Setelah memastikan bahwa Indira baik-baik saja dengan bayinya, Jendra kembali beraktivitas seperti biasa. Hari ini ia kembali mengurus pekerjaannya di kantor pusat yang berada di kawasan pergudangan Margomulyo Indah. Jendra mengadakan sebuah rapat penting mengenai beberapa produk baru yang akan dipasarkan ke Singapura dan Malaysia. Tentu saja semua barang yang dipasarkan oleh Jendra dari Trishia dan juga Azka.
Trishia selalu memiliki ide dan desain baru untuk produk homemade yang akan Jendra pasarkan. Produksi akan di lakukan di kantor pusat yang saat ini sedang Jendra kunjungi. Pria dengan jas berwarna hitam itu tengah memberikan informasi untuk karyawan mengenai produk terbaru.
Sebuah soft copy dari desain yang Trishia buat ditunjukkannya pada bagian produksi dan juga marketing. Tidak hanya itu, Jendra juga memperlihatkan pada beberapa kliennya yang datang untuk meminta katalog terbaru.
“Tuan Richard, selamat datang di Manggala Group, silakan duduk,” sambut Jendra.
“Tuan Jendra selalu bisa menjamu saya dengan sangat baik, kali ini saya akan pastikan jika perusahaan yang ada di Malaysia berjalan dengan lancar dan juga semakin jaya,” ujar Richard, pemilik peusahaan di Malaysia.
Jendra tersenyum mendengar ucapan Richard, lalu dia memberikan kataloh terbaru yang akan diproduksi dalam beberapa minggu kedepan. Melihat dari raut wajah Richard, Jendra melihat aka nada banyak uang masuk ke dalam brankasnya kali ini.
“Desain Nona Trishia selalu menarik perhatian konsumen, saya sangat suka beberapa desainnya untuk koleksi pribadi, dan lagi semua ini di produksi secara terbatas,” terang Richard.
“Ya, anda benar sekali Tuan Richard. Jika anda mau, saya bisa memberikan bonus eksklusif untuk pembelian di atas lima miliyar,” jelas Jendra.
“Anda sangat baik Tuan Jendra, anda sangat tahu jika saya selalu membeli dalam nominal besar,” tambah Richard.
Jendra memberikan sebuah voucher pada Richard untuk digunakan pada outlet milik Manggala Group di berbagai Negara. Setelah menerima hadiah kecil dari Jendra, Richard menandatangani kontrak kerjasama yang sudah di siapkan oleh asisten Jendra.
“Baiklah, terima kasih karena sudah bekerjasama dengan Manggala Group, Tuan Richard,” ucap Jendra.
“Tentu saja, Tuan Jendra. Mendiang Ayahmu selalu memberikan yang terbaik untuk kami, jadi kali ini juga, kami masih tetap setia pada Manggala,” ungkap Richard.
Rapat hari ini berakhir dengan sangat baik, Jendra menyelesaikan pekerjaannya lalu menemui seseorang untuk makan siang bersamanya.
***
Restoran Bon Ami menjadi tempat tujuan Jendra. Seorang wanita sudah menunggu dirinya di salah satu meja. Wanita itu tersenyum saat melihat Jendra sudah masuk ke dalam restoran dan melangkah menghampiri dirinya.
“Udah lama nunggu?” tanya Jendra.
“Gak kok, baru lima menit,” ujar wanita itu.
“Kerjaan hari ini lumayan banyak, jadi gak bisa nemenin lama-lama. Gapapa kan?”
“Iya gapapa.”
Wanita yang saat ini sedang bersama Jendra adalah Adelia. Wanita yang dikenal oleh Jendra di bandara. Ya, mereka menjalin hubungan dan mulai masuk ke fase yang lebih dari sekedar teman makan siang saja.
“Mau main ke rumah?” tanya Jendra.
“Boleh, kalau kamu ga sibuk dan lagi kesepian, telepon aja, nanti aku langsung meluncur,” jawab Adelia.
“Siap.”
Adelia mengulum senyum, dan membuat Jendra tahu dengan isyarat yang wanita itu berikan. Dan setelah acara makan siang itu selesai, Jendra menyempatkan diri untuk mengobrol dengan Adelia beberapa menit. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari sana.
Sampai di kantornya, Jendra meletakkan ponsel di atas meja kerjanya, lalu memasang earphone di telinga sisi kanan. Jendra sudah siap untuk kembali berkutat dengan laptop dan juga berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya.
“Kenapa laporan bulan kemarin ada yang terlewatkan?” gumam Jendra yang kemudian memanggil asistennya untuk memeriksa beberapa berkas.
Ternyata benar, jika ada berkas yang tidak seharusnya ada di atas mejanya. Jendra menegur kinerja sistennya yang sudah ceroboh kali ini. Setelah berkas itu di ganti, ada beberapa pengajuan kerjasama yang tidak sesuai dengan perusahaan milik Jendra.
“Tolong ini kamu hubungi, lalu beritahu jika kontrak kerjasama saya tolak. Untuk alasannya bilang saja isi yang dicantumkan tidak sesuai SOP,” jelas Jendra.
“Baik, Pak.”
Setelah mengerti dengan tugasnya, asisten Jendra kembali keluar menuju ruang kerjanya sendiri. Sedangkan Jendra memilik melihat ponselnya yang terus berdering, hingga akhirnya pria itu mau menekan ikon hijau di layar ponsel itu.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Jendra dengan menekan earphone-nya.
“Selamat siang, Tuan, kami dari Bank ANZ mau menawarkan kartu kredit-“ Kesal dengan penelepon Jendra memutuskan sambungan telepon itu.
“Waktunya ganti nomor kayaknya ini.”
Jendra segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum pukul tiga tepat. Karena harus mengurus pekerjaan yang ada di rumah. Dan setelah jam menunjukkan pukul tiga sore hari. Jendra merapikan meja kerjanya lalu menenteng tas nya untuk segera kembali ke rumah.
Kali ini Jendra menggunakan mobil sport miliknya. Sebuah mobil Bugatti dengan warna hitam dop menjadi pilihan Jendra. Sangat elegan dan juga cocok untuk pria yang terlihat dingin tetapi hangat jika sudah mengenalnya.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, akhirnya dia sampai di rumahnya yang ada di kawasan Pakuwon City. Mobil itu langsung masuk ke dalam bagasi mobil yang tertutup rapat. Saat berjalan masuk menuju pintu masuk rumahnya, Jendra bertemu dengan Railo yang baru saja sampai dan turun dari mobilnya.
“Kamu bawain cewek lagi mobilnya?” tanya Jendra yang melihat jika mobil Railo dibawa pergi oleh seorang wanita.
“Iya, biarin. Dia mau pergi ke pesta temen katanya, butuh mobil.” Mendengar penjelasan Railo, pria berjas hitam itu langsung melangkah masuk ke dalam rumah.
Jendra segera mengganti pakaiannya dengan kaos tipis dan celana pendek. Lalu ia mengeluarkan laptopnya dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja kerja.
“Dimana Trishia dan Azka?” tanya Jendra.
“Aku bukan emaknya, ya mana aku tahu, Mas ….”
“Kamu ada nomor teleponnya kenapa gak kamu hubungi mereka saja?”
“Mas juga punya nomornya, kenapa gak hubungi mereka?”
“Yakin aku yang hubungi mereka? Jangan nyesel ya!”
“Gak perlu telepon, tuh mobil Azka udah sampek depan.”
“Sama Trishia?” tanya Jendra.
“Gak.”
Jendra meraih ponselnya lalu menghubungi Trishia. Dering ponsel hingga puluhan kali, tetapi tidak satupun ada yang diterima oleh Trishia. Entah di mana wanita itu, selalu menghilang saat dibutuhkan, dan muncul di saat yang tidak tepat.
Dan akhirnya setelah mencoba beberapa kali,Trishia mengangkat sambungan telepon itu.
“Ehm … hao? Capa ini?” tanya Trishia.
“Bangun! Kerja! Mau duit apa gak?” seru Jendra.
Trishia yang terkejut langsung membelalakkan matanya dan menjawab Jendra ,”siap komandan!”
“Yaelah … sore-sore molor aja tuh anak,” sahut Railo.
“Halo, Mas,” sapa Azka.
“Mana Trishia?” tanya Jendra.
“Mana aku tahu ,Mas.”
“Cari sampek dapet, buruan bawa kesini!” titah Jendra.
“Yaelah, baru juga nyampek. p****t belom nempel tempat duduk, udah di usir aja nih,” celetuk Azka.
“Mau aku potong saham kamu?”
“Jangan ,Mas!”
“Cepetan cari Trishia!”
“Siap, komandan!”
Azka kembali ke lantai satu, lalu meraih ponselnya untuk menghubungi Trishia. Setelah mengetahui keberadaan wanita itu, akhirnya Azka pergi untuk menjemputnya.