Part 8

1244 Kata
Hasil dari tes DNA menyatakan jika anak dari Indira adalah anak biologinya. Mendengar hal itu, Jendra langsung memberikan semua sesuai kontrak perjanjiannya dengan Indira. Kali ini adalah kunjungan Jendra untuk Juno anaknya yang pertama. Jendra melihat anaknya tidak kurang satupun kebutuhannya. “Kamu mau anter Juno ke dokter? Dia ada jadwal untuk imunisasi,” ujar Indira. “Kapan?” tanya Jendra. “Sore ini,” jawab Indira. “Oke, aku anter nanti. Kalau gitu aku pergi dulu, karena ada pekerjaan,” pamit Jendra setelah beberapa jam di sana. Jendra mengemudikan mobilnya menuju Ciputra untuk berkunjung pada restoran milik Railo. Mereka sudah memiliki janji untuk makan siang di sana bersama Azka dan juga Trishia. Sampai di restoran, Jendra melihat ketiga rekannya itu sudah duduk di ruang VVIP. Langkah kakinya kini mulai mendekat pada ketiga orang yang sedang meringis menunggu kedatangannya. “Makan aja gerak cepet!” celetuk Jendra. “Isi perut is numero uno , Mas,” sahut Trishia. “Kalo meeting aja molor, giliran begini nomor satu kamu!” “Hahaha, apalah aku yang Cuma anak kos,” jawab Trishia. “Siapa suruh kos! Udah punya rumah masih ngekos, manusia aneh ya cuman kamu itu,” omel Jendra. Trishia hanya tertawa kecil mendengar omelan dari Jendra. Karena untuknya, ketiga rekannya itu sudah seperti adik bagi Jendra. “Habis dari sini, kalian mau kemana?” tanya Jendra. “Aku mau ke Jakarta, Mas,” jawab Azka. “Mau balik kos, tidur,” sahut Trishia. “Mau ketemuan,” tambah Railo. Jendra mengatur napasnya untuk beberapa detik, lalu mulai mengatakan maksud dari pertemuan itu. “Sebelum makanan dating, aku mau jelasin ke kalian soal pertemuan kali ini. Ada beberapa perusahaan yang mau kerjasama, terus mereka itu karena perusahaan besar jadi tanam sahamnya sedikit besar dari sebelumnya. Ada yang mau jalanin?” tanya Jendra. “Maksudnya gimana, Mas? Kan aku udah ada di Bali sama Jakarta,” sahut Azka. “Sama, aku juga udah ada di Surabaya sama Bali, kalo Jakarta kan punya ortu,” jawab Railo. Kini ketiga pria itu menatap Trishia yang masih santai dengan posisinya yang hanya titip pada Jendra. Trishia yang merasa ada enam mata sedang menatapnya tajam hanya bisa menelan ludahnya kasar. “Aku? Aku udah ada kosan yang nyaman,” ujar Trishia beralasan. “Terus mau sampek kapan kamu kayak gini?” tanya Jendra. “Ehm, aku takut loh … kemarin aja aku rugi seratus juta gara-gara salah masukin income,” jelas Trishia. “Azka, kamu temenin Trishia dulu buat pegang perusahaan,” titah Jendra pada Azka. “Siap, Komandan.” Trishia masih bingung dengan penjelasan Jendra. Bukan karena harus memegang secara langsung, tetapi untuk ilmu dalam hal bisnis, memang cewek satu itu belum  paham dengan semuanya. Setelah pertemuan itu, Jendra membawa Trishia menuju kantornya yang ada di rumahnya sendiri. Yaitu di Pakuwon City, dan setelah sampai, Trishia duduk di sofa untuk mendengar penjelasan Jendra mengenai bisnis mereka. “Kamu mau sampek kapan kayak gini?” tanya Jendra. “Jakarta dan Bali jauh ,Mas. Tau dewe aku gak bisa kalo jauh dari Surabaya,” jelas Trishia. “Apa aku balikin aja semua modal kamu? Kamu berdiri sendiri aja deh,” ancam Jendra. “Jangan dong, Mas. Kasih aku waktu buat mikirin hal itu tadi ya?” “Gak! Kalo mau kamu tinggal pilih aja, mau di Bali atau Jakarta? Mas gak akan paksa kamu pegang dua-duanya, karena pasti berat,” jelas Jendra pada Trishia. “Ya udah, aku pilih Bali,” jawab Trishia. “Oke, kamu berangkat lusa sama Azka. Di sana udah ada rumah, mobil dan fasilitas lainnya yang kamu butuhin, ganti hape ini, jangan pakai itu! Masak Manager hapenya udah kek habis diperkosa masal gitu,” sindir Jendra. Trishia hanya tersenyum kecil melihat kondisi ponsel miliknya yang memang sudah waktunya untuk membeli yang baru. Ponsel itu selalu membuat Jendra merasa kesal, karena kondisi yang sangat memprihatinkan. LCD sudah pecah, baterai ponsel mengembang, dan mudah drop atau habis baterai. “Mana hapemu!” Trishia memberikan ponselnya lalu menerima ponsel baru dari Jendra. “Pakai ini, jangan sampai rusak, jangan di jual, jangan sampai di pake buat hubungin suami orang lagi!” omel Jendra. “Iya, Mas.” “Tidur rumah kamu sendiri! Jangan tidur kos! Orang punya rumah itu di tempatin, bukannya di biarin sampek ada banyak laba-laba dan sarang lebah di sana!” tambah Jendra yang semakin membuat Trishia bungkam. Akhirnya Trishia berjalan menuju rumah mewahnya yang berada tepat di samping rumah Jendra. Trishia yang sedang berjalan menuju lantai satu bertemu dengan seorang cewek yang sedang menggendong anaknya. “Permisi ,Mbak. Jendra ada?” tanya cewek itu. “Ada, bentar ya,” balas Trishia sambil berlari menuju lantai tiga. “Mas, ada yang cariin,” ujar Trishia sambil mengeraskan suaranya sedikit. “Oya, oke.” Trishia kembali turun dan memberitahu jika Jendra akan segera menemui dirinya. Setelah itu, Jendra sudah siap dengan pakaiannya lengkap dan juga rapi. “Kok Pak Joko yang jemput?” tanya Indira. “Cerewet, dibilangin gak usah banyak tanya, masih aja suka ngomel kamu itu,” ujar Jendra. Indira terdiam, ia lupa jika Jendra adalah orang sibuk dan hanya menemui dirinya pada jadwal yang sudah di tentukan. Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sakit, dan mereka menuju bagian poli ibu dan anak. Indira meminta sore hari karena memang menyesuaikan jadwal Jendra. “Udah daftar?” tanya Jendra. “Sudah, tinggal tunggu panggilan aja,” jawab Indira. “Oke.” Mereka duduk dengan posisi Indira yang menggendong anaknya. Rasa lelah tengah dirasakan Indira karena harus menggendong sejak berangkat dari rumahnya. “Jendra, mau gendong Juno bentar gak? Pundak aku sakit,” keluh Indira. “Ya udah, mana Juno-nya.” Jendra akhirnya menggantikan Indira untuk menggendong anaknya itu. Saat itu, karena Juno tertidur lelap jadi Jendra bisa dengan tenang menggendongnya. “Nyonya Indira,” panggil seorang perawat. Keduanya berdiri dan masuk ke dalam ruang periksa. “Sore, Dok. Mau imunisasi Juno sesuai jadwal,” ujar Indira. “Silakan anaknya di baringkan di atas tempat tidur,” ujar dokter. Jendra di bantu dengan seorang perawat untuk menidurkan Juno di sana. Lalu perawat itu mulai memeriksa kondisi kesehatan Juno. “Ada keluhan apa lagi, Mbak Indira?” tanya dokter. “Tidak ada, hanya kalau malam rewel, susah tidur jadinya,” jelas Indira. “Owh, iya. Siklus bayi yang baru lahir memang begitu. Itu nanti akan berubah setelah berusia beberapa bulan,” jelas dokter. “Baik, dok.” Sementara Indira menjelaskan pada dokter, Jendra melihat anaknya yang sedang di periksa dan akhirnya di berikan imunisasi. Imunisasi itu berupa suntikan pada lengan kanan Juno. Tidak ada suara tangisan saat jarum suntik masuk ke dalam kulit bayi itu. Tetapi setelah selesai, tiba-tiba saja Juno membuka mata dan mulai merengek. Jendra dengan segera menggendong kembali anaknya itu, menimangnya perlahan hingga akhirnya kembali tertidur di dalam pelukannya. Indira juga sudah selesai berkonsultasi mengenai anaknya pada sang dokter. Mereka berpamitan untuk segera pergi dari tempat itu, dan kembali ke rumah mewah Indira. “Kamu gak mampir dulu?” tanya Indira. “Gak bisa, aku masih ada banyak kerjaan,” jawab Jendra. “Hmm, ya udah kalau gitu. Aku masuk dulu ya? Kamu hati-hati pulangnya,” ujar Indira. “Iya.” sampai di rumah Pakuwon, ada mobil Azka di depan rumah Trishia. Membuat Jendra akhirnya menghampiri keduanya di sana. sebuah pemandangan yang tidak biasa, karena mereka melakukannya di ruang tamu. Beruntung Jendra mengintip terlebih dahulu pada sela jendela, jika tidak mungkin rasa malu akan mereka terima saat itu juga. "Dasar anak muda yang ceroboh," celetuk Jendra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN