Part 4

1336 Kata
Jendra baru saja sampai di bandara Juanda, ia keluar bersama Adelia hingga sampai di pintu keluar. Jendra melihat Adelia tengah menunggu seseorang untuk menjemputnya. Merasa penasaran, Jendra berjalan mendekati Adelia. "Nunggu dijemput?" tanya Jendra. "Eh, kamu ... gak sih, lagi nunggu ojol nih," jawab Adelia. "Owh, mau barengan? Aku bawa mobil," ujar Jendra. "Eh, gak perlu ... aku gak mau ngerepotin," ujar Adelia. "Santai aja kali, kalo takut bilang aja," celetuk Jendra. "Hah? Ngapain takut?" "Ya kali aja takut aku apa-apain." "Hahaha, ternyata bisa bercanda juga kamu," celetuk Adelia. Jendra hanya tersenyum melihat Adel, lalu akhirnya mereka pergi bersama menuju parkiran mobil. Sampai di parkiran, Jendra mendekati sebuah mobil Range Rover hitam, dan membuka pintunya. Saat Adelia menatap Jendra, lelaki itu mempersilakan Adelia untuk masuk ke dalam mobilnya. "Emang kita satu arah?" tanya Adelia. "Kalo gak satu arah, gak mungkin kau tawarin tumpangan buat kamu," ujar jendra. "Hehehe, maaf deh." Akhirnya Jendra menginjak pedal gasnya ,dan melaju menuju Puncak Marina. Ia mengantarkan Adelia hingga sampai di depan lobby apartemen. Mereka juga sempat bertukar nomor telepon agar dapat saling berhubungan setelah ini. "Aku balik dulu," pamit Jendra. "Makasih ya?" "Oke." *** Jendra sedang melakukan rapat bersama Azka rekan bisnisnya di kantor. Mereka tengah membahas sebuah perencanaan kerja untuk bulan berikutnya. Tidak lama kemudian, Trishia datang dan langsung naik ke lantai dua tempat rapat itu diadakan. "Jam berapa ini?" tanya Jendra dengan tegas. "Aku naik ojek ,Mas. Gak bisa sampek cepet, apalagi dari depan sana ojek gak bisa masuk ke sini! akhirnya kau jalan kaki deh," terang Trishia. "Hm ... duduk!" Trishia menghela napas lega, dan akhirnya duduk di samping Azka. Jendra memulai rapat itu tanpa Railo karena cowok itu masih berada di Jakarta.  "Jadi ini semua laporan bulan kemarin, kalian bisa periksa hasil penjualan masing-masing barang, terus di sana juga dijelaskan soal perhitungan royalti untuk kalian," jelas Jendra pada keduanya. Azka dan Trishia mengangguk mengerti, lalu Jendra melanjutkan kalimatnya dengan rentetan rencana bulan berikutnya.  "Sudah paham belum?" tanya Jendra pada keduanya. "Aku sih paham ,Mas. Gak tau kalo Trishia, dia kan sedikit lola," celetuk Azka. "Mas, aku langsung tanda tangan? Atau harus gimana lagi?" tanya Trishia. "Tuh kan ... hahahha," tawa Azka. "Kamu mengerti apa tidak dengan penjelasan saya?" tanya Jendra dengan nada tertahan. "Hmm, kalo aku jawab jujur nanti Mas Jendra bakal marah, aku takut," ujar Trishia dengan jujur. "Astaga! Sabar ... sabar ...." "Orang sabar makin subur, Mas," sahut Azka yang akhirnya mendapatkan tatapan tajam dari Jendra. "Mas, mending yang punya aku semua Mas Jendra aja yang urus, aku gak begitu paham soal bisnis," jelas Trishia. "Makannya belajar, Tris ... Apa Azka gak ajarin kamu soal ini semua?" tanya Jendra memastikan. Azka membulatkan matanya, lalu berkata jika ia sudah berusaha semampunya untuk menjelaskan pada Trishia mengenai bisnis yang akan ia jalankan. Trishia akhirnya hanya bisa terdiam dan menunduk malu. "Ya udah, kamu belajar pelan-pelan aja. Nanti kalau mau bisa kesini buat tanya-tanya ke aku atau lainnya," ujar Jendra. "Iya, Mas Jendra." Jendra menutup rapat itu setelah memberikan hasil laporan bulanan pada keduanya. Lalu saat ia akan meminjam kartu tanda penduduk milik Trishia, cewek itu memberitahu jika kartu pengenalnya berada di pos satpam. Mendengar penuturan Trishia, Jendra sedikit kesal dengan anak cewek itu. "Ikut aku!" ujar Jendra sembari menarik tangan Trishia. Mereka menggunakan motor menuju pos jaga. Di sana Jendra menemui dua security yang sedang berjaga. "Mas Jendra, ada apa?" tanya seorang penjaga. "Kartu pengenal anak ini mana, pak?" tanya Jendra. "Disini, Mas. Kenapa?" "Kembalikan sekarang!" "Loh ,gak bisa  ... kan sudah peraturannya kalau tamu harus meninggalkan kartu pengenal," jelas penjaga. "Bapak nggak kenal ini siapa?" tanya Jendra dengan kesal. "Tamunya, Mas Jendra kan?" "Dia ini pemilik rumah yang ada di damping rumah saya!" "Mbak Trishia?" "Iya ,Pak. Saya Trishia," ucapnya. "Kenapa gak bilang sih mbak?" "Tadi mau bilang tapi bapak maksa buat saya kasih tanda pengenal," ujar Trishia. "Makannya ,Pak. Jangan lihat penampilannya saja!" Jendra yang sudah kesal menarik tangan Trishia untuk naik ke atas motor dan pergi dari sana. Sementara itu, kedua penjaga pos menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung. Trishia memang hanya mengenakan kaos dan celana panjang jeans, lalu ia hanya menggunakan alas kaki yang sangat usang. Sehingga kedua penjaga pos mengira jika Trishia termasuk tamu di sana. "Mas, makasih ya?" ucap Trishia. "Hmm, jangan diem aja kalo digituin!" "Iya ,Mas." Sampai di rumah, Jendra naik ke atas untuk mengambil ponselnya yang berada di dalam kamar. Ya, cowok itu kini terlihat sibuk membalas beberapa pesan penting dari koleganya. KLING Sebuah pesan masuk dari Azka. 'Mas, ada cewek yang nyariin.' Read. Jendra turun ke lantai satu dan melihat siapa yang datang, setelah tahu ia menyuruh wnaita itu naik ke lantai dua, tepatnya di sebuah kamar tamu. Sementara itu, Azka tersenyum melihat Jendra yang mengikuti langkah wanita yang menuju lantai dua. "Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Trishia. "Mau lihat yang seru gak?" "Apaan?" Azka menarik tangan Trishia hingga sampai di lantai dua. Azka duduk di sofa santai yang tersedia di sana. Sementara itu, di dalam kamar. Jendra sudah melepaskan seluruh pakaiannya, begitu juga dengan wanita yang ia sewa hari ini. Jendra menindih tubuh wanita itu, lalu memainkan puncak dadanya dengan menyusu seperti bayi. "Aahh ... Jendra ... aahh," desah wanita itu. Tangan Jendra membelai tubuh wanita itu hingga berhenti dibagian intim kewanitaannya. Jarinya mengusap perlahan, dan sesekali satu jari itu keluar-masuk di dalam liang senggama itu. Gerakan itu membuat tubuh wanita itu menggelinjang karena geli.  "Aahh ... lebih dalam ... yes ...." Jendra menyusu secara bergantian pada dua gundukan kenyal itu. Sementara mata Jendra dan wanita itu tertutup agar lebih menikmati kegiatan panasnya. "Aahh, lebih cepat ...." Jendra menggerakkan jarinya dengan cepat, hingga liang itu terasa begitu basah. Desahan wanita itu menggema di kamar, dengan tubuh yang kini sudah basah karena keringat. "Aaahhhh ...." Desahan panjang wanita itu menandakan bahwa dia telah mendapatkan pelepasannya. Setelah itu, Jendra mengubah posisinya dengan tubuh yang setengah berdiri. Perlahan Jendra menggesekkan kejantananya pada area intim wanita itu. "Aahh ... Jendra ... masukin," desah wanita itu yang sudah tidak tahan lagi dengan permainan Jendra. "Aaahhh," desah Jendra saat miliknya sudah masuk sepenuhnya. Dengan gerakan perlahan, Jendra bergerak memompa tubuh wanita di hadapannya. Kenikmatan yang tengah mereka rasakan membuat keduanya memejamkan mata.  Sementara itu, di depan kamar Jendra. Azka sedang mengintip dari lubang pintu. Ia tengah menahan dirinya saat melihat aksi yang Jendra lakukan pada wanita bayarannya. "Az ... ngapain sih?" tanya Trishia. "Sssttt ... jangan kenceng-kenceng kalo ngomong, nanti Mas Jendra denger," ujar Azka dengan suara lirih. Trishia mengerutkan dahinya lalu sedikit mendorong tubuh Azka, kini gilirannya yang melihat apa yang dilakukan Jendra di dalam kamar itu. Setelah mengetahui hal itu, Trishia berlari menuju sofa yang berada di ruang tamu. Trishia mengatur napasnya agar tidak membuatnya sesak napas. "Astaga! Apa itu tadi?" gumam Trishia. "Hahaha, apaan sih kamu itu. Kayak gak pernah aja!" sahut Azka. "Kamu juga ngapain sih? Orang lagi begituan diliatin." "Kan aku cuma mau liat live streaming aja," celetuk Azka. "Gila kamu! Kalo Mas Jendra tahu gimana?" "Dia tahu kok. Hehehe." Azka duduk di samping Trishia dengan menarik tubuh cewek itu ke dalam pelukannya. Trishia yang terkejut terlihat memejamkan matanya rapat saat wajah mereka saling berhadapan. "Azka ... mau ngapain?" tanya Trishia. Azka tidak menjawab Trishia, ia justru melumat bibir cewek itu dengan lembut. Hanya beberapa detik lalu Azka melepaskan tubuh Trishia. "Aku kangen sama kamu. Beberapa hari ini kamu susah dihubungin, kenapa?" tanya Azka. "Hmm, a-aku sibuk." "Kerumahku yuk?" ajak Azka. "Ngapain?" tanya Trishia. "Main, kayak dulu ...." "Ta-tapi ... kamu kan udah punya pasangan, Az." "Aku udah berkali-kali bilang, kalo di sini aku tuh single!" "Dasar!" Azka menarik tangan Trishia, lalu membawanya pergi menuju rumahnya yang berada di sisi kanan rumah Jendra. Di dalam kamar, Jendra masih terus memompa tubuh wanita itu hingga sudah beberapa kali wanita itu mendapatkan pelepasan. "Ahhh, yes ... Jendra, punya kamu enak ...." "Kamu juga ... aahh, sempit." Puas dengan posisinya itu, Jendra membalikkan tubuh wanita itu hingga menungging. Jendra kembali memasukkan kejantanannya ke dalam liang senggama itu melalui belakang. "Aahh ... enak ... teruss," desah wanita itu lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN