Part 5

1364 Kata
Di dalam kamar, Jendra masih terus memompa tubuh wanita itu hingga sudah beberapa kali wanita itu mendapatkan pelepasan. "Ahhh, yes ... Jendra, punya kamu enak ...." "Kamu juga ... aahh, sempit." Puas dengan posisinya itu, Jendra membalikkan tubuh wanita itu hingga menungging. Jendra kembali memasukkan kejantanannya ke dalam liang senggama itu melalui belakang. "Aahh ... enak ... teruss," desah wanita itu lagi. Jendra memompa tubuh wanita itu dengan gerakan yang cepat, hingga tubuhnya menegang dan akhirnya ia mengeluarkan cairan putih kentalnya di dalam liang senggama itu.  "Mandi dulu, nanti lagi. Jangan keluar dari kamar sebelum aku suruh! Dan jangan pakai baju sebelum aku yang bilang pakai!" ujar Jendra dengan tegas. Wanita itu tersenyum dan mengangguk mengerti. Keduanya mandi bersama di dalam kamar mandi yang tersedia di sana. Jendra dengan lembut menyentuh tubuh wanita itu, membantunya membersihkan, dan menyeka bagian intim kewanitaannya. "Jendra, aku mau beli beberapa tas brand terbaru, ehm ... ." "Iya, beli aja, nanti aku transfer uangnya," jawab Jendra sebelum wanita itu melanjutkan ucapannya. "Makasih," ucap wanita itu dengan senyum bahagianya. Setelah selesai dengan kegiatan mereka, keduanya keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk. Jendra mengenakan pakaiannya lalu keluar dari kamar itu. Sementara wanita itu tidak diperbolehkan untuk keluar dari kamar sampai Jendra kembali. Mata Jendra menyusuri setiap sudut ruangan , dia tidak bisa menemukan Azka dengan Trishia. Merasa kesal dengan kedua temannya itu, Jendra memutuskan untuk kembali ke kamar. "Kok udah balik,Dra?" tanya wanita itu. "Kita keluar, aku mau makan ,laper." Wanita itu segera mengenakan pakaiannya, lalu mereka pergi bersama menuju sebuah mall yang ada di dekat rumah.  "Habis makan ,kamu langsung pulang aja. Aku mau ke rumah mama soalnya," ujar Jendra. "Iya." Saat mobil terparkir di basement , keduanya keluar dari mobil dan berjalan menuju sebuah restoran dengan menu makanan khas China.  "Katanya kamu mau ke luar negeri? Gak mau gitu ngajakin aku?" tanya Wanita itu. Jendra terdiam, lelaki itu memang tidak mengingat nama wanita yang tidur dengan dirinya. Ingin sekali menyebut nama, tetapi apa daya ingatannya hanya seputar bisnis dan juga instansi.  "Halo? Jendra, kok diem?" "Hmm, aku ke luar negeri untuk kerja bukan main atau liburan, dan aku memang gak pernah ngajak pasangan kalo kemana-mana." "Oke deh," ucap wanita itu kecewa. Jendra sudah memesan makanannya, dia duduk bersama wanita itu di sudut restoran. Tentu saja lelaki itu ingin menghindar dari orang-orang yang mengenalinya. Setelah pesanan datang, Jendra memakan hidangan itu dengan segera. Beberapa suapan sendok masuk ke dalam mulut Jendra, lalu dia ingat jika ada Azka dan Trishia di kantor. Jendra melambaikan tangan untuk memanggil seorang waitress.  "Saya pesan untuk dibawa pulang ya, dua nasi goreng kepiting," ujar Jendra pada waitress itu. "Baik. Mohon ditunggu." Jendra melanjutkan kegiatannya , lalu setelah seluruh hidangan itu habis tak tersisa. Jendra segera membayar dan mengambil makanan yang dibawa pulang. Mereka berpisah di depan restoran dengan arah yang berbeda. *** Jendra melihat Azka dan Trishia sedang duduk sibuk dengan ponsel masing-masing. Jendra memberikan bungkusan makanan yang dia beli di restoran beberapa waktu lalu.  "Makan nih, pasti laper kan?" ujar Jendra dan di tanggapi dengan senyuman oleh Azka. "Mas Jendra tau aja kalo lagi nungguin beginian, hahaha," sahut Trishia. "Tau dong, muka kalian kan muka orang yang penuh harapan gratisan," celetuk Jendra dengan tersenyum kecil. "Hahaha, kejamnya ,Mas Jendra ... kalo gak gitu, kita gak akan rajin ke sini ,Mas," tambah Azka. "Hmm." Jendra berlalu begitu saja setelah meletakkan makanan di atas meja. Dia masuk ke dalam kamar untuk mengambil laptopnya, dan kembali lagi ke ruang kantor. "Mas, Railo gak balik?" tanya Azka. "Masalah terus, kalo bisa jangan balik! Ngerepotin aku aja," celetuk Jendra. "Lah ... hahaha, memang Mas Railo ngapain?" sahut Trishia. "Biasa, bawa-bawa aku buat ketemuan sama pacarnya," jawab Jendra dengan kesal. Tidak lama kemudian terdengar suara Railo yang menggema di lantai satu. "Salah tadi kita bahas Railo," ujar Jendra. "Hahaha, panjang umur ya ... baru juga di omongin, udah nongol aja manusianya," tambah Azka. "Emang dasar Railo itu keturunan demit, jadi kalau ada yang bahas dia pasti langsung nongol," ujar Jendra. "Halo semuanya ... pada ngomongin aku ya?" ujar Railo dengan penuh percaya diri. "Gak ada yang bahas kamu, pede banget jadi manusia," celetuk Jendra. Railo tertawa keras mendengar perkataan Jendra. Dia berjalan mendekati Jendra lalu duduk tepat di sampingnya. Railo membawa beberapa berkas dari ayahnya untuk diberikan pada Jendra.  "Mas, itu dari Papa. Katanya perlu diperiksa ulang," ujar Railo. "Hmm, ya." "Gitu doang?" "Terus kamu maunya gimana?" "Ya kali dikasih apa gitu, ongkos kirim atau ongkos taksi," celetuk Railo. "Owh." Jendra mengambil dompetnya lalu mengeluarkan selembar uang dan diberikan pada Railo. Railo yang menerima uang itu hanya terdiam tidak dapat berkomentar. "Mas, gak salah keluarin? Tumben ada uang ginian di dompet?" ujar Railo kemudian. "Kalo gak mau ,aku masukin lagi. Lumayan kan daripada gak sama sekali," jawab Jendra dengan santai. Lelaki itu masih berkutat dengan laptop tanpa melihat Railo saat berbicara. Sementara Azka dan Trishia sudah tertawa keras melihat Railo yang mendapat perlakuan seperti itu dari Jendra. "Mas, anak pertama kapan lahir?" tanya Azka. "Kamu mau daftar jadi pengasuh?" sahut Jendra. "Hahaha, mampus," timpal Railo. "Cuma nanya ,Mas." "Kirain mau jadi pengasuh, ya mana aku tahu. Kan bukan aku dokternya, biar jadi urusan dokter sama dia lah," ujar Jendra. "Mas, lupa nama pacar lagi?" tanya Trishia. "Hmm? Gak kok, cuma gak inget aja." Tentu saja ketiga manusia itu langsung tertawa dengan memegang bagian perut, mereka mendapatkan hiburan dengan melihat kelemahan Jendra. "Mas, berarti yang tadi juga? Mas gak pernah gitu pas gituan sebut nama?" tanya Trishia. "Ngapain disebut, yang penting masuk udah," jawab Jendra. "Astaga ... perut aku sakit, ketawa mulu," ucap Trishia. "Kalian ke sini mau kerja apa mau ngobrol?" tanya Jendra. "Kerja, Mas. Tapi kalo ada hiburan gini kan enak, gak terlalu bikin kepala berat mikirnya," ujar Azka. Setelah perbincangan itu, akhirnya mereka mulai fokus dengan pekerjaan masing-masing. Namun, tidak dengan Trishia. Gadis yang selalu tampil apa adanya itu sedang cengengesan sendiri saat melihat layar ponselnya. Ya, hanya dia yang berkutat dengan ponsel, karena laptopnya tertinggal di rumah. "Kamu kehabisan obat? Bukannya tadi habis di kasih sama Azka," celetuk Jendra. Trishia hanya tertawa, lalu memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam tas. "Mas, aku mau pergi bentar ya?" pamit Trishia. "Mau kemana? Laporan pajak sama bulanan belum selesai. Kamu mau kabur lagi?" "Gak ,Mas. Cuma mau ambil pesenan di depan," ujar Trishia. "Suruh karyawan di bawah aja." Trishia terdiam, lalu akhirnya meminta tolong pada salah satu karyawan di lantai bawah. Wajah masamnya membuat Azka dan Railo tersenyum kecil, mereka tau jika Trishia tidak bisa menolak ucapan Jendra. "Kamu pesen apa sih?" tanya Railo. "Hmm, cuma pesenan online, hmmm ... ada deh," jawab Trishia. Suasana kembali sunyi ,dan mereka mulai mengerjakan pekerjaan masing-masing.  Beberapa kali terdengar suara dering ponsel dari dalam kamar. Ponsel Jendra memang ada banyak, dan dia hanya membawa ponsel yang digunakan untuk bisnis saja.  "Mas, gak mau angkat dulu gitu? Siapa tahu penting," ujar Railo. "Gak penting, palingan juga pacar gak tau diri," celetuk Jendra. Mereka kembali terdiam, kali ini ponsel Trishia yang berdering. Seseorang sedang menghubungi Trishia, tetapi cewek itu memilih untuk mengacuhkannya. "Kenapa gak diangkat?" tanya Azka. "Gak penting." "Gak usah diangkat, orang gak penting," sahut Jendra. "Mas Jendra lagi online ya?" sela Trishia. "habisnya om-om itu gak punya akhlak juga, sudah di tolak masih aja ngejar kamu," jawab Jendra. "Loh, kamu masih hubungan sama om itu?" tanya Azka. "Hmm, udah gak pernah ketemu sih ... tapi, biasalah." Jendra melirik Trishia dari ekor matanya, lalu kembali fokus pada laptopnya. "Oke, udah selesai. Tris, coba cek email! Nanti kamu kirim balik ke aku kalau sudah keisi ya?" ujar Jendra. "Oke ,Mas." "Aku keluar dulu ya, mau pulang ke rumah Mama," pamit Jendra. "Bukannya Tante lagi di Itali ,Mas?" sahut Railo. "Iya, tapi ada nenek di sana, katanya lagi gak enak badan. Minta dianter ke Singapura," jelas Jendra. "Holang kaya mah bebas ... sakit bisa kemana aja ya ,Mas?" celetuk Railo. "Emang kamu, sakit masih aja ke puskesmas," timpal Azka. Dan ditanggapi dengan tawa lepas dari Trishia. Cewek itu memang sangat mudah tertawa, dan jarang sekali terlihat sedih di hadapan lainnya. Setelah membereskan meja kerjanya, Jendra kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil kunci mobil dan juga beberapa perlengkapannya. "Aku tinggal dulu ya?" pamit Jendra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN