Di seberang bangkunya sana, terdapat Indah sedang beradu mulut dengan Bagas perkara uang kas. Cowok itu baru bolong membayar kas selama 2 minggu saja sudah mendapat masalah dengan Indah. Pertengkarannya lucu sampai semua orang tertawa mendengarnya. Indah anaknya hiperbola yang mengatakan bahwa Bagas cowok apatis yang tidak peduli dengan fasilitas kelas tetapi dengan nyamannya menggunakan itu tanpa membayar kas, sudah seperti pejabat yang memakan pajak rakyat tanpa tahu malu. Sedangkan, Bagas membalas bahwa Indah itu terlalu kaku. Padahal baru 2 minggu, nanti kalau sudah lubang 4 kali baru boleh marah-marah.
Bhanu dan Dharma menikmati pertengkaran sengit yang dipadu dengan lawakan-lawakan geram ala-ala komedian di tv nasional sambil mengupas kacang kulit yang mereka beli ketika mampir ke kantin tadi. Bhanu lagi-lagi matanya menangkap Yura untuk kesekian kalinya. Gadis itu tampak ikut tertawa terbahak-bahak karena pertengkaran penuh canda di depan kelas. Hingga ia ikut mengabadikannya pada sebuah rekaman, untuk di kenang, mungkin.
“Ma, kemarin lo kemana sama adik kelas?” tanya Bhanu menyelidiki.
“Oh itu. Dia minta ditemenin ketemu sama ketua radio gue. Anak jurnalistik mau ada acara dan ngegandeng kita gitu deh.”
“Emang lo humas di sana? Kenapa ngehubungin elu?” tanya Bhanu hanya ingin memuaskan rasa penasarannya.
“Ya bukan, dianya nongol di depan gue. Jadi, gue bantu aja. Kenapa sih?”
Bhanu terenyak, “Lo yakin nggak lupa apapun kemarin?”
Dharma menerka-nerka, “Apaan sih?”
“Cecil telepon atau ngehubungin lo semalem? Atau lo ngehubungin dia semalem?”
“Apaan, orang grup sepi-sepi aja semalem. Kan, dia bilang ada ulangan harian sekarang.”
Bhanu hanya menghela napas, kemudian tersenyum jahil. “Lo janji nemenin dia makan di kantin kemarin?”
Dharma langsung melotot, “ASTAGA GUE LUPA!!!!”
“Mampus.” Tidak ada yang bisa menenangkan kemarahan Cecil. Apalagi, Cecil itu tidak bisa tolerir dengan seorang pengingkar janji. Sekalipun temannya sendiri. Dia pernah bercerita, dulu sewaktu pacaran dengan siswa lain, jika cowok itu mengingkari janji, dalam hitungan jam saja bisa langsung diputus. Karena menurut Cecil, janji kecil dan mudah saja diingkari, tandanya cowok tersebut cenderung bisa melupakan setiap janji-janji yang dibuatnya kelak. Dharma ketar-ketir langsung berlari menuju kelas Cecil. Bhanu mengangkat bahunya, berjalan mengikuti Dharma untuk melihat drama yang keduanya buat di depan kelas Cecil.
…
“Cil, sorry. Beneran, gue kemarin diajakin sama anak jurnalistik, Cil.”
“Hmm.” Jawab Cecil singkat, Bhanu hanya tersenyum senang melihat serunya drama ini.
“Yah, lo ngambek lagi. Main dah yok siang ini. Gue traktir di Arcade game.”
“WUIH, enak traktiran. Sering-sering ngambek ya, Cil!” pekik Bhanu begitu nyaring, tidak peduli sedrama apa keduanya saat ini. Dia hanya tertawa lalu merangkul kedua sahabatnya itu. “C’mon Cecil, lo kemarin udah makan sama gue, kan? Lagian Dharma cuma bantu orang doang kok. Kuy, ke kantin.” Menggiring keduanya ke kantin anak kelas satu yang setengah penuh oleh siswa itu.
Seperti biasa, Bhanu akan memesankan 3 porsi bakso, Dharma akan memesankan minuman, lalu Cecil yang membeli makanan ringan sebagai camilannya. Ketika kembali ke bangku, Cecil masih saja cemberut. “Cil, jelek muka lo kalo ngambek terus.” Kata Dharma.
“Eh, Cecil cakep tahu kalo ngambek! Lo ngambek, rejeki nomplok tiba-tiba dateng. Dharma, beneran traktir ya? ”
“Bhanu!!!” sentak Cecil.
Yang diperingati hanya cengengesan, “Canda, lagian lo itu kurangin makan garem dong. Salty amat. Dharma jalan doang kok, literally jalan. Jalan dengan kedua kaki menuju tempat yang mereka ingin tuju aja lo udah kelabakan. Napa lo?”
Cecil terlihat menahan napas, dan kelabakan. Dharma hanya menatap datar dengan wajah menatap Cecil lurus. “I’m on my period.”
Bhanu dan Dharma terperanjat. “Oh, pantes.” Lalu suasana mencair kembali. Cecil juga mulai sedikit demi sedikit menghilangkan wajah cemberut kakunya itu. Yah, begitulah jika bermain dengan anak cewek. Bhanu jadi mulai mengerti terkadang siklus itu juga bisa membunuh kaum cowok-cowok karena kesensitifan emosional cewek-cewek. Kadang mereka bisa menunjukkan emosi yang ekstrim. Tiba-tiba marah, menangis, gembira, dan bermalas-malasan seharian. Sepanjang Bhanu mengamati Cecil itu ada banyak sekali kelakuannya. Dan, kali ini Bhanu menangkap bahwa Cecil bisa sangat cemburu dengan apa yang dilakukan Dharma. Cemburu perkara pertemanan.
Bhanu lagi-lagi terperangah melihat Cecil menyendok sambal banyak-banyak. “Ih, sakit perut lo besok. Nih, mending tuang mecin aja ke kuahnya dah!” Dharma juga melihatnya dengan ngeri.
“Gue bete banget tadi pas ujian. Ish!”
“Kenapa?”
Cecil menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar, “NGGAK BISA NYONTEK!!!!”
Oh, Bhanu dan Dharma tidak bisa menahan tawanya. Anak sepintar Cecil saja masih mau menyontek. Itu, wajar kok. “Terus, lo jawab apaan?”
“Sebisa gue.”
“Sebisanya Cecil tuh bisa rangking satu, hebat yaa…SEBISANYA.” Sarkas Bhanu, bercandanya melirik Dharma.
“Nu, nyebelin banget sih.” Cecil benar-benar jengkel. Bhanu itu selalu suka menggodanya ketika dia sudah tahu kalau Cecil sedang PMS. Tipikal anak yang suka mencari gara-gara, pokoknya. “Gue makan lo!”
“Kanibal, Dharma ayo penjarakan ini cewek bar-bar!”
Cecil meletakkan alat makannya dengan keras, “Ugh, nggak selera makan gue!”
Dharma langsung memegang tangan Cecil untuk kembali duduk, “Tarik napas-buang napas. Ujiannya sudah lewat, lo pasti dapat nilai bagus. Percaya sama diri lo sendiri, Cil.”
“Jangan khawatir, Cecil. Lo mau b**o di kelas itu, tetep aja yang paling pinter di sini. Iya nggak, Ma?”
“Gue masih denial, pokok yang pinter itu lo. Makanya, belajar baca tulis yang lancar tuh, Bhanuuuuu. Nanti gantiin gue di kelas itu! Biar lo sekali ngerasain sadisnya kelas unggulan!”
Bhanu melotot, “Yeu, enak aja. Kagak!” ucapnya cepat. “Mending ya gue ngikut Dharma, yang setengah-setengah aja gitu.”
Dharma menerima itu pujian. “Pujian yang bagus, tapi karna gue setengah-setengah, gue jadinya nggak menonjol.”
“Kata siapa? Lo nggak tahu banyak cewek-cewek belakangan ini suka ngomongin elu? Bilangnya kalo script writer radio yang sekarang udah cakep terus pinter mengolah kata-kata romantis yang bikin cewek-cewek pada klepek-klepek tapi nggak berani ngedeket soalnya lo temenan sama lampir, kaya gue!!!” omel Cecil membuat tawa Bhanu lagi-lagi meledak. “Lo merendah untuk meroket! Sebel!!”
“Hahaha, nggak nyadar dia kalo belakangan ini emang rada famous.” Timpal Bhanu.
“Iya kan, Nu?! Apaan coba?” Cecil melirik Dharma dengan kesalnya, lagi-lagi karena masalah kecil kemarin.
Dharma hanya berdeham, “Mana tahu gue, nggak ada tuh yang ngedeketin gue dulu. Apakah pesona gue sudah diketahui banyak orang?” cowok itu mengusap dagunya, memikirkan paras tampannya lengkap dengan fitur mata kecil tajam, alis lurus tebal, hidung runcing berukuran sedang dengan bibir tipis yang senantiasa melempar senyum lebar itu. Yah, Dharma itu tampan pokoknya, akan tetapi ketampanannya itu masih kurang terekspos. Karena cowok itu lebih suka berdiam diri berkutat dengan naskah-naskah radio.
Hening, Cecil dan Bhanu menatap Dharma datar. Sangat datar, Selalu begitu, Dharma. Selalu merendah untuk meroket.
Kemudian ketiganya melanjutkan makan bakso dengan racikan bumbu masing-masing itu. Membahas kencan arcade mereka nanti di Mall sesuai dengan janji Dharma. Karena hari ini jadwal ekskul kosong, mereka bisa jalan-jalan siang sambil makan di luar.
Ah, Bhanu merindukan momen-momen ini. Momen ketika dia bersama dengan teman-temannya menikmati hari-hari biasa. Sangat biasa saja namun menenangkan. Dia juga membatin, biarkan saja teman-teman sekitarnya yang mendrama. Drama cowok nakal, drama cewek lugu tertindas, drama anak-anak cerdas di atas rata-rata yang sering dikirim lomba, drama cowok dan cewek berparas elok, drama cinta monyet, cinta pertama, sampai cinta-cintaan. Bhanu berpikir, kira-kira drama apa yang bisa terjadi pada dirinya besok? Semoga bukan drama pertemanannya. Karena sejauh ini, tidak ada alasan untuk mereka semua bertengkar.
Sekecil apapun pertengkaran itu, bisa mereka selesaikan bersama. Bhanu senang ketika dia menemukan sebuah pertemanan sehat seperti yang dia rengkuh saat ini.