Pulang sekolah, Yura lagi-lagi harus menghadapi teror dari Fero. Cowok itu nampak berdiri di depan kelas Yura bersama komplotannya. Semua cewek-cewek menatapnya keren dan menatap Yura dengan irinya karena bisa menarik perhatian Fero.
Bhanu bisa mengintip Fero dari jendela samping yang lurus dengan bangkunya, sedangkan Yura sudah sangat was-was di tempat duduknya, tak berani berdiri bahkan keluar kelas.
“Si Fero beneran suka sama Yura?” Dharma ikut-ikutan menengok cowok yang sedang bergurau bersama komplotannya.
“Kayaknya sih iya, liat deh Yura, kayak kena jebakan tikus.” Keduanya melirik Yura yang tengah terdiam, wajahnya ditekuk, gusar, sambil menggerutu. Beberapa cewek mendekatinya dan seperti mendorong cewek itu untuk segera keluar saja. Jangan membuat Fero menunggu, pantang membuat cowok setampan itu menunggu. Bhanu mendengar pembicaraan cewek-cewek itu hanya mencebik. Ganteng? Cakepan gue padahal, batinnya penuh narsistik.
“Kok gue jadi kasihan sama Yura.” Sahut Dharma sambil memasukkan buku-bukunya yang ada di laci ke tas. “Kudu ada yang ngasih pelajaran kayaknya.” Nadanya agak menyindir, kemudian melirik Bhanu dan cowok itu tersenyum.
“Apaan lo?”
“Ayolah, Nu. Lo suka Yura nggak sih?” cowok itu terkekeh setelah mengatakan itu dengan pelan dan berhati-hati.
Bhanu terperanjat, “Ngarang lo!”
“Haha, tapi kalopun enggak, harus ada yang ngasih tahu. Yura juga harus ngasih tahu.” Kata Dharma.
Bhanu mengangguk, “Gue juga rada nggak enak aja kalo pemandangan kelas kita tiap hari ada Fero. Itu anak nggak bisa biarin cewek hidup tenang kayaknya.” Bhanu menenteng tasnya berjalan menghampiri Yura, Dharma geleng-geleng tersenyum miring. Tahu, kalau mungkin sehabis ini Bhanu ingin menciptakan huru-hara lainnya setelah sekian lama dia diam saja. Dharma jadi ingin berspekulasi lebih lama bahwa Bhanu bisa saja masih di tahap tertarik tetapi dalam hati kecilnya ia menimang karena bisa saja Bhanu hanya ingin menolong orang.
“Ra, ayo pulang. Gue temenin.”
“Ada Fero.” Keluhnya malas, ia cemberut.
“Mau sampai kapan di sini? Dia bisa aja semaleman di situ kalo lo nggak keluar juga.”
Yura berdecak kesal dan pergi mendahului Bhanu. Berjalan hingga ia berhadapan dengan Fero. Cowok itu menyapanya. “Hai, pulang bareng gue, yuk?! Udah gue bilang kan kemarin buat gue anter aja.”
“Sorry, Fero. Gue mau pulang sendiri aja.” Tolak Yura masih halus. Dengan Bhanu dan Dharma masih berdiri di ambang pintu, disusul dengan Cecil yang berlari dari kelasnya lalu ikut bergabung menonton drama penolakan dari Yura.
“Hei, lo ada apa? Sini cerita sama gue, sekalian gue antar pulang, ya?” katanya dan bisa didengar tiga serangkai menatap Fero muak. Sangat tidak menghargai seseorang.
“Fer, sorry ya, gue nggak mau ada urusan apa-apa sama lo. I mean, kalo lo mau temenan sama gue itu nggak masalah. Cuman lo nggak perlu yang sampai menghabiskan waktu istirahat atau ngatarin gue pulang. Gue bisa pulang sendiri, ya?”
Seketika hening.
“Gue suka sama lo.” Pengakuan yang membuat 10 orang di sana lantas kaget dan menutup mulut mereka saking terkejutnya. Cecil menoleh Bhanu dengan mengacungkan 5 jarinya, bertanya bahwa baru 5 hari Yura pindah ke sini sudah ada yang naksir?
“Makasih, Fero. Tapi sorry gue enggak.” Semuanya bisa mendengar kalau sedari tadi yang meminta maaf itu Yura, kata maaf yang tidak ingin membuat sang lawan tersinggung namun usaha cowok itu benar-benar tidak menghargai Yura sampai menyakiti mentalnya saat ini. Begitu memaksakan kehendak.
“Jangan keburu jawab, kasih gue kesempatan buat buktiin perasaan gue ke elo, Yura. Please?” pinta cowok itu.
“Bro, cewek kalo nggak mau ya jangan dipaksa.” Celetuk Bhanu langsung ditahan Dharma.
“Bukan urusan lo!” Fero agak meninggi.
“She is our friend.” Balasnya membuat Yura berbalik tertegun melihat Bhanu yang balik menatapnya dalam. “Kalo lo cowok, lo harus bisa menghargai apapun keputusan cewek. Kalo lo seorang gentleman, lo harusnya bisa dengar dan peka kalo cewek di depan lo itu benar-benar risih sama sikap lo!”
Bhanu menyulut api.
“Goddamn, Bhanu!” seru Cecil mendorong Bhanu mundur ketika Fero maju selangkah dan sejajar dengan Yura. Kedua tangan Dharma ikut melindungi kedua temannya agar tidak menjadi sasaran Fero setelah ini.
“Lo siapanya Yura? Lo juga suka sama dia? Kalo lo suka, kita bersaing secara sehat dong. Cemen lo?” katanya congkak, Yura semakin ilfeel.
Bhanu menertawakan kekonyolan Fero, sadar bahwa lawannya ini memang anak ABG yang emosinya sangat menggebu-gebu, mau menang dalam segala hal, dikit-dikit saingan, dikit-dikit berantem, apalagi kalau perkara cewek pasti rela berantem, “Fero, listen. Gue kayak begini bukan karena gue suka sama Yura,” katanya enteng. “gue begini karena gue mau lo—sebagai cowok—bisa menghargai apapun keputusan seorang cewek mengenai perasaannya ke elo. Mau itu Yura atau siapapun cewek yang sedang berada di posisi Yura, mereka muak sama cowok-cowok kayak lo!”
“Wooohooo!” komplotan Fero bersorak tidak terima. Fero geram dibuatnya.
“Gue nggak perlu saingan sampai berantem sama lo hanya gara-gara Yura. Yura tahu kalo dia nggak mau sama lo jadi tolong hargai keputusan dia. Lo nggak perlu mengejar cewek ini dan mending lo pergi aja.” Celotehnya.
Fero sudah naik pitam, “Gue nggak akan mundur. Yura belum kenal lama sama gue.”
“Fero, lo tuli apa gimana sih? Yura nggak mau!” pekik Cecil frontal. Bodoh amat.
“Cewek nggak tahu diri mending diem.” Sahut salah satu teman Fero.
“Eh, lo siapa ngatain Cecil begitu? Temen lo yang harusnya tahu diri. Udah dikasih tahu masih ngeyel. Lo hargai perempuan, jangan mentang-mentang lo pentolan dan cowok jadinya semena-mena ngatur-ngatur cewek.” Dharma ikut-ikutan membela.
Sontak geng Fero maju hendak mengintimidasi si tiga serangkai yang tak gentar dengan tatapan 6 anak di situ. Tiba-tiba saja, Sandy lewat.
“Ngapain lo pada?”
“Bukan urusan lo, San.” Kata Fero mengusir.
“Lo nggak niat berantem sama Bhanu, kan? Kalo iya, nanti lo juga urusan sama gue.” Sandy dan Bhanu saling melirik. Pertemanan keduanya itu terjalin semenjak hari itu ketika sandy pernah mengajaknya bergabung dengan tim basket. Meskipun tidak bergabung, Sandy sangat sering mengobrol dengan Bhanu di saat ekskul yang jadwalnya berbarengan itu. Bhanu akrab dengan anak-anak basket yang juga pentolan sekolah namun dia lebih memilih tidak menunjukkan arogansi bak anak-anak popular itu.
Fero dan teman-temannya mundur, menantang Sandy yang sangat dekat dengan kak Ari, si jagoan legendaris sekolah, itu mending mundur saja. Dia malas punya masalah dengan sesama teman di sekolah. Kemudian pergi.
Yura tertegun melihat ke empat orang itu dan bernapas lega. “Dia nggak bakalan ganggu gue, kan?” menatap kepergian Fero dengan muaknya.
“Enggak lagi.” Sahut Sandy, “Dia ngejar elu?” Yura mengangguk, “Biarin aja lah, paling besok udah dapet target lagi. Fero emang playboy kampungan yang otaknya cewek mulu.”
Tiga serangkai tersenyum lega, “Thanks, San.” Kata Cecil.
“Iya, Cil. Lagian lo anak Cheers juga kalo diapa-apain sama golongan Fero jangan sungkan minta tolong sama anak basket, ya?” Cecil mengangguk.
“Gue balik dulu,” pamitnya. “Nu, kirimin foto gue kemarin dong, kayaknya keren tapi lupa minta. Duluan ya?”
“Gue kirim email!” teriak Bhanu ketika Sandy memilih terus berjalan dan cowok itu mengacungkan jempolnya.
Selepas kepergian Sandy itu, Cecil datang menggandeng Yura, menenangkan kondisi cewek itu yang nampaknya masih emosional dan lelah hati menghadapi sikap Fero yang kekanakan. “Yuk, jalan ke gerbang bareng. Lo pulang sama siapa? Dijemput?” tanya Cecil.
“Gue pulang sendiri kok, Cil. Naik Angkot.”
“Apa mau bareng sama gue aja, Ra? Gue dijemput kakak kok.” Tawar Bhanu agak khawatir melihat Yura yang buku-buku jarinya agak memutih dan Cecil masih terus menggosok-gosok itu.
“Iya, Ra. Tangan lo dingin begini, loh. Nggak lucu ah lo kenapa-napa di jalan.” Cecil nampak khawatir.
Yura mengangguk, “Thanks, tapi gue nggak apa-apa kok, Cil. Cuma tegang banget sih tadi itu.”
Dharma mengambil botol minuman Cecil dari tasnya, “Minum dulu aja.”
“Oh iya gue lupa bawa minum! Duduk dulu, Ra.” Ajak Cecil agar mereka berhenti di tempat duduk depan mading sekolah. Setelah meneguk minuman Cecil, Yura bernapas lebih lega lagi.
“s***p tuh cowok, sok kecapekan pula. Tahu nggak sih, semester kemarin dia juga begitu sama temen gue!” Cecil mulai julid.
“Terus temen lo gimana?”
“Ya kepaksa banget dia jalan sama Fero, soalnya tuh cowok maksa banget. Temen gue waktu itu sampai stress bahkan berantem sampai sakit gara-gara Fero tuh pemaksa banget. So problematic person!” ceritanya kepada 3 orang itu. “Kalo dia ngomong dari awal sama anak Cheers dan Basket pasti udah abis si Fero.” Dia mencebik kesal.
“Baru kali ini gue ketemu orang yang enegy vampire nya kuat banget.” Celetuk Yura. “Gue juga mendadak capek banget kalo ada dideket dia.”
Ketiganya melongo, apa? energy vampire? Istilah itu berputar-putar di kepala tiga serangkai. Bahkan, masih tertegun ketika Yura berdiri.
“Energy vampire apa?” Bhanu bertanya lebih dulu, “Apakah dia jenis vampire? Dia vampire? VAMPIRE BENERAN ADA???” pekik Bhanu membuat Dharma dan Cecil melotot ngeri.
Yura tertawa lirih, “Not literally vampire like you watch in the film, guys. Energy vampire itu energi yang dikeluarkan oleh orang-orang yang egois, over-controlling, self-centered, dan paling jago menguras emosi. Ini istilah psikologi, sih.” Ketiganya melongo terperangah, ada ya ternyata orang lebih banyak tahu ketimbang Bhanu. Bhanu mengangguk-angguk, dalam hati dia bersorak gembira menemukan Yura punya istilah menarik. “Dan, kerjaan mereka emang selalu menyedot energi orang lain secara emosional sampai lawan bicaranya stress. Gue ngerasa tertekan ketika ngobrol sama dia, gue sangat nggak nyaman sama itu. Gue capek.”
“Berarti yang tipikal agresif-agresif gitu dong, Ra?” tanya Cecil dan Yura mengiyakannya, “Ih, pantes ya gue kalo sama cowok over-protective suka capek-capek sendiri, itu gue lagi disedot dong energinya sama mantan?”
“Iya, bisa jadi.”
Cecil menghembuskan napas lega sambil tertawa, “Untung gue udah putus ya? Kalo enggak, mati berdiri.” Katanya melirik Dharma. “Oh, sama ada lo juga, bestie.” Dia menunjuk Dharma dan menoleh ke Yura, “Dia charger gue soalnya.” Sambil cengengesan.
“Berarti lo bisa aja healer ya, Dharma?”
Bhanu makin tersentak, kenapa jadi seru begini pembicaraannya dengan Yura. Istilah aneh dan baru. Energy Vampire dan Healer?
“Kok bisa?” Dharma melirik aneh.
“Ya karena lo bisa bikin nyaman Cecil, biasanya orang-orang healer itu tipikal yang hidupnya seimbang dan punya empati yang besar. Oh, iya zodiak lo apaan?” tanya dengan antusias.
Hah? Apaan kok tiba-tiba zodiak, Ra?, batin Bhanu.
“Apa ya? Pisces.” Duga Dharma.
“Ohhhh, pantes sih. Lo anaknya juga peka dan sensitif sama perasaan orang. Karena healer itu punya empati besar dan biasanya didominasi sama orang-orang zodiak berelemen air kayak cancer, pisces, dan scorpio gitu.” dalih panjang Yura sontak membuat semua orang tercengang. “Lo beruntung, Cil, kalo dekat sama orang yang bisa kasih energi feminim dan positif kayak Dharma. Lo Buddha, kan? Lo sering nggak meditasi?”
Bhanu lebih kaget, darimana Yura tahu Dharma punya energi feminim? Energi feminim itu apa? Apakah sama dengan tingkah laku cowok yang kecewek-cewekan atau seperti apa? Sungguh Bhanu sudah bingung.
“Kalo pas senggang dan pas sembayang aja kok.” Papar Dharma dan diberi tepuk tangan oleh Yura.
“Gue bisa merasakan energi positif lo itu. Kalian semua orang-orang baik.” Katanya.
Lalu Bhanu mengajak mereka berjalan ke gerbang, “Lo belajar beginian dari kapan?”
“Dari dulu kali, seru kok belajar beginian. Lo bisa tahu tipe-tipe orang.” Jawab Yura.
“Tapi, ramalan zodiak itu kadang sama gue selalu nggak pas, Ra. Gimana dong penjelasannya?”
Bhanu siap mendengarkan, pembicaraan ini aneh dan lucu tetapi seru. “Zodiak lo itu nggak cuma satu, Cil. Ada istilahnya 3 bintang besar, kalo astrologi menyebutnya sun, moon, dan rising. Sun itu zodiak utama lo, yang menunjukkan jati diri lo sebenarnya, kalo moon itu gambarin suasana hati lo, terakhir rising itu kenampakan lo kalo dilihat sama orang atau cara lo menunjukkan diri sebagai zodiak mana. Jadi, kalo ada ramalan tentang zodiak dan lo nggak cocok sama zodiak utama lo, lo harunya ngecek, moon sama rising lo apa? Kadang sebagian orang itu nggak cocok sama ramalan zodiak utamanya, malah cocok sama moon atau risingnya.”
“Sumpah, aneh banget!” ketiganya bersamaan dan dengan wajah tercengang itu lantas membuat Yura tertawa.
“Kalo ada orang nggak percaya ramalan zodiak, mungkin banyak ya? Ya soalnya mereka nggak ngeh kalo satu orang itu bisa punya ke 12 zodiak itu dengan porsi yang berbeda-beda. Dan, dominasinya juga berbeda-beda. Bisa aja dia lahir agustus, tapi kelakuannya scorpio banget. Kayak Bhanu tuh.”
“Gue?” ia kaget.
“Iya, gue cek kemarin moon lo itu scorpio. You have something dark and deep but you hard to share with the others. Padahal lo Leo.”
“WOY, PARAH LO! NYEMBUNYIIN APAAN?” seru Dharma menggoyang-goyangkan tas Bhanu. “Gue pikir kita temen, Nu!” ia merengek dengan raut manja, bercanda.
“PARAHHHHHH!!!!” Cecil ikut-ikutan.
“HAHAHAHAH…” Yura ketawa melihat Bhanu dikeroyok sampai dijewer teman-temannya.
“Ya yang waktu itu, loh! Nanti Yura bakalan tahu sendiri deh.”
“Ohhhhhhhh ituuuuuu.” Cecil dan Dharma melepas tangannya dari Bhanu, iya disleksianya yang membuat dia sering merasa insecure, sensitif, dan kurang percaya diri.
Yura mengangguk antusias, “Nggak apa-apa, gue nggak masalah sama apapun yang manusia lain simpan di ruang tergelapnya. I mean, everyone have a darkside, right?”
“Ya bener juga.” Sela Cecil, merasa satu pemikiran dengan Yura.
“Masuk akal kok.” Dharma menimpali.
Lalu mereka diam seketika.
Cecil lagi-lagi memecah keheningan, “Lo keren banget ya, bisa tahu beginian. Lo nggak seaneh yang dibilang anak-anak pas SMP dulu.” Cecil membuka kenangan lama Yura.
Yura mendesah pelan, “Ya, karena gue nggak nemu orang yang bisa diajak ngobrol kayak barusan ini, Cil. Mereka pasti bakalan ngecap gue aneh karena percaya klenik-klenik, percaya ramalan, bahkan shio atau energi yin dan yang.”
“Wah, padahal itu hal dasar banget untuk ngatur diri kita, kalo gue loh ya?” jelas Dharma. “Kalo gue ngatur energi yin dan yang itu perlu biar hidup gue tenang dan seimbang. Kalo ramalan shio kadang-kadang yang chiong menurut peramal kita anggap sebagai peringatan aja. Sah-sah aja nggak sih percaya begituan? Sebebas orang-orang aja.”
Bhanu hanya diam, tertegun dengan pembicaraan topik yang sangat magnetik ini.
“Faktanya sewaktu SMP, sekeliling gue orang-orangnya nggak bisa menghargai apa yang orang lain suka, Ma. Jadi, gue mending sendirian.”
“Kita kira, lo beneran dibully, Ra.” Cecil mengiba.
“Oh, itu. Gue pindah bukan dibully, tapi ayah gue pindah tugas dan balik lagi ke Jakarta setelah 2 tahun di Yogyakarta.”
Cecil dan Dharma manggut-manggut, akhirnya perkiraan mereka selama ini tentang Yura itu salah besar. Yura tidak dibully bahkan tidak membenci siapapun karena dia tahu bahwa anak-anak di sekitarnya itu punya pemikiran beragam. Dan, Yura tidak bisa mengatur pemikiran dan anggapan manusia karena sesungguhnya opini seseorang itu lahir dari dirinya sendiri, bukan orang lain. Ia menghargai itu dan memilih membatasi pertemanannya jika itu sudah menyakitinya.
Bhanu lagi-lagi tak sadar menatap Yura dengan tersenyum kecil. Ia kagum dengan Yura yang dengan dewasa menghadapi orang-orang di sekitarnya. Alih-alih mencoba memantaskan diri di dalam komunitas, cewek itu malah menghindarinya supaya ia tidak kehilangan dirinya sendiri. Tidak seperti Bhanu.
Selepas Cecil dan Dharma berpamitan pulang, menyisakan Yura dan Bhanu di depan pagar sekolah. Bhanu memberanikan diri untuk membuka mulutnya. “Lo belajar begituan sendiri?”
“Iya, kenapa?”
“Nggak apa-apa, kadang gue juga suka cari tahu begituan. Tapi, nggak sedetail lo tadi. Mau jelasin astrologi ke gue nggak?”
“Mau dooong. Besok gimana?”
Bhanu mengangguk antusias.