Bersembunyi

1568 Kata
Pagi ini cuacanya sangat mendung. Terpaksa ia mengenakan sweater jika tidak ingin terkena flu. Tak lupa membawa payung sebab ramalan cuaca di Indonesia itu tidak dapat diprediksi. Aplikasi laporan cuaca itu terkadang agak tidak berguna, tulisannya hari ini cerah berawan padahal hari benar-benar sedang  menggelap berkat awan kelabu pekat menghalau cahaya matahari menyentuh bumi manusia berpijak. “Bhanu!” Ia mendengar suara seorang gadis menyapanya dari belakang, siapa lagi kalau bukan Cecil. “Eh, udah sarapan belom?” cewek itu menenteng sebungkus pisang goreng dalam kantung plastik yang tampak berembun. “Yuk, mumpung masih hangat!” katanya menyeret Bhanu melewati kelasnya sendiri dan memasuki kelas Bhanu dan Dharma. Keduanya bisa menemukan Dharma sedang mendengarkan musik sambil memegang pulpen dan kertas, sepertinya sedang membuat naskah siaran untuk beberapa ke depan. “Lah, tumben ke mari?” “Sarapan!” kata Cecil menyerahkan kantong itu dan duduk di sebelah Dharma, tempat duduk Bhanu sebelum yang punya bangku menaruh tasnya. “Hujan-hujan paling enak makan gorengan hangat!” “Makan pisang pagi-pagi, bisa bikin manusia berkicau seharian kayak burung. Jangan makan banyak-banyak, Cil. Penging telinga gue denger lo ngoceh.” Kata Bhanu bercanda. “Nyaring dong, soalnya hari ini kelas gue ada speech bahasa inggris gitu, loh. Gue tuh gedek tau lama-lama seolah guru-guru itu memperlakukan kelas gue dengan beda!” “Lo kelas unggulan!” Bhanu dan Dharma menyahut bersamaan. “Ya iyalah pelakuannya bakalan lebih kejam, anak-anak kelas lo dicetak untuk jadi anak superior.” Timpal Dharma. “Padahal pinteran Bhanu.” Cibir Cecil. “Kadang gue itu merasa bersyukur akhir-akhir ini ketika gue sadar punya disleksia. Gue susah masuk kelas unggulan dan tetep paling pinter di kelas paling biasa!” Bhanu tertawa. “Gue nggak capek belajar ekstra. Semangat, Cecil!” nadanya sarkas. “Tuh kan, nyebelin!” sentak cewek itu. Bhanu terjingkat. “Kasih semangat, loh. Lagian tugas-tugas lo juga gue bantu mikir kemarin, santai dong, Cil.” Memang tugas mereka masing-masing adalah Cecil sebagai benteng pelindung Bhanu, sedangkan Bhanu adalah gudang ide-ide bombastis untuk tugas-tugas Cecil. Lalu menyomot satu pisang goreng yang masih hangat itu. Kemudian menengok kerjaan Dharma. Cowok itu serius dengan kerutan alisnya, detik berikutnya mengerang sambil membalik kertas itu. “Istirahat dulu, nggak sepet emangnya mantengin script mulu?” tegur Cecil. Dharma menghela napasnya, “Ketua radio yang baru ambis banget, gue jadi harus numpuk revisi script bikinan anak-anak baru biar bisa diajuin buat siaran. Tau deh, ngaso dulu!” Ia mengambil pisang goreng lalu mendelik ke arah Bhanu, menyuruh cowok itu menoleh sejenak. Ia melihatYura baru datang dan tersenyum ke arah mereka bertiga. Menyapa dengan senyum kecil manisnya sambil lambaikan tangan dengan halus dan singkatnya. Cecil menyenggol Bhanu, “Ada apa lo sama dia?” sambil sedikit-sedikit tertawa menggoda, kalau saja Bhanu sudah melangkah ke tahap suka-sukaan dengan cewek lain. “Enggak, nggak ada apa-apa kok. Biasa aja lagi.” Sahutnya namun setelah itu menatap Yura yang sedang berbincang dengan beberapa cewek lainnya lebih lama. Sesekali juga Bhanu tertangkap dan dengan santainya cowok itu hanya membalas senyum singkat sebelum akhirnya membuang muka.                                                                                              … Bhanu baru saja kembali dari kantin sendirian. Dharma sibuk dengan ekskul radionya sedangkan Cecil sepertinya sedang mengerjakan pekerjaan rumah yang belum terselesaikan di kelasnya, menggunakan jam istirahat untuk mengejar waktu adalah jalan ninja Cecil meskipun dia dianggap murid cukup pintar seangkatan. Bhanu melihat Yura sedang duduk bersama Fero. Terlihat cowok itu tersenyum menatap Yura yang  tertunduh cangguh hingga risih dengan gelagatnya. Cowok itu juga sangat perhatian, begitu jelas terlihat saat ia memperlakukan Yura dengan lembutnya. Bhanu lantas mengerutkan dahi, hanya bisa membatin mungkin Yura hanya ingin memenuhi janjinya kepada Fero untuk ‘menghabiskan’ waktu bersama mini tour di sekolah baru. Sepertinya ini akan jadi awal semester yang sulit untuk Yura tanpa ia sadari. Bhanu melalui keduanya dan tak lupa menyapa Yura dengan dijawab tatapan sangat lucu menurut Bhanu. Dia memelas dengan sorot matanya, minta untuk ditolong. Bhanu hanya tersenyum kecil lalu mengangguk sebelum benar-benar pergi memesan minuman jus alpukatnya barulah cowok itu berjalan menghampiri meja Fero dan Yura lalu duduk di sebelah Fero. “Ngapain lo?” fero terkejut dengan kehadiran Bhanu di sebelahnya.  Bhanu mengangkat bahunya, “Kantin rame, boleh duduk sini nggak?” Fero agak resah dan menggerutu. Bhanu santai, meskipun dia tahu bahwa sekarang dia sudah sangat dekat dengan maut. Bhanu menghela napas ketika Yura membuang muka, tidak ingin melihat perdebatan Bhanu maupun Fero di depannya. “Ra, lo nggak mau ke perpus.” Yura menoleh cepat, “Mau. Sekarang? Yuk!” katanya langsung menjawab Bhanu. Bodoh, padahal kan jus Bhanu baru selesai dibuat dan diantarkan. Fero kaget. “Gue temenin aja, sekalian mau cari buku bacaan deh.” Jawab Fero membuat Bhanu semakin tak habis pikir. Bhanu tahu, Fero dan teman-temannya itu tidak ada yang mau mendekati perpustakaan dan tiba-tiba saja ingin ke perpustakaan? Ayolah, Bhanu sudah merasa kalau cowok ini memang ada sesuatu dengan Yura. Yura itu cantik, matanya bulat tajam dibagian ujungnya, alisnya melengkung sungguh mempertegas sorot matanya yang dingin, rambutnya hitam legam sebahu, dan kulitnya kuning langsat, bahkan saat bertemu pandang Bhanu waktu itu di Glodok dan saat gadis itu datang menjadi murid baru di sini, bagi mata Bhanu, Yura itu cantik. Wajar bukan jika Fero mengejar cewek itu? Hanya saja, Bhanu lagi-lagi merasa bahwa kali ini Fero akan gagal mendapatkan cewek ini. Seperti yang cowok itu lakukan saat ini hanyalah buang-buang waktu saja. Yura tidak menunjukkan ketertarikannya sedikitpun, apalagi ketika mengetahui zodiak cowok itu. Pun sama dengan Bhanu, dia juga berpikir bahwa Yura tidak akan tertarik padanya sebab dia juga Leo. “Beneran, Fer? Gue nggak pernah liat lo ke perpus.” Bhanu enteng, lebih tepatnya sedikit memberi pengusiran halus. “Ya, nggak ada salahnya buat nyoba sekarang, kan?” ia melirik Yura yang tersenyum simpul dan canggung. “Mau sekarang? Aku anterin yuk.” Bhanu gelagapan, jusnya belum habis. Tidak mungkin dia tinggal atau tenggak sekali habis, bisa kembung perutnya nanti. Dia hanya bisa menatap punggung Yura yang berjalan bersisihan bersama Fero meninggalkan kantin. Membiarkan keduanya pergi terlebih dulu.                                                                                            … Setelah mengisi perutnya dengan jus alpukat, Bhanu duduk sendirian di bawah pohon mangga. Dia bisa melihat Cecil di bawah sana sedang berbincang dengan teman-teman yang satu ekskul dengannya sedangkan Dharma tidak terlihat sama sekali keluar dari gugusan ruang ekstrakulikuler. Lucunya, Bhanu juga bisa melihat Yura nampak mengendap-endap berjalan ke arahnya ketika cowok itu merasa ada yang datang dari balik semak-semak di sepanjang jalan ke arah tempat duduknya, “Yura?” Cewek itu menyuruh Bhanu dia dan bersembunyi di punggung kursi. “Ngapain?” tanya Bhanu. “Gue habis kabur dari Fero, bodo amat dia bingung nyari di dalem perpus!” seru Yura dan mengundang tawa Bhanu. “Kabur, yuk! Setidaknya untuk sisa 10 menit ini karena gue yakin—“ kalimatnya terpotong dan matanya tampak tegang, ternyata dia melihat Fero keluar dan mencari-carinya ke sekeliling. “ — tuh kan, cepet banget sih sadarnya, yuk pergi!” Tangannya kemudian dicekal, “Dia nggak akan liat lo di sini, percaya deh.” “Aduh, ini Fero, Bhanu!” serunya memaksa untuk dilepas. “Kenapa dia keliatan obsesif banget sih?” Ya karena kamu cantik, Yura. Aku kalau jadi Fero juga pasti mau mengejar kamu, batin Bhanu. “Gue jadi mau sekolah nggak tenang, kan?” “Tolak aja, Ra.” “Udah. Tuh orang getol banget deh. Kenapa sih?” kesalnya Yura dengan mata menjelajah ke penjuru arah merasa was-was saat melihat arah Fero pergi mencarinya. “Suka, apalagi.” Bhanu mengatakannya dengan datar. “Lo cantik, buat cowok-cowok di sini ya kenapa enggak gitu, loh?” Yura yang tadinya membungkuk, kini menatap Bhanu dari bawah sana. Cowok itu tetap memberikan punggung lebarnya untuk menutupi kepala Yura yang menyembul, tak bergerak sedikitpun. Yura berkedip cepat dan diam sejenak. Menatap lurus punggung dan tengkuk Bhanu. Diam beberapa saat hingga buah mangga kecil dari pohon itu jatuh mengenai hidungnya yang kecil dan mancung itu. “Awwwh!” Bhanu menoleh ke belakang sedikit, “Nggak ada angin, buah mangganya suka jatuh sendiri ya?” “Nggak sakit sih, Fero udah pergi?” ia ingin memastikan keadaannya sudah aman. “Belom, dia nongkrong di lapangan malah.” Bhanu terkekeh. “Mau muter aja buat jalan ke kelas?” “Lewat mana?” “Ikut gue. Muter ke gugusan kelas 10.” Bhanu berdiri perlahan dan Yura mengikuti gerakan cowok itu supaya masih terlindungi oleh badan Bhanu yang lebih tinggi dan besar itu. Dan, setelah terbebas dari pandangan Fero, barulah Yura bisa berjalan dengan tegak dan santai. Gadis itu membuang napas lega kala dia sudah jauh dari Fero, Bhanu melirik singkat lalu memperhatikan jalan mereka. Masuk ke gugusan kelas 10, melewati parkiran, melewati ruang guru, baru bagian ujung kelas 11 dan mereka mengendap-endap saat memasuki area lapangan dan dengan setengah berlari ketika melewati punggung Fero. Bhanu tertawa, “Kayaknya awal-awal kepindahan lo ini jadi awalan yang nggak menenangkan, ya?” Yura duduk di tempatnya dan diikuti Bhanu, cowok itu duduk di meja sedangkan Yura terduduk lemas di kursinya. Wajah lelah itu, Bhanu masih tertegun menatapnya. “Padahal tadi gue bilang sama dia, kalo ini terakhir kali aja dia ngajak gue keliling. Please, sekolah kita nggak gede-gede banget yang sampai 3 ha, kan? Isinya cuma gedung, kamar mandi, kantin, taman, parkiran, dan kelas-kelas, udah.” “Itu kan pedekate, alibi doang mah si Fero.” Atau, Bhanu juga beralibi sekarang? Yura berdecak, Bhanu melihat sorot dan bibirnya yang terangkat mencibir itu nampak menyembunyikan makna lain.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN