Keanehan lainnya

1449 Kata
Hari ini Mama bilang kalau tidak sempat memasak atau pulang untuk membelikan Bhanu makan siang. Sang kakak, Bhina, ada kuliah seharian penuh sedangkan Papa juga sedang sibuk sehingga tidak bisa menyempatkan pulang. Ini sebuah kesempatan untuk Bhanu. Kesempatan untuk bisa seharian berada di sekolah sambil menemani Cecil berlatih bersama teman-teman cheerleadersnya untuk pertandingan awal musim antar sekolah yang akan dilaksanakan satu bulan lagi. Dia membawa kameranya untuk memotret setiap jengkal benda bahkan momen yang mengisi kenangannya hari ini. Tak lupa juga uang lebih untuk makan siang. Soalnya kalau Cecil sudah kelelahan beraktifitas itu, dia sangat suka makan. Malah, porsinya bisa lebih banyak. Sungguh beruntungnya gadis itu masih punya badan yang bagus meskipun nafsu makannya sangat-sangat besar. Seusainya jam pelajaran terakhir, bahasa inggris, Bhanu dan Dharma langsung mengambil tas lalu pergi ke kelas Cecil. Mereka menjemput cewek itu untuk diajak makan dulu sebelum latihan di kantin. Dharma dan Bhanu memesan nasi, menu yang berat dan cocok untuk makan siang. Nasi campur dengan lauk-pauk lengkap besama dengan sayur. “Gue makan pisang aja.” Dharma dan Bhanu kaget, “Eh, sakit lo?” ucap Bhanu. “Enggak, kalo langsung makan berat itu perut gue sakit nanti pas jingkrak-jingkrak di lapangan.” Bibir keduanya membulat lalu melanjutkan makan. “Eh, tapi gerakan yang gue bikin kemarin bagus nggak sih? Yang nyontek di film Bring It On.” “Bukan nyontek itu, ngecover namanya, neng!” sahut Dharma. “Sama aja, tapi bakal kenotis nggak yah kalo itu gerakan di Bring It On?” “Biar nggak ke notice, gimana kalo lo tambahin crumping atau kayang gitu?” kata Bhanu membuat Dharma tertawa hampir tersedak tempe gorengnya itu. “Amati, tiru, modifikasi. ATM?” “Nggak ada waktu cuy, sebulan loh. Lagian turnamen apaan sih kok ngasih tahu mepet banget.” Dharma mendengar Cecil dan hanya meliriknya ketika cewek menggeser air minum untuk melegakan tenggorokannya akibat tertawa dengan kata-kata Bhanu itu. “Tapi bagus nggak? Gue udah oke?” “Oke, kok, Cil.” Sahut Bhanu. “Slutty-slutty gitu… whoop…whoop. Teriak semua nanti penonton kayak anjing jantan ketemu betinanya!” “Haha, iya kan? Bukan yang sexy dance tapi tetep gemesin.” Tambah Cecil, dan Bhanu mengangguk cepat. Setuju dengan hal itu. “Namanya juga cheerleaders, kalo nggak heboh, ya kaples dong nonton pertandingannya.” Lanjutanya lalu memakan pisang keduanya itu. “Dharma, lo ngapain terus di sekolah?” “Ya biasanya juga gimana? Nemenin sampai lo balik, kan?” Bhanu melipat bibirnya dan tersenyum datar. Ada getaran lucu dan aneh setiap kali Cecil mengonfirmasi keberadaan Dharma itu. Ah, dia masih ingat foto mereka dua ketika di Glodok waktu itu. Dan, serangkaian foto-foto lainnya yang menunjukkan mereka berdua itu seperti punya ikatan lebih. Entah itu punya perasaan atau memang keduanya saling menyayangi layaknya sahabat. Tetapi, di mata Bhanu, interaksi mereka itu sangat lucu. Kadang manja, kadang seperti teman biasa, pokok lengkap. Entahlah, drama apa yang akan muncul di belakang Bhanu mengenai mereka berdua. Bhanu hanya ingin menunggu waktu saja. Waktu ketika mereka mengakui perasaan terdalamnya.                                                                                         … Bhanu meninggalkan Dharma yang duduk di pinggiran lapangan bersama teman-teman radionya. Cowok itu tadinya membahas tentang jadwal siaran dan script yang lolos untuk siaran keesokan hari bersama teman-temannya. Bhanu jenuh, bahkan hanya mendengar keseharian Dharma yang tidak lepas dari ekskul radio itu. Seolah semuanya nampak bergantung dengan cowok itu ketimbang dengan ketuanya. Namun, Bhanu bisa memaklumi mengapa cowok itu selalu dimintai pertolongan. Sebab, cowok itu memang tipikal yang mudah didekati, sangat ramah, selalu memberi ketenangan, dan selalu membimbing sang junior bahkan teman-temannya. Cowok itu sangat baik, jika di depan orang lain. Kalau sudah hanya dengan mereka bertiga, aslinya keluar. Dharma yang kadang suka sambat, Dharma yang plinplan bahkan kadang lambat, Dharma yang pelupa, Dharma yang lebih memilih diam jika ada perdebatan alias akan menonton sampai akhir keributan itu. Setelah Cecil dan Bhanu bertengkar kecil, nanti dia akan mengambil kesimpulan dan mengatakan siapa yang salah dan siapa yang benar. Bhanu kadang juga membatin, kalau Cecil dan Bhanu bisa bertengkar sangat parah hingga titik darah penghabisan sepertinya Dharma tidak akan melerai, dia tipikal penonton keributan dengan popcorn di pangkuannya. Bhanu pergi berkeliling sekolah untuk mencari objek bagus. Dia pergi ke kantin, ke gugusan kelas 10, 11, hingga 12, tak ada yang menarik. Akhirnya dia pergi ke taman. Di situ, dia menemukan Yura. Sebelum menghampiri cewek yang tengah menulis sesuatu di note coklatnya itu, Bhanu memotret sosok itu. Angin siang berhembus dengan lembut hingga rambut gadis itu menutupi wajahnya dari samping. Seperti, tak mengindahkan mata siapapun atau apapun menjamah jengkal wajah cantik Yura. Sekali lagi, Bhanu memotretnya. Kali ini, gadis itu menyematkan anak rambutnya ke telinga. Gerakan tangan perlahan yang berhasil Bhanu tangkap hingga ketika tangan itu sepenuhnya pergi dan tak menghalangi figure samping Yura. Lipatan kelopak matanya, sorotnya sendu, dan bulu mata yang tak terlalu lentik itu, merupakan sorot unik bagi Bhanu. Sorotnya tegas namun lembut dan dalam. Apalagi, pipinya yang nampak merah karena angin yang bertiup di sekitarnya membuat suhu di sekeliling taman ini sejuk dan lebih dingin. Ranum bibirnya nampak berkomat-kamit seperti sedang mendiktenya sendiri ketika menulis. Bhanu mulai penasaran dan berhenti memotret sosok itu. “Hei!!!” katanya heboh duduk di sebelah Yura hingga cewek itu benar-benar kaget, matanya mendelik, dan buru-buru menutup note coklatnya. Bhanu menelan ludah ketika diberi tatapan seperti itu. “Eh, sorry, ngagetin ya?” “Iyalah, lo tiba-tiba dateng. Bisa nggak sih kalo jalan itu bersuara dikit!” Bhanu menghentakkan kaki dan menggesek sepatunya di tanah, “Padahal gue lari tadi pas nyamperin lo, nggak yang jalan kecil gitu.” Yura cemberut dan buru-buru memasukkan note coklat dengan stiker huruf Y di bagian depan ke dalam tasnya. “Itu nulis apa sih?” “Catatan kecil aja.” Sahutnya singkat, terkesan dingin dan getarannya nampak tak ingin ditanya lebih jauh lagi. Bhanu paham, mungkin itu sisi scorpio Yura. “Lo ngapain kok nggak pulang?” “Kalo di rumah jadi sendirian, mending di sekolah aja.” Katanya. “Oh iya, lo hutang penjelasan sama gue kemarin, Yura.” Cewek itu kaget, melihat Bhanu penuh tanya. “Penjelasan apa?” Bhanu berdecak kesal, lalu mematikan kameranya. “Itu, relasi konstilasi bintang sama Dewa Dewi Yunani Kuno. Lo bilang ada dongengnya juga, kan? Gue jadi penasaran nih. Kayak beberapa hari kita jarang ngobrol bukan berarti gue lupa ya?” ia menagih janji Yura waktu itu. “Oh, itu. Lo belum cari sama sekali?” Cowok itu menggeleng, “tapi, besok aja deh.” “Besok-besok terus, jadinya kapan dong? Penasaran nih gue. Biasanya gue kalo penasaran itu, Cecil sama Dharma bisa sampai geregetan tuh.” Bhanu cengengesan. “Lo sibuk ya sehabis pulang sekolah?” mencoba memahami jadwal Yura yang belum dia ketahui. Yang Bhanu tahu bahwa Yura tidak tergabung pada ekskul apapun. Namun, dia berpikir bisa saja cewek ini ikut club di luar sekolah. “Dibilang sibuk sih enggak, tapi gue capek aja sih. Mau tidur.” Katanya. Bhanu bungkam, apakah Yura membencinya? Nadanya seperti mengusir begini? Bhanu bingung menanggapi apa, dia sangat canggung saat ini. Padahal biasanya kalau dia menyapa Yura dengan riangnya, cewek itu akan membalas dengan baik juga. Ini sama persis saat pertama kali mereka berkenalan. Yura nampak dingin. Lebih dingin dari angin siang hari di bawah rindangnya pohon mangga ini. “Bhanu, kalo lo berpikir gue rada nggak mau diganggu, bukan berarti gue nggak suka sama kehadiran lo di sini, ya? Gue emang rada nggak mood aja.” Ia mencoba menjelaskan supaya Bhanu tidak salah paham. “Oh, oke. Gue ngerti.” Mungkin masih siklus PMSnya? “Gue kemarin liat ramalan astrologi. Katanya sekarang lagi full moon, dan itu bikin orang-orang zodiak Gemini bisa agak sensitif dan nggak mood banget. I’m sorry, siklus bulan emang sangat berpengaruh buat gue.” Oke, Bhanu sudah sangat-sangat tidak memahami ini. Siklus bulan? Full moon? Ini sudah seperti serigala jadi-jadian saja. Apa hubungannya? Cowok itu menatap Yura dengan tatapan aneh menusuknya namun Yura paham dari mana asal tatapan penuh judgemental itu, Bhanu juga punya sisi Scorpio. “Besok juga deh gue jelasin.” Katanya lalu beranjak. “Gue mau tidur dan nanti malem gue mau melakukan sesuatu. Maaf, Bhanu, gue pulang dulu ya?” “Ok, kalo butuh teman ngobrol, kasih tahu aja, Ra. Lo bisa telepon gue.” Yura mengangguk lalu pergi meninggalkan Bhanu yang duduk lebih lama hingga punggung itu menghilang dari pandangannya. “Hei, pohon mangga. Apa yang nggak aku ketahui saat ini? Aku kira aku saja yang aneh karena percaya bahwa ada orang yang lebih aneh daripada indigo, nyatanya Yura lebih aneh. Cewek itu sudah seperti serigala jadi-jadian, ya nggak sih?” gumamnya sendiri lalu ada sehelai daun mangga kering jatuh tepat di kepalanya. “Yaaa iya. Aku akan cari tahu, besok.”    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN