Kematian di Hotel

1008 Kata
"Makasih yah pak, sudah mau membantu aku dan keluarga aku." ujar Hendri "Ini sudah jadi tanggung jawab kita pak, Kalau gitu kami pergi dulu yah, pak, buk. Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk memanggil kita." ujar petugas. tersebut dengan tersenyum ke arah Sindi dan Hendri Mereka bertiga pun masuk kedalam setelah kedua petugas tersebut pergi. meninggalkan mereka berdua. Mereka segera meletakkan barang milik mereka dan tidur di kasur mereka yang baru. "Semoga nih kamar nggak kayak kamar kita kemarin yah pah." "Iyah, papah harap juga gitu." "Emangnya Ria nggak apa-apa tidur di sini?" tanya Ria kepada kedua orang tuanya "Apanya coba yang salah. Orang kita nggak merasa terganggu kok. Malahan kita tuh seneng bisa tidur bareng kayak gini." ujar Sindi dengan memeluk tubuh Ria Hendri pun ikut-ikutan memeluk anaknya tersebut. "Makasih yah mah, pah." ujar Ria Ria merasa nyaman berada di pelukan ayah dan mamahnya. Mereka pun menyuruh Ria untuk segera tidur. Sementara Hendri tidur di sofa. Tak berselang lama, suara jeritan wanita terdengar keras dari kamar mereka. Mereka bertiga yang mulai penasaran pun bergegas pergi keluar kamar. Semua tamu yang ada di kamar lain pun keluar semua. Mereka mencoba mencari sumber suara yang terdengar tersebut. Langkah demi langkah mereka ke depan. Suara tersebut semakin terdengar dengan Jelas. Tak lama mereka mendengar pecahan kaca dan jeritan orang yang seperti terjatuh ke luar. Mereka yang panik pun segera berlari mencari sumber suara tersebut. Hingga akhirnya mereka menemukan kamar dengan nomor 102. Jendela kamar tersebut pecah, Mereka pun melihat ke bawah. Betapa terkejutnya mereka melihat orang yang telah jatuh dengan darah yang begitu banyak di lantai hotel. Mereka pun segera turun ke bawah dan berlari ke luar hotel. Sebagian dari mereka memanggil ambulance dan polisi. "Ya ampun, kenapa dia bisa terjatuh gitu yah?" "Iyah, parah banget sih pelakunya." "Tapi di masih muda banget, sayang banget kalau harus mati dengan tragis kayak gitu." "Namanya juga takdir, kan nggak peduli dengan umur." "Iyah sih." Ria yang melihat kamar no 102 dari luar pun terlihat sosok yang tersenyum dengan puas. Dimana sosok tersebut sama dengan sosok yang meneror dirinya dan keluarganya. Mengetahui sosok tersebut, Ria segera memberitahu Sindi. Sindi pun mendangak ke atas, "Ya ampun, itu kan sosok yang meneror kita." "Lah itu mah, Saya rasa kematiannya itu nggak wajah deh mah, sampai-sampai harus menganggu semua orang yang ada di sini. Terlebih sampai membunuh gadis ini dengan kejam kayak gini." bisik Ria "Sepetinya kematian gadis ini nggak wajar deh. Kayak faktor ketersengajaan gitu kalau di pikir-pikir." ucap salah satu orang di samping Ria "Iyah, saya pikir juga gitu, Apalagi cuma di kamar 102 yang nggak ada teras kamarnya. Iya nggak sih." "Iyah yah, kasihan banget lah kalau nih gadis harus mengalami nasib yang begitu mengerikan seperti ini." ujar lainnya Ria terus saja melihat sosok tersebut yang masih puas tertawa. Dia seperti punya dendam tersendiri terhadap tamu. hotel. "Eh ya, Gua dengar-dengar tuh yah, disini tuh horor. Dulu ada kejadian cewek yang juga mengalami nasib yang sama dengan cewek ini." "Eh bisa jadi sih, orang yang membuat gadis ini kayak gini adalah hantu tuh cewek." "Bisa jadi sih, tapi kita nggak boleh lah ngomong yang tidak-tidak terlebih dahulu." Ambulance dan polisi pun berdatangan. Mereka langsung olah TKP. Ambulance segera membawa gadis tersebut. Tak lama ada boneka yang jatuh tepat di hadapan mereka semua. Semua orang pun merasa terkejut dan menoleh ke atas. Mereka melihat kamar gadis yang tewas barusan ada tulisan Help me. Semua orang yang melihat kejadian itu pun merasa merinding dan saling bertanya-tanya maksud dari ucapan help me tersebut. "Mah, Ria takut." Ria memegang tangan ibunya dengan erat "Tenang nak, mamah ada di sini. Kita harus banyak-banyak berdoa saja." ujar Sindi memegang tangan Ria "Kemarin kita datang ke sini nggak ada apa- apa yah, kenapa beberapa hari tinggal mistis nya keluar." ucap Hendri "Apa sih maksud tulisan tersebut. Help me apaan coba? tadi kan nggak ada tulisan begituan yah sebelumnya." ujar salah satu ibu "Iyah nggak ada tulisan begituan. Kenapa sekarang malah jadi kayak gitu yah?" "Iyah seram banget." Sebagian polisi pun naik dengan meneliti apa yang terjadi di kamar tersebut. Dan secara tiba-tiba salah satu dari mereka terjatuh ke dari lantai tersebut. Namun, tanganya masih bisa gantung ke bata jendela. Polisi lainnya pun turut membantu temannya yang terjatuh tersebut. Dan mereka mengalami teror di kamar tersebut. Semua benda terjatuh secara tiba-tiba. Karena merasa takut, Para polisi tersebut pun pergi meninggalkan kamar tersebut. Mereka menghimbau untuk menutup kamar nomor 102. Karena kamar tersebut bahaya jika ada yang memakainya kembali. Sebagian tamu pun, pergi dari sana. Mereka merasa takut jika harus tinggal di sana lama-lama. Begitupun dengan Ria dan keluarganya. Ia segera pergi ke kamar mereka untuk prepare dan segera pergi dari sana. "Terus kita kemana mah? ini kan sudah malam." ujar Ria "Kita cari hotel atau kost yang lain saja. Papah takut kalau terus-terusan berada di sini. Bukannya bisa tidur dengan nyenyak malah terus-terusan kepikiran yang tidak-tidak." ujar Hendri Mereka pun pergi meninggalkan hotel tersebut. Mereka mencoba mencari tempat yang tinggal dari hotel yang mereka tempati. Hingga akhirnya mereka menemukan kost kecil Mereka pun menemui pemilik kost dan segera menempati kost tersebut. Sampai di sana. mereka segera istirahat. Karena belum bisa tidur tadi. Ria pun terlenyap dalam tidurnya. Dirinya merasa kecapekan karena habis mendapat teror. Lily dan Melisa pun menemui Ria di dalam kamarnya. Terlihat Ria yang sudah tidur dengan pulas. Karena merasa tak enak untuk membangunkan Ria, akhirnya mereka pergi meninggalkan kamar Ria. "Kak, aku merasa kasihan dengan Ria dan keluarganya. Mereka seringkali mendapatkan teror dari. hantu. Padahal mereka semua orang yang baik." ujar Lily "Iyah Li, aku pikir juga gitu. Mereka semua orang baik tapi malah kena teror mulu." ucap Ria "Kenapa yah kak. Dimana pun kak Ria berada, pasti disitu ada sosok jahat yang seringkali menganggu kak Ria." "Saya juga sempat mikir seperti itu. Bisa-bisanya orang sebaik Ria harus merasakan itu semua. Nggak di sekolah, hotel, waktu cari ibu kamu, dan di manapun itu pasti ada saja kejadian yang menyakiti Dirinya." "Aku kasihan melihat kak Ria yang terus menangis menghadapi para hantu-hantu tersebut. Padahal dirinya nggak pernah mengganggu mereka."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN