Dua orang remaja yang sedari awal pemutaran film yang sama sekali tidak menikmati tayangan di depannya. Ada saja gangguannya ketika mereka hendak fokus menonton film di layar besar itu. Ben yang mengelus pipi Cecil, Ben yang mengusap kepala Cecil, Ben yang memeluk dan menarik Cecil lebih dekat ke tubuhnya. Bhanu bolak-balik mengerang kesal. Rasanya, air minumnya yang sudah kosong itu ingin dia lempar dari atas sini. Mati-matian menahan tindakan bar-barnya walaupun Dharma sudah duduk dengan tegang di sebelahnya. Duduk mencondongkan badannya dan melototi mereka.
Sesekali, Cecil juga melihat ke belakang. Entahlah, mungkin cewek itu merasa sedang diawasi atau bagaimana sehingga Dharma dan Bhanu sontak buru-buru menutupi wajahnya dengan popcorn mereka. Bermain kucing-kucingan di dalam bioskop.
Hal paling berbahaya lainnya adalah ketika film selesai. Bhanu buru-buru mengajak Dharma keluar sebelum semua orang beranjak dari kursi. Bisa berbahaya jika berjalan di belakang Cecil karena cewek itu akan melalui tangga lebih dulu dan penyamaran akan gagal.
Keduanya menunggu agak jauh dari pintu keluar bioskop. Lalu berjalan membuntuti keduanya lagi.
Ben, adalah cowok yang sepertinya pintar memanjakan cewek. Dia mengajak Cecil mampir ke tempat toko baju—meskipun Cecil sepertinya menolak untuk memilih salah satu pakaian di sana—atau bahkan mampir di toko pernak-pernik cewek.
Bhanu dan Dharma bisa melihat drama di dari jendela transparan dekat kasir. Keduanya nampak berdebat berebut siapa yang membayar belanjaan Cecil itu. Bhanu bisa melihat raut kesal ketika cowok berzodiak Libra itu seperti merayu Cecil dengan senyuman mempesonanya untuk mengijinkan Cecil ditraktir lagi olehnya.
Dengusan kesal Cecil pun menguar. Cewek itu terlihat sebal dan menghentakkan kakinya kecil. Bibirnya mengerucut lalu membuat pergerakan cepat tak terduga ketika kedua sahabat cowoknya itu lengah. Cecil menoleh dengan cepat tepat di mana Bhanu dan Dharma sedang berdiri berhadapan dengan sesekali melirik ke arahnya.
Ketiganya sama-sama melotot.
Ketahuan.
“Kurang ajar!” Cecil gelagapan mengumpat tak bersuara ke arah mereka, bersembunyi-sembunyi agar tidak diketahui Ben.
Bhanu dan Dharma yang sudah ketahuan itu, hanya mengangkat Bhanu.
“We guard you.” Katanya juga pelan dengan artikulasi lebar supaya gerak bibirnya bisa terbaca.
Namun, tetap saja. Kekesalan Cecil menjadi dua kali lipat sekarang.
Apalagi, ketika Ben mengajak Cecil pergi ke foodcourt untuk menikmati hidangan kudapan sebab kelihatannya cowok itu tidak ingin menyudahi kegiatan berkencannya itu dengan sekedar menonton saja.
Bhanu dan Dharma tahu, jika Cecil nampak gusar dan sedikit-sedikit menoleh ke belakang. Nampak hanya melempar senyum pamer gigi putihnya kepada Ben ketika cowok itu mencurigai gelagat Cecil yang gelisah.
Bhanu hanya terkekeh melihat cewek itu nampak risih saat ini. Kalau Dharma, jangan ditanya lagi. Dia masih menatap Cecil dalam diam dan penuh damba kasih sayang. Aneh, Bhanu merasa Dharma itu aneh.
Dia berpikir, kalaupun dia berteman dengan orang-orang yang memiliki latar belakang agama yang berbeda dengannya, jangan sampai dia jatuh hati dengan orang-orang yang berbeda dengannya. Bagaimanapun juga, Bhanu masih umat yang taat. Ia juga tidak ingin merasa kecewa pada keadaan hingga menyalahkan dirinya sendiri akan pesona seorang gadis yang sungguh memabukkan kewarasan laki-laki. Ah, semoga saja dia tidak berakhir seperti Dharma. Lagipula, dia sayang dengan Cecil karena Cecil itu sahabatnya.
Bhanu membuka kunci handphonenya dan melihat pesan singkat dari Yura, cewek itu sepertinya baru memegang handphone dan mengirimkan pesan penyemangat supaya penyamaran mereka berhasil menggapai tujuannya. Kemudian, Bhanu membalas jika mereka sudah ketahuan sekarang. Yura lagi-lagi hanya membalas dengan emot ikon tertawa dengan titik air mata.
Ketika pandangannya lengah sejenak, Dharma menyenggol tangannya. “Cecil ke sini.”
Bhanu menoleh dan Cecil berjalan ke arah mereka dengan bersungut-sungut. Ada tandu tak kasat mata dan dengusan bak kerbau yang siap menyeruduk kedua cowok itu.
“Kalian ngapain ke sini?”
“Nonton dong.” Sahut Dharma meledek.
Hati Cecil mencelos, “Jadi, lo berdua ngawasin gue?” katanya. “Pantes gue kerasa kayak ada yang buntutin, ternyata lo pada!!” dia memikul Bhanu dan Dharma bergantian. “Lo bilang dong kalo mau buntutin!!”
Bhanu kaget, “Lah, ngapain kita ngomong, Cecil. Nanti lo malah nggak all out kayak tadi kencannya sama kak Ben.” Ucapnya.
Cewek di depan mereka itu menghentak-hentakkan kakinya dan mengerang kesal. “Harusnya lo ngomong ada di sini, jujur gue capek dengerin Ben ngomong terus. Gue capek. Tapi, gue mau ngomong apa di depan dia kalo gue capek dengerin?” Cewek itu malah bersedih, kedua cowok itu bingung. Tidak mau mendengar, tapi tidak punya bahan untuk dibicarakan.
“Lo jangan takut, cerita aja apapun yang bisa lo ceritain. Anggap aja Ben itu teman.”
“Di otak gue, dia sama sekali bukan teman, Dharma. Bukan! Gue nggak bisa ngomong enak dan santai. Segan rasanya di dekat dia. Kayak, gue itu hina banget, demi Tuhan. Gue merasa jadi gadis paling hina berkat cerita-cerita dia yang penuh inspirasi itu. Iri gue, argh!” erangnya gemas.
“Lo jealous? Jealous kenapa?” tanya Bhanu.
“Bukan jealous, tapi lebih ke envy. Envy sama kepribadiannya yang kayak malaikat banget sedangkan gue kayak anjing gila kadang-kadang. Kenapa gue sih?” dia mengeluh terus-menerus. “Ini nggak enak, gue mau pulang!” katanya lalu memegang kedua tangan Bhanu dan Dharma. “Ayo, kabur!”
“Jangan ngaco!” sentakan tangan Dharma halus. “Lo balik sama dia, nanti kita ikutin dari belakang. Kita ngobrol di rumah lo atau mungkin besok pas di sekolah aja.”
Cecil menggeleng, “Gue nggak mau pulang, gue mau main sama kalian.”
Bhanu menggaruk kepalanya. “Ya gimana dong, masa kita cenglu sih?”
Dharma menoleh, “Cenglu apaan?”
“Gonceng telu.” Sahut Bhanu. “Kalo mau jalan, ya di sini aja. Kita ke arcade games atau ke taman dekat-dekat sini aja, Cil. Dharma sama gue boncengan ke sini tadi soalnya. Lo mau duduk di ban?? Mana gaada helm lebih.”
“Ih, kenapa nggak bawa mobil.”
Dharma menoyor kepala Cecil. “Lo pikir kita kayak kak Ben lo itu, Bhanu suruh nyetir? Nyasar yang ada.” Dia terkekeh diikuti oleh Bhanu.
“Ya udah, gini aja deh. Besok aja mainnya kelar UTS. Sekarang, kalo lo mau pulang, minta Ben buat antar lo pulang atau kalau dia nggak mau, kita bisa carikan lo taksi atau order grabcar. Gampang, Cecil.”
“Gampang pala lo, nyari alasan dan lepas dari rayuan Ben yang susah.”
Lalu Dharma mencengkram pundak Cecil dan membawanya menghadap penuh ke arahnya. “Dengar gue, nggak ada orang yang boleh mengusik perasaan dan intuisi lo. Lo adalah manusia bebas yang berhak melakukan dan memilih apa yang lo mau. Kalo lo nggak suka sama Ben, jangan merasa nggak enak hanya karena dia selalu baik sama lo. Jangan merasa nggak enak, hanya karena dia terlalu susah untuk ditolak. Belajar bilang tidak sama Ben, karena lo nggak hidup untuk menyenangkan orang lain, Cecil. Lo hidup untuk menyenangkan diri lo sendiri. Jadi, gue mau sekarang lo pergi ke Ben, lo bilang sama dia kalo lo mau pulang sekarang, ngerti?”
Bhanu hanya menahan napas mendengarnya. Cecil pun tak kalah tertegun ketika sorot Dharma menatap netranya lurus hingga alisnya tertaut. Untuk pertama kali ekspresi itu muncul di wajah Dharma—yang Bhanu kira otot-ototnya sudah lemas karena tak pernah digerakan.
“I-Iya, t-tapi,,,”
“Jangan kebanyakan tapi, kalo lo masih nggak enak, lo hanya akan terjebak sama dia sampai kapanpun. Gue nggak mau lo terkekang nantinya, Cecil.” Kata Dharma masih menatap Cecil lurus. “Pergi, dan kita bisa buntutin lo kalo dia mulai nyeleweng ngajak lo pergi di tengah-tengah perjalanan pulang nanti. Lo aman sama kita, kita awasi lo dari belakang. Hmm?” katanya melembut.
Cecil mengangguk lalu berbalik. Cewek itu benar-benar menuruti Dharma. Mengajak Ben pulang meskipun cowok itu sempat melempar sanggahan ajakan pulang itu. Tapi, di benak Bhanu, kata-kata Dharma itu terlalu kuat mempengaruhi Cecil. Cewek itu nampak kukuh untuk mengajak pulang saja. Entah dengan alasan apa, Ben menuruti dan mengakhiri kencan mereka hari ini.