Sampai di kamar Ria, Sindi melihat anaknya yang telah tergeletak. di lantai. "Ada apa ini emangnya?" tanya Sindi
"Ria pingsan karena ketakutan tan, ada hantu yang menakut-nakuti kita tadi." jawab Lily
"Iyah, waktu hantu itu muncul tepat di hadapan kita. Ria yang merasa terkejut langsung pingsan." jelas Melisa
Sindi pun berlari memanggil suaminya. Hendri pun mengangkat Ria ke tempat tidurnya.
Mereka berusaha membangunkan Ria, namun masih belum juga berhasil.
"Gimana ini pah?" tanya Sindi yang mulai khawatir dengan Ria
Tak berselang lama, Jari jemari Ria pun bergerak. Hal tersebut membuat Sindi dan Hendri merasa lega melihat pergerakan dari Ria.
"Alhamdulillah," ucap mereka berdua bersama
"Pah, mah." ujar Ria dengan pelan
"Iyah nak kami di sini. kamu mau apa?" tanya Sindi memegang kening anaknya tersebut
Hendri pun mulai mengambilkan minum untuk Ria.
"Mah, Ria takut." ujar Ria
"Kamu nggak perlu takut nak, di sini ada mamah." ucap Sindi
Hendri yang sudah kembali pun segera memberikan minuman tersebut ke Ria.
"Apa kamu sudah mendingan?" tanya Hendri kepada anaknya tersebut
Ria pun mengangguk dengan pelan.
"Emangnya apa yang terjadi sama kamu nak? Kamu kan seumur-umur nggak pernah pingsan kayak gini." ujar Hendri
"Ada hantu yang menakut-nakuti dirinya pah. Dan waktu hantu tersebut muncul menampakkan dirinya di depan Ria, Ria pingsan karena terkejut." jawab Sindi
"Hah? hantu? masa sih di sini ada hantunya." tanya Hendri
"Semua tempat pasti ada gituannya lah pah. Tapi kan beda-beda. Ada yang ganggu ada yang tidak." ucap Sindi
"Apa nggak sebaiknya Ria suruh tidur di kamar kita saja mah?" tanya Hendri yang menawarkan sebuah idenya
"Itupun kalau Ria mau pah."
Hendri pun menawarkan tawarannya tersebut kepada Ria. Dirinya berharap Ria bisa menerimanya.
Ria pun menganggukkan kepalanya dengan pelan. Hingga akhirnya, Sindi dan Hendri pun membantu dirinya untuk pergi menuju kamar mereka berdua.
Sampai di depan pintu, mereka mendengar suara perempuan yang tertawa dengan keras.
Dengan seksama mereka bertiga pun balik badan mencari sumber suara tersebut. Hingga akhirnya ada bayangan Hitam yang ada di jendela.
"Siapa sih kamu?" tanya Sindi
Tanpa menjawab, sosok hantu tersebut masih saja tertawa dengan keras. Dimana hal itu membuat Sindi dan Hendri merasa jengkel.
"Maafin kita kalau sekiranya kita menganggu kamu di sini. Tapi saya mohon jangan sakiti anak kami." ujar Sindi
Hendri memegang tangan Sindi dan memberi kode untuk segera pergi dari sana.
Mereka bertiga pun melangkah pergi dari kamar tersebut.
Sampai di depan kamar mereka, Sindi pun membuka pintu kamarnya tersebut. Betapa terkejutnya dia melihat kamarnya yang telah berantakan dan berserakan di lantai.
"Ya ampun, tadi kita pergi baik-baik yah pah? terus kenapa jadi kayak gini sih. Nggak banget tahu." ujar Sindi
"Iyha. Kenapa kayak kapal pecah kayak gini yah mah. Siapa sih yang sudah bikin kayak gini?" tanya Hendri
"Jangan-jangan hantu tersebut mah," tebak Hendri
Bayangan hitam pun melewati belakang tubuh mereka. Mereka yang merasa terkejut pun segera menoleh kebelakang. Nggak ada siapapun di sana.
Pintu kamar pun tertutup dengan Sendirinya. Mereka bertiga pun kaget dan merasa ketakutan.
"Siapa sih kamu sebenarnya?" tanya Sindi
Sindi dan Hendri pun membantu Ria untuk membaringkan tubuhnya di kasur.
Lampu yang ada di kamar mereka pun tiba-tiba mati. Hendri diam-diam. pergi keluar kamar tersebut meninggalkan Ria dan Sindi. Hendri pergi mencari petugas hotel yang bisa membantunya.
"Permisi pak," napas Hendri terengah-engah.
"Ada apa pak, kenapa bapak seperti orang yang ketakutan seperti ini. Apa ada yang bisa saya tolong?" tanya petugas tersebut
"Pak, kamar nomor 124 mengalami gangguan pak. Saya dan keluarga saya di ganggu oleh makhluk astral." jelas Hendri
Petugas tersebut pun mengajak Hendri untuk pergi ke kamarnya. Melihat kondisi yang ada di sana.
Sampai sana, Petugas segera membuka pintu kamar tersebut. Namun, masih tetap tak bisa.
Dari dalam, Suara pecahan terus saja terdengar. Hal tersebut membuat Hendri merasa cemas dengan kondisi anak dan Istrinya.
"Pak, gimana nih? di dalam masih ada anak dan istri saya." rintih Hendri
Hendri pun berusaha ikut membantu petugas tersebut membuka pintu kamarnya.
Petugas hotel segera menelepon temannya untuk membantu dirinya.
Terdengar suara teriakan Sindi dan Ria. Teriakan tersebut nyaris membuat Hendri merasa dirinya hancur.
"Pak, gimana sih ini. tolongin lah, apa kamu tega melihat keluarga saya seperti itu?" teriak Hendri kepada petugas yang ada di depannya
"Pak, saya harap bapak bisa sabar terlebih dahulu. Karena saya sendiri sudah menghubungi teman saya agar bisa membantu bapak. Jadi bapak harus tenang." ujar Petugas tersebut
"Kalau bapak ada di kondisi saya, apa bapak bisa tenang mendengar teriakan dari anak dan istri bapak yang sedang mengalami bahaya."
Tak lama, petugas lain pun datang menghampiri mereka bertiga.
"Maaf yah, saya telat datang." petugas tersebut pun langsung membandrek pintu kamar tersebut
Hingga pada akhirnya pintu tersebut terbuka. Ria dan Sindi melihat ke arah mereka dengan lemas karena di cekik oleh hantu tersebut.
Hendri dan para petugas pun membantu dengan membacakan berbagai ayat-ayat al-Quran. Agar tuh hantu bisa menghilang dan pergi dari sana.
Namun, Hantu tersebut masih juga belum pergi. Hendri dan lainnya pun mulai kebingungan menghadapi hantu tersebut.
Hantu tersebut mulai melepaskan tangan dia dari leher Sindi dan Ria.
Lampu kamar pun kembali mati dan nyala. Dan bayangan hitam terus melingkari tubuh mereka.
Ria yang bisa napas kembali pun memeluk tubuh Mamahnya di sampingnya. "Mah, Ria takut."
Hendri pun menghampiri anak dan istrinya tersebut, "Apa kalian baik-baik saja?"
Mereka berdua mengangguk dengan pelan.
"Sebaiknya kita pergi saja dari sini. Di sini sudah tidak aman lagi buat kalian tinggali." ucap salah satu petugas hotel
Hendri pun mengangguk dengan pelan. Dirinya yang dibantu oleh petugas, segera membereskan barang mereka dan segera pergi dari sana.
Ketiga mereka hendak pergi, pintu kamar hotel kembali tertutup dengan keras. Suara tawa seringkali menghiasi telinga mereka.
Mereka membaca berbagai ayat dengan berharap hantu tersebut berhenti meneror mereka. Hingga akhirnya, keadaan kembali seperti semula. Lampu di kamar tersebut sudah tidak berkedap-kedip kembali.
Segera mungkin mereka pergi dari kamar tersebut.
Sampai di luar ruangan. Hendri dan Sindi mengucapkan terima kasih kepada para petugas yang sudah membantunya tersebut. Petugas pun membantu mereka untuk mencarikan tempat yang jauh dari kamar tersebut.
Mereka bertiga pun mengikuti arah perginya kedua petugas tersebut.
Hingga mereka sampai di kamar nomor 98. Kedua petugas tersebut menyuruh mereka untuk masuk kedalam.