"Iyah nggak tega mah, tapi anak kita ini kan juga salah karena nggak bilang dulu sama kita." ujar Hendri
"Ya udah papah dan mamah mau hukum Ria apa? Ria siap kok melakukannya." ujar Ria
"Ya sudah kamu harus bersihin kamar mamah dan papah sekaligus kamar kamu yang berserakan ini!" perintah Hendri kepada Ria
"Ria pun mengangguk pelan dan segera melaksanakan tugas yang diberikan oleh ayahnya tersebut. Ria memulai hukuman tersebut dari kamar kedua orang tuanya. Hendri dan Sindi pun mengawasi Ria dengan tersenyum. Mereka ingin anaknya tersebut tumbuh dengan apa yang mereka harapkan selama ini.
Setelah selesai menyelesaikan hukumannya di kamar Hendri dan Sindi. Ria pun menuju kamarnya untuk mengerjakan sebagian hukumannya lagi.
Kali ini Hendri dan Sindi tidak mengawasi Ria dalam melakukan hukumannya tersebut. Meskipun begitu, Ria tetap melaksanakan hukuman yang ayahnya berikan dengan hati yang senang.
"Maafin Lily yah Kak, gara-gara Lily kakak harus mendapatkan hukuman seperti ini. Lily benar-benar minta maaf ya kak." ujar Lily
"Nggak apa-apa kok, emangnya kamu melihat muka kakak marah? kakak malah suka di kasih hukuman bersih-bersih sama kedua orang tua kakak." jawab Ria
"Apa kakak nggak apa-apa? Kakak beneran nggak marah sama Lily?" tanya Lily meyakinkan diri
Ria. menggelengkan kepala. Lily pun membantu Ria dalam menyelesaikan hukumannya tersebut. Dirinya merasa tak enak hati jika melihat Ria melakukan hukumannya sendiri.
Ketika Lily dan Melisa bekerja sama untuk menata spray spring bad, Ada suara orang yang masuk ke dalam. Yang tak lain adalah Hendri.
Melihat spray melayang sendiri, Hendri pun pingsan di kamar Ria. Melihat ayahnya yang pingsan, Ria segera memanggil ibunya tersebut.
"Ya ampun papah. Kok bisa sih dia pingsan emangnya kenapa?" tanya Sindi
"Dia tadi melihat spray yang melayang sendiri gitu. Kan mamah sendiri tahu papah nggak bisa melihat hantu." ujar Ria
"Hahaha, ya sudah, bantu mamah lah buat gendong papah menuju kamar mamah dan papah. "
Mereka berdua pun menggotong Hendri ke kamarnya Sindi. Tak berselang lama, Hendri pun sadarkan diri.
"RI, di kamar kamu. Di kamar kamu ada hantunya." ujar Hendri kepada Ria
"Papah salah lihat mungkin, mana ada hantu sih pah?" tanya Sindi
"Ada mah, tadi papah lihat dengan mata kepala papah sendiri kalau seprai spray band nya Ria melayang sendiri." ujar Hendri mencoba menjelaskan kepada anak dan istrinya tersebut.
"Iyah nih papah salah lihat kali. Orang Ria juga tadi nggak melihat apa-apa juga." ucap Ria
"Kalian ini di bilangin ayah kenapa pada nggak percaya sih? awas aja kalau kalian lihat sendiri. jangan lari dan mengadu ke arah ayah." ujar Hendri
"Idih papah. Kita mah berani lah nggak kayak papah yang pingsan." ujar Ria
Mereka pun tertawa bersama dengan keras. Mereka merasa puas meledek ayahnya tersebut.
"Kalian ini puas banget sih ngeledek ayah. Namanya juga kaget yah spontan pingsan. Ayah mah berani aslinya." ujar Hendri dengan sombong
ucapan Hendri tersebut membuat Ria dan Sindi spontan tertawa dengan keras.
"Ngeledek aja terus. Jahat banget yah kalian sama ayah. Kamu juga mah ikut-ikutan."
"Kita kan cuma bercanda pah, jangan diambil hati dong. Papah lucu tahu kalau lagi marah kayak gitu."
"Ah mamah,"
Ria pun pamit kembali ke kamarnya. Dia memberikan waktu untuk kedua orangnya agar bisa berduaan.
"Aku merasa salah banget deh. Tadi sudah bikin kamu dihukum terus sekarang bikin ayah kamu pingsan." ujar Lily
"Hahaha, santai saja kali. Lagi pula ayah kan juga sudah tidak apa-apa. jadi kamu nggak perlu khawatir dan merasa salah kayak gitu." ucap Ria tersenyum ke arah Lily
"Aku juga minta maaf yah sama kamu, aku juga terlibat atas pingsannya ayah kamu." ucap Melisa yang juga merasa salah
"Kalian nggak perlu merasa bersalah kayak gitu dong. Ayah aku kan baik-baik saja. Sudah lah lagi pula ini juga bukan pyur salah kalian kok. Ayah aku saja yang penakut."
perkataan Ria tersebut pun membuat Lily dan Melisa tertawa.
"Nah gitu dong kalian tertawa. Kalau kalian tertawa kayak gitu kan aku juga senang." ujar Ria
"Kamu begitu baik Ri, Andai di masa hidup kita bisa bertemu dan saling kenal. Aku pasti juga bisa merasa beruntung bisa mendapatkan teman seperti kamu." ujar Melisa
"Hahahaha, bisa saja. Aku senang kok bisa membantu kalian."
Bunyi pesan di hp Ria pun berbunyi. Ria segera membuka isi pesan tersebut. Di mana pesan tersebut dari sebuah group w******p yang terdiri dari seluruh siswa sekolah.
"Selamat Sore anak-anak, di imbau kepada seluruh murid sekolah Bina sakti supaya membantu menyelesaikan masalah sekolah kita soal pembunuhan yang sudah menyebar ke semua sosmed. Bagi yang masih memiliki foto screen shoot berita tersebut segera di hapus dan dilarang keras untuk menyebarkan isu tersebut. karena itu tidaklah benar. Satpam di temukan tewas karena sakit. Berita jika satpam tersebut di bunuh oleh hantu yang menunggu sekolah kita itu tidaklah benar." pesan dari kepala sekolah yang ada di group
"Pak, saya tidak percaya jika itu hanyalah fikti belaka. Karena saya sendiri mengetahui kejadian tersebut dengan mata kepala saya sendiri ketika melewati sekolah bina Sakti." ucap salah satu murid dari kelas IPA
"Iyah nih, bapak saya seorang polisi loh pak, kebetulan waktu di sana bapak saya juga ikut terjun ke tkp. Dimana hasil otopsi mengatakan kalau satpam tersebut meninggal dunia bukan karena sakit. Masak iya sakit darahnya sampai begitu banyaknya apa lagi di ketahui tangan dan wajahnya penuh dengan luka." balas Lainnya
"Saya tidak peduli dengan apa yang kalian katakan. Saya jauh lebih peduli dan senang jika kalian diam dengan masalah yang ada. Saya benar-benar berharap jika kalian tidak menyebarkan luas berita miring sekolah kita. Apa kalian nggak mau jika banyak orang yang merasa tertarik bisa bersekolah di sekolah yang ternama seperti kalian saat ini?" jawab Kepala sekolah
"Saya jauh lebih senang jika mereka tidak masuk ke sekolah kita pak, karena apa? karena saya masih punya pikiran dan hati nurani. Saya nggak mungkin tega jika anak baru yang tak tahu apa-apa akan jadi korban seperti kita yang merasa terjebak di sekolah ini." balas lainnya
Ria pun merasa Setuju dengan apa yang diucapkan oleh temannya tersebut. "Iyah saya setuju."
"Iyah bener tuh."
"Emangnya kamu pikir bapak nggak punya pikiran dan hati nurani?" tanya bapak kepala sekolah
"Maaf Pak, jika bapak memang memiliki hati yang nurani, bapak nggak mungkin membiarkan sebuah kematian sebagai hal yang wajar dan menyuruh semua orang melupakannya begitu saja seakan tak pernah terjadi apa-apa di sekolah kita." balas lainnya