08 - Hati yang Berdebar

1021 Kata
"Aku mau buang air kecil sebentar, toiletnya di sebelah mana, ya?" tanya Zendrick, dengan cepat Elizabeth menunjukkan di mana letak toiletnya, Zendrick segera berjalan ke toilet saat sudah mengetahui di mana letaknya. Setelah beberapa lama, akhirnya Zendrick keluar dari toilet dan tanpa sengaja melihat Gabriella yang terlihat akan menginjak tumpahan air. Dengan cepat, Zendrick berlari mendekati Gabriella dan menarik tubuhnya. Wajah mereka sangat dekat sekarang. Saat melihat hal itu, Elizabeth segera bangkit dari duduknya dengan tatapan kesal. Namun, mereka berdua tetap pada posisinya masing-masing, tubuh mereka terlihat sangat dekat. Karena marah, Elizabeth segera menghampiri mereka berdua dan memisahkannya. "Minggir!" Elizabeth dengan sengaja mendorong tubuh Gabriella hingga terjatuh ke lantai. Wajah Zendrick terlihat sangat cemas saat melihat Gabriella terjatuh. "Gabriella, kamu baik-baik aja?" Zendrick mengulurkan tangannya ke arah Gabriella. Dengan cepat, Gabriella meraih tangannya, ia akhirnya mampu untuk berdiri. Namun, hal itu semakin membuat Elizabeth kesal. Ia segera pergi meninggalkan Gabriella dan Zendrick. "Elizabeth, kamu kenapa pergi?" tanya Zendrick, namun Elizabeth sama sekali tak menggubrisnya pertanyaannya, ia hanya terus berjalan menaiki tangga. "Zendrick, terima kasih." ucap Gabriella. "Iya, santai aja. Hm, kalau begitu, aku harus pamit ya. Aku mohon sama kamu, tolong jelaskan ini semua pada Elizabeth, aku nggak mau dia salah paham sama aku." mohon Zendrick, Gabriella pun tak mampu tuk menolak permohonan itu, ia hanya mengangguk tanpa ia sadari. "Selamat malam." ucap Gabriella. Saat Zendrick sudah pergi cukup jauh dari rumahnya, Gabriella segera menutup pintu dengan cepat dan mulai menghela napasnya dengan perlahan-lahan. "Astaga, aku ini kenapa sih? Padahal kan, dia cuma bantu aku berdiri aja, tapi kenapa rasanya hatiku berdebar ya. Aduh, aku mikir apa sih!?" batin Gabriella, wajahnya mulai terlihat memerah. *** "Zendrick kenapa sih!? Kenapa dia harus dekat-dekat sama Gabriella. Dan, Gabriella juga kenapa diem aja sih waktu berada di dekat Zendrick, atau Gabriella sebenarnya suka sama Zendrick? Aduh, aku jadi bingung deh, ngeselin banget!" batin Elizabeth, ia sudah benar-benar marah pada Gabriella. Saat Elizabeth tengah berbaring di kasurnya, Gabriella terlihat mulai memasuki kamar Elizabeth dan segera berjalan mendekati Elizabeth. Gabriella segera duduk di sebelah Elizabeth dan mulai mengelus lembut punggung Elizabeth. "Liza, kamu jangan salah paham ya soal tadi. Mungkin aja, Zendrick hanya refleks untuk menolong aku. Karena aku juga liat ada tumpahan air di lantai, jadi dia pasti cuma mau tolongin aku aja. Liza, kamu jangan marah ya sama Zendrick." Gabriella mencoba menenangkan hati Elizabeth, namun sama sekali tak mendapat balasan dari saudara kembarnya itu. Setelah beberapa lama cukup hening, akhirnya Elizabeth mulai mengeluarkan suaranya, namun ia terlihat sangat marah terhadap Gabriella, wajahnya masih cemberut karena kesal. "Gabriella, lebih baik kamu keluar dari kamar aku sekarang juga!" titah Elizabeth. "Liza, aku cuma pengen jelasin soal tadi aja, kamu nggak perlu marah kayak gini dong. Lagi pula, dia bukan siapa-siapa kamu kan? Kalian hanya berteman, tidak lebih." ucap Gabriella, Elizabeth mulai bangkit dan ia dengan cepat menjatuhkan tubuh Gabriella ke lantai. "Liza, sakit!" keluh Gabriella. "Memangnya kenapa kalau aku nggak punya hubungan yang istimewa dengan Zendrick? Aku nggak akan marah seperti ini kalau wanita yang dia selamatkan itu bukan kamu!" bentak Elizabeth, Gabriella hanya dapat terdiam. "Elizabeth, aku nggak bermaksud." "Lebih baik, kamu keluar dari kamar aku sekarang juga! Keluar!" usir Elizabeth. "Terserah kamu aja deh!" kesal Gabriella. *** Malam telah berlalu, Gabriella terlihat tengah bersiap untuk berangkat ke kantor. Sementara Gabriella, ia masih terbaring di kasurnya dengan nyaman. "Selamat pagi, non. Sudah mau sarapan?" tanya pelayan. "Nggak perlu, bi. Aku harus buru-buru ke kantor sekarang. Aku makan di luar aja ya." jawab Gabriella seraya memasangkan sepatunya, ia terlihat sangat terburu-buru. "Ya sudah kalau begitu, non." Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Elizabeth dapat terbangun dari tidurnya. Setelah bangun, Elizabeth segera berjalan ke dapur untuk mencari minuman karena haus. "Aku lapar deh, kayaknya aku harus makan sesuatu." ucap Elizabeth, ia segera mencari sesuatu untuk dimakan, namun tidak ada makanan di dapur. Kemudian, ia segera berjalan ke arah meja makan. Dan, di sanalah, semua makanan telah tersusun dengan rapi di atas meja. Elizabeth segera duduk di kursi dan mulai menikmati sarapannya. "Non, sudah selesai makannya?" tiba-tiba, pelayan datang menghampiri Elizabeth. "Sudah, bi." jawab Elizabeth. "Kalau begitu, bibi beresin dulu ya makanannya." ucap pelayan. "Silakan, bi." *** "Akhirnya, pertemuan hari ini selesai juga. Laura, apa jadwal saya selanjutnya?" tanya Gabriella. "Tidak ada, Bu. Jadwal pertemuan dengan klien lagi adalah besok." jawab Laura. "Saya bisa minta tolong nggak?" tanya Gabriella. "Apa, Bu?" tanya Laura. "Kamu bisa belikan saya makanan dan minuman nggak? Saya belum makan sejak tadi pagi dan saya sudah benar-benar lapar sekarang. Ini sudah waktunya saya untuk sarapan." "Tentu, saya akan membelikan Ibu makanan dan minuman sekarang." turuti Laura. "Terima kasih ya, Laura. Kamu baik sekali." ucap Gabriella. "Tidak masalah, Bu." Saat Laura mulai berjalan menjauh darinya, tiba-tiba ia langsung mengingat kejadian tadi malam. Itu adalah pertama kalinya ia merasa gugup saat berada di dekat seorang pria. "Kenapa aku jadi gugup saat berada di dekatnya? Hatiku berdebar. Tapi, kenapa pria itu harus Zendrick? Aku nggak boleh suka sama dia, pasti Elizabeth akan semakin marah. Walaupun, aku memang kesal pada Elizabeth, tapi aku tidak ingin menyakiti perasaannya." batin Gabriella, ia mulai bingung, "Aku tahu ini salah, namun mengapa wajahnya selalu berkeliling di kepalaku?" Sementara itu, terlihat Zendrick yang tengah berjalan ke arahnya. Gabriella melebarkan matanya dengan tatapan bingung, suasana menjadi hening seketika. Kini, Zendrick sudah semakin dekat dengannya, saat ia ingin meraih tubuh Zendrick, bayangannya perlahan mulai menghilang. Ternyata, itu hanyalah sebuah khayalan semata. "Gabriella, kamu kenapa sih!?" Gabriella memukul pelan kepalanya karena bingung. "Bu Gabriella, kenapa?" Seorang karyawan yang baru saja ingin melewat langsung terhenti karena tanpa sengaja melihat tingkah Gabriella yang cukup aneh. "Saya? Baik-baik aja kok, emangnya kenapa?" "Ibu kayaknya kurang sehat deh." ucap karyawan. "Kurang sehat? Maksud kamu apa ya?" Gabriella masih belum mengerti dengan apa yang dimaksud oleh karyawan itu. "Lebih baik, Ibu berobat ke rumah sakit ya, saya takut Ibu kenapa-napa." usul karyawan. Gabriella masih terlihat bingung, karyawan itu segera menjauh dari Gabriella. "Rumah sakit?" Gabriella berpikir sesaat, "Tunggu, emangnya aku keliatan sakit apa!? Aneh banget sih." Dengan tatapan kesal, Gabriella segera pergi ke ruangannya. Ia masih bingung dengan ucapan karyawan tadi. Namun, ia tak ingin terlalu memikirkan perkataan orang lain. —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN