Ancaman Alisa

1023 Kata
Ria pun segera mematikan telephone nya tersebut. Jantungnya begitu nggak karuan melihat apa yang sudah terjadi padanya. "Ya Tuhan, bagaimana ini? apa yang harus Ria lakukan untuk menghadapi hantu tersebut. Ria merasa takut ya tuhan." Rintih Ria Ria masih belum bisa membayangkan bila liburannya telah selesai. Dimana dia harus berhadapan dengan sosok hantu yang terus meneror nya tersebut. "Ada apa kak? kenapa kakak menangis? siapa yang telah menyakiti kakak?" tanya Lily yang melihat Ria menangis "Alisa. hantu itu kembali meneror saya lewat HP. Dia mengancam aku. Dia berniat membunuh aku lebih sadis daripada satpam sekolah yang kemarin." ucap Ria "Jahat banget sih dia itu, Ingin rasanya gua gecek tuh hantu tahu nggak si. Beraninya dia mengancam kamu seperti itu." ucap Melisa yang mulai kesal Ria mulai memeluk mereka berdua. Ria tak menyangka jika di saat ia liburan harus merasakan di teror oleh Alisa. Bunyi Handphone dari Ria pun kembali terdengar. Awalnya dirinya mengira jika itu Alisa. Tertulis Nama dita yang ada di layar HP nya. Ria pun segera mengangkat telepon dari sahabatnya tersebut. "Halo dit, ada apa?" tanya Ria "Ria, gua takut. Gua takut. Tadi gua di telephohe nomor yang nggak di kenal. Dan dia bilang kalau mau membunuh gua. Karena merasa takut aku akhirnya menutup handphone aku tersebut." ujar Dita "Aku juga merasakan apa yang kamu rasakan Dit. Baru saja aku diancam sama halnya kamu. Dia merupakan Alisa, sosok hantu yang sering meneror sekolah kita." ujar Ria "Apa? serius kamu? terus kenapa dia mengancam kita yah? aku pikir nggak ada masalah deh dengan hantu tersebut. Apalagi sampai menganggu hantu tersebut." ujar Dita "Ntahlah. tapi gua ketakutan tahu nggak si. Pikiran gua terus terbayang-bayang akan ucapan dari Alisa." ujar Ria "Gua juga tahu. Aku merasa bingung dan khawatir jika harus pergi sekolah nantinya. Gua pikir dengan Liburan dan jauh dari sekolah bakal bisa jauh dari. hantu terus. Eh ternyata dugaan aku salah. Hantu tersebut malah semakin menjadi-jadi. Dengan meneror lewat telephone dan mengancam." Pesan dari Group yang tidak ada kepala sekolahnya pun mulai beramaian muncul Dimana sebagian murid dari kelas lain merasakan sama seperti apa yang Ria dan Dita alami. "Dit, ternyata bukan hanya kita yah yang di teror. Banyak murid lainnya yang merasakan sama seperti yang kita rasakan." ucap Ria yang telephonenya masih nyambung dengan Dita "Iyah yah. Gua heran deh sama hantu tersebut. Nggak ada puas-puasnya sudah menghilangkan nyawa banyak orang." "Makanya itu, gua malah jadi takut dan malas sekolah Dit. Apalagi waktu dia bilang bakal bunuh aku lebih sadis daripada satpam kemarin. Gua masih terus membayangkan soal apa yang bakal terjadi sama diri aku Dit." ujar Ria yang mulai khawatir "Kita harus banyak-banyak berdoa Ria. Dan ingat kamu jangan terlalu memikirkan hal tersebut. Ya kali masa liburan kayak gini kita stress." "Tapi susah tahu Dit buat. lupain itu semua. Andai kita dapat kepala sekolah yang tegas, bijaksana dan adil. Pasti nggak bakal kayak gini sekolah kita." "Iyah yAh Ri. Gua gedek tahu nggak sih sama kepsek kita. Nggak ada rasa empatinya sama sekali. Yang ada di pikiran dia hanya uang dan nama baik sekolahnya." "Ah sudahlah lah Dit, malas aku kalau sudah bahas kepala sekolah kita. Nggak ada sisi baiknya sumpah. Kesel gua." Mendengar Dita yang dipanggil oleh mamahnya. Dita pamitan ke Ria untuk menutup telephonenya. Lily memegang tubuh Ria dan mencoba untuk menenangkan diri Ria. "Tok... Tok... tok" suara ketukan pintu kamar Ria pun terdengar dengan keras. Ria pun segera membuka pintu kamarnya tersebut. Setelah pintu terbuka, di sana dia tak menemukan siapa-siapa. Ria merasa jika itu kerjaan orang yang iseng kepada Dirinya. Dirinya pun menutup kembali pintu kamarnya tersebut. Suara. ketukan pintu pun kembali terdengar. Ria membuka kembali. pintu kamarnya tersebut. Dan lagi-lagi dia tak menemukan siapapun di sana. "Siapa sih? iseng banget jadi orang. Ganggu orang saja." ujar Ria Ria pun sengaja tak menutup pintu kamarnya tersebut. Dirinya membiarkan pintunya tetap terbuka. Ketika Ria ingin kembali ke kasurnya. Pintu kamar pun menutup dengan sendirinya. Dan lampu kamar Ria mulai berkedap-kedip sendiri, mati dan nyala dengan sendirinya. Merasa was-was dan takut, Ria pun segera pergi berlari ke arah pintu untuk keluar. Namun, sekeras ia berusaha pintu tersebut tak mau terbuka. Hingga akhirnya Ria pulai pasrah dan nggak tahu lagi harus berbuat apa. Lily dan Melisa pun membantu Ria untuk membuka pintu kamarnya tersebut. Namun, mereka juga gagal. "Siapa sih kamu?" teriak Ria Sebuah bayangan hitam kini melewati belakang Ria dengan cepat. Ria semakin ketakutan di buatnya. "Plis jangan ganggu gua." Rintih Ria yang mulai meneteskan air matanya Ria pun mulai berdoa dengan sebisanya. "Bruak..." Sebuah vas bunga di meja jatuh. Yang tak lain adalah ulah dari hantu tersebut. "Plis, tolong hentikan semua ini. Dan kenapa kamu harus menganggu saya seperti saat ini?" Korden jendela kamar Ria terbuka. Hantu tersebut terus bermaun-main dengan Ria. Dirinya masih belum bisa untuk menunjukkan penampakan aslinya. Yang mereka lihat hanyalah bayangan - bayangan hitam yang terus saja melewati dan mengelilingi mereka bertiga. Ria pun terus berusaha untuk membuka pintu kamarnya tersebut. Dirinya ingin nyerah dengan keadaannya yang sekarang. Ria menangis dengan tersedu-sedu. Merek pun mendengar suara tawa dari perempuan tersebut. Dimana suara tawa tersebut membuat bulu tubuh Ria semakin merinding karena ketakukan. "Apa sih mau kamu? Kenapa harus menakuti saya seperti ini?" isak Ria yang makin menangis "Heh hantu, kita sama-sama hantu yah, jadi plis lah loh nggak usah pengecut jadi orang. Tampakkin wajah kamu lah." ujar Melisa yang mulai tersulut dengan emosi Hantu tersebut pun berdiri tepat di depan mata mereka bertiga. Ria yang merasa terkejut pun langsung pingsan di lantai. Melisa dan Lily pun mencoba untuk membangunkan Ria "Siapa sih kamu? sekarang kamu puas? melihat teman aku terjatuh pingsan karena ketakutan melihat kamu." ujar Melisa yang mulai menghampiri sosok yang ada di depannya Tanpa menjawab pertanyaan dari Melisa. Hantu tersebut langsung pergi meninggalkan mereka bertiga. Sementara Lily dan Melisa masih terus khawatir melihat Ria yang masih belum sadarkan diri. Melisa dan Lily berulang kali menyiramkan air ke muka Ria sedikit demi. sedikit. Namun, cara. yang mereka lakukan masih belum bisa membuat Ria sadarkan diri. Hingga akhirnya Lily pergi. menemui Sindi yang ada di kamarnya. Dan memberitahu jika anaknya pingsan. Sindi yang mendapatkan kabar tersebut pun segera mungkin pergi menemui anaknya tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN