Siang ini Victor menemui putra mahkota di ruang belajarnya. Ia berniat meminta izin pada putra mahkota, tapi Victor sedikit ragu. Victor berjalan mendekati putra mahkota yang terlihat sedang serius membaca sebuah buku.
“Yang mulia.” Victor memberi hormat.
“Angin apa yang membawamu sampai datang ke ruang belajarku?” Putra mahkota merasa jenuh berada di ruang belajar. Ia mulai berpikir untuk mengelabui Victor dan beberapa penjaga agar bisa kabur lagi dari istana.
“Maaf yang mulia... Aku hanya ingin meminta izin mengantarkan adikku pulang... Hmmm hanya sebentar saja... Aku janji!” Victor menatap putra mahkota dengan penuh harap.
“Pucuk dicinta ulam tiba... Aku tidak perlu bersusah payah untuk mengelabui Victor, kali ini aku akan berlagak sulit memberi izin... Hihihi... Pasti Victor akan memohon.” Pangeran Argan berbicara dalam hatinya. Ekspresi wajahnya sangat serius sambil mengernyitkan satu alisnya, seolah berlagak sulit untuk menyetujui permintaan Victor. Kemudian pngeran Argan mengernyitkan dahinya dan menatap Victor dengan sengit tanpa senyuman di wajahnya.
“Maaf yang mulia... Kali ini aku memohon, tapi... Jika diizinkan.” Victor menunduk.
“Baiklah... Cepat antar adikmu!” Pangeran Argan terlihat seolah-olah sedang sibuk membaca. Padahal dia sudah tidak sabar untuk kabur dari istana.
“Terima kasih yang mulia! Secepatnya aku akan kembali.” Victor tidak merasa curiga karena saat ini pangeran Argan masih belajar di dalam ruangannya.
Victor sudah meninggalkan ruang belajar putra mahkota. Kini putra mahkota berusaha mencari cara agar bisa kembali ke paviliun secepatnya. Putra mahkota berlagak seolah tidak enak badan. Ia meminta kembali ke paviliun. Sehingga guru yang sedang mengajarnya mengizinkan putra mahkota kembali ke paviliunnya.
Beberapa dayang memanggil tabib untuk memeriksa pangeran Argan di paviliunnya. Namun sebelum mereka datang, pangeran Argan sudah kabur dari paviliun menuju pintu rahasia. Siang ini ia berhasil kabur dari istana dan kembali menyamar menjadi Gama.
“Akhirnya aku bisa menghirup udara sejuk perbukitan di wilayah Braden Kingdom. Tidak jenuh berada dalam istana.” Pangeran Argan bergegas menuju rumah Lean. Ia ke sana untuk mengambil kuda Karan yang akan bertualang bersama Gama alias putra mahkota Argan.
Vega bersama Victor sudah kembali ke rumah. Namun Victor harus segera kembali ke istana untuk menemani putra mahkota belajar di ruangannya. Vega telah berganti pakaian dan menunggu waktu aman untuk meminta izin pada Ibunya, karena Lady Vega akan kembali pergi ke perpustakaan yang ada di sekitar ibu kota.
Siang itu Vega berjalan menemui ibunya yang sedang berbincang sambil memakan beberapa kudapan di halaman belakang rumah bersama temannya.
“Ibu... Aku izin mengunjungi perpustakaan di pinggiran ibu kota.” Vega tersenyum pada ibunya.
“Baiklah, Nak! Jaga diri baik-baik... Pulanglah sebelum matahari terbenam.” Aleanor memberikan izin pada Vega. Ia sangat memahami karakter putrinya, semakin dilarang akan semakin membuatnya penasaran. Vega juga suka bepergian sendiri tanpa pengawalan. Aleanor hanya bisa mendoakan anaknya agar selamat.
“Terima kasih Ibu.” Lady Vega mencium tangan ibunya. Kemudian memberi hormat dengan membungkukkan badannya pada teman ibunya.
Lady Vega bersiap pergi bersama Jitender kuda kesayangannya, dengan membawa busur panah milik Vega sendiri. Jubah merah maroon dan cadar yang ia kenakan seolah menjadi identitas diri yang membuatnya terlihat bagaikan ksatria pengelana. Padahal di balik jubah dan cadarnya, dia adalah seorang putri bangsawan yang cantik jelita.
Lady Vega kembali ke kedai sup ikan tempat ia pertama kali melihat pemuda pengelana bersama seorang kakek. Ia berharap bisa kembali bertemu dengan salah satu dari mereka. Sehingga Vega mampir untuk makan sembari menunggu informasi yang beredar di sana.
Putra mahkota Argan telah sampai di rumah Lean. Ia kembali membawa kuda Karan untuk bertualang bersamanya mencari informasi mengenai hutan kegelapan. Tidak butuh waktu lama, pangeran Argan langsung melajukan kudanya menuju desa Nebula untuk mencari kakek Noah.
Jalan menuju desa Nebula dari sisi sebelah barat harus melewati perbatasan ibu kota di tempat kedai sup ikan berada. Ketika Lady Vega sedang memperhatikan hiruk pikuk jalanan di depan kedai. Vega melihat kesatria pengelana menunggangi kudanya.
“Itu... Kuda itu... Pemuda culas!” Vega bergegas membayar dan meninggalkan kedai bersama kuda Jitender.
Lady Vega kembali mengejar sang kesatria pengelana. Ia mengikuti Gama alias pangeran Argan menuju desa Nebula. Vega yakin bahwa hari itu ia akan memperoleh informasi lebih tentang hutan kegelapan Donkerwald. Lutut yang masih memar tidak ia rasakan sakitnya demi sebuah fakta. Vega berharap menemukan titik terang tentang kejadian semalam.
“Benar... Semalam aku berkuda melewati desa ini... Aku sangat ingat melewati rumah-rumah itu... atau selama ini mimpiku itu sungguh nyata?” Kepala Vega dipenuhi banyak pertanyaan yang belum bisa ia pecahkan. Vega sangat bersemangat untuk mengetahui kebenarannya.
Pangeran Argan merasa dibuntuti oleh seseorang. Namun ia berpura-pura tidak menyadarinya. Ia tetap melajukan kudanya hingga sampai pada pemukiman penduduk di perbatasan desa Nebula dengan hutan lotus. Desa terpencil dengan jumlah penduduk sedikit. Pemandangan sangat asri dan sejuk. Pepohonan rindang dengan penduduk yang sangat ramah menjadikan desa Nebula terasa sangat damai. Hutan lotus tampak dekat di depan mata. Hanya saja kabut tebal sering kali menghiasi desa ini. Sehingga desa ini di sebut dengan desa Nebula.
Pangeran Argan turun dari kudanya. Ia mengikat tali penuntun kuda Karan pada sebatang pohon yang tidak terlalu besar. Pangeran Argan menyadari si jubah merah kembali mengikutinya.
“Dia lagi? Si gadis bar-bar? Astaga... Setampan itukah aku? Sampai dia membuntutiku lagi... Sudahlah biar saja... Maklumlah... Pangeran tampan seperti aku di mana pun pasti akan menjadi idola....” Pangeran Argan berlagak percaya diri, karena beranggapan bahwa perempuan dengan jubah merah itu mengikutinya karena menyukainya.
Pangeran Argan berjalan menemui salah satu penduduk. Ia sangat ramah pada penduduk setempat.
“Permisi paman... Apa Anda mengenal kakek Noah?” Pangeran Argan ramah dengan senyumnya. Ia menemui pria paruh baya yang sedang membelah kayu bakar.
“Oh... Tentu saja anak muda, di rumah paling ujung, dia tinggal bersama keponakannya.” Paman itu menunjukkan rumah kakek Noah.
Pangeran Argan berjalan menuju rumah kakek Noah. Vega mengintai pangeran Argan dari kejauhan.
“Mungkin saja pemuda culas itu akan menemui kakek yang berada di kedai bersamanya tempo hari.” Vega sudah melepas jubah dan menyimpannya bersama dengan kuda Jitender. Ia mengendap-ngendap mengikuti ke mana pun pangeran Argan melangkah.
Pangeran Argan sengaja berjalan terus menuju hutan lotus untuk mengelabui Lady Vega. Pangeran Argan alias Gama berjalan dengan cepat menuju hutan lotus yang mulai berkabut walau siang hari. Dinginnya kabut menyelusup tulang hingga membuat Vega pucat karena kedinginan. Langkah Vega mulai melambat, ia tidak menyadari bahwa pangeran Argan sudah berada di belakangnya. Sekali lagi pangeran Argan mengelabui Vega.
“Hei... Gadis bar-bar! Untuk apa mengikutiku lagi?” Pangeran Argan berada tepat di belakang Vega.
“Apa? Apa-apaan ini? Lagi-lagi dia berhasil mengelabuiku... Apakah aku tampak mudah dikelabui?” Vega menghela napas sambil menggerutu dalam hati. Ia menoleh ke arah pangeran Argan yang sedang menyamar menjadi Gama sang kesatria pengelana.
“Aku tahu Nona manis... Kamu sulit untuk melupakan aku!” Pangeran Argan mencoba menggoda Vega.
“Hah? Maksudnya?” Lady Vega terkejut dengan tingkah si kesatria pengelana.
“Sudah... Akui saja!” Pangeran Argan menatap Vega dan mengangkat satu alisnya.
“Heh! Dasar pria m***m! Seenaknya saja! Memangnya siapa yang tertarik denganmu?” Vega merasa sangat kesal.
“Kalau tidak tertarik? Untuk apa kamu selalu mengikutiku?” Pangeran Argan kembali menatap Vega.
Kali ini tatapannya mampu membuat Lady Vega terpaku untuk beberapa saat.
“Heh! Jangan menatapku seperti itu!” Vega merasa salah tingkah.
Pangeran Argan hanya menatapnya sambil tersenyum dan melipat kedua tangannya di d**a pangeran Argan.
“Hah! Menyebalkan! Baiklah... Iya aku mengikutimu sejak waktu itu... Tapi bukan karena aku tertarik denganmu! Hanya saja aku sempat mendengar percakapanmu dengan seorang kakek di sebuah kedai... Hmmm... Kalian membicarakan tentang hutan kegelapan Donkerwald.” Vega menatap pangeran Argan dengan wajah yang mulai terlihat serius.
“Ada urusan apa kamu dengan hutan kegelapan Donkerwald?” Pangeran Argan merasa penasaran, karena yakin bahwa kepentingan si gadis bar-bar sama pentingnya dengan kepentingan pangeran Argan.
“Betapa buruk sikapmu! Bahkan belum menanyakan namaku tapi sudah mempertanyakan kepentinganku!” Lady Vega melirik pemuda culas itu.
“Astaga... Mungkin karena terpesona dengan penampilanmu!” Pangeran Argan menepuk jidatnya.
“Apa? Terpesona? Dasar pemuda m***m!” Vega merasa semakin kesal.
“Astaga... Tampaknya aku salah memilih orang sebagai narasumber!” Vega menggerutu sendiri.
“Iya terpesona karena baru kali ini aku melihat perempuan bertingkah dan berpenampilan seperti seorang kesatria... Tidak terlihat cantik sama sekali! Hmmm... Baiklah siapa namamu? Dari mana kamu berasal?” Pangeran Argan menyodorkan tangannya sebagai tanda perkenalan.
“Kenapa aku harus berurusan dengan pemuda seperti ini? Astaga... Benar-benar salah sasaran! Andai saja bukan karena informasi hutan kegelapan... Mana mungkin aku berteman dengan pria seperti ini!” Vega menggerutu dalam hati sambil memicingkan matanya dan melirik putra mahkota.
“Vega!” Vega bersalaman dengan pemuda itu.
“Gama!” Pangeran Argan menyembunyikan identitasnya.
“Baiklah Gama! Mulai sekarang aku akan berusaha berdamai denganmu.” Vega menatap Gama.
“Baiklah... Aku pun akan berusaha berdamai denganmu!” Pangeran Argan bersalaman dan tersenyum pada Vega.
Mereka berjalan di antara senja sore itu. Semburat mega jingga menghiasi langit negeri Terrazura. Padang ilalang yang tidak jauh dari rumah kakek Noah menjadi saksi perbincangan pertama Vega dengan pangeran argan. Mereka duduk di antara rerumputan sambil menatap senja yang indah.
“Sebenarnya apa yang membuatmu penasaran dengan hutan kegelapan?” pangeran Argan menatap Vega yang terlihat manis di senja itu.
“Si gadis bar-bar ternyata terlihat manis jika tersenyum dan ramah seperti ini, akan sangat berbeda dan menjadi menyebalkan ketika sikap arogannya muncul... Hah! Vega... Nama yang indah.” Pangeran Argan berbisik dalam hari sembari menatap wajah Vega.
“Hellooo... Haaasshhh!!! Gama! Dengar atau tidak apa yang aku ceritakan barusan?” Suara Vega mengejutkan pangeran Argan.
“Eh... Iya... Bagaimana?” Pangeran Argan tersadar dari lamunannya.
“Astaga... Aku sudah cerita panjang lebar... Tapi ternyata tidak kamu dengarkan?” Vega memarahi pangeran Argan.
“Oh...iya. Maaf Vega!” Pangeran Argan tidak berkonsentrasi karena terpesona dengan Vega.
“Bisa diulang lagi?” Pangeran Argan menatap Vega.
“Hah! Baiklah! Walau sedikit emosi berteman dengannya!” Vega menggerutu sendiri.
“Apa? Aku tidak mendengarnya!” Pangeran Argan mendekatkan telinganya pada Vega.
“Heh! Minggir! Menghalangi pandanganku saja! Baiklah... Aku akan cerita! Dengar baik-baik! Sejak lima tahun lalu... Setiap hari aku memimpikan hal yang sama... Seperti di dalam hutan yang gelap dan berkabut... Tapi aku yakin itu bukan hutan lotus... Melainkan hutan kegelapan Donkerwald....” Vega menatap Argan.
“Setiap kali kamu tidur?” Pangeran Argan merasa aneh.
“Iya... Dan itu seperti nyata!” Vega kembali menatap Argan.
“Lalu... Apa yang ada dalam mimpimu?” Pangeran Argan semakin penasaran.
“Xylina... Yang membuatku semakin bingung, aku bertemu dengan diriku sendiri menjadi Xylina di dalam hutan kegelapan Donkerwald.” Vega menatap pangeran Argan dengan sangat misterius.
“Apa? Bagaimana mungkin?” Pangeran Argan merasa semakin bingung.
“Itulah mengapa aku sangat ingin tahu tentang hutan kegelapan dan Xylina.” Vega menunduk.
“Aku juga merasa penasaran dengan legenda itu.” Pangeran Argan menoleh ke arah Vega.
“Dan semalam aku merasa antara mimpi dan kenyataan jika aku berkuda sampai Donkerwald... Di sana muncul beberapa Xylina yang membuat takut... Dan kamu tahu apa yang terjadi?” Vega menatap serius pangeran Argan.
“Apa?” Argan merasa bingung.
“Aku berlari, lalu terjatuh... Saat aku bangun, ternyata aku sudah berada di belakang rumah... Tidur di depan kandang Jitender.” Vega masih menatap serius.
“Hahaha... Yang benar saja?” Pangeran Argan malah tertawa karena Vega dianggap konyol.
“Aku belum selesai cerita! Lihat! Saat aku terjatuh dalam mimpi... Namun kenyataannya lututku memar.” Vega memperlihatkan lututnya yang memar.
“Heh! Jangan terlalu tinggi mengangkat pakaianmu! Pangeran Argan merasa tidak nyaman ketika Vega mengangkat roknya. Vega berniat memberi tahu bukti lututnya yang memar, tapi justru pangeran Argan salah fokus melihat paha Vega yang mulus.
Plakkk!!!
Vega memukul bahu pangeran Argan sambil menatapnya tajam.
“Aw... Kenapa memukulku?” Pangeran Argan merasa kaget.
“Dasar pemuda m***m! Aku memperlihatkan lututku yang memar sebagai bukti kalau semalam aku berada antara mimpi dan kenyataan! Bukan malah melihat ke arah yang lain! Hah! Membuang waktuku saja!” Vega berjalan meninggalkan pangeran Argan.
“Eehhh... Maaf... Maaf Vega!” Pangeran Argan menahan Vega dengan memegangi tangannya.
Vega menoleh dengan wajah kesalnya.
“Maaf... Kita masih berteman kan? Ayo kita ke rumah kakek Noah! Aku juga ingin mengetahui lebih jauh tentang Donkerwald.” Pangeran Argan menatap Vega.
Bagaimana kelanjutan petualangan mereka? Ikuti terus update setiap episodenya ya! Terima kasih sudah mampir untuk membaca! Jangan lupa follow dan tap love ya!