Chapter 1
SUDUT PANDANG KASMINE.
"Tidak..."
Kata itu keluar begitu saja, hampir tidak terdengar oleh telingaku sendiri. Tanganku gemetar di sisi tubuhku, dan mataku tidak bisa berpaling dari apa yang ada di hadapanku meskipun seluruh tubuhku memohon agar aku memalingkan wajah.
Tubuh itu terbaring di antara akar-akar pohon. Diam. Terlalu kaku, untuk seseorang yang sepuluh menit lalu masih bernafas.
Aku benar-benar takut!
"Apa yang sudah kamu lakukan?"
Suaraku pecah di tengah kalimat. Kakiku melangkah mundur satu langkah, dua langkah, satu langkah lagi, seolah jarak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Seolah kalau aku mundur cukup jauh, semuanya bisa kembali ke momen sebelum malam ini menghancurkan satu-satunya gambaran yang aku punya tentang pria yang berdiri di hadapanku.
"Kasmine..."
Suaranya berat dan familiar. Tenang dengan cara yang tidak seharusnya terdengar tenang di saat seperti ini. Tidak ada gemetar, tidak ada sesal yang menyelip di sela-sela nada suaranya. Hanya ketenangan yang begitu terasa dingin, dan justru ketenangan itulah yang paling menyesakkan dari semuanya karena aku pernah mencintai suara itu. Aku pernah merasa aman dan begitu tenang.
"Jangan mendekatiku." Aku mengangkat tangan. "Kamu baru saja membunuhnya. Kamu membunuh dia, Kester, kau- kau....!"
"Kasmine..."
"Dia bahkan tidak menyentuhku!" Semua yang selama ini aku telan dalam diam ikut tumpah keluar bersamanya. "Dia hanya berbicara denganku! Hanya itu! Dan kamu berdiri di sana seperti kamu tidak baru saja merenggut nyawa seseorang!"
Hutan di sekeliling kami terasa lebih sepi dari sebelumnya. Bukan sepi yang tenang, namun terasa begitu berat dan pengap, seperti seluruh alam semesta pun menahan napas menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Tidak ada suaran angin sama sekali, tidak ada suara binatang malam.
Perutku bergolak. Mual!
"Jangan bersikap dramatis." Nada Kester meninggi satu tingkat, tapi wajahnya tidak berubah sedikit pun. Tidak ada kerutan di keningnya, tidak ada rahang yang mengencang karena menyesal. Ekspresinya benar-benar kaku, "ia mencoba memaksamu."
"Bohong." Suaraku turun lebih rendah. "Kamu tahu itu bohong, Kester. Kamu ada di sana. Kamu melihat semuanya. Dia tidak melakukan apa-apa."
Tidak ada yang berubah di wajahnya.
"Ayo. Kita kembali ke pesta."
Hanya itu. Tiga kata, diucapkan dengan nada yang sama seperti orang membicarakan cuaca. Seperti tubuh di belakangnya hanyalah sesuatu yang tidak penting.
Aku berbalik dan berlari.
Percuma, aku tahu itu. Tapi tubuhku bergerak sebelum pikiranku sempat menahannya. Kaki-kakiku menginjak tanah basah, napas tersengal, dahan-dahan kecil menyerempet lenganku. Tapi dia selalu lebih cepat. Selalu. Dalam hitungan detik, lengannya sudah melingkar dari belakang dan mengunci tubuhku ke dadanya, dan di situlah masalahnya karena bagian dari diriku yang sangat aku benci langsung menyadari betapa solidnya dadanya di belakang punggungku, betapa mudahnya tubuhku masuk ke dalam pelukannya.
Aku merasa muak oleh pikiran itu sendiri.
"Lepaskan aku! Kester, lepas—"
"Diam."
Satu kata. Tapi bukan sekadar kata biasa.
Perintah Alpha.
Tubuhku yang berkhianat langsung mematuhinya sebelum kepalaku sempat melawan. Aku berhenti meronta bukan karena aku menyerah, tapi karena ada sesuatu dalam darahku yang sudah lama dikondisikan untuk tunduk pada suara itu, dan aku benci betapa mudahnya dia melakukannya. Benci mengapa hanya butuhnsatu kata darinya bisa mematikan semua perlawananku sekaligus.
Kester memutar tubuhku hingga menghadapnya.
Dalam kegelapan hutan, di bawah cahaya bulan yang menyelip di antara celah dedaunan, wajahnya terlihat berbeda. Lebih tajam... Mata hijaunya yang gelap menatap mataku dari jarak yang jauh terlalu dekat, dan ada sesuatu di balik tatapan itu yang tidak bisa aku beri nama karena tidak terlihat seperti amarah saja dan tidak juga terlihat seperti tidak ada apa-apa.
Tanpa sadar napasku melambat.
"Kamu akan bersikap baik," katanya, suaranya rendah dan perlahan, diucapkan dengan hati-hati seperti setiap kata dipilih dengan sengaja. "Dan kamu akan kembali ke pesta."
Aku mengangguk.
Tapi saat dia melepaskan tangannya dari lenganku, kulitku masih merasakan bekas hangatnya. Dan itu adalah hal yang paling menakutkan dari malam ini, jauh lebih menakutkan dari tubuh yang terbaring di antara akar-akar pohon itu.
Saat kakiku membawa tubuhku kembali ke arah musik dan tawa dan cahaya pesta yang terasa seperti ejekan, satu pertanyaan terus berputar tanpa henti di dalam kepalaku.
Mengapa aku takut padanya, tapi tidak bisa berhenti merasakan kehadirannya bahkan saat sudah menjauh?
---
Dulu aku gadis kecil yang kehilangan ayah di usia lima tahun.
Sesederhana itu. Ada lubang kecil di d**a, dan aku tumbuh belajar hidup bersamanya. Lalu Ibu menemukan cintanya lagi, Alpha Kade Hamilton, dan tiba-tiba aku punya kakak tiri berusia empat belas tahun yang memandangku seperti sesuatu yang perlu dijaga dari seluruh dunia.
Awalnya terasa indah.
Kester yang mengusir anak-anak iseng yang menggangguku. Kester yang selalu punya hadiah kecil setiap kali aku sedih. Kester yang duduk diam di sampingku saat aku tidak mau tidur sendirian. Teman-temanku iri, dan aku bangga, dan dunia terasa cukup aman untuk dihuni selama dia ada di dalamnya.
Tapi di usia enam belas tahun, pola itu mulai terlihat dengan cara yang berbeda. Tidak ada satu pun laki-laki yang bisa mendekatiku terlalu lama. Teman-teman perempuanku satu per satu menjauh tanpa bisa menjelaskan dengan tepat alasannya. Duniaku menyempit pelan-pelan, dan satu-satunya orang yang selalu tersisa di tengahnya adalah Kester.
Yang paling menggangguku bukan penyempitan itu sendiri. Yang paling menggangguku adalah betapa lama aku tidak keberatan.
Sekarang aku dua puluh tahun. Tidak punya pacar. Telepon dan laptopku disadap, setiap pesan yang masuk dan keluar ada dalam jangkauan informasinya. Dia tahu segalanya, selalu, dan aku sudah berhenti terkejut karenanya.
Yang masih bisa aku pegang adalah tanggal itu. 27 Agustus. Ulang tahunku yang ke-21, saat wujud serigalaku muncul dan pasangan jiwaku bisa ditemukan. Saat aku punya alasan yang bahkan Kester tidak bisa bantah untuk melangkah keluar dari semua ini.
Itu satu-satunya hal yang membuatku tetap waras.
---
Hari-hari setelah malam di hutan berjalan lambat dan berat.
Bayangan mata pemuda itu mengikutiku ke mana-mana, masuk ke dalam mimpi, duduk di sudut pandanganku saat aku mencoba makan, mencoba belajar, mencoba berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Aku tidak tidur dengan benar. Aku tidak makan dengan benar.
Kester tidak muncul pada hari-hari itu. Hanya pulang di akhir pekan untuk menemui Ibu dan Ayah, seperti jadwal yang tidak pernah berubah. Seperti malam di hutan itu adalah sesuatu yang bisa dilipat rapi dan disimpan di laci tanpa meninggalkan bekas.
Anehnya, ketidakhadirannya tidak terasa seperti kebebasan. Lebih terasa seperti sesuatu yang hilang dari tempatnya, dan aku sangat membenci diriku sendiri karena menyadari itu.
Kester Hamilton. CEO Zamford Technologies. Alpha Kawanan Bulan Sabit, kawanan terbesar di negara ini. Di usia dua puluh tujuh tahun, namanya sudah ada di mana-mana, dikagumi banyak orang, ditakuti lebih banyak lagi. Dan aku hanya adik tirinya yang sedang mencoba bertahan dari satu hari ke hari berikutnya sambil meyakinkan diri bahwa apa yang aku rasakan setiap kali dia ada di dekatku adalah murni ketakutan dan tidak ada yang lain.
---
Alarmku berbunyi untuk keempat kalinya.
Aku menarik selimut dari wajah dan memaksa diri duduk. Program magang wajib tahun terakhir. Aku sudah mengirimkan lamaran ke tiga perusahaan teknologi dengan satu syarat tidak tertulis yang menentukan segalanya: tidak ada kaitannya dengan Kester.
Jake mengirimkan pilihan yang sama. Membayangkan tiga bulan bersama Jake, jauh dari pengawasan, cukup untuk membuatku mau bangkit dari tempat tidur pagi ini.
---
Claire sudah berdiri di depan pintu masuk gedung saat aku tiba, dan wajahnya bercerita sebelum dia sempat membuka mulut.
"Ada apa?" tanyaku.
Dia tersenyum tipis, pahit. "J&F Technologies."
Aku langsung mengerti. Claire menyukai Kester sejak SMA, satu perasaan yang tidak pernah berbalas tapi tidak pernah juga padam. Dia mendaftar ke Zamford Technologies demi satu alasan saja, dan sekarang kesempatan itu bukan miliknya.
"Turut berduka, sayang," kataku sambil memeluknya sejenak. "Sudah lihat punyaku?"
Claire tidak langsung menjawab. Itu aneh. Claire yang aku kenal biasanya sudah bercerita sebelum aku selesai bertanya. Tapi aku tidak mempermasalahkannya dan berjalan sendiri menuju papan pengumuman.
Mataku mencari Jake lebih dulu. Plush Technologies. Aku menghela napas pelan lalu mulai mencari namaku, dan jantungku mulai berdegup tidak enak bahkan sebelum aku menemukannya.
Lalu aku berhenti.
Aku membaca namaku. Membacanya lagi. Sekali lagi, lebih pelan, seolah huruf-hurufnya akan berubah susunan kalau aku cukup sabar.
Tidak ada yang berubah.
Tanganku mendingin.
"Tidak." Suaraku keluar dalam satu hembusan napas yang kosong. "Ini pasti kesalahan. Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa..."
Jantungku berdegup terlalu keras, kepalaku berputar, dan di antara semua kekacauan itu ada satu bagian kecil dari diriku yang dengan sangat menjengkelkan tidak terasa seperti terkejut sama sekali.
Zamford Technologies.
Perusahaan saudara tiriku.
Dan mungkin inilah cara semesta memberitahuku bahwa melarikan diri dari Kester Hamilton tidak pernah semudah yang aku harapkan.