Part 9

1310 Kata
Jendra sedang berada di rumahnya, duduk di balkon lantai tiga dengan berkutat pada laptop di pangkuannya. Pria itu sedang memeriksa beberapa laporan penjualan dan mengirim beberapa berkas pada asistennya yang ada di Singapura. Email kali ini membuat Jendra menggelengkan kepala, karena beberapa pekerjaan yang dilakukan oleh asistennya tidak berjalan dengan baik. Beberapa kali terlihat Jendra mengerutkan dahinya, dan ia mulai bergumam mengenai laporan yang sedang ia baca. “Kenapa laporannya berantakan! Gak becus bikin atau gimana sih! Hadeh!” gerutu Jendra. Jendra menutup laptopnya lalu masuk ke dalam kamar. Ia meletakkan barang-barangnya di atas nakas, dan meraih ponselnya. Pria itu tengah menghubungi seseorang yang ada di tempat lain. “Bisa meeting besok pagi?” tanya Jendra. “Bisa, Pak. Maaf, meeting untuk persoalan apa ya?” “Kumpulkan staff marketing dan juga finance. Saya mau semua hadir dengan membawa laporan bulan ini,” ujar Jendra dengan tegas. “Baik, Pak.” “Satu lagi, kamu suruh Pak Efendy untuk datang juga,” ujar Jendra. “Tapi … Pak Efendy bukannya sedang tugas di Malaysia, Pak?” “Saya tidak mau tahu! Suruh dia datang besok pagi atau kalian akan mendapatkan ganjaran.” Tut. Kesal … Jendra memang tidak suka jika pekerjaan setiap karyawannya tidak sesuai dengan yang seharusnya. Apalagi jika kinerja mereka menurun, saat itu juga Jendra akan langsung menggantikan posisi mereka dengan orang lain yang mampu. Setelah amarahnya mereka, Jendra turun ke lantai satu. ia melihat ada beberapa klien di sana. “Sore, Mas.” “Sore,” jawab Jendra. “Mas, Bapak ini mau pesan obat untuk klinik hewannya,” jelas seorang karyawan.   “Hmm, coba telepon Trishia aja. Kan itu bagian dia,” ujar Jendra. “Mbak Trishia gak ada angkat telepon dari saya, Mas.” Jendra meraih ponselnya, lalu menghubungi Trishia. Beberapa kali dering telepon terdengar sibuk, hingga akhirnya Jendra menyadap telepon milik Trishia. “Angkat telepon sekarang! Atau kamu mau aku bikin bangkrut?” “Ampun, Bos … iya ini diangkat.” Tut. “Udah, sekarang kamu telepon aja.” Jendra melanjutkan langkahnya menuju garasi mobil. Ia akan keluar menuju suatu tempat. Mobil Range Rover itu berhenti disebuah showroom mobil, Jendra keluar dari dalamnya dan berjalan masuk ke dalam sana. “Sore, Mas. Cari siapa?” tanya seorang karyawan. “Azka mana?” tanya Jendra. “Ada di kantornya, Mas.” Jendra mengangguk dan berjalan menuju kantor Azka. Di dalam sana, ada seorang cowok yang sedang memeriksa beberapa nota penjualan mobil miliknya. Ceklek “Serius amat,” ucap Jendra. “Ada pengiriman ke Bali, Mas. Makannya harus diliatin biar gak salah,” jawab Azka. “Owh, tumben. Biasanya gak pernah kamu urus,” celetuk Jendra. “Yaelah, Mas. Tega amat … ini lagi bener aja pikirannya, sebelum jadi gak bener,” ujar Azka sambil tersenyum kecil. “Dasar.” “Ada apa nih? Mau ganti mobil? Udah bosen ama yang gede?” tanya Azka beruntun. “Ada yang baru gak?” “Ada, mau yang gede apa kecil?” “Yang bagus aja.” “Semua bagus kali ,Mas.” “Gak, punya kamu itu jelek.” “Astaga … serah lah.” Azka terlihat kembali memandang kertas yang ada di atas meja kerjanya. Lalu Jendra duduk di seberang Azka, dan meraih kertas itu. “Pantes fokus … banyak juga yang beli, untung berapa nih?” goda Jendra. “Lumayan, tabungan dua minggu kedepan, aku bisa main ke Bali habis ini, hahaha.” “Main terus, mau ikut aku gak?” tanya Jendra. “Weh … kemana?” “Singapura,” ujar Jendra. “Boleh tuh, sekalian ajakin Trishia ya?” “Bilang aja buat temen tidur! Dasar!” “Hahaha, sa ae.” Jendra memutar bola matanya mendengar Azka yang selalu dekat dengan Trishia. Meski hubungan keduanya bukanlah ikatan sebagai pasangan, tetapi kedua orang itu menikmati kebersamaan mereka seperti Jendra dengan pacar-pacarnya. Jendra melihat sebuah mobil berwarna hitam dengan model sporty dan sangat elegan. Tangan Jendra menunjuk pada mobil itu, dan membuat Azka mengikuti arah tangan itu. “Ehem … Range Overnya mau dituker itu, Mas?” tanya Azka. “Gak. Aku mau beli yang itu, tagihannya masukin kayak biasa. Aku titip mobil yang ini, nanti di ambil ama pak Eko.” Azka langsung membuatkan nota pembelian untuk Jendra, dan memberikannya pada karyawannya. “Aku langsung pakek ya! Mau makan, laper,” pamit Jendra. “Gak mau ajak aku, Mas?” “Aku masih normal, kalo ngajakin kamu nanti aku dikira homo!” jawab Jendra. “Badan aku lebih kecil dari kamu, Mas. Jadi anak kamu aja masih bisa kok,” sahut Azka asal. “Ngarep!” “Aku yo laper loh, Mas …,” rengek Azka. “Gak ngurus!” Jendra melangkah keluar dari kantor Azka , dan langsung menghampiri karyawan yang ada di sana. “Kunci mobil ini mana? Sini! Mau aku pakek,” ujar Jendra. Seorang karyawan memberikan kunci mobil itu pada Jendra lalu membantunya mengeluarkan mobil yang ada di dalam showroom. Sebuah mobil Mercedez keluar dari showroom milik Azka ,dan melaju menuju café yang cukup terkenal di Surabaya. Jendra menghubungi seseorang dari ponselnya, dan mengajak orang itu untuk bertemu dengannya di sana. “Aku gak ada mobil,” ujar seorang cewek dari seberang telepon. “Kamu berangkat pake taksi online aja, pulangnya aku anter.” “Oke.” Jendra kembali fokus pada jalanan tengah kota Surabaya. Dan selama perjalanan, ia tidak menghiraukan beberapa panggilan yang masuk ke dalam ponselnya. Hingga akhirnya Jendra sampai di café itu, ia langsung melangkah masuk ke dalam sana dan memesan minuman. Jendra duduk di sudut ruangan dengan berkutat pada ponselnya. Ia masih melihat beberapa perkembangan usaha miliknya yang ada di tempat lain. Senyumnya mengembang kala menerima laporan yang membuatnya bahagia. Ya, jika bisnisnya berjalan sesuai keinginannya, Jendra akan langsung bahagia, itu artinya ada banyak uang yang akan masuk ke dalam dompetnya saat itu. Tidak lama setelah itu, seorang wanita berjalan menghampiri Jendra. Wanita itu berdeham dan membuat pandangan Jendra tertuju padanya. “Hei, duduk gih. Sorry, aku lagi cek laporan pekerjaan,” ujar Jendra beralasan. “Iya, gak apa-apa kok.” Wanita itu akhirnya duduk di seberang Jendra, dan meletakkan tasnya pada kursi kosong disampingnya. “Kamu mau minum apa? Udah makan?” tanya Jendra. “Aku udah pesen kok tadi di depan,” jawab wanita itu. “Oke.” Jendra mengakhiri kegiatannya, lalu meletakkan ponselnya di dalam saku kemeja. Lalu ia menatap wanita yang ada di hadapannya. Wanita itu adalah Adel, ia menjadi dekat dengan Jendra semenjak pertemuannya di bandara. “Ada apa nih, kok ngajakin ketemuan?” tanya Adel. “Emang perlu alasan kalo mau ketemu?” sahut Jendra. “Ya … enggak juga sih, cuman kan … kamu itu orang sibuk, chat aja balesnya cuman malem,” ungkap Adel. “Hahaha, oke-oke … emang biasanya hape yang ini aku tarok di dalem tas atau aku tinggal di mobil kalo lagi sibuk sama kerjaan,” jawab Jendra beralasan. Adel tersenyum kecil mendengar ucapan Jendra. Lelaki itu terlihat berbeda dari biasanya, ia kini menjadi lebih akrab jika bersamanya. “Besok aku ada meeting di Singapura, kamu mau ikut?” tanya Jendra. “Hmm, meeting kok ngajakin aku? Yang ada entar aku jadi obat nyamuk di sana,” jawab Adel. “Aku Cuma meeting beberapa jam, lagian kamu bisa tunggu di apartemen atau jalan-jalan dulu,” ujar Jendra. “Hmmm … boleh deh, besok jam berapa pesawatnya?” tanya Adel. “Pagi ya! Jam limaan kamu harus udah ada di bandara,” ujar Jendra. “Oke. Cuma berduaan aja nih?” “Nggak kok, ada temen aku juga.” “Owh.” “Rekan bisnis,” jawab Jendra. “Oke.” Keduanya melanjutkan kegiatan di café itu hingga beberapa jam. Lalu … karena ada telepon dari orang rumah yang mengatakan jika ibunya tengah sakit, Jendra akhirnya harus mengakhiri pertemuannya itu. Ia mengantarkan Adel kembali ke rumahnya, dan Jendra langsung menuju rumah ibunya di Tropodo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN