Argani Dewanta

1505 Kata
****** Namanya Argani Dewanta, biasa dipanggil Gani. Seorang pengusaha restoran khas Nusantara, namun memiliki konsep intersional dan tempat yang instagamable. Usianya tahun ini genap berumur 32 tahun. Memiliki perawakan tinggi 178 cm, kulitnya termasuk kategori putih, entah dapat dari gen mana, yang jelas semua keluarganya hampir tak memiliki kulit putih seperti dirinya. Ia memiliki sifat yang ramah dan mudah sekali berteman. Dengan selera humor yang lumayan menghibur kaum-kaum tertentu, karena lelucon yang biasanya dilemparkan olehnya cenderung sedikit garing. Ia memiliki seorang Kakak perempuan yang bernama Nayla, sifatnya blak-blakan dan sedikit judes, berbanding balik dengan dirinya. Beruntung masih ada yang mau menikahi dan mendonorkan s****a untuk Kakaknya ini, sehingga dirinya bisa memiliki keponakan yang menggemaskan dan juga cerdas. Dan sebentar lagi akan bertambah karena Nayla kini sedang mengandung keponakan keduanya. Berbeda dengan Nayla yang kisah hidupnya kini memiliki keluarga kecilnya sendiri yang sering kali membuatnya iri. Gani tak seberuntung kakaknya. Bisa dibilang kisah cintanya cukup tragis sekaligus miris. Keinginan kuatnya untuk segera menikah dan memiliki keluarga kecilnya sendiri tak langsung di acc oleh Tuhan. Perjalan cintanya pun tak semulus bisnis restorannya yang kini sudah memiliki beberapa cabang di luar Bandung. Dulu saat ia mencoba menjalin hubungan dengan Anggita, adik salah satu sahabat karibnya, harus berakhir karena sifat Gani yang sedikit overprotectif dan suka mengarahkan-cenderung sedikit mengatur, membuat Anggita dengan jiwa bebasnya muak dan memutuskan untuk untuk mengakhiri hubungan mereka tepat sehari sebelum Gani melamarnya. "Maaf, Mas, aku nggak bisa sama kamu lagi. Kamu terlalu suka ngatur. Aku bosen." Kurang lebih begitulah kalimat yang di lontarkan Anggi saat mengakhiri hubungan mereka waktu itu. Lain lagi dengan kisah cintanya dengan adik salah seorang karyawannya yang harus kembali berakhir tragis karena perbedaan umur mereka yang tak bisa dikatakan dekat. Gani yang sudah siap mental sekaligus finansial sedangkan Ana baru memasuki semester duanya untuk program S1nya. Gani yang selalu ngebet ke pelaminan dan Ana yang masih ingin pacaran. "Kamu kepikiran buat nikah muda nggak?" Gani Bertanya pada Ana yang saat itu sedang bersandar di dadanya yang tidak terlalu bidang. Sementara dirinya memainkan rambut Ana yang baru kemarin sore di creambath. Dengan gerakan reflek Ana menjauhkan tubuhnya, memandang Gani dengan ekspresi tak sukanya. "Mas Gani nggak berencana buat ngajak aku nikah muda kan?" Gani langsung mengangguk sebagai tanda jawaban, sebelum akhirnya mengimbuhkan kalimatnya. "Pengennya sih gitu. Mas kan udah cukup umur, secara materi juga udah cukup kok untuk membiayai hidup kamu ke depannya. Bahkan kalau kamu mau minta sampai S2 atau S3 sekalian. Mas mam--" "Tapi aku masih muda, Mas. Aku baru semester dua lho. Aku masih pengen pacaran--" "Pacaran setelah nikah kan bisa, yang" "Enggak," tolak Ana dengan tegas. "Kalo Mas Gani udah ngebet nikah, mending Mas Gani cari cewek lain deh. Ana bukan perempuan yang tepat buat Mas Gani. Kita putus aja ya." Gani meringis kala mengingat sifat ngebet kawin-nya itu. Membuatnya frustasi dan akhirnya minta dikenalkan dengan beberapa teman Nayla yang masih tak berjalan dengan mulus. Sampai akhirnya Umar-kakak iparnya-mengenalkannya dengan Rara-adik ipar dari teman SMA-nya Umar-. Seorang gadis kalem dengan penampilan hijabnya, yang berprofesi cukup unik. Yaitu sebagai penjahit. Sebenarnya Rara ini bukan dari kalangan menengah ke bawah, bisa dibilang berkecukupan lebih malah. Karena rumah yang ditempati oleh keluarga mantan gebetannya ini termasuk perumahan yang elit, cocok sama orang gedongan. Yang membuat Gani tak paham dengan profesi yang dipilih Rara. Dan hubungan mereka tidak seperti hubungan dengan beberapa mantan-mantannya yang lain. Bisa dibilang hubungannya dengan Rara cukup spesial baginya. Bagaimana tidak spesial, dia berjuang hampir 2 tahun lamanya, guna menaklukan hati perempuan ini. Namun tak pernah sekalipun ia berhasil menggaet hati perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istri orang. Dan yang lebih luar biasa lagi, Rara malah memilih pria yang sudah meninggalkan dirinya hampir 2 tahun lamanya, tanpa kabar pula. Yah, walaupun pria itu sedang menuntut ilmu ya. Baik sepertinya Gani terlalu malas untuk mengingat percakapan apa saja yang diobrolkan dengannya saat terjadi proses penolakan itu. Tujuannya saat ini adalah move on sesegera mungkin. Maka dari itu ia segera memutuskan untuk kembali ke Bandung. Baginya Jakarta terlalu tidak oke untuk mengobati patah hatinya. Dan semoga saja keputusannya untuk kembali ke kota kembang ini membuatnya mendapatkan perempuan khilaf yang mau dinikahinya dan dibawanya ke hadapan sang Mami tercinta, yang sudah begitu mendambakan menantu. Dan tujuan utama saat ia kembali menginjakkan kakinya di Bandung adalah apartement Aro-salah satu sahabat karibnya-. Sambil memainkan kacamata hitamnya, ia menunggu Aro membuka pintu apartementnya. Butuh waktu sekitar hampir lima menit lebih, baru pintu apartement Aro terbuka. Menampilkan wajah Aro yang sedikit acak-acakan namun tetap tampan. Gani langsung menebak jika salah satu karyawannya juga ini baru saja bangun tidur, atau yang lebih parahnya lagi, pria ini terpaksa bangun karena mendengar suara bell yang ia pencet tadi. Sehingga tidur ganteng Aro harus terganggu oleh dirinya ini yang memiliki hobi bertindak sesuka hati. Sambil mengacak rambutnya secara asal, Aro sedikit melebarkan pintu apartementnya, mempersilahkan Gani untuk masuk ke dalam apartementnya. "Thanks," ujar Gani langsung masuk begitu saja, tanpa melirik wajah Aro yang sedang menguap cukup lebar. Aro menggeleng tak habis pikir kemudian menutup pintu apartementnya kembali, menghampiri Gani yang sedang duduk bersandar pada sofanya. "Ke mana aja sih lo?" sembur Gani tepat sebelum Aro mendaratkan bokongnya pada sofa. Dengan wajah polosnya Aro menoleh ke arah Gani. "Kenapa?" tanyanya kemudian. "Gue telfon lo dari tadi, minta jemput," balas Gani ketus. Kemudian berdiri, berjalan menuju dapur Aro yang jaraknya tak jauh dari ruang tamu. Pandangan Aro mengikuti gerak tubuh Gani yang kini sedang membuka pintu kulkasnya, mengambil dua kaleng soda dan membawanya kembali ke sofa. "Enak banget lo, minta dijemput," sindir Aro sambil menerima kaleng soda yang Gani sodorkan untuknya. "Untung hape gue tadi gue silent," gumannya kemudian. "Wah, jahat lo." "Emang dari mana lo minta di jemput segala?" "Jakarta." "Lo naik kereta? Pajero lo emang, lo kemanain? Lo jual?" Gani menggeleng dengan gaya sombongnya, sembari menyilangkan kaki kanannya, kemudian memakai kembali kacamata hitamnya dengan gaya berlebihan. Aro yang melihatnya pun sampai mual dan ingin muntah. "Naik pesawat dong, orang kaya. Terus kalo masalah si aje kesayangan gue, udah nangkring di parkiran depan rumah," kelekar Gani yang sukes membuatnya mendapat pukulan bantal sofa dari Aro. Gani kembali terkekeh sambil menjulurkan lidahnya. "Resto aman kan?" tanyanya kemudian sedikit berbasa-basi. Masih di sela dengkusannya Aro mengangguk. "Aman. Lo mau leha-leha sampai akhir tahun pun, restorant bakalan aman. Rekening lo juga. Orang kaya kan," sindirnya setengah mencibir. Gani langsung terbahak, namun beberapa menit kemudian ekspresinya berubah kecut. "Tapi hati gue kayaknya nggak bakalan aman deh." "Males gue ah, kalo jadi menye-menye gini." Aro mendesah tak suka dengan bahasan yang seperti ini. "Gue beneran lagi patah hati, Ar," lirih Gani dengan wajah nelangsa-nya. Mencoba menarik perhatian Aro agar sedikit berempati dengan kondisi hatinya yang sedang memburuk ini. "Iya, gue percaya, Gan. Muka lo biasa aja lah, nggak usah dibikin sok nelangsa gitu." "Emang gue nggak cocok dicintai ya, Ar?" Gani bertanya dengan lirih pelan dan makin ngawur. Bukannya merasa iba, Aro justru menampilkan wajah malasnya. Ekspresinya jelas menunjukkan ketidak tertarikan dengan hati Gani yang katanya sedang patah ini. "Minum soda kaleng aja bikin lo mabuk ya, Gan?" tanya Aro setengah menyindir. "Kayaknya gitu," balas Gani dengan suara pelan. "Jangan kayak banci gini kenapa sih, Gan. Cuma patah hati juga." "Terus gue musti gimana?" "Move on! Mau ngapain lagi emang. Cari cewek lain, di luaran sana cewek single yang siap lo halalin kok. Kali ini nggak usah kebanyakan milih, kalo ada yang mau. Sikat langsung." "Gue bukannya pemilih, emang dasar ceweknya aja yang nggak mau gue pilih," dengkus Gani dengan wajah snewennya. Ingatannya kembali pada masa di mana ia selalu gagal membawa perempuan yang diinginkannya ke atas pelaminan. Kalau seandainya ia tipekal pria dengan wajah pas-pasan atau dompetnya yang pas-pasan sih, ia tak masalah dengan status jomblo hingga umur segini. Tapi sayangnya wajahnya terlalu tampan untuk masuk kategori kaum perindu kasih sayang yang tidak pemilih. "Lo terlalu memaksa kehendak sih," celetuk Aro dengan wajah santainya sambil mengangkat kedua bahunya cuek. "Memaksa gimana sih, Ar?" "Oke, bukan memaksa sepertinya. Tapi terlalu ngebet kawin," koreksi Aro. "Wajarlah gue udah kepengen, umur gue udah nggak muda lagi. Gue nggak mau saat gue mulai menua nanti tapi anak gue masih terlalu muda. Atau yang paling parah lagi gue nanti malah keburu impoten gegara benda pusaka gue--" "Ngawur!" sela Aro sambil menonyor kepala Gani dengan gemas. "Lo cowok, s****a lo nggak ada masa expired-nya. Santai aja kenapa sih, beda kalo lo cewek, wajar kalo lo udah panik diumur segitu. Karena rahim punya masa expired-nya." Gani meringis saat menyadari pembahasan mereka yang menyimpang terlalu jauh. Bawa-bawa s****a dan juga rahim pula. "Kejauhan nggak sih, Ar, pembahasan kita?" "Kejauhan gimana maksud lo?" Aro mengerutkan dahinya tak paham. "Ya, itu, bawa-bawa masa expired-nya s****a dan juga rahim. Bahasan awal kita kan cuma tentang kegalauan gue, kenapa nyimpangnya jauh banget gitu." Gani menggerutu dengan sambil geleng-geleng kepala sementara Aro terkekeh. "Katanya udah nggak muda, wajarkan kalau obrolan kita naik kelas. Jadi 20++." Kemudian terbahak setelahnya. "Apaan deh. Gaje." Gani kembali menggerutu sementara Aro terbahak. Tbc,******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN