"Kalian ini nggak menghargai ada orang tua di sini apa? kalau di omongin bukannya nurut malah ngomong terus yang nggak-nggak." marah kepala sekolah
"Bapak sendiri kan yang mulai. Andai kebijakan bapak manusiawi. kita nggak akan kayak gini pak."
"Iyah nih bapak. Apa yang terjadi mah harus pure di omongkan dan di selesaikan dengan perikemanusiaan."
"Jangan-jangan bapak nggak tahu sila yang ke dua ya."
"Masak kepala sekolah nggak tahu si sila kedua tuh ada."
"Tahu nih."
"Parah banget nggak sih"
"Kalian ini nggak bisa sopan dikit apa sama orang tua? bisa-bisanya ngomong kurang ajar kepada kepala sekolahnya sendiri." ujar bapak kepala sekolah.
"Kalau orang tua itu juga nggak bisa menghargai seseorang mah sulit pak." ujar murid lain
"Kalian tuh harusnya merasa beruntung memiliki kepala sekolah kayak bapak, yang bisa menjaga nama baik. kepala sekolah kita, bukannya malah. ngrendahin bapak seperti itu." ujar kepala sekolah
"Apa? beruntung? nggak salah baca nih aku? yakali kalau kita mati nggak dapat keadilan harus mengucapkan beruntung."
"Asal bapak tahu, kedua orang tua sering mendesak kita supaya pindah dari sekolah sana tahu nggak sih. "
"Yasudah kalian pindah saja. Asal kalian berani membayar sesuai yang ada di peraturan."
"Dasar mata duitan."
Kepala sekolah pun mengubah status yang bisa mengirim pesan dirinya sendiri.
Tak berselang lama, semua murid berbondong-bondong keluar dari group tersebut, termasuk Ria.
"Ada apa kak? kok muka kakak cemberut kayak gitu?" tanya Lily
"Kakak sebal deh sama kepala sekolah kakak, malesin saja gitu. masa iya nggak bisa adil, terus-terusan gila uang." ujar Ria
Sindi pun mengetuk pintu kamar Ria. Ria pun menyuruh Sindi agar segera masuk ke dalam kamar.
"Ada apa mah?" tanya Ria
"Mamah mau nanya sama kamu, apa kesalahan yang telah kamu lakukan sehingga mamah di panggil kepala sekolah untuk menemuinya?" tanya Sindi
"Hah, apa mah? Ria kan cuma bagian nyimak belaka cuma bales setuju doang waktu teman Ria mengeluarkan unek-uneknya."
"Emangnya kalian ngapain sih coba?"
"Kepala sekolah meminta agar semua murid turut membantu menghapus dan menyebar luaskan jika berita yang kemarin sempat viral hanyalah omong kosong doang. Sebuah fiktif belaka."
"Dengan bukti sebanyak itu masih di bilang hanya bohongan? Emang dia pikir semua manusia nggak punya otak seperti dia apa? heran gua."
"Nggak tahu lah mah, gua kesel. Ini saja semua siswa keluar group."
"Tapi mamah setuju sih dengan apa yang kalian lakukan selama ini. Ya sudah mamah mau kembali. ke kamar mamah. Tadi mamah pikir kamu melakukan kesalahan fatal."
"Nggak lah mamah, masak anak mamah yang baik ini melakukan perbuatan tercela. Kan nggak masuk akal." ujar Ria tersenyum ke arah Sindi
Sindi pun tersenyum dan mengelus rambut Ria, "Iyah deh, anak mamah ini mah baiknya nurun mamah."
Sindi pun keluar dari kamar Ria dan kembali menemui suaminya tersebut.
"Ria melakukan kesalahan apa emangnya?" tanya hendri kepada istrinya yang baru kembali
"Nggak kok, kepala sekolahnya saja yang nggak nerima kalau murid-muridnya melakukan demo atas kebijakan yang dirinya berikan."
"Kebijakan apa sih mah emangnya? Kok papah nggak tahu apa-apa."
"Kebijakan itu loh pah, soal berita yang lagi viral soal kematian satpam sekolah. Kepala sekolah seakan tutup mata dan dengan mudah menyuruh semua media menutup berita tersebut dan menyebarkan jika isu itu tidaklah benar adanya." jelas Sindi
"Jahat banget sih kalau gitu. Kenapa nggak kita keluarkan Ria dari sana saja sih mah? aku nggak rela deh kalau Ria sekolah di sana." ucap Hendri
"Tapi kita juga nggak bisa apa-apa yah. kamu tahu nggak berapa uang yang harus kita bayar untuk membayar itu semua?"
"Hah? masak dengan pindah sekolah kita harus bayar juga sih?" tanya Hendri yang tak percaya
"Gua saja nggak percaya sama kebijakan kepala sekolah nya. Nggak ada kasihan sana sekali itu sama manusia."
"Emang berapa sih mah yang harus kita bayar untuk memindahkan Ria dari sekolah bangst tersebut?"
"Lima puluh juta pah." jawab Sindi
"Apa? banyak banget sih nominal yang harus di keluarkan. Padahal kan cuma pindah doang."
"Makanya itu gua gregetan. Dan menyuruh Ria untuk tetap hati-hati karena aku sendiri juga khawatir dengan keadaaan anak kita. Tapi, disisi lain aku juga tak memiliki uang untuk memindahkan Ria ke sekolah lain." ucap Sindi yang duduk dengan memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Gimana nih mah? aku nggak mau Ria itu kenapa-napa. Papah takut hal yang tidak diinginkan terjadi pada Ria."
Sindi pun menutup mulut Hendri dengan kedua tangannya. "Pah, plis jangan ngomong yang aneh-aneh. ingat omongan itu adalah doa. jangan sampai omongan tersebut menjadi boomerang kepada kita sendiri."
Disisi lain, Ria. keluar di teras kamarnya. Dia melihat pemandangan dari atas kamarnya tersebut.
"Alisa. saya harap bisa mengetahui secara rinci tentang kamu." gerutu Ria
"Kakak tenang saja yah. Saya dan kak melisa siap kok buat membantu kakak kok" ujar Lily yang tersenyum manis kepada Ria
Ria pun memegang pundak Lily dan tersenyum. Ria berharap rencana mereka bertiga bisa membuahkan hasil sesuai dengan apa yang Ria harapkan.
Tit... tit... Suara handphone dari HP Ria pun berbunyi dengan keras. Ria pun mulai masuk ke dalam untuk mengambil HPnya yang ada di meja sebelah tempat tidurnya.
"Kapan kamu akan datang?" terdengar suara tersebut masih asing di telinga Ria
"Kamu siapa?" tanya Ria yang penasaran dengan sosok yang memanggilnya tersebut
"Apa kamu sudah lupa dengan saya? padahal setiap kali kamu sekolah kamu pasti melihat saya." ujarnya
Ria pun semakin kebingungan dengan perkataan sosok tersebut.
Terdengar suara tawa dari orang yang menelepon Ria. Ria semakin ketakutan dan khawatir dibuatnya.
"Siapa sih kamu? dan ada tujuan apa kamu menelepon saya?" tanya Ria yang semakin penasaran
"Apa kamu tahu? kalau aku begitu kangen melihat wajah kamu? Serasa aku ingin cepat untuk membunuhmu. Apa kamu sudah melihat satpam yang sudah tewas? dia meninggal dengan mengenaskan bukan. Kamu dan semua murid beserta guru lainnya akan ku buat jauh lebih mengerikan di bandingkan dengan itu." ujarnya
"Alisa? apa kamu Alisa?"
Sosok tersebut pun tertawa dengan keras, "Iyah, aku Alisa. Kenapa? kamu sudah ingat kah dengan aku?"
"Kamu kenapa sih terus menganggu aku. Apa salah gua sama kamu. Gua nggak ada hubungannya ya dengan kematian kamu."
"Apa kamu ingat dengan gadis yang waktu itu kamu berhasil menolongnya? Saya masih dendam sama kamu hal itu. Andai kamu nggak ada di sana. Pasti dia sudah lenyap. Gara-gara kamu, gua nggak bisa membunuhnya karena murid tersebut sudah tidak berada lagi di sekolah sana." ucap Alisa