How about the date?

1310 Kata
Akhir pekan pagi, dengan semangkuk sereal rasa buah-buah dan s**u coklat menjadi teman paginya sambil menonton siaran NatGeo yang menayangkan kehidupan beruang grizzly yang gemar makan ikan salmon. Bhanu bangun lebih siang dari biasanya, karna janjinya untuk pergi dengan Dharma untuk membuntuti Cecil itu siang hari. Pikirannya masih belum bisa teralihkan dari fakta-fakta yang berjubal sejak kemarin. Banyak pertanyaan yang ingin ia cari jawabannya. Tentang perasaan Dharma, tentang perasaan Cecil yang sesungguhnya, tentang dirinya sendiri yang begitu usil kepada kedua temannya itu, tentang kebersamaan ketiganya setelah ini, akankah menjadi lebih canggung atau entah bagaimana, Bhanu benar-benar dibungkam oleh pikirannya sendiri. Dia mengambil handphone dan mengirimkan pesan singkat kepada Cecil. Bhanu Cil, lo mau jalan ke mana? Jam berapa? Cecil Ke Plaza Senayan, siang kok jam 11. Ada apa, Nu? Tumben tanya Bhanu Gapapa, have fun sama Ben. Cecil Duh, Nu. Gatau deh, kalo dia ngajak nonton film romance/horror, asli mainstream bgt Bhanu Haha, nikmatin aja. C u. Cecil Kangen bgt hangout sama kalian, Dharma baik, kan? Bhanu Tanya sendiri, Cil. Read. “Bhanu, makannya cepetan. Terus mandi, katanya hari ini mau belajar kelompok?” tegur mama sambil melirik jam sudah pukul setengah 10. Buru-buru Bhanu beranjak dari duduknya, membawa mangkuk yang sudah kosong itu ke dapur, lalu pergi bersih-bersih sebelum Dharma menghampirinya pukul 10 nanti. Setelah mandi dan bersiap-siap, Dharma datang ke rumah Bhanu dengan motor kesayangan yang tidak pernah dia bawa ke sekolah karena takut lecet. Sebuah motor vespa berwarna merah lengkap dengan kaca penghalang angin dan beberapa stiker yin dan yang di bagian bawah kaca itu. “Wih, baru dicuci ye?” “Iya dong, Cecil mau kemana hari ini?” suaranya terdengar antusias akan rencana mereka. “Plaza Senayan, jauh nggak dari sini?” Dharma bisa memaklumi Bhanu, sudah tinggal hampir lebih dari satu tahun di Jakarta, masih saja belum hapal jalanan dan tempat-tempat di sini, “Nggak kok,” katanya masih di atas motor. “Berangkat sekarang aja yuk.” Bhanu menggeleng heran dengan reaksi itu. Reaksi yang begitu bersemangat menghancurkan kencan teman—yang dia sukai—padahal sebelumnya dia juga yang getol untuk menyuruh Bhanu agar tidak mengganggu kencan Cecil. Orang jatuh cinta emang nggak bisa dipegang omongannya, batin Bhanu. “Lo ke sini makan nggak? Jangan bilang belom?” Cowok itu mendesis dan memejamkan matanya, raut wajahnya nampak geram. “Gue benar-benar nggak nafsu makan sebelum melihat Cecil beneran nggak nyaman jalan sama Ben. Gue mau tahu itu baru gue bisa makan enak.” Bhanu diam tak berkutik, kaget dengan sisi lain Dharma yang mengejutkan dirinya. “Ya makan dulu elah, penyamaran kita bisa buyar kalo lo tiba-tiba pingsan. Siapa mau angkut? Yang ada gue seret lu ke tepi biar kayak pengemis minta makan.” Dharma tertawa, “Ya nggak sampe pingsan juga sih, kalo udah ngerti Cecil baik-baik aja, kita bisa makan kok.” Bhanu menolak ide itu, “Gue ambilin roti aja dulu. Sakit lo ternyata kalo udah demen cewek!” Dharma hanya menunduk diam. Menyerah berkali-kali ketika harus menolak paksaan Bhanu. Si tukang paksa baik hati, menurut penilaian Dharma terhadap Bhanu. Setelah mengisi perut dengan roti, keduanya meluncur pergi ke Mall tempat Cecil hendak berkencan dengan Ben. Dharma yang menyetir sedangkan Bhanu malah cengengesan dibonceng Dharma sambil merentangkan tangannya itu. Jalanan agak sepi, tidak sepadat hari-hari kerja biasanya. Sehingga, Dharma bisa memacu kecepatan motor vespanya itu. Sambil menikmati laju motor, Bhanu tetap memantau informasi dari Cecil. Dimulai dari, apakah cewek itu sudah bersiap-siap? Baju apa yang cewek itu kenakan? Seraya sambil membantu Cecil yang nampak kebingungan memilih baju. Pokoknya baju yang tidak ingin membuat Ben makin jatuh hati kepadanya. “Haha, aneh-aneh aja sih ini cewek.” Katanya membuat Dharma menoleh singkat. “Ada apa?” “Nggak apa-apa, nyetir yang bener lu, tong!” Bhanu menepuk pundak Dharma lalu kembali pada perbincangan pesan singkat keduanya. Tidak ada jeda pada pesan singkat itu. Cecil mengatakan jika ia gugup, gugup jika ketahuan tidak nyaman, gugup jika Ben semakin membuatnya mabuk dan terlena semakin dalam yang mana ia sendiri tidak mau itu terjadi. Apalagi, dia lebih gugup ketika dipenghujung hari, ketakutannya akan hadir di depannya. Dia tidak tahu bagaimana cara menolak. Kegugupan yang tidak bisa Bhanu pahami itu lantas membuatnya terus menerus menghibur Cecil dengan serangkaian gambar-gambar meme yang ia temukan di google dan kadang dia saling kirim kepada Dharma akhir-akhir ini. Sesampainya di Mall, keduanya bingung harus bersembunyi di mana. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, bisa jadi Cecil baru saja berangkat dari rumahnya. Akhirnya keduanya menunggu selama setengah jam dengan berputar-putar sebentar di sekitaran pintu masuk itu. Ketika Dharma merasa kehausan dan hendak mengajak Bhanu untuk langsung pergi ke Bioskop saja, tiba-tiba Cecil dan Ben masuk memalui pintu masuk. Cecil menuruti perkataannya dengan memakai baju yang seperti biasa ia kenakan ketika keluar. Ankle pant putih, sepatu converse hitam, slingbag favoritnya yang belum juga rusak padahal usianya sudah 2 tahun dan selalu dia pakai kemana-mana, dan tak lupa atasan super simple, kaos putih dan jaket denim. Sedangkan, Ben malah di luar ekspektasi Bhanu. Laki-laki itu mengenakan outfit yang sama dengan Cecil. Bhanu mendesah, apakah Cecil dengan sengaja membocorkan pakaiannya pada Ben supaya mereka nampak seperti sepasang kekasih saat ini. Dharma juga tak kalah kaku dan masih diam tidak menanggapi ketika Bhanu sibuk berjalan di belakang mereka sambil misuh-misuh. Siang itu, mereka berhenti di Yoshinoya untuk makan siang sebelum menonton di Bioskop. Bhanu dan Dharma juga ikut masuk sekalian makan siang juga. Makan dengan menunduk dan sebentar-sebentar mereka melirik Cecil yang mejanya berjarak cukup jauh namun bisa dijangkau dengan mata. Bhanu merendahkan bucket hatnya dan Dharma menunduk dalam menutupi kepalanya dengan penutup kepala hoodie tipisnya yang dia balut lagi dengan jaket denim. Bhanu celingukan setelah selesai makan semangkuk nasi daging sapi teriyaki itu. “Masih ada, aman.” Katanya kepada Dharma yang posisi duduknya memunggungi mereka. Bhanu menggunakan handphonenya untuk melihat detail dan merekam ekspresi Cecil itu. Agar Dharma juga bisa menontonnya nanti. Cewek itu nampak diam saja, dan Ben lebih banyak berbicara ketimbang Cecil. Menjadi seorang pendengar, itu bukan Cecilia. Cecilia tidak suka hanya mendengarkan saja, sedangkan di sana saat bersama Ben, gadis itu memilih diam. Sesekali tertawa dan tersenyum untuk membalas kata-kata Ben. Apalagi, Ben itu sangat suka mengusap kepada Cecil, yang membuat dahi Bhanu berkerut geram. Entahlah, apa yang mereka bicarakan itu. Hanya saja, nampak sangat seru meskipun Cecil lebih banyak mengangguk, bibirnya nampak mengucapkan ‘terus-terus?’, tersenyum, dan tertawa. Itu membuat Bhanu seolah tidak mengenal siapa cewek yang sedang ia buntuti itu. Ketika selesai makan, keduanya langsung beranjak ke bioskop. Film yang ditonton adalah film animasi. Lagi-lagi ini sama sekali di luar ekspektasi Bhanu. Bukan horror atau romantis yang Cecil sebut mainstream tadi. Kini dia bertanya-tanya, apakah Cecil akan jatuh hati dengan Ben setelah ini? Sambil sesekali melihat Dharma yang lebih banyak diam dan menatap lurus punggung Cecil. Punggung dan pundak yang kerap Ben rangkul ketika ada seseorang yang berpapasan dengan mereka atau orang yang hampir menabrak Cecil. Dalam diamnya itu, Dharma menyalurkan gelombang yang begitu kuat dari sorot kosongnya. Bhanu tahu, cowok itu yang—entah mengapa—bisa merasakan sebuah kehampaan dan kesunyian bahkan ketika di tengah-tengah keramaian orang yang berlalu lalang. Dan, semakin menguar ketika lampu bioskop di padamkan. Ben belum berniat melepas gandengan tangannya ke Cecil. Handphone yang tadi digunakan untuk merekam Cecil dan Ben itu, hanya dipegang dengan tangan nampak lemas oleh Dharma. Cowok itu tidak melihat rekaman yang berputar itu, tidak pula melihat film seperti yang Bhanu lakukan, dia hanya melihat 2 orang di bawah mereka. Bhanu bersingkutan dalam duduknya, “Ma, balik aja yuk? Kayaknya hari ini adalah hari yang terlalu baik untuk kita kacaukan.” Bhanu menatap Dharma iba. Dharma merubah gesture tegangnya tadi menjadi lebih lemas dan santai. Cowok itu memberikan handphone kepada Bhanu dan melihat film di depannya. “Tungguin aja dulu.” Bhanu hanya bisa menghela napas, ia takut jika Dharma semakin merasa patah hati.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN