Rintik hujan di luar sana kian menghipnotis Bhanu sepanjang pelajaran Kewarganegaraan. Alih-alih mengajar atau mendongengkan tentang bagaimana perilaku Bela Negara, Pak Rahmat justru memilih menyuruh siswa untuk mengerjakan seluruh pertanyaan di buku pada Bab 1 sepanjang jam pelajaran. Beliau hanya duduk di meja guru dengan Koran pagi ditemani dengan sebotol jus mangga-pisang-anehnya itu.
Semuanya nampak memakai jaket tipis sebab hujan musim kemarau itu sering melanda Jakarta akhir-akhir ini. Suhu agak dingin di pagi hari bahkan ketika siangnya sangat-sangat terik dan sore hari angin akan berhembus begitu kencangnya.
Bhanu melirik ke samping melihat Dharma sedang tertidur. Cowok itu tadi mengatakan sangat malas dengan pelajaran ini. Lagipula, tugas tidak dikumpulkan hari ini. Benar-benar seperti memakan gaji buta, keluh Dharma tadi.
Cowok itu nampak pulas dengan earphone menempel di telinganya. Menjuntai terhubung pada handphonenya di laci meja. Kemudian Bhanu meletakkan buku di atas kepala Dharma perlahan supaya dia tidak perlu melihat wajahnya yang tidur hampir menganga saking nyenyaknya itu.
Tepat 2 deret dari deret bangkunya itu, 2 nomor bangku lebih depan dari bangkunya, dia bisa melihat Yura sedang mengerjakan tugas dengan tekun. Yah, cewek itu memang terlihat rajin sekali sepanjang pengamatan Bhanu. Dia juga pintar menjelajah hal-hal lain, dia banyak tahu, dia pandai bercerita dan menjelaskan hal-hal yang belum Bhanu ketahui. Dan, pagi tadi dia baru sedikit belajar tentang zodiak bersama Yura. Baru sebentar, namun dengan keelokan dan cara Yura bercerita itu sangat menarik Bhanu untuk mengetahui lebih jauh tentang zodiak-zodiak itu.
Bhanu membatin, mengapa Yura sangat suka menebak kepribadian seseorang menggunakan zodiak? Padahal dia sendiri mengatakan bahwa satu manusia kemungkinan besar memiliki 12 zodiak itu bahkan bisa punya 2 zodiak tertentu sehingga sifatnya didominasi zodiak tertentu?
Ah, ini gila namun seru.
Bhanu ingin mengajaknya berbicara lebih jauh tentang zodiak-zodiak itu. Tentang hal-hal lain yang tak umum dan sangat dihindari orang-orang. Menjadi orang yang percaya akan hal-hal itu tanpa dihakimi dan membawa-bawa agamanya. Menyinkronkan ajaran tersebut dengan nilai-nilai yang dianutnya. Lagi pula, ilmu astronomi itu juga ilmu tertua, bukan? Dan, Bhanu juga berpikir bahwa astrologi tidak akan jauh-jauh dari astronomi? Lantas, mengapa banyak sekali orang-orang sering sensitif dan meremehkan ketika ada seseorang membahas tentang zodiak?
Apakah ramalannya tidak selalu benar? Apakah itu terlalu mengatur pola pikir mereka sehingga kurang bebas bergerak dan justru takut untuk bergerak? Atau mereka terlalu malas mencari tahu dan memahami hal ini? Wah, kurang seru sekali hidup mereka jika belum pernah menjelajah ke hal-hal seperti ini. Mungkin ini terasa tak penting, tetapi Bhanu berpikir ketika Yura sangat antusias membahasnya dan dia bisa menebak kepribadian Bhanu waktu itu, nampaknya ilmu itu memang ada gunanya, kan?
Ketika bel istirahat berbunyi, Pak Rahmat keluar dengan berpesan untuk melanjutkannya saja di rumah. Dharma mencebik lalu berkata, “Tuh kan, makan gaji buta tuh orang.”
“Sama aja belajar di rumah.”
“Mending tidur.”
“Mending bengong.”
Dharma menggeleng mendengar sahutan Bhanu lalu dia pamit pergi ke ruang radio. “Sibuk amat lo.”
“Tau deh, gue males sama ketuanya yang ambis banget. Gue sampai kepingin kabur rasanya.”
Bhanu tertawa, “Ya udah, gue makan sama Cecil aja kalo gitu.” Dharma mengangguk singkat kemudian pergi dengan membawa buku note nya dan pouch berisi alat tulis warna-warni lengkap dan super rapinya itu. Meninggalkan Bhanu duduk sendirian di bangku pojok belakang mereka.
Kemudian, perhatiannya tersedok oleh pergerakan Yura. Gadis itu berjalan sendirian, seperti kabur dari teman-temannya yang hendak mengajaknya pergi ke kantin. Tahu apa yang membuat Bhanu langsung berdiri mengikutinya? Yura berlari lalu melihat Bhanu yang menatapnya. Cewek itu mengangguk sambil tersenyum. Membuat Bhanu ikut tergerak mengikuti gadis itu.
“Yura?” panggil Bhanu setengah berlari namun tak dijawab oleh cewek bersurai sebahu itu. Dia hanya terus berlari sampai keduanya sampai di perpustakaan.
“Ayo masuk.”
Bhanu menggaruk dahinya yang tak gatal. Perpustakaan itu menyenangkan bila dia bersama Cecil dan Dharma. Mereka bertiga akan bergerilya mencari buku-buku untuk dibaca ketika mereka akan belajar-main-kelompok itu.
Yura nampak duduk manis di dekat jendela yang basah akan air hujan di luar sana. Menatap dari samping dengan kagumnya bahkan menyentuh jendela itu. Mengetuk pelan supaya air yang menempel di kaca jatuh turun ke tanah.
“Mau ngapain?”
“Bahas zodiak yang tadi. Lo masih mau kan?”
Jelas, Bhanu langsung duduk mendekat dan menengok buku coklat di depan mereka. “Ok, sebelumnya lo ada pertanyaan nggak sama yang gue obrolin tadi? Soalnya, gue bingung harus menjelaskan dari mana. Gue takut berbelit dan bikin lo bingung. Bisa-bisa malah lo nggak nyambung karena yang gue omongin terlalu membosankan.” Katanya begitu cepat.
“Gini deh, kenapa bisa orang-orang punya lebih dari 1 zodiak?”
Yura tertegun dan termenung sejenak, “Wow, gue juga nggak tahu itu kenapa?” kemudian keduanya tertawa. Kaget dihantam pertanyaan yang Yura sendiri belum pernah pertanyakan sebelumnya. “Well, kalo gue mikirnya adalah karena alam semesta itu bergerak setiap detik, menit, dan jam makanya pada waktu lo lahir itu sejajar dengan rasi-rasi bintang ini.” Jelasnya.
“Lo ngarang ya?” kata Bhanu menatap Yura yang berbicara tak meyakinkan tadi.
“Lo mau jadiin ini pr di luar pelajaran sekolah aja nggak? Soalnya gue juga kepikiran tiba-tiba?” Yura menatap Bhanu lurus dan serius. Mereka saling melempar kedipan.
“Oke, belajar bareng.” Ajak Bhanu.
Yura pun menuliskan sesuatu di bukunya itu, Bhanu tak berani mengintip karena takut tidak sopan. Cowok itu hanya diam sembari mencari pertanyaan yang dia pikirkan tadi. “Oh iya, lo kenapa belajar tentang zodiak sampai lo tahu semuanya bahkan sifat-sifat seseorang?”
Yura berdeham, “Gue belajar zodiak nggak cuma untuk mengenal orang lain, Nu. Tapi mengenal gue sendiri.” Katanya. “Misal, gue Gemini tapi gue punya Aquarius dan Scorpio. Kadang kala gue berpikir kalau gue Gemini hanya saja cara gue untuk mengekspresikan emosi itu kayak Aquarius, dan ketika gue berhadapan sama orang pasti mereka bilang kalo gue itu misterius, seram, dan kurang menyenangkan ketika menatap.”
Ah, yang terakhir itu benar. Bhanu teringat ketika pertama kali perkenalan di kelas waktu itu. Anton disemprot dengan lantangnya oleh Yura. Kesannya memang kasar tapi kenapa bisa?
“Kita tahu bahwa banyak orang yang bilang, kenapa harus percaya sama zodiak? Toh, sifat kita nggak ditentukan sama itu doang kok. Buktinya gue beda sama zodiak gue, pernah denger yang begitu nggak?”
“Iya, sering banget. Terus-terus?” Bhanu antusias.
Yura mendesah dengan kilat matanya yang agak berapi-api, “Ya karena tiap orang nggak cuma punya 1 zodiak aja. Ada banyak sekali bintang-bintang bahkan planet yang mengiringi kelahiran kita, Nu. Dan, itu memiliki zodiak berbeda-beda. Ada sun, moon, rising, venus, mars, uranus, jupiter, nepthunus, pluto, merkurius, saturnus, lilith, retrograde. Banyak!”
Bhanu tergagap, “Ini beneran kayak astronomi dong?”
“Iya, seru, kan? Dan, masing-masing itu punya kriteria tersendiri juga. Lo nggak bisa berpatokan dengan zodiak utama atau sun lo ketika emosi lo ternyata dipengaruhi sama moon yang bisa aja beda zodiak. So, gue bener-bener akan menghindari orang-orang yang mengatakan gue aneh dengan menebak kepribadian seseorang. Padahal, gue hanya ingin berkenalan dengan mereka lewat cara gue sendiri, Nu.”
“Wah, lo gila.” Pekik Bhanu pelan.
Yura tertawa, “Kalo lo udah gue jelasin soal sun, moon, dan rising. Kali ini gue jelasin fungsi-fungsi planet lainnya nih. Mereka punya tanda dan maksud tersendiri, Nu. Semua bintang punya peranan masing-masing.”
“Oke, jelasin. Pakai birth chart gue aja dong. Biar enak.”
Kemudian Yura membuka laman pencarian internet dan mencari web khusus untuk melihat birth chart Bhanu. Setelah menginput beberapa data, muncullah hasil birth chart itu.
“Pertama, mercury. Mercury itu mencerminkan bagaimana lo melogika dan merasionalitaskan sesuatu, cara lo berkomunikasi dan menganalisis ide-ide kompleks di sekitar. Mercury lo ini aquarius berarti cara lo melogika semuanya adalah seperti yang zodiak aquarius lakukan pada umumnya. Menurut gue aquarius itu tipenya original dan edgy banget. Lo sering beda ya ketika temen-temen lo ngomong sesuatu?”
Bhanu diam. “Iya sih, itu dulu banget sebelum temenan sama Cecil dan Dharma. Kok, bisa sih?”
“Bisa dong. Haha. Karena mercury lo aquarius. Kalo mercury lo Leo, lo akan memilih diam dan nggak memikirkan itu semua. Bahkan lo acuh karena menurut Leo itu hal yang nggak penting banget nggak perlu dipikirin.”
Bhanu menahan napas, mulutnya ternganga, kilat mata itu tak mampu membohongi Yura jika cowok itu semakin tertarik dengan ilmu bintang-bintang ini. “Terus-terus??”
“Venus sign, venus itu melambangkan persepsi pasangan ideal lo. Di sini venus lo adalah Cancer, jadi cara berpikir lo nanti bakalan kayak cancer. Cancer itu romantis banget, dia lembut, dan tipikal pasif-agresif gitu. Cuman, kalau sudah disakiti atau ditolak, dia nggak akan mau balik.”
“Tapi, gue belum pernah suka sih sama cewek.” Sahut Bhanu.
Yura berdeham, “Nggak apa-apa, next kalo suka sama cewek kasih tahu gue aja. Haha. Siapa tahu gue bisa kasih arahan nih dengan melihat perbintangan lo. Ngerti kan? Melihat peruntungan dari zodiak-zodiak biar lo hoki!”
Bhanu bergerak mendekat lagi, sangat antusias, “Oh, biasanya cancer itu cocoknya sama virgo atau scorpio. Bukan, berarti lo harus nyari cewek berzodiak itu ya? Gue cuma ngasih tahu aja nih, kalo cancer itu cocok sama mereka berdua.”
Bhanu mengangguk-angguk saja. “Terus?”
“Berikutnya ada Mars, mars ini melambangkan cara lo berkompetisi, menghadapi tekanan, bahkan nafsu, dan…” Yura diam sejenak.
“Gue aries?”
“Ih Nu, lo orangnya nggak mau kalah ya?”
“Hah? Maksudnya?” Bhanu bingung.
“Lo udah tahu disleksia tapi masih mau sekolah di SMA normal karena lo mau bikin semua orang tahu kalo lo mampu belajar sama orang-orang normal?” Bhanu hanya berkedip, Kok?, batinnya. “Terus lo juga suka banget menekan diri lo sampai di titik terendah supaya lo bisa terlihat baik di depan orang? Atau ketika lo marah, lo bisa saja benar-benar marah sampai ngomong kasar atau berantem?”
Kok, bener?, batinnya sampai dia bergidik. “Ra, kok zodiak-zodiak ini bikin serem ya?”
“Nggak serem, lo mah emang begini ternyata, Nu.” Ucap Yura, “Terima aja, bintang lo begini. Dan, bintang lo ini membentuk sifat lo juga. Terlepas dari lingkungan lo, jati diri lo itu ya begini. Sesuai dengan birth chart ini.”
“Oke, lanjut.”
“Saturnus sign, itu melambangkan masalah apa yang mungkin kamu hadapi di dalam hidup karena kecenderungan yang kamu tunjukkan dalam perilaku serta bagaimana kamu memproses perasaanmu. Di sini punya lo itu Capricorn, berarti lo orangnya strict banget. Kalo Uranus, itu melambangkan bagaimana lo menafsirkan peristiwa tak terduga di masa depan atau kesadaran dan intuisi lo terhadap alam semesta. Dan, lo adalah scorpio. Bisa gue anggap kayaknya lo orangnya spiritualis deh. Bukan yang religious banget, tapi spiritual. Beda yah keduanya.”
“Oke, lo banyak benernya. Gue kadang suka mempertanyakan bagaimana agama lain menjalankan kehidupan religinya dan mengapa semua ini terasa dikotak-kotakkan.”
“Yah, itu bisa jadi, Nu. Semua orang punya pemikirannya sendiri. Semua orang berhak bertuhan bahkan tidak bertuhan sekalipun.”
Bhanu tersentak. Maksudnya bukan itu yang dia pikirkan tadi. Kenapa Yura begitu sangat—sangat liar dalam berpikir? Lebih liar dari dirinya?
“Balik ke zodiak ya, Nu. Nanggung. Nephtunus itu bagaimana cara lo menghadapi kegugupan dan kegelisahan sedangkan pluto itu cara lo menghadapi transformasi. Dan, pluto lo itu aries, bagusnya adalah ketika lo merasa down dan berada di titik terendah, lo masih bisa bangkit penuh semangat. Karena lo aries.”
Bhanu mengangguk-angguk. Seru ternyata ketika birthchart nya di jelaskan seperti ini. Setengah banyak dia bisa memahami dirinya saat ini. Apa yang dikatakan Yura, beberapa ada yang benar, namun beberapa ada yang belum dia alami, seperti jatuh cinta.
“Oh, iya. Zodiak-zodiak ini juga ada cerita legendanya loh, Kenapa Taurus itu lambangnya banteng, kenapa libra itu timbangan.”
“Hah?” ujar Bhanu, “Lo belajar apaan sih selama ini? Sumpah, Ra. Jauh bangeeeet!”
“Haha, iya dong. Dan zodiak-zodiak itu punya relasi dengan Dewa-Dewi Yunani Kuno.”
Bhanu tercengang. Fix, Yura aneh.