Nikahan Mantan(gebetan)

1679 Kata
***** Hari ini Gani memutuskan untuk kembali ke Jakarta, setelah mendapat pesan singkat yang Rara kirimkan seminggu yang lalu. Tepat di hari ini pula, mantan gebetannya itu akan melepas masa lajang. Dengan seorang pria yang baru saja menyelesaikan S2nya di Jerman. Kalau boleh jujur sebenarnya ia merasa sangat iri dengan Abbyan-calon suami Rara-ini. Bagaimana tidak iri, ia yang pedekete hampir dua tahun lamanya, kalah telak dengan si Abbyan, yang katanya hanya menjalani masa pendekatan beberapa bulan. Lalu menghilang tanpa kabar-yang katanya ingin fokus kuliah Magisternya-. Selama hampir dua tahun lamanya, dan begitu kembali ke Indonesia dengan gampangnya pria ini langsung melamar Rara. Dan secara tidak adil pula keduanya langsung menikah dalam hitungan bulan. Enak sekali nasib pria ini. Tidak bolehkah ia merasa ingin mengamuk dengan semesta yang suka mengajaknya guyon begini? Sambil menggeleng miris, Gani menghela napas putus asa. Sampai mengabaikan seorang pria yang kini tengah memandangnya penuh rasa iba. "Tampangnya tolong dikondisikan!" Gani langsung mengangkat kepalanya, mencari keberadaan suara yang ia tebak itu milik sang Kakak. Dan benar saja, saat ia membalikkan badan, ia langsung bisa menemukan Umar dengan seragam keki-nya. Pria itu langsung meringis tak enak saat mendapati sang Kakak ipar yang bahkan belum mengganti seragam dinasnya. "Gue ngerepotin banget ya, Mas?" "Udah tau nanya," ketus Umar sambil celingukan mencari barang bawaan Gani. "Koper lo mana?" tanyanya kemudian, saat ia tak menemukan koper maupun barang bawaan lainnya di dekat tubuh Gani. "Di rumah," balas Gani cuek, "gue di sini cuma beberapa jam. Nanti malem juga udah balik ke Bandung lagi. Jadi nggak perlu lah bawa koper segala. Cukup bawa enjoy aja." "Kenapa nggak nyetir sendiri aja sih, Bandung-Jakarta nggak butuh 3 jam juga nyampe," gerutu Umar, keduanya kini berjalan beriringan menuju tempat parkir, keluar dari area bandara. "Ogah, capek. Enakan naik pesawat, 30 menit nyampe. Nggak perlu repot-repot nyetir atau pun macet-macetan." Gani membalas dengan cuek sambil memainkan kacamata hitamnya. "Tapi itu namanya pemborosan, Argani." "Nggak papa, orang kaya mah bebas. Lagian duit gue biar berfaedah dikit, Mas. Kasian kalo kelamaan ngetem di rekening, takutnya nanti keburu nggak laku buat transaksi," kelakar Gani dengan jumawanya. Sementara Umar hanya menggelengkan kepalanya sambil mengelus d**a. Berdoa dalam hati semoga anaknya kelak tidak mengikuti tingkah polah sang paman. "Semoga keponakan lo nggak ada yang niru sifat lo ini, Gan. Bisa stress gue kalo punya model anak macem lo." Bukannya tersinggung, Gani justru malah tertawa, tak lupa ia mengamini doa sang Kakak ipar. "Kita balik dulu ya, nggak enak gue kalo kondangan masih pake seragam dinas gini," kata Umar sebelum mulai menstarter mobilnya. Gani langsung mengangguk, mengiyakan tanpa berniat membantah sedikit pun. "Abis kondangan langsung balik ke kantor, Mas?" tanya Gani berbasa-basi. "Iya, gue ijin sebentar soalnya. Dapet jatah buat back-up kerjaan si Dani." "Sabar, Mas, ini belum seberat cobaan yang lagi gue hadepin." Umar hanya terkekeh mendengar gurauan Gani, yang menjurus ke pada curhat colongan ini. Tak butuh waktu terlalu lama mereka akhirnya sampai di rumah minimalis milik Umar karena jalanan kebetulan sedang bersahabat. "Assalamualaikum," sapa Umar saat memasuki ruang tengah. Keadaan rumahnya terasa sedikit sepi, membuat Gani mengerutkan dahinya heran. "Pada ke mana, Mas, kok sepi amat?" "Di atas, lagi main mungkin." Gani mengangguk paham, kemudian mengekor di belakang Umar. Umar menghentikan langkah kakinya saat merasa Gani justru mengikutinya dari belakang, kemudian berbalik menatap Gani heran. "Kenapa lo ngintilin gue?" "Pede banget sih. Gue mau cari ponakan gue," dengkus Gani yang kini memilih berjalan mendahului Umar. "Ngapain cari anak gue, nggak bawa apa-apa juga," gerutu Umar sambil menggelengkan kepalanya. Meski samar-samar Gani masih dapat mendengar gerutuan Umar, ia memilih untuk mengabaikannya. Karena Chillo sang keponakannya ini tak pernah sekali pun meminta oleh-oleh padanya, yang ada ibu itu yang hobinya nodong segala macam barang padanya. Padahal kan Nayla sudah punya suami, tapi tidak tahu kenapa Kakaknya ini tak jarang memintanya untuk dibelikan ini itu. Dan dengan bodohnya ia selalu mengabulkan permintaan sang Kakak. "Keponakan uncle," seru Gani saat menemukan Chillo sedang bermain lego di sebuah ruangan khusus untuk bermain. Dengan gerakan spontan Chillo membuang legonya dengan asal, dan tak sengaja mengenai wajah Nayla yang kebetulan sedang berbaring di samping Chillo. Bocah berumur tiga tahun itu langsung berlari menuju ke arah Gani yang sudah siap merentangkan kedua tangannya. "Om Gani!" pekik Chillo sambil memeluk tubuh Gani dengan penuh kerinduan. "Mainannya mana, Om?" tanyanya dengan wajah polosnya. Gani mendelik dengan spontan. Sejak kapan keponakannya ini suka meminta mainan padanya. Biasanya tak pernah sekalipun ini bocah meminta sesuatu padanya, bahkan untuk sekedar meminta dibelikan es krim pun tak pernah dilakukan bocah yang sebentar lagi akan memiliki adik ini. Kecuali atas perintah sang Ibunda, Chillo memang suka meminta sesuatu jika sudah diperintah sang Ibunda. Pandangannya kini beralih pada Nayla yang malah asik menyusun lego, entah untuk membuat apa, Gani tak paham. "Lo ajarin apa keponakan gue, Mbak?" "Banyak lah, gue kan ibu yang baik," balas Nayla dengan gaya cueknya. "Om, mainan?" Chillo masih menatap penuh harap. "Enggak ada, sayang. Om baru--" "Kasih mentahan aja udah nggak papa, Gan. Nanti gue beliin sendiri. Sama yang ada di perut gue juga tapi, takutnya nanti lo dikira Om yang pilih kasih kalo cuma Kakak yang lo kasih jatah." "Gitu juga nggak papa, Om." "Iya, nanti Om transfer ke Mama, ya?" Dengan patuh Chillo mengangguk sambil memeluk leher Gani dan mencium kedua pipinya secara bergantian. "Makasih, Om." "Sama-sama," balas Gani sambil mencubit hidung Chillo dengan gemas. Bukannya menangis atau pun sebal, bocah itu malah tertawa bahagia. "Gan, gue udah siap. Ayo berangkat sekarang," kata Umar saat memasuki ruang bermain putra sulungnya. Sambil mengangguk, langsung Gani menurunkan Chillo dari gendongannya. "Mau ke mana, Om?" "Nikahannya Tante Rara, sayang," balas Umar. "Sama Om?" tanya Chillo dengan wajah polosnya. Dengan sekuat tenaga Umar berusaha menahan dirinya agar tak tertawa sementara Nayla kini sudah terbahak sambil memegangi perut besarnya. "Bukan," ketus Gani sedikit emosi. "Emang Chillo tahu nikah itu apa?" tanyanya kemudian. Ia penasaran kenapa balita yang harusnya belum paham apa-apa ini punya pikiran seperti itu. Dengan polosnya Chillo menggeleng. "Enggak. Emang nikah itu apa, Om?" Gani mengangkat bahunya pura-pura tak paham. "Om juga nggak tau. Tanya Papa kamu aja." "Pa, ni--" "Sayang, Papa sama Om udah telat nih. Ngobrolnya nanti saja bisa?" potong Umar sebelum anak yang super jenius ini makin bertanya yang tidak-tidak. Dengan raut wajah kecewanya Chillo mengangguk pasrah. "Jangan lupa transferannya, Om," pesan Chillo sebelum Gani meninggalkan Chillo dan Nayla. Gani mau tak mau akhirnya mengangguk di sela ringisannya. "Anak lo ajaib banget deh, Mas. Bikin di mana tuh?" tanyanya sedikit berbisik "Di atas kasur dong," balas Umar ikut berbisik kemudian terkekeh geli setelahnya. ***** Sekarang Gani paham betul dengan alasan Rara yang jauh lebih memilih Abbyan ketimbang dirinya. Kalau pun dirinya perempuan dan berkesempatan untuk memilih, jelas Gani akan memilih Abbyan abbyan ini. Bagaimana ia tak punya pikiran untuk memilih Abbyan. Karena dari segi penampilan Abbyan jelas menang banyak ketimbang dirinya. Tinggi badannya yang hanya 178cm sedangkan Abbyan, mungkin lebih dari 180cm, meski tak beda jauh, tetap saja ia kalah. Lalu dengan postur tubuh yang Abbyan miliki jelas masuk kategori selera Rara yang hobi membaca novel. Postur tubuh Abbyan ini benar-benar cetakan novel sekali, meski tak beserta brewok tipis di sekitar rahang. Tapi kulit kecoklatan yang Abbyan miliki jelas termasuk kategori coklat eksotis yang kata Nayla menggoda iman. Berbanding balik dengan dirinya yang memiliki kulit putih bersih dan tubuhnya tak sebagus penggambaran di cerita novel kegemaran Rara. Meski pun ia tetap memiliki perut yang sedikit mirip roti sobek. Namun tetap saja roti sobek miliknya tak sebagus roti sobek khas oppa-oppa Korea, walaupun kulitnya hampir sebersih artis dari negeri gingseng itu. Rasa-rasanya Gani benar-benar ingin segera kabur dan menghindari raut wajah bahagia si calon pengantin. Mungkin kalau saja ia tak merasakan tepukan di pundaknya. Dan ia tak mendapati wajah Umar yang sedang mengangguk sambil tersenyum padanya, ia benar-benar akan kabur dari tempat itu tanpa berpikir lama. "Rilex, Gan! Main ganteng," bisik Umar mencoba memberi sugesti. Gani meringis sambil mengangguk. "Yuk, temuin yang punya acara terus balik." Gani mengangguk sekali lagi, sambil berjalan di samping Umar dengan kepala sedikit tertunduk. "Angkat kepala sambil senyum yang ganteng. Kali aja ada perawan lewat yang mau dihalalin," bisik Umar sekali lagi. "Nggak lucu, Mas," balas Gani dengan snewen. "Ups, sorry," ucap Umar tanpa menunjukkan wajah menyesal, ia bahkan menunjukkan senyum mengejeknya. "Kirain nggak bakalan dateng lo," sambut Dani menghampiri Umar dan juga Gani. "Eh, ada Gani juga. Katanya di Bandung, kapan balik, Gan?" Lalu menyalami keduanya secara bergantian. "Hehe, barusan, Mas," cengir Gani sambil mengusap tengkuknya gelisah. "Terus kapan balik ke Bandungnya?" tanya Dani melempar basa-basinya. Gani harus menahan napasnya saat melihat Rara keluar dari dalam, tangan kanannya diampit oleh Fitria sementara tangan kirinya diampit oleh Sarah. Mendadak Gani seolah lupa bagaimana cara bernapas, ia bahkan mengabaikan pertanyaan Dani barusan. Kedua matanya terlalu fokus mengagumi Rara yang tampil cantik dengan balutan gaun putihnya yang luar biasa sederhana untuk ukuran seorang pengantin. Make up yang Rara pakai pun juga cukup tipis dan pas untuk wajahnya. Benar-benar membuat Gani iri setengah mati dengan Abbyan. Ah, kenapa bukan dirinya sih yang jadi mempelai prianya? "Napas, Gan, Napas!" celetuk Dani berhasil membuayarkan lamunan Gani. "Bikin malu aja lo," gerutu Umar membuat Dani kembali tertawa, sementara Gani langsung menunjukkan wajah cemberutnya. "Adek ipar gue cantik banget ya, Gan?" Dani kembali melemparkan candaan untuk Gani. "Ho oh, sayang penganten cowoknya bukan gue," balas Gani jujur. Keduanya kemudian terbahak sedangka Umar hanya mengggelengkan kepalanya, tak cukup heran dengan selera humor keduanya yang tidak beda jauh, sama garing. "Kulit lo keputihan sih, Rara kan jadinya minder." Dani kembali melemparkan candaannya membuat Umar kembali menggeleng. Mungkin pria yang sedang menunggu anak keduanya lahir ini merasa benar-benar menyesal karena telah mengenal kedua pria yang ada di hadapannya ini. Dengan wajah antusiasnya Gani menimpali. "Gitu ya, Mas. Wah, berarti gue perlu bejemur kali ya, biar kulit gue jadi eksotis macem adik ipar lo," balasnya sambil tertawa garing sedangkan Dani mengangguk, membenarkan. "Orang gila ya, lo berdua," cibir Umar menatap keduanya malas. Ia lebih memilih menghampiri kursi yang sudah disediakan untuk tamu, menonton mantan calon adik iparnya ijab qobul jauh lebih baik ketimbang ngobrol dengan mereka. Tbc,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN