"Terus kemana perginya ibu Lily?" isak Lily dengan memegang tangan bapak tersebut
"Saya tak tahu pasti ibu kamu ada dimana, yang saya tahu kalian pasti bakal bertemu secepat mungkin. Jadi kamu harus sabar, ibu kamu masih begitu sayang dan merindukan kamu dan kakak kamu."
Bapak itu pun pamit dan langsung pergi meninggalkan mereka bertiga. Ekspresi Lily tak seperti pertama kali dia datang makan di cafe tersebut. Terlihat wajahnya tersenyum dengan bahagia setelah mendengar kabar jika ibunya baik-baik saja.
"Lily, apa kamu sudah merasa lega setelah mengetahui kondisi ibu kamu?" tanya Ria ke Lily
Lily mengangguk pelan, "Saya merasa begitu lega kak, dan sekarang saya malah merasa sangat bahagia setelah mendengar ibu saya baik-baik saja."
Ria dan Sindi saling bertatapan dan saling melemparkan senyuman.
"Ya sudah, habis makan kita coba cari ibu kamu lagi yah?" tawar Sindi
Lily tampak sumpriah mendengar tawaran dari Sindi, Lily dengan cepat menganggukkan kepalanya.
"Tit... tit...," bunyi telepon Sindi berdering. Sindi melihat nama orang yang memanggilnya di layar HP. Terlihat nama my husband ada di layar ponselnya tersebut. Sindi pun segera mengangkat teleponnya.
"Halo pah, ada apa?" tanya Sindi
"Mamah ada di mana bersama Ria?"
"Kita ada di jogja pah. Sabahat aku lagi sakit, jadi aku kesini bersama Ria untuk menjenguk sahabat aku itu."
"Kok nggak sama papah saja sih? kalian emangnya naik apa?"
"Bis Pah, papah kan kerja jadi nggak mau aja kalau ganggu papah."
"Kalian ada di mana emang? biar papah nyusul kesana habis kerja."
"Enggak usah pah, kita baik-baik saja kok. Besok kita akan pulang, lagipula kan besok Ria libur pah."
"Nggak-nggak, papah nggak biarin kalian sendirian di sana. Papah takut jika kalian itu kenapa-kenapa."
Sindi telah berusaha sekeras mungkin melarang Hendri untuk menyusul mereka. Namun, Hendri masih tetap untuk menyusul mereka karena khawatir dengan anak dan istrinya yang berada jauh dari halaman kampung mereka.
Selesai makan, Ria dan Sindi pun mengajak Ria untuk pergi dari sana. Mereka mencoba mencari Santi, ibu kandung Lily.
Sampai di sebuah trotoar, mereka di kejutkan oleh seorang cowok dengan memakai jaket hitam dan topi di kepalanya. Dia nampak ketakutan dan menabrak Sindi dan Ria.
"Bapak kalau jalan hati-hati dong." ucap Sindi
"Maaf-maaf," Pria tersebut mendongakkan kepalanya.
"Rio," ucap Sindi kaget setelah melihat cowok di hadapannya tersebut
"Kalian? kalian ngapain masih di sini? apa kalian masih belum puas bikin aku seperti ini? gara-gara kalian gua sekarang jadi buronan."
"Enak saja gara-gara kita. Itu mah nasib lo doang. Siapa suruh kamu nyuri. Badan masih bagus di gunain buat nyuri. Nggak kasihan apa si loh sama anak loh?"
"Buat apa kasihan sama orang yang sudah mati hah? Kalian pasti ngarang-ngarang cerita juga kan? sok-sokan tahu hantu."
"Loh nggak bisa rasain kehadiran anak loh sendiri apa. Walau dia sudah tidak bernyawa pastinya loh sebagai orang tua memiliki insting yang kuat dong seharusnya."
"Banyak omong yah loh. Loh nggak bakal tahu kehidupan Lily siapa yang nanggung."
"Berhubung loh ada disini, gua mau nanyain sesuatu sama loh."
"Apaan?"
"Dimana Santi? Lily sudah mati-matian mencari ibu kandungnya tersebut. Hatinya nyaris terluka karena takut kamu apa-apa ibunya."
"Dimana Lily? kalian ini sudah gila apa? Asal kalian tahu, Santi tuh sudah meninggal."
Santi menggelengkan kepala dengan tersenyum lebar. Dirinya tak mempercayai sedikitpun ucapan dari Rio.
"Eh Lily jika loh emang bener disini, tolong deh ya kembali ke alam kubur loh, tidur sana yang nyenyak. Ibu loh tuh dah meninggal, masa nggak ketemu ibu loh si di sana? hahahah," Rio tertawa dengan puas.
Lily yang merasa sakit hati mendorong ayahnya hingga terjatuh. Ria dan Santi mundur perlahan, merek tak ingin ikut-ikut akan dendam Lily kepada ayahnya tersebut. Karena sudah sepantasnya Rio menerima hal tersebut dari Ria.
Rio pun berdiri, "Heh Lily, jangan kamu pikir gua takut ya sama loh. Lo tuh hanya sosok hantu kecil yang tak berdaya. Dihidup sama mati loh tuh sama saja. Sama-sama lemah."
"Papah jahat," teriak Lily memukul keras kepala ayahnya
Rio pun meminta tolong kepada Ria dan Santi untuk membantunya. Namun Ria dan Santi tidak peduli akan hal tersebut.
"Lily tuh aslinya sayang sama kamu, tapi kamu malah ngomong kayak gitu. Tanpa kamu sadari Jika Lily merasa sakit hati karena omongan loh yang barusan."
"Terus? gua harus menarik omongan gua barusan gitu? Ogah banget, orang gua ngomong bener apanya coba. Lily aja yang nggak bisa menerima jika ibunya itu sudah meninggal dunia."
"Kamu nggak usah ngomong aneh-aneh gitu deh. Gila yah, kamu bukannya menyesal sudah membunuh anak loh sendiri malah makin nyesel jadi orang."
"Buat apa nyesel? Lily sendiri yang datang. Dia datang ketika aku dan mamahnya bertengkar. Daripada terus menghalangi kan mending aku bunuh."
"Manusia nggak ada otak ya kayak kamu ini, nggak punya hati nurani juga."
"Sudah lah pusing saya ngomong sama kalian. Nggak ada gunanya juga saya lama-lama di sini."
Lily yang makin membenci ayahnya langsung mendorong ayahnya ke jalan. Dan tanpa sengaja ada motor yang melaju dengan kencang.
Rio pun tertabrak motor. Semua warga yang melintas pun membantu dirinya untuk pergi ke rumah sakit yang terdekat.
Lily nampak begitu menyesali perbuatannya. Dia berlari menuju Rio dan memeluk erat tubuh ayahnya tersebut.
Ria dan Sindi pun mengikuti arah tujuan Lily yang ikut sampai ke rumah sakit.
Sampai di Rumah sakit, Rio segera di bawa ke UGD. Lily melihat dari kaca pintu, ia melihat ayahnya yang terbujur kaku dengan darah yang masih berteteran.
"Ayah, maafin aku." ujar Lily bersedih
Ria dan Sindi menghampiri Ria dan mencoba untuk menenangkan dirinya. "Sudah dong Li, jangan nangis, ayah kamu pasti baik-baik saja kok."
"Andai aku nggak dorong ayah tadi, pasti ayah akan baik-baik saja. Dia nggak akan terbaring kaku seperti itu. Aku memang membenci ayah, tapi rasanya melihat ayah aku seperti itu aku merasa tidak tega. Lily menyesal."
"Sudah ya, Dokter pasti akan menyembuhkan papah kamu kok, kita berdoa saja semoga ayah kamu baik-baik saja yah."
Lily menganggukkan kepala, matanya masih nanar melihat ayahnya di depan dirinya.
"Ayah, maafin Lily." isak Lily
Dalam benak Sindi, dirinya masih begitu tidak menyangka jika gadis yang selalu disakitin oleh ayahnya tersebut masih memiliki jiwa yang baik. Tanpa sengaja Sindi meneteskan air mata melihat perlakuan Lily kepada ayahnya.