******
Seorang perempuan dengan snelli kebanggaannya tersampir di lengan kirinya, berjalan menelusuri lorong rumah sakit. Sembari membalas sapaan dari pasien dan rekan sejawatnya kala berpapasan dengannya. Umurnya baru 31 tahun, bisa dibilang ia adalah dokter spesialis bedah wanita termuda di rumah sakit tempat ia bekerja. Yang memiliki nama lengkap Ranya Zunaira Harmene. Blasteran Indonesia-Inggris-Korea, Mamanya campuran Sunda-Jawa, sedangkan Papanya Inggris-Korea. Lebih sering dipanggil Anya atau dokter Anya. Statusnya pernah menikah, dengan salah salah satu dokter senior sekaligus mentornya.
Pertemuan pertama mereka saat Anya sedang menjalani masa co-as dan Chis-mantan suaminya- saat sedang menyelesaikan program residen tingkat akhirnya. Keduanya memutuskan menikah setelah Chris berhasil menyandang status sebagai dokter spesialis saraf, sedangkan Anya baru menyelesaikan program intership-nya.
Namun di saat umur pernikahan mereka belum genap setahun, keduanya memutuskan untuk berpisah. Masalah anak. Anya yang masih ingin fokus dengan pendidikan spesialisnya dan mertuanya yang sangat menginginkan cucu. Sedangkan Chris tak cukup mampu meyakinkan sang Ibunda untuk sedikit bersabar menanti kehadiran cucu baginya, sehingga keduanya memutuskan untuk berpisah.
"Kita harus bicara," ucap Chris, saat diri Anya baru selesai jaga malam. Saat itu Anya baru saja menjalani program residen tahun pertamanya.
"Aku lelah, Chris. Bisa kita bicara nanti?" Lelah fisik sekaligus mental membuatnya harus menolak permintaan sang suami.
"Ini masalah penting, tidak bisa ditunda-tunda." Chris masih ngotot. Toh, ia hanya mengajaknya ngobrol, untuk membicarakan sesuatu yang menganggunya beberapa hari ini bukan mengajaknya 'aktifitas malam' yang bisa menguras tenaga.
Apalagi dirinya juga seorang dokter, pernah merasakan lelahnya jadi residen yang sering kena sembur konsulennya.
Melihat rahang Chris yang terlihat mengeras, Anya putuskan untuk mengalah. Ia tak ingin menambah siksa batin dengan bertengkar.
"Oke. Tapi aku mandi dulu, ya?" pinta Anya yang langsung disetujui oleh Chris.
"Ini." Chris menyodorkan secangkir teh hangat untuk Anya saat istrinya itu baru keluar dari kamar mandi.
Anya menerima dengan senang hati. "Thanks," ucap Anya tulus.
Chris sendiri hanya mengangguk dengan eksprsi kakunya.
"Mau ngomongin apaan, kok kayaknya serius banget," tanya Anya heran, baru kemudian menyeruput teh hijau buatan sang suami. Jarang-jarang loh ia bisa dibuatkan teh begini
Chris terlihat ragu. Beberapa kali ia terlihat menghela napas panjang, mengundang kerutan di dahi Anya. Hampir setahun menikah dengan Chris membuatnya hafal dengan gelagat suaminya itu.
"Just talking!"
Chris melirik Anya takut-takut. Kalimat yang sudah ia susun rapi-rapi dalam memorinya kini ambyar sudah, saat melihat senyum manis milik sang istri. Mendadak dirinya merasa bimbang.
Haruskah ia mengatakannya?
"Hey! Kok malah ngelamun?" Anya terkekeh geli saat memperhatikan wajah suaminya yang justru malah melamun. Diletakkannya cangkir berisi teh hangat yang tinggal setengah, tangan kanannya kemudian terulur, guna memegang kedua pipi sang suami.
"Ngomong aja, sayang," bisik Anya lembut.
Chis menghela napas panjang. Memandang wajah sang istri dengan perasaan berkecamuk. Dengan gerakan perlahan, ia menjatuhkan kepalanya pada pundak Anya, menghirup aroma sabun sang istri yang masih begitu terasa.
"I love you," bisik Chris dengan suara yang sedikit serak.
Anya terkekeh geli sambil mengelus rambut Chris yang menurutnya sudah harus dipotong. "Nggak ada ya, Chris. Aku capek," tegasnya sambil menggeleng.
Mau tak mau Chris ikut terkekeh sambil menggeleng. Karena memang bukan rasa ingin 'main' yang sedang mengganggu pikirannya. Namun karena Anya terlanjur berpikir ke arah sana, tidak ada salahnya bukan kalau ia sedikit menggoda sang istri. Sambil tersenyum m***m ia mendongak, menatap Anya yang saat ini sedang menatapnya dengan kedua alis terangkat.
Merasa hafal dengan tatapan milik sang suami saat mode on, membuat Anya langsung mendorong dahi Chris menggunakan jari telunjuknya, sehingga membuat kedua tangan Chris yang tadinya memeluk tubuhnya dengan sedikit posesif akhirnya terlepas.
"Malam ini libur. Aku capek," kata Anya tak ingin dibantah.
Chris cemberut, memasang wajahnya pura-pura ngambek sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a.
"Aku tau ada yang mengganggu pikiranmu. Dan kamu coba mengalihkan pikiranmu dengan 'main'." Anya menggeleng tegas. "Aku nggak suka, Chris. Sekarang kamu bilang sama aku, apa yang mengganggu pikiran kamu. Kita bicarakan dan cari jalan keluarnya sama-sama."
Raut wajah Chis berubah sedih. Tak ada lagi wajah ngambek karena gagal 'main' seperti tadi. Sambil menghela nafas pendek ia melirik Anya. "Mama," ucapnya lirih.
"Kenapa dengan Mama?"
Chris kembali menghela napas, memandang Anya dengan keraguan. Kemudian menggeleng. Dan suasana berubah hening. Anya sendiri pun masih setia menunggu Chris kembali membuka suara.
"Tidak bisakah kita melakukan program hamil?" ucap Chris tiba-tiba.
Tubuh Anya langsung menegang saat Chris akhirnya memecah keheningan. Ketakutan yang selalu menghantuinya beberapa minggu ini akhirnya terjadi, terjadi di saat yang tidak tepat. Dengan susah payah ia menyamarkan keterkejutannya.
"M.maksud kamu?"
"Mama pengen punya cucu, sayang. Aku kan anak tunggal--"
"Chris," potong Anya cepat. Kedua matanya kini sudah memerah, antara menaham marah, kecewa, sekaligus tangisnya yang nyaris pecah. "Bukankah kita sudah membicarakan itu sejak sebelum kita menikah?"
"Yes, i know. Tapi Mama pengen cucu dari aku, cucu dari kita."
"Kamu bercanda. Aku baru mau mulai residen tahun pertamaku. Nggak mungkin aku hamil. Kamu tahu sendiri kan, gimana sibuknya residen tahun pertama?"
"Jadi kamu menolak?"
Anya menggeleng dengan kedua mata yang kini terpejam. "Aku mau hamil, Chris. Tapi tidak sekarang," lirihnya sambil menggeleng. "Kita sudah sepakat, kamu nggak bisa dong melanggar kesepakatan kita. Ini jelas nggak adil buat aku."
"Aku tau, Ran, aku tau. Tapi Mama nggak mau tahu, beliau ingin kamu cepet hamil. Karena kalau tidak--"
"Kalau tidak apa? Kamu mau menceraikanku?" potong Anya terlanjur kesal.
"Jangan bercanda! Aku hanya mencintaimu," protes Chris tak terima.
"Ya sudah, kita tunda sampai aku residen tahun terakhir."
"Nggak bisa tahun depan?"
"Residen tahun ketiga."
"Sayang!"
"Residen tahun ketiga atau kamu ceraikan aku."
Anya mendesah berat, ia kemudian melemparkan snelli-nya di belakang kursi kemudinya. Meremas kuat stir mobilnya, guna menyalurkan emosinya yang mendadak naik gara-gara mengingat percakapannya dengan sang mantan suami.
Ia meringis pilu, saat mengingat status mantan suaminya itu. Yang sudah sah menjadi suami orang tepat 2 bulan setelah perceraian mereka secara resmi. Dan Anya yakini kini sudah memiliki anak lebih dari satu atau mungkin dua.
Lalu bagaimana dengan dirinya masih begini-begini saja. Jangankan suami baru, pacar saja ia tak punya. Ia justru semakin ambisius mengejar karirnya sebagai spesialis bedah. Ia bahkan berencana mengambil kuliah sub-spesialis untuk tahun depan.
"Mencintai apaan kalo akhirnya gue dicerai juga," gerutu Anya sambil menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir ingatan percakapan dengan sang mantan suami.
"Ngebar, yuk?"
Anya nyaris terkena serangan jantung saat mendapati Cucu-yang memiliki nama asli Cantika Putri-sahabat karib sekaligus rekan sejawatnya itu tiba-tiba masuk ke dalam mobil dan mengagetkannya.
"Orang gila! Gue nyaris kena serangan jantung, k*****t!" umpat Anya yang memang sedang dalam emosi yang tidak stabil. Kedua tangannya tanpa sungkan memukul pundak Cucu yang tertutupi kemeja blus.
Bukannya marah, Cucu malah terbahak. Membuat Anya makin memanyunkan bibirnya dengan kesal.
"Ugh! Minta ditabrak itu bibir kayaknya," goda Cucu sambil menjawil dagu Anya dengan centil.
Dengan gerakan brutal, Anya menepis tangan Cucu, membuat dokter anasthesi ini justru makin terbahak bahagia.
"Anjir, lo sensi amat sih. Lagi PMS apa butuh pelepasan?" Cucu sedikit memajukan wajahnya untuk melihat bagaimana wajah Anya saat ini, kemudian ia langsung terbahak saat mendapati wajah Anya yang siap membedah tubuh orang tanpa bantuan anesthesi.
Sambil mendengkus Anya memilih menjalankan mobilnya keluar dari area rumah sakit.
"Diem deh lo! Numpang aja kebanyakan bacot."
Cucu mengangkat kedua bahunya tak peduli. Baginya, Anya dan mulut pedasnya memang sudah berkawan lama, apalagi sejak perceraian sahabatnya ini dengan sang mantan suami. Membuat Anya menjadi sesosok perempuan tegas cenderung galak yang suka ditakuti dedek-dedek co-as yang berada di stase manapun. Yah, seluar biasa itulah pesona sang sobat.
"Nge-bar, yuk," ajaknya lagi. Mengingat tawarannya tadi belum mendapat respon dari Anya, membuat Cucu kembali bertanya.
Anya melirik Cucu tajam kemudian menggeleng di sela decakkannya.
"Noh, matahari aja masih nongol, ngajakin nge-bar. Yang bener aja lo," ketus Anya galak.
"Ya, enggak sekarang juga, cantik. Tapi nanti malam." Cucu memainkan kedua alisnya naik-turun. "Lo besok free kan?"
Anya mengangguk, membenarkan.
"Bareng Al?"
Cucu menggeleng.
"Dapet shift malem dia. Lagian residen kan jadwalnya padet, cuy. Nggak bakalan ikut lah itu orang."
"Tapi lo yang jemput kan?"
"Enggak asik lo."
"Ya, udah men--"
"Oke, oke, gue yang jemput," potong Cucu dengan segera, meski ia merasa sedikit tak rela sih.
"Oke. Sip," kata Anya sambil mengacungkan jempol tangan sebelah kirinya. Sepertinya memang butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya yang seperti sedang haus kasih sayang. Ini pasti gara-gara tadi ia melakukan visit pasien pasangan suami istri baru yang membuatnya baper.
Astaga, kenapa sih perempuan harus tercipta gampang baper? Pikir Anya sambil menggeleng sedih.
Tbc,******