07 - Makan Malam

1033 Kata
"Zendrick, bagaimana keadaan di Jakarta? Semuanya baik-baik saja, kan?" "Semuanya baik di sini, Mamah gimana? Kapan pulang ke Indonesia?" tanya Zendrick. "Kalau urusan Mamah di sini sudah selesai, pasti secepatnya Mamah akan pulang ke Indonesia. Zendrick, bagaimana keadaan adik kamu?" tanya Mamah. "Dia baik-baik aja kok, tapi dia sering banget keluar, jarang di rumah." "Kamu harus mengawasi adik kamu, Mamah tidak mau sesuatu terjadi pada kalian berdua." titah Mamah. "Baik, Mah." "Dan, ada satu hal lagi yang ingin Mamah ingatkan pada kamu. Kamu harus menghancurkan keluarga Atmadja, bagaimanapun caranya." peringat Mamah. "Tenang saja, Mah. Tinggal sedikit lagi, kita akan mampu menghancurkan keluarga Atmadja, bahkan membuat bisnisnya rugi besar." ucap Zendrick. "Bagus, kamu memang anak Mamah yang paling pintar. Apa yang kamu inginkan? Mamah akan memenuhi keinginan kamu." "Aku akan memikirkannya dahulu. Mamah lebih baik melanjutkan pekerjaan Mamah di sana, aku akan memutuskan panggilan ini." ucap Zendrick. "Kalau begitu, kamu harus jaga baik-baik adik kamu di sana, ya?" titah Mamah. "Baik, Mah." Panggilan itu langsung diputuskan oleh Zendrick, ia kembali membaca buku. *** "Jadwal saya hari ini?" "Bertemu dengan klien dari Singapura, Thailand, dan Malaysia." jawab sekretarisnya. "Bagaimana dengan klien dari Filipina?" "Klien dari Filipina mengubah jadwal pertemuan menjadi besok siang, Bu Audrey." jelas sekretarisnya. "Baik, jadi kita akan mengadakan pertemuan dengan klien dari Singapura lebih dahulu?" tanya Audrey memastikan. "Iya, Bu." *** "Bagiamana semuanya, sudah siap bi?" tanya Elizabeth bersemangat. "Sedikit lagi, non." ucap pelayan. Elizabeth sedari tadi hanya berkeliling di sekitar meja makan sembari menunggu malam datang, ia sudah tidak sabar untuk menikmati makan malam bersama dengan Zendrick, ia nampak senang, namun sedikit gugup. "Non, ini masih sore, kayaknya sudah nggak sabar banget untuk nanti malam." "Bukannya begitu, bi. Aku cuma gugup aja." elak Elizabeth. "Jangan gugup, non harus tenang, agar acara nanti malam semuanya lancar." "Ini pertama kalinya aku makan malam bersama seorang laki-laki. Jadi, wajar kan kalo aku gugup, bi?" tanya Elizabeth. "Wajar sih, tapi non harus tetap tenang." "Aku akan coba untuk tenang, bi." ucap Elizabeth. Saat semuanya sudah siap, Gabriella terlihat keluar dari kamarnya dan matanya langsung tertuju pada meja makan yang di atasnya sudah terdapat peralatan makan yang tersusun rapi disertai sebuah lilin yang berada di tengah, juga kursi yang hanya berjumlah dua buah dan saling berhadapan. Gabriella dengan cepat menuruni tangga dan segera berjalan ke arah meja makan. Elizabeth tampak begitu senang dan bersemangat, Gabriella pun menjadi heran. "Ada acara apa sih? Kok meja makan udah rapi kayak gini? Terus, kursinya cuma dua?" beberapa pertanyaan keluar dari bibir Gabriella, ia benar-benar heran dengan meja makan yang sudah rapi. "Ada acara makan malam, non." jawab pelayan, seketika Elizabeth langsung melebarkan matanya dan menatap ke arah Gabriella. "Makan malam?" heran Gabriella, ia mulai menatap Elizabeth penuh selidik. "Akan ada seseorang yang datang ke sini nanti malam, nggak penting kok, kamu juga nggak akan peduli sama urusan aku, kan?" jelas Elizabeth. "Liza, aku akan ikut makan malam bersama kalian." ucap Gabriella secara tiba-tiba. "Tunggu, sebelumnya, sejak kapan kamu panggil aku Liza?" heran Elizabeth. "Sejak hari ini, nama kamu terlalu panjang." "Gabriella, kamu nggak bisa seenaknya ikut makan malam ini dong." keluh Elizabeth. "Loh, kenapa memangnya? Ada masalah kalo aku ikut makan malam ini?" tanya Gabriella. "Jelas dong, aku udah siapin ini semua khusus untuk dua orang. Kamu nggak bisa liat apa? Gabriella, kamu nggak mau rusak acara makan malam aku, kan?" tanya Elizabeth. "Tentu, aku nggak akan rusak acara makan malam ini. Tapi, aku akan tetap ikut." "Nggak bisa dong, Gabriella." "Kenapa nggak bisa? Ini rumah aku, tentu saja aku berhak untuk ikut acara makan malam kalian. Bahkan, aku berhak untuk usir kamu dari rumah aku sekarang juga." ancam Gabriella. "Apa? Kamu mau usir aku dari rumah ini? Nggak akan bisa, ini juga rumah aku sekarang." "Oke, ini rumah kita berdua. Jadi, aku berhak kan, untuk makan malam bersama dengan kalian?" tanya Gabriella. "Terserah deh!" kesal Elizabeth, ia segera pergi meninggalkan meja makan dan duduk di sofa ruang tamu. "Liza, nggak perlu marah dong. Kamu juga nggak bisa usir aku dari rumah ini, kan? Jadi, lebih baik kita makan bersama aja." usul Gabriella. "Terserah!" Gabriella memutar bola matanya dan segera duduk di atas kursi, ia lalu menatap meja makan yang rapi itu dengan saksama. Semuanya benar-benar sempurna untuk acara makan malam berdua. Namun, Gabriella berniat untuk mengacaukan makan malam ini dengan ikut makan malam bersama Elizabeth dan Zendrick. "Kenapa Gabriella selalu aja bikin aku kesal sih!? Padahal, aku pengen malam ini jadi malam yang sangat istimewa untuk aku dan Zendrick, berdua saja. Tapi, kenapa Gabriella mengacaukan semuanya!? Ngeselin banget deh!" batin Elizabeth, wajahnya terlihat cemberut. Gabriella mulai berjalan mendekati Elizabeth, tanpa rasa bersalah, ia segera duduk di sebelah Elizabeth sambil menghidupkan televisi. Ia menatap wajah Elizabeth sesaat. "Nggak perlu cemberut begitu. Lagi pula, salah kamu sendiri, kenapa ajak dia makan di sini, bukan di tempat lain. Jadi, ini risiko yang harus kamu terima, Elizabeth." Elizabeth seperti tidak mendengarkan perkataan Gabriella, ia hanya berkutat pada ponselnya. Seperti tak ada seseorang di sebelahnya, ia hanya diam tanpa suara. "Liza!" panggil Gabriella, namun Elizabeth tak menggubrisnya. Tak lama, terdengar sebuah bunyi bel dari luar rumah. Saat mendengar bunyi itu, Elizabeth segera menghampiri pintu rumahnya dan dengan cepat ia membukakan pintu. Ternyata, seseorang yang baru saja membunyikan bel adalah Zendrick. "Hai!" sapa Zendrick, Elizabeth tampak kembali bersemangat. "Ayo, masuk." "Kamu pasti sudah menyiapkan banyak makanan untuk acara makan malam ini, iya kan?" tanya Zendrick. "Bagaimana kamu tahu?" "Tentu saja, aku sudah bisa menebaknya." ucap Zendrick. "Kamu memang benar-benar hebat, Zendrick." puji Elizabeth. "Tentu saja." Zendrick mulai menyombongkan dirinya. Saat mereka mulai berjalan ke arah meja makan, terlihat Gabriella yang tengah duduk di kursi yang berada di depan dua kursi yang berhadapan tadi. Elizabeth yang terlihat kesal pun akhirnya memutuskan untuk duduk, diikuti oleh Zendrick yang juga ikut duduk. "Selamat malam, mari kita nikmati makan malam ini dengan bahagia." ucap Gabriella. "Apa? Bahagia? Aku tidak akan bisa bahagia saat kamu berada tepat di hadapanku, Gabriella. Kamu sangat mengganggu!" batin Elizabeth. "Tunggu apa lagi, mari kita nikmati hidangan yang sangat lezat ini." Akhirnya, mereka pun menikmati hidangan yang sudah di siapkan oleh pelayan dengan lahap, semua makanan itu memang benar-benar lezat. "Sudah selesai semuanya?" tanya Gabriella, suasana di meja makan ini benar-benar canggung. —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN