Diusir oleh Ayah sendiri

1001 Kata
"Lily apakah ibu boleh bertanya?" Sindi memegang kedua bahu Lily Mendengar perkataan Sindi, Lily pun menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Kenapa kamu masih begitu menyayangi ayah kamu? padahal dia sudah menghilangkan nyawa dan menyakiti kamu hingga saat ini?" "Selama aku hidup, Ibu aku selalu berpesan untuk tidak memiliki sifat yang pendendam walau orang itu telah menyakiti kita. Lily diajarkan untuk selalu memiliki sifat yang pemaaf." Sindi mengangguk pelan, Sindi memeluk tubuh Lily secara perlahan. Dirinya begitu terharu mengetahui sifat yang begitu mulia di diri Lily yang terbilang masih kanak-kanak. Sementara Sindi sendiri tak bisa jika harus berbuat di posisi Lily. "Ibu bangga nak kepadamu," ujar Sindi memegang tangan Lily. Dokter pun keluar dari ruangan Rio. Sindi segera beranjak dari jongkoknya dan pergi menghampiri dokter tersebut untuk memastikan keadaan Rio saat ini, "Bagaimana dok keadaan dari Rio?" "Kondisi pasien sudah membaik, dalam waktu dekat pasien sudah bisa dipindahkan ke ruangan biasa." "Baiklah dok kalau gitu, terima kasih ya dok. Oh ya dok, apakah kita bisa masuk kedalam?" "Iyah bu, tapi jangan ganggu pasien yang masih istirahat yah." "Baiklah dok." Dokter pergi meninggalkan Sindi. Sindi pun mengajak Ria dan Lily untuk masuk kedalam menjenguk Rio. Mereka bertiga pun masuk,. terlihat Rio yang tengah berbaring tak berdaya. "Ayah, bangun! Lily ada disini." "Lily memeluk tubuh Rio. Tak berselang lama, jemari Rio bergerak dengan pelan. Secara perlahan, Rio mulai membuka kedua matanya. "Kalian ngapain di sini? dan saya ini ada dimana?" tanya Rio "Kamu ada di rumah sakit, kamu habis keserempet motor sebelumnya. Makanya kita bawa. kamu ke sini." "Kalian kan pasti yang bikin aku seperti ini? Bisa nggak sih kalian tuh nggak gangguin kehidupan gua?" "Heh, asal loh tahu ya, tanpa kita gua nggak tahu lagi gimana keadaan loh.Jadi orang nggak punya pikiran banget ya kamu, bisanya cuma nuduh-nuduh nggak jelas." "Emang kalian tuh rese tau nggak sih." "Udah deh ya, kalau nggak karena Lily, gua malas ketemu sama loh tau nggak sih." "Emang dimana Lily? Pasti hantunya nggak ada tangan atau kaki gitu ya? karena kematiannya aku yang buat dia kehilangan anggota tubuhnya.Penasaran deh aku sama hantu Lily." "Lo tuh bapak nggak tahu diri ya..., bisa-bisanya ngomong kek gitu di hadapan anak loh sendiri. Loh tau nggak sih, tiap detik dia selalu berdoa agar loh tuh bisa sembuh. Dia selalu menangis di depan pintu, air matanya terus menetes melihat loh terbaring kaku. Dan teganya loh malah ngomong kek gitu." "Mau dia nangis atau apa gua nggak peduli tahu nggak sih." "Gila yah, nggak habis pikir gua sama diri loh. Loh tuh pantesnya di rumah sakit jiwa tau nggak sih." "Sudah lah kalian pergi saja dari sini, gua dah muak lihat wajah kalian." "Yasudah, kita bakal pergi. Lagipula gua dah males nolongin orang yang nggak tahu diri kayak kamu." Sindi mengajak Ria untuk pergi dari sana. Mereka berdua meninggalkan Rio. Namun, tidak dengan Lily. ia memilih stay menemani Rio. Dalam hati kecilnya ia begitu sedih mendengarkan apa yang ayahnya omongkan barusan. "Ayah kenapa ayah tega ngomong seperti itu? Apa ayah sudah tidak mau menganggap Lily sebagai anak ayah lagi?" Rio merasakan kehadiran dari Lily. Dirinya dipenuhi oleh rasa takut akan perbuatan dosa kepada anaknya tersebut, "Duh, kenapa tubuh aku jadi merinding kayak gini sih?" "Eh Lily, kamu jangan gangguin ayah yah. Kamu balik saja sana, ayah tahu kamu sudah maafin ayah, jadi kamu pergi yah sana. Ayah lagi sakit, ingin istirahat." "Yah, Lily kangen sama ayah." Lily mencoba menyentuh tangan Lily Tubuh Rio semakin merinding, ia tak bisa melihat anaknya yang ada di depan matanya. "Lily, kamu pergi deh dari sini. Walau ayah nggak bisa lihat kamu, tapi aku bisa merasakan jika kamu ada disini." Lily pun pergi meninggalkan Rio, ia tak mau jika ayahnya mati karena ketakutan. Rio yang tak merasa merinding pun bisa tenang karena merasa jika anaknya sudah pergi meninggalkan dirinya sendirian. "Tit... tit..." bunyi telepon Sindi berbunyi, Hendri menghubungi Sindi. "Iyah pah, ada apa?" "Mamah ada di mana, Papah sudah ada di jogja ini." "Emm, mamah ada di rumah sakit setia budi pah." " Ha? kok bisa dirumah sakit." "Gini loh pah, Tadi di jalan setelah makan mamah menemukan seorang cowok yang tertabrak motor tepat dihadapan mamah, yasudah mamah bantu dia ke rumah sakit." "Owalah, kalau gitu papah cari taksi dulu, papah langsung ke sana ya." "Ouh iyah pah, Hati-hati yah." "Papah mau ke sini yah mah?" tanya Ria Sindi mengembalikan ponsel miliknya ke dalam tas. Ia tersenyum ke arah Ria, "Iyah sayang." Sindi dan Ria pun melihat Lily yang keluar dari ruangan dengan wajah yang murung dan sedih. Sindi dan Ria pun segera menghampiri Lily. "Ada apa Li? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ria "Lily sedih melihat Ayah. Ayah begitu jahat sama Lily. Lily mencoba untuk menyembuhkan rasa kangen Lily kepada dia malah di usir dari sana." "Tuh kan, ayah kamu tuh sudah stress tau nggak sih. Nggak punya hati. Nggak ada nyesel-nyeselnya dia tuh." "Lily harus bagaimana?" "Sudah, kamu tenang saja. Nggak udah kamu peduliin ayah kamu. Orang kayak ayah kamu itu nggak pantas buat kamu tangisin." Lily meneteskan air mata dan memeluk tubuh Sindi. Sindi semakin tak tega melihat anak kecil seperti Lily harus menerima kenyataan sepait itu. Dimana dia tak pernah bisa merasakan sosok ayah yang begitu mencintai Puteri -puterinya seperti ayah-ayah yang lainnya. Sindi mencoba menghapuskan air mata Lily. Namun, tak sengaja ada salah satu ibu-ibu yang lewat dan menyaksikan perbuatan dari Sindi. Dirinya mengira jika Sindi itu sudah gila karena ngomong dan gerakin tangan sendiri seolah ada orang yang ia ajak ngobrol. "Maaf dek, ini kayaknya bukan rumah sakit jiwa deh, ngapain adek bawa ibu adek yang gila ini ke sini?" tanya ibu tersebut kepada Ria "Enak saja, saya nggak gila yah bu." satu Sindi "Itu kamu ngobrol dan gerakin tangan kamu seolah di depan kamu ada orang lain, padahal anak kamu ada di samping kamu, bukan depan kamu." "Itu karena ibu tidak bisa melihat. Sudahlah ibu mana ngerti." "Ih stres nih orang," ujar ibu tersebut dan langsung pergi meninggalkan Ria dan Sindi "Wah wah parah, ngatain orang semena-mena tuh ibu." "Sudahlah mah, sabar saja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN