Sepulang sekolah, Bhanu menyuruh Yura untuk menunggunya di bawah pohon mangga selagi dia menunaikan ibadah dhuhur. Tadi dia juga hendak mengajak Yura namun gadis itu menggeleng. Bhanu membatin, oh, cewek, mungkin datang bulan. Karena seingat Bhanu waktu itu Yura yang berada di dalam masjid saat itu.
Dia jalan dari masjid sekolah ke taman dengan membawa beberapa snack untuk dimakan. Imajinasinya melayang pada acara piknik pulang sekolah. Dia mengerucutkan bibirnya berharap Cecil dan Dharma bisa bergabung dengan mereka nanti. Keduanya mendadak sibuk dengan kegiatan ekskul masing-masing. Cecil harus menyeleksi dan melatih anggota baru, Dharma juga harus memeriksa script-script dan serangkaian acara radio lainnya gara-gara sang ketua baru terlalu ambisius dalam memimpin hingga cowok itu mengeluh. Padahal, Dharma bukan tipe orang suka mengeluh.
Ketika memasuki area taman yang letaknya lebih tinggi dari lapangan, memanjakan mata begitu di atas sana bisa melihat orang-orang berlalu lalang serta siapapun yang ada di sini akan terhempas dalam lamunan panjang siang hari ditemani semilir angin menyejukkan karena matahari sudah mulai nampak menghangatkan hari kelabu ini.
Bhanu duduk di sebelah Yura yang nampak mengagumi kupu-kupu yang hinggap di bukunya itu. Kupu-kupu berwarna kuning cerah yang bisa Bhanu temui juga di sini. Untunglah, sekolah ini masih sadar akan pentingnya tanaman dan habitatnya. Semakin hari, semakin banyak bunga yang bermekaran. Mengundang kupu-kupu, lebah, laba-laba dan serangga-serangga kecil lainnya. Untunglah, masih ada manusia yang baik hati membuatkan ekosistem untuk mereka selagi manusia hidup berdampingan dengan hewan-hewan kecil ini. Tahukah, terkadang manusia sering merebut tempat tinggal mahluk-mahluk ini?
Bhanu melirik Yura yang sepertinya tak merasakan kehadirannya. Gadis itu tersenyum dan diam saja untuk beberapa lama. Lalu dia berkata, “Gue nggak habis pikir ketika ada orang bilang gue aneh hanya dengan gue suka menyendiri seperti ini.”
Bhanu menyipitkan matanya, lagipula itu juga terjadi pada dirinya. “Menepi dari keramaian memang salah? Kita hanya sedang butuh dengan diri sendiri.”
“Yah, benar. Merasa sendiri tapi nggak benar-benar sendirian.”
“You and this butterfly for example.” Celetuk Bhanu lalu membuka kaleng sodanya dan meneguknya sedikit. “Eh, gue bawa banyak jajan. Tau deh tadi borong semua aja. Atau lo mau kita makan siang aja?” Bhanu membuka bungkus snacknya.
“Ah, nggak usah. Gue makan snack micin dua bungkus udah kenyang banget malah. Nih liat, ada gizinya kan?”
Bhanu setuju, snack ada gizinya. Dia teringat ketika Mamanya sering mengomel ketika dia bilang snack juga punya gizi kemudian disemprot habis-habisan gara-gara gizi snack tidak sebagus makanan sehat. Bhanu mengaku kalah kalau sudah bertarung dengan Mama. “Micin for life!”
“Micin for better life!”
Keduanya tertawa.
Bhanu kemudian memulai kembali membahas bahasan mereka. “Gue pernah baca soal elemen-elemen zodiak dulu pas kelas satu. Cuman gue rada denial gitu deh, gara-gara ramalan dan sebagian orang-orang di sekitar gue selalu menyangkal ilmu ini. Terus bikin gue jadi keinget film Avatar the Legend of Aang tuh. Kan, mereka ngobrolin elemen udara, air, api, dan tanah.”
“Hm, yah emang sebenarnya lo kalo mau nyari tahu tentang alam semesta, nggak akan jauh-jauh dari yang namanya elemen dan segala sifat-sifatnya.”
Bhanu mengangguk, mengamati cewek yang rambutnya tergelung rapi dengan pensil sebagai tusuk kondenya itu, “Gue melihat pengendali api orangnya emosian, kalo air itu identik sama penyembuhan, udara itu kebebasan, dan tanah pasti nggak jauh-jauh dari kekuatan.”
“Zodiak juga sama kok. Aries, Leo, dan sagitarius itu elemennya api. Jadi mereka itu penuh energi yang meledak-ledak, ambisius, aktif banget. Kalau scorpio, cancer, dan pisces itu air. Mereka sensitif, menenangkan namun menghanyutkan juga. Gemini, Aquarius, dan Libra itu udara, mereka cinta kebebasan dan sangat komunikatif. Terakhir Taurus, Virgo, dan Capricorn, mereka tipikal suka yang pasti-pasti aja, keras kepala, strong character.” Jelas singkat Yura, “Dan, semua orang itu nggak hanya di d******i oleh 1 elemen saja. Ada kalanya kita sensitif banget, banyak omong, emosional, bahkan keras, kan? Karena manusia—tanpa zodiakpun—punya 4 elemen itu di dalam tubuhnya.”
Bhanu lagi-lagi terpengarah, gadis itu sukses membuatnya kagum dengan segala pengetahuan-pengetahuan tak realistis dan terkesan begitu ambigu, tak dapat dijelaskan dengan sains seperti yang biasa Bhanu lakukan. Ini tidak bisa dijelaskan dengan sains, bahkan.
“Hm, kalo dipikir-pikir atom kan terdiri dari banyak jenis dan manusia juga tersusun dari mineral dan atom-atom itu. Kita makan zat-zat itu juga di dalam snack ini. Apa mungkin itu sama saja? Maksud gue, kan ada tuh reaksi kimia yang bisa bikin suhu meningkat, bisa menimbulkan asap, bisa menciptakan embun-embun di tabung, bahkan pengkristalan.”
“Yah, bisa saja Bhanu. Itu cara alam bekerja tapi lewat sains dan manusia pakai itu untuk kehidupan sehari-hari. Membentuk peradaban yang lebih maju, teknologi yang lebih mutakhir, pengetahuan yang semakin hari semakin pesat juga. Itu semua nggak jauh-jauh dari unsur dasar itu. Api, udara, air, dan tanah.” Yura berbicara sambil menunduk, memutar gelang bergambar burung phoenix itu yang menimbulkan bunyi gemerincing kecil ditemani dengan kicauan burung-burung yang tertahan oleh hujan seharian ini.
“Manusia itu belajar banyak dari kejadian-kejadian yang ada di alam. Ini seperti, Alam adalah induk itu sendiri. Namun, manusia juga yang menyakiti induk. Lo paham kan artinya Ibu Pertiwi?”
“Iya, Pertiwi artinya bumi. Tahu, kok.”
“Ibu Pertiwi mengajarkan kita banyak hal, tetapi anak pertiwi kadang tidak bisa menghargai Ibu Pertiwi. Gue gedek banget sama orang-orang yang sudah melupakan darimana mereka berasal, yang nggak bisa menghargai alam, nggak bisa menghargai elemen-elemen dasar ini. Mereka seolah memiliki alam padahal manusia adalah milik alam.”
Bhanu diam, lalu tersenyum kecil. Oh, mungkin karena mereka berdua memiliki kesamaan bintang Aquarius makanya pemikiran Yura bisa setajam itu, dan Bhanu juga menyukai ketajaman itu, untuk anak seusia mereka yang lebih sering membicarakan cinta kasih di sekolah, Bhanu lebih nyaman ketika dirinya berbicara hal-hal seperti ini bersama Yura.
Yura, temannya yang berpikiran unik sekali, Yura dengan Aquariusnya sebagai bulan dan Merkurius untuk Bhanu. Satunya memakai untuk mengekspresikan emosi, satunya untuk melogika segala hal. Sebuah satu kesatuan yang membuat Bhanu yakin bahwa ia dan Yura ini sefrekuensi. Sama persis seperti yang dia rasakan ketika bersama Cecil dan Dharma.
“Eh, Ra. Terus gimana sih caranya ngeramal zodiak-zodiak gitu? Lo bisa?”
“Ya enggak lah, gila aja lo!” ia tertawa, “Mana ada waktu gue, gue harus belajar pelajaran juga dong. Waktu gue bisa habis buat belajar astrologi doang. I cant help to stop!”
“Gara-gara lo nih, gue jadi ikutan kepo.” Bhanu terlihat semakin sumringah sembari mencuri-curi lihat Yura yang menatap pohon mangga di sebelah bangku mereka. “Lo ada rekomendasi nggak soal ramalan-ramalan itu?”
“Eh, lo beneran mau percaya?”
“Apa salahnya? Selama masih bisa buat panutan hidup gue selain agama ya kenapa nggak? Menurut gue, manusia harusnya improve hal-hal begini nggak sih? Lagian, dibilang syirik pun juga gue nggak langsung menyembah zodiak-zodiak juga, kan? Koneksi gue sama Tuhan lebih dari apapun yang dilihat orang-orang.”
Yura terhanyut dengan jawaban Bhanu, “Tuh, beneran ternyata. Lo orangnya spiritualis ya? Lo kapan mulai spiritual awakening?”
Cowok itu tadinya antisuas, tiba-tiba menatap Yura penuh tanya, “Spiritual awakening? Apa mungkin waktu itu gue membaca soal starseed ya?”
Yura gelagapan, “Starseed apaan?”
“Anak bintang gitu deh. Waktu itu gue baca baru dikit dan bikin pusing soalnya gue harus mindahin tulisan dari web ke word terus harus gue gedein juga. Belom lagi ribet ngetranslate. Haduhhhh.” Keluhnya. “Belom selesai soalnya gue capek duluan.” Dia tertawa.
“Oh, nanti gue cari tahu.”
“Oke, kita belajar bareng lagi.” Katanya lalu teringat sesuatu, “Woy, lo tadi mau cerita Dewa-Dewi Yunani kan? Kok malah melenceng sih!”
Yura lagi-lagi tertawa lalu berdiri, “Sorry ya, Nu. Bokap gue udah mau jemput nih. Udah hampir setengah 3 juga.”
Cowok itu kecewa, ketika Yura dijemput oleh penghujung hari. Gadis itu pergi dengan mencangklong tas hitamnya yang sama sekali tidak terlihat feminim. Warnanya polos dan yang menjadi highlight hanyalah botol berwarna hijau neon di bagian samping.
“See you, Bhanu. Nanti malam gue coba baca-baca tentang starseed kalo nggak lupa.”
“Eh, boleh bagi nomor nggak?”
Cewek itu tersenyum lebar, “Boleh, kalo lo males ngetik telepon aja. Kita bisa ngobrol soal beginian selain di sekolah.”
Bagaimana perasaan Bhanu? Senang bukan main, temannya bertambah satu. Kenangan masa SMA nya ini semakin hari dipenuhi dengan kenangan indah karena pertemanan disertai topik aneh-aneh itu. Saling menjaga, saling membantu, saling menghargai, dan saling berbagi. Kalau orang-orang mengatakan masa SMA indah karena prahara cinta pertama, cinta monyet, dan segala jenis cinta-cintaan, untuk sekarang masa SMA Bhanu indah karena pertemanannya.