa Victor lama sekali? Apa putra mahkota melarangnya untuk bertemu denganku? Hah! Yang mulia itu memang terlihat sangat tidak ramah!” Lagi-lagi Vega mengumpat.
Tak lama kemudian Victor datang menyapa adiknya yang sudah cukup lama menunggunya.
“Vega... Maaf membuatmu menunggu terlalu lama.” Victor duduk di sebelah Vega.
“Kakak kenapa tiba-tiba ingin mengantarku pulang? Biasanya tidak pernah!” Vega menatap kakaknya yang terlihat mulai mengkhawatirkannya.
“Ada yang ingin aku bicarakan!” Victor menatap adiknya.
“Tentang apa?” Vega merasa bingung.
“Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Sampai kamu tertidur di depan kandang Jitender?” Raut wajah Victor menahan tawa.
“Kakak! Apa ingin menertawakanku?” Vega mulai kesal dan melirik kakaknya dengan tatapan tajam.
“Ingin tertawa tapi takut karma.... Hahahaha....” Victor tidak bisa menahan tawanya, sampai beberapa anak bangsawan lainnya menatap ke arah Victor.
“Kakak!” Vega sangat kesal dan malu karena apa yang menimpanya dianggap main-main.
“Iya... Maaf... Ayo ceritakan pada kakak!” Victor berusaha memahami adiknya dan menjadi pendengar yang baik.
“Semalam aku tidak ingin tidur untuk menghindari mimpiku... Lalu ketika aku membuka jendela kamarku, terlihat seseorang menunggang kuda dengan memakai jubah berwarna hitam... Aku pikir itu Kakak atau Ayah, aku ambil jubah dan pedangku, lalu aku mengikutinya bersama Jitender... Aku tidak menyadari seakan memasuki hutan terlarang Donkerwald... Apa Kakak tahu di sana aku melihat apa?” Vega menatap kakaknya.
“Monster?” Victor masih mencerna apa yang adiknya ceritakan.
“Xylina... Mereka berbisik dekat di telingaku... Xylina... Dan salah satunya itu mirip denganku... Lantas aku takut dan berlari hingga tersandung sesuatu sepertinya akar pepohonan... Lalu kepalaku pusing, dan terbangun karena mendengar suaramu, Kak!” Vega menatap kakaknya dengan sorot mata yang terlihat ketakutan.
“Tapi aku melihat pedangmu memang berada di sampingmu.” Victor mulai bingung.
“Dan kakak lihat! Lututku memar!” Vega menunjukkannya pada kakaknya.
“Sampai memar begitu? Atau memang mimpimu itu nyata?” Victor mulai takut terjadi sesuatu dengan adiknya.
Victor meminta adiknya menunggu karena ia akan meminta izin putra mahkota, untuk mengantar Vega pulang ke rumahnya.
Apakah Vega berhasil menemukan titik terang? Bagaimana jika Vega bertemu lagi dengan putra mahkota? Yuk ikuti ceritanya! Semoga bisa menghibur... Terima kasih sudah mampir untuk membaca. Jangan lupa follow, klik love, dan komen. Salam hangat dari Author.