Omongan yang menyakitkan

1021 Kata
"Apa nih gubuk tidak ditempati yah? Dari tadi nggak ada yang nyaut soalnya." ujar Ria "Kamu siapa?" tanya seorang kakek di belakang mereka "Apa kakek yang tinggal di sini?" tanya Ria "Iyah kenapa? Saya nggak. kenal sama kamu. Ada kepentingan apa kamu datang kemari?" ujar kakek tersebut dengan nada yang tinggi "Nggak kek, sebenarnya saya sedang mencari rumah seseorang. Katanya ia tinggal di daerah tengah-tengah sawah. Ria pikir ini rumah orang yang ria maksud. Ternyata rumah kakek Ria minta maaf yah kek." ujar Ria "Emangnya kamu mau mencari siapa sih sebenarnya?" tanya kakek tersebut kepada Ria "Ibu teman Ria kek, namanya Santi. Apa kakek kenal?" tanya Ria penuh harap "Santi disini kan sudah meninggal lama." Bagai petir yang menyambar hati Lily. Dirinya begitu hancur mendengarkan apa yang dikatakan oleh kakek yang ada di depannya. "Nggak, nggak mungkin ibu sudah meninggal dunia." jerit Lily Karena takut kenapa-napa dengan Lily, Ria pun mengajak mereka untuk pergi dari sana. Setelah pergi meninggalkan rumah kakek tersebut, Ria dan melisa berusaha menenangkan Lily. Dengan meyakinkan Lily bahwa orang yang dimaksud kakek tersebut bukanlah Santi ibunya Lily. Saat mereka melihat ke arah Kiri. Mereka menemukan rumah kecil di tengah-tengah sawah. Mereka membuka harapannya kembali jika di sanalah Santi tinggal. Dengan cepat mereka datang ke sana mengunjungi rumah tersebut. "tok... tok.." Ria mengetuk pintu rumah tersebut dengan keras "Iyah sebentar." ucap ibu yang ada di dalam. Setelah pintu terbuka ada seorang ibu dengan membawa bayi di depannya. "Ada apa ya? Dan siapa kamu?" tanya ibu tersebut Ria pun melihat Lily. Lily pun menggelengkan kepalanya. bahwa berarti itu bukanlah ibu Lily. "Saya Ria bu, saya datang kemari ingin mencari. rumah seseorang yang bernama santi?" "Santi? Santi sudah meninggal dunia. Asal kamu tahu. Santi yang bikin gua seperti ini. Dia telah merebut suami. aku." bentak ibu tersebut "Saya nggak tahu bu kalau soal itu. Kalau gitu saya pamit yah." ujar Ria "Sebentar deh, kamu ini siapanya Santi sebenarnya? apa kamu anaknya." ucap ibu tersebut dengan. melirik tajam ke arah Ria "Nggak bu, dia ibunya teman aku. Aku mencoba membantu mencarikan ibunya tersebut. Soalnya tiap hari teman aku. terus menangis memikirkan ibunya." "Nggak udah di pikirin lah, orang sudah mati. Lagi pula selama hidupnya tuh orang juga banyak salah di sini. Godain laki orang, jadi pemuas nafsu cowok di sini juga. Nggak punya urat malu lah pokoknya." ujar ibu tersebut "Nggak Ibu lily nggak seperti itu," teriak Lily yang tak Terima kalau ada yang menjelekkan orang tuanya. Pintu ibu tersebut pun terbanting dengan keras . Melihat tersebut, ibu itu berfikir jika yang melakukan itu semua adalah Santi. "Heh Santi. Kamu nggak Terima gua bilang gitu? kan memang itu kenyataannya. Dasar nggak tahu diri banget yah kamu." ucap Ibu tersebut Hingga akhirnya semua barang yang ada di dalam rumah ibu tersebut pun berjatuhan dan berserakan ke lantai. Melihat barang-barangnya jatuh, membuat ibu tersebut jadi marah besar. "Apa-apaan sih ini. Duh barang kesukaan aku." jerit ibu tersebut Melisa yang mendapatkan kode dari Ria pun masuk ke dalam rumah ibu tersebut untuk merayu Lily yang sedang marah tersebut. untuk pulang. Lily yang sudah merasa sakit hati pun susah untuk dikendalikan. Dirinya terus-terusan memecahkan barang yang ada di rumah tersebut. Ria pun ikut masuk dan mencoba memberi kode kepada Lily untuk segera pergi dari sana. Karena kasihan bayi yang tak berdosa tersebut terus menangis karena merasa takut dengan apa yang dilakukan Lily. Terlebih bayi itu selalu menunjuk ke arah dimana Lily berada. Dengan keadaan yang masih suci. Bayi tersebut bisa melihat makhluk halus seperti yang Ria lihat. Melihat anaknya yang terus menunjuk ke arah pojok sofa, ibu tersebut segera mengambil sapu untuk di pukul nya ke arah yang bayinya tunjuk tersebut. Hingga akhirnya pukulan keras itu pun melayang. Dan kabar baik pun datang. Melisa berhasil menyelamatkan diri Lily. Melisa pun menarik tangan Lily untuk segera pergi dari sana dan menghentikan semua kelakuan yang dia lakukan tersebut. Mereka bertiga pun pergi dari sana. Melihat Ria yang hendak pergi meninggalkan rumah tersebut. Ibu tersebut pun menahan Ria. Ia meminta Ria untuk mengganti semua barang-barangnya yang sudah hancur. "Apa salah Ria? Saya kan nggak ada kaitannya dengan ini semua." ujar Ria "Gara-gara kamu datang ke sini dan bertanya soal gadis biadab tersebut jadi membuat dia marah seperti saat ini. Dan sekarang aku ingin kamu mengganti semua kerugian yang aku alami." ujar ibu tersebut Lily pun yang mulai meredam emosi, emosinya kembali meluap. Lily mulai mendorong Santi dan menarik tangan Ria untuk segera pergi dari sana. Ibu tersebut pun berteriak-teriak kepada Ria yang telah pergi meninggalkan dirinya. "Woy, dasar anak nggak tahu diri yah kamu." teriak Ibu tersebut Ria tak memperdulikan teriakan ibu tersebut. Dirinya terus berlari. Hingga akhirnya Ria bertemu dengan tukang ojek yang telah menunggu dirinya di pinggir jalan. Tanpa menunggu lama, Ria pun berlari ke arah ojek tersebut dan segera menaiki motor. tukang ojek pun bergegas pergi mengantarkan Ria kembali ke hotelnya. Sampai di hotel, Ria segera masuk ke dalam kamarnya diam-diam karena takut ketahuan oleh kedua orangnya. Ketika sudah membuka pintu, terlihat Sindi dan Hendri sudah berdiri di hadapan Ria. Ria pun merasa terkejut sekaligus ketakutan karena waktu dia pergi dia nggak pamitan terlebih dahulu kepada kedua orangnya. "Eh ada mamah dan papah. Kalian kok ada di sini?" tanya Ria Sindi dan Hendri meletakkan kedua tangannya di pinggang bebarengan. "Darimana kamu?" tanya Hendri "Iyah, biasanya juga bilang sama kita. Tumben kali ini nggak bilang terlebih dahulu." ujar Sindi "Ria lapar lagi mah, habis nasi yang mamah berikan cuma sekepel. Kan mamah tahu sendiri kalau aku makannya banyak. Nggak cukup kalau cuma segitu." alasan Ria Ria pun memberikan kode kepada mamahnya. Dengan melirik Lily. Sindi yang mulai paham pun mengajak suaminya pergi dari sana. "Owalah, yaudah lah pah ayuk kita kembali ke kamar kita." ajak Sindi "Tapi kan mah, tujuan kita kemari buat sidang nih anak dan beri dia hukuman. Masa dengan cepat kita lepaskan begitu saja. Mau jadi apa coba dia nantinya." ujar Hendri "Udahlah pah, ayok kita pergi saja dari sini. Ria kan sudah bilang pah kalau makan. Emang papah mau kalau anak kesayangan kita ini sakit? nggak kan pah. masa Iyah papah tega sama anak kita." ujar Sindi yang mencoba merayu suaminya tersebut
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN