Malam ini, Jendra baru saja sampai di Singapura. Dia akan merebahkan dirinya di atas ranjang, tetapi ponselnya berdering dan entah nomor siapa di sana yang mengganggunya.
"Astaga! Apa aku gak boleh istirahat kali ya?" keluh
Jendra meraih ponsel itu lalu menekan ikon berwarna hijau untuk menerima sambungan teleponnya.
"Halo?"
"Apa benar dengan Tuan Rajendra?" tanya seorang wanita dari seberang telepon.
"ya, benar. Dengan siapa?"
"Saya dari pihak rumah sakit, mau memberitahukan bahwa Nyonya Indira sedang dalam proses persalinan, dan ia berkata untuk menghubungi anda," jelas wanita itu.
"Baru aja sampai Singapura, Mbak. Ya sudah, berikan penanganan terbaik dari rumah sakit ya! Saya perjalanan dari Singapura ke Surabaya," terang Jendra.
"Baik, Tuan."
Telepon itu terputus, dan Jendra langsung saja meraih tas yang ada di atas meja, lalu menuju bandara. Selama perjalanan, terlihat jika lelaki itu sangat lelah. Beberapa kali ,Jendra menguap dan tidak fokus. Beruntung dia sampai di bandara dengan selamat, dan akhirnya kembali ke Surabaya dengan penerbangan khusus.
Selama di dalam pesawat, Jendra hanya tertidur, hingga sampai di bandara Juanda Surabaya. Jendra segera melajukan mobilnya yang berada di parkiran bandara menuju rumah sakit.
Sampai di depan ruang informasi, Jendra menanyakan tentang Indira. Perawat di sana mengatakan jika Indira sudah berada di kamar pasien lantai tiga. Tidak menunggu waktu lama, Jendra segera menemui wanita itu.
Ceklek
Jendra masuk tanpa mengetuk pintu itu, dan di sana seorang perawat sedang membantu Indira untuk menyusui bayinya.
"Selamat ,Tuan Jendra. Anak anda seorang bayi laki-laki yang tampan," ujar perawat itu.
Jendra tersenyum mendengar ucapan sang perawat, lalu ia mendekati Indira dan bertanya mengenai tes yang akan dilakukannya. Jendra juga memanggil seorang dokter untuk melakukan tes DNA pada bayi itu.
Setelah kedatangan dokter, Indira hanya bisa pasrah pada perjanjian yang sudah mereka sepakati. Bayi laki-laki itu diambil contoh darahnya untuk melakukan tes DNA. Begitu juga dengan Jendra yang diambil darahnya.
"Sudah ,Tuan. Saya permisi dulu, kami akan memberitahu hasilnya secepat mungkin," jelas Dokter.
"Baik. Terima kasih, Dok."
Kemudian, hanya Jendra dan Indira yang berada di sana. Mereka kini membicarakan mengenai perjanjian yang Jendra buat.
"Gimana? Udah baikan apa masih lemes?" tanya Jendra.
"Udah mendingan, tadi juga udah makan," terang Indira.
"Syukurlah. Aku mau bahas soal perjanjian itu," ujar Jendra.
"Iya, kamu mau bahas yang apa? Kan hasil tes belum keluar," ujar Indira.
"Iya, gapapa. Aku percaya sama kamu, karena selama kita berhubungan, aku gak lihat kamu menjalin hubungan dengan lelaki lain," ujar Jendra.
"Jadi?"
"Kamu mau pilih rumah yang di mana? Mobil apa?" tanya Jendra.
"Aku mau rumah yang di Ciputra, mobilnya mending yang mini cooper aja."
"Oke, setelah hasil keluar, aku kasih kunci rumah dan juga mobil buat kamu. Terus ada satu babysitter yang bantu kamu nanti. Ada satu asisten rumah juga buat bantu di rumah, semua aku yang bayar, kamu butuh supir apa gak?" tanya Jendra.
"Gak perlu, aku pake mobil sendiri aja."
"Oke. Terus untuk uang bulanan akan aku transfer setiap bulan di tanggal satu. Dan aku gak akan kasih lagi dalam bulan itu kalau kamu habisin! Untuk selebihnya ,kamu bisa cari uang sendiri, kamu bebas mau ngapain aja ,berhubungan dengan siapa aja. Asal setiap aku bilang ke rumah dan aku ingin ketemu sama anakku, kamu harus siap antar dia," jelas Jendra sekali lagi.
"Iya. Aku paham."
"Satu kali aja kamu bilang kalau sedang sibuk atau tidak bisa mengantar anak itu di hadapanku, semua fasilitas dan apapun yang kamu dapat dari aku, langsung aku ambil. Dan aku juga akan lepas perjanjian itu, aku juga akan ambil alih hak asuh anak dari kamu."
"Oke, aku ngerti. Kamu mau kasih nama ke anak kita?" tanya Indira.
Jendra terlihat berpikir untuk beberapa saat, lalu akhirnya dia menyebutkan nama anak yang beru saja hadir di kehidupannya itu.
"Herjuno Dzaky Krisnanda," ucap Jendra.
"Kamu kasih nama aku? Kenapa gak kamu kasih nama keluarga kamu?" tanya Indira.
"Aku gak perlu jelasin. Kamu mau terima apa gak?"
"Oke, aku terima. Namanya bagus."
Indira terlihat terdiam beberapa saat, lalu keheningan itu terpecahkan karena tangisan Juno. Jendra yang mendengar tangisan itu akhirnya mendekati box bayi yang ada di sudut kamar. Perlahan, Jendra menggendong bayi itu dan menimangnya perlahan.
"Kamu kok bisa sih? Aku aja masih gak berani tadi," ujar Indira.
"Aku sering ketemu anak temen, dan mereka selalu menempel sama aku," jelas Jendra.
Indira nampak senang melihat Jendra yang menerima bayi itu dengan kasih sayang. Kini dia hanya menunggu hasil tes DNA yang akan menyatakan jika Juno adalah anak kandung Jendra.
***
Setelah tiga hari di rawat, dan hasil tes itu keluar. Akhirnya Indira pulang menuju rumah barunya. Jendra mengantarkan Indira hingga sampai di rumah yang berada di kawasan Ciputra Land, Surabaya.
Mobil Range Rover hitam itu berhenti di depan sebuah rumah besar dengan gaya modern. Halaman yang cukup luas bahkan bisa digunakan sebegai lapangan basket, membuat senyum Indira mengembang. Saat mereka turun dari dalam mobil, seorang wanita paruh baya menghampiri mereka dan membantu untuk membawakan barang-barangnya. Tidak hanya itu, seorang wanita lainnya yang usianya sudah cukup berpengalaman dengan anak bayi datang untuk meraih bayi itu dan membawanya ke dalam kamar.
Ya, rumah itu memiliki banyak ruang kamar. Dan kamar Indira dengan Juno terpisah. Jendra masuk ke dalam rumah dan memberikan kunci mobil yang ada di dalam garasi. Sebuah Mini Cooper berwarna putih sudah terparkir di dalam garasi rumah.
"Terima kasih."
"Jadwal aku ketemu Juno hari senin, kalau pas sibuk hari minggu aku hubungin kamu buat kasih tau kapan ketemunya," jelas Jendra.
"Oke."
"Uang bulanan yang aku kasih itu buat makan dan beberapa kebutuhan, kalau untuk s**u dan popok Juno, aku ada anggaran sendiri, setiap mau habis kamu telepon aku, nanti aku sendiri yang beli."
"Oke."
Setelah menjelaskan hal itu pada Indira, akhirnya Jendra memutuskan untuk pulang. Ya, Jendra tidak akan tinggal atau menginap di sana, karena pekerjaannya berada di rumah.
Suara dering telepon Jendra terdengar begitu kencang, Railo sedang menghubunginya. dan Jendra langsung menghubungkan sambungan telepon itu.
"Hmm?"
"Mas, dimana?" tanya Railo dari seberang.
"Di jalan, mau pulang. Kenapa?"
"Mas, bisa mampir ke jalan Ahmad Yani gak? di depan Kaefsi ya?"
"Mobil kamu kenapa?"
"Mogok ... hehehe."
"Kebiasaan. Ya udah sebentar."
Jendra berdecak kesal mendengar keluhan Railo, karena kecerobohan itu membuat dirinya selalu membantu lelaki keturunan China itu. Jendra memutar kemudinya untuk menuju alamat yang dimaksud oleh Railo. Dalam waktu lima belas menit, akhirnya Jendra sampai di sana.
"Belum kamu benerin dari kemarin?" tanya Jendra.
"Gak sempet."
"Alasan terus, lama-lama aku suruh Papa kamu jual semua mobil yang ada nih!"
"Jangan dong ,Mas. Kasihan aku."
"Aku justru kasihan sama mobilnya karena punya pemilik seperti kamu!" celetuk Jendra.
Akhirnya Railo masuk ke dalam mobil Jendra dan pergi dari sana. Sementara itu, Railo sudah menyuruh orang untuk mengambil mobil itu dan di bawa ke bengkel.
Selama perjalanan kembali ke rumah yang berada di Pakuwon, Railo terus menggerutu mengenai pacarnya yang berselingkuh.
"Gak habis pikir, padahal selingkuhannya cuma menang tampang aja loh ,Mas! Sama aku juga ... masih kaya aku lah!" gerutu Railo.
"Ya itu masalahmu!"
"Hah? Masalah? Yang mana?"
"Kamu punya uang kenapa gak operasi aja jadi ganteng ,kayak selingkuhan pacar kamu!" cetus Jendra.
"Itu berarti aku gak hargai ciptaan Tuhan dong!"
"Dengan kamu mengeluh tadi, sama aja kamu itu gak mensyukuri sama apa yang kamu punya."
"Hmm, iya ya? Kenapa aku jadi oneng gini sih!"
"Bukannya kamu udah oneng dari lahir?"
"Hish ... kalo ngomong suka fitnah."
Jendra hanya tersenyum kecil menanggapi Railo yang sudah seperti adiknya sendiri itu. Sampai di rumah Jendra, Railo langsung menuju dapur untuk mencari camilan di sana.
"Nyari apa?" tanya Jendra.
"Makanan ,Mas."
"Gak ada, aku aja tadi makan di luar."
Railo menepuk dahinya dengan keras, perutnya sudah terasa sangat lapar saat ini.
"Kamu juga aneh! Punya restoran tapi kelaperan!" celetuk Jendra.
"Ya udah deh, aku pesen online aja."
"Nah lebih aneh lagi, punya restoran tapi beli di restoran lainnya."
"Biarin, suka-suka aku lah!"
"Jawaban paling b**o yang pernah aku denger," celetuk Jendra lagi.
"Mas demen banget begoin aku."
"Emang b**o, gimana dong?"
Railo yang mulai kesal akhirnya tidak menggubris Jendra. Lelaki itu memilih duduk di ruang santai dan berkutat dengan ponsel miliknya.