kedatangan Hendri

1022 Kata
"Ria, tante. Maafin Lily ya telah membuat kalian dimarahi oleh ayah juga. Padahal kalian berdua begitu baik sama Lily." Sindi menggelengkan kepala, "Sudahlah nak, jangan kamu pikirkan. Ayah kamu kan memang seperti itu orangnya. Rada-rada stres." Lily tersenyum tipis menatap kedua bola mata Sindi. Lily merasa kangen berada di sisi ibunya. Bersama Sindi lah Lily bisa merasakan dan melampiaskan rasa rindunya tersebut. "Mah," Sindi menoleh ke belakang untuk mengetahui asal suara tersebut. Yang tak lain adalah suaminya sendiri. Setelah melihat Hendri, Sindi pun bangun dan menghampiri suaminya tersebut, "Papah sudah sampai saja." "Iyah dong, soalnya papah khawatir banget sama kalian. Oh ya bagaimana keadaan orang itu, papah boleh jenguk nggak sih?" "Nggak usah lah pah, kita pergi saja dari sini. Toh juga kita tadi di usir dari sana." "Jahat banget, masak sudah di tolongin malah di usir begitu saja sih." "Ntahlah, ayuk lah kita pergi saja dari sini." Sindi mengandeng tangan Hendri untuk mengajaknya pergi dari sana. Sindi pun mengajak Ria untuk mengikuti kedua orang tuanya tersebut. Sindi mengajak Ria dan Hendri untuk makan malam. Sampai di sebuah cafe, mereka memilih kursi dan mulai memesan makanan yang mereka inginkan di daftar menu. "Disini tempatnya bagus banget yah pah, apalagi dekorasinya. Romantis banget gitu." "Ingat masa muda kita yah mah," "Ih kalian mulai deh, masa keberadaan Ria nggak kelihatan sih di mata mamah dan papah." Sindi dan Hendri saling menatap dan tertawa, mereka berdua pun memeluk tubuh Ria yang mungil tersebut. Ria tersenyum lega mendapatkan pelukan hangat dari kedua orang tuanya. Lily pun ikut tersenyum bahagia karena terbawa oleh suasana dari sebuah keluarga yang begitu sederhana namun saling melengkapi tersebut. "Andai dulu keluargaku seperti ini, pasti aku begitu sangat bahagia. Kak, aku iri melihat keharmonisan keluarga kakak yang begitu sempurna." batin Lily Melihat Lily yang sedih dan murung, Sindi melambaikan tangan kecil ke arah Ria. dirinya ingin Lily ikut merasakan kebahagiaan dari sebuah keluarga. Lily pun dengan tersenyum mulai menghampiri mereka bertiga dan ikut merasakan pelukan tersebut. Lily merasakan kehangatan dari sebuah keluarga yang begitu nyata. Walaupun tidak keluarganya, dirinya merasa sangat senang berada di tengah-tengah keharmonisan keluarga Ria. Mereka berempat pun melepaskan pelukan karena pelayan yang datang membawa pesanan mereka. "Kalian begitu harmonis yah, saya malah jadi kangen sama keluarga saya dikampung melihat kalian berpelukan seperti tadi," ujar pelayan tersebut sambil meletakkan makanan satu persatu "Hahah, kamu bisa saja. Kan nantinya kamu bisa libur kerja untuk mudik ke halaman kampung kamu." "Iyah bu, tahun depan insya Allah, setelah saya berhasil mengumpulkan uang." Sindi tersenyum dan menganggukkan kepala. Pelayan itu pun pamit pergi untuk melanjutkan pekerjaannya setelah menghidangkan semua pesanan yang mereka pesan. Aroma yang tercium membuat mereka tak tahan lagi untuk mencicipi makanan yang ada di hadapan mereka tersebut. Tak menunggu waktu lama, mereka pun melahap habis makanan tersebut. Setelah selesai makan malam, Mereka mencoba mencari hotel terdekat untuk menginap. Hendri memesan dua kamar. Setelah selesai, mereka pun memasuki kamar masing-masing. Ria mengambil sebuah baju di kopernya dan segera pergi untuk mandi. Di saat Ria mandi, Lily masih terbayang-bayang akan omongan ayahnya yang bilang jika ibunya telah meninggal dunia. Lily bingung harus mempercayai omongan ayahnya atau bapak yang dia temui di cafe. Lily tak bisa membayangkan jika harus melihat makam ibunya nanti. Yang Lily harapkan hanya melihat tubuh ibunya yang masih sehat. Lily ingin merasakan pelukan hangat dari ibu kandungnya tersebut. Di sisi lain, Lily juga membayangkan akan rumah milik mereka dahulu. Lily ingin memindahkan kuburannya ke tempat yang layak. Bayangan-bayangan yang ada di pikiran Lily tersebut terus menghantui dirinya. Setelah mandi, Ria melihat Lily yang sedang murung. Ria pun segera menghampiri Lily. "Lily, kamu kenapa murung seperti itu?" "Aku kangen sama ibu aku kak. Aku terus terbayang dengan omongan ayah yang bilang jika ibu aku telah meninggal dunia." "Sudahlah Li, kamu nggak perlu mikirin omongan ayah kamu itu. Ayah kamu itu hanya ngarang saja. Apa kamu masih ingat dengan omongan bapak-bapak yang kita temui di cafe?" Lily mengangguk pelan. "Dia bilang jika ibu kamu baik-baik saja kan? dan kalian pasti akan bertemu." "Apakah itu benar kak? Saya takut ibu diapa-apain sama ayah." Lily menundukkan kepalanya "Kamu jangan berfikir yang aneh-aneh yah Li, kakak sangat yakin jika ibu kamu baik-baik saja." Lily memeluk tubuh Ria, "Terima kasih ya kak, kakak sudah mau membantu Lily hingga saat ini." Ria tersenyum dan membalas pelukan Lily dengan erat. "Kak, lalu bagaimana dengan kuburan aku? apakah rumahku masih tetap sama?" "Kakak nggak tau soal itu, semoga saja kita bisa menemukan rumah kamu dengan cepat yah," Ria memegang pipi Lily yang menggemaskan itu "Tit... Tit..." bunyi ponsel Ria bergetar. Dita memanggil Ria. Melihat nama Dita di layar HPnya, Ria segera mengangkat panggilan tersebut. "Halo Dit, ada apa?" tanya Ria "Katanya kamu lagi di jogja ya?" "Iyah kenapa?" "Kamu kok nggak ajak-ajak sih kalau lagi liburan" "Aku nggak lagi liburan Dita, kebetulan saudara ibu yang ada di sini lagi sakit, jadi kami datang kesini deh untuk menjenguk saudara kami yang sedang sakit tersebut." "Ouh gitu yah, terus kapan nih kita bisa liburan bareng?" "Kalau liburan sekolah lah kita gas wkwkwk." "Okey deh, semoga saudara ibu kamu itu cepat sembuh yah. Kalau gitu aku matiin dulu yah teleponnya." "Iyah dit, dah. Selamat malam." Setelah panggilan mati, Ria beralih ke aplikasi youtube untuk menonton film. Karena merasa kurang seru, Ria mengajak Lily untuk pergi keluar mencari cemilan. Mereka pun pergi dari hotel tanpa sepengetahuan Sindi dan Hendri. Melihat supermarket di seberang jalan, Ria dan Lily segera pergi ke sana. Tak menunggu waktu lama mereka pun mulai masuk ke dalam dan mencari snack dan minuman yang Ria butuhkan. Setelah mendapatkan semua yang ia suka, Ria pun pergi ke kasir dan membayarnya. Ria menoleh ke arah belakang, ia pikir Lily ada di belakangnya sejak tadi, namun keberadaan Lily menghilang dari pandangan Ria. Ria yang mulai panik mencoba untuk memanggil Lily dengan pelan-pelan. Namun, Lily tak juga menjawabnya. Ria pun melihat sekitar luar yang dimana Lily sedang berada di luar dekat dengan penjual boneka. Terlihat Lily memegang boneka yang di pajang tersebut. Ria pun tersenyum dan menghampiri Lily, Ria mengambil boneka beruang yang di depannya ada beruang kecil tersebut. Ria menyuruh penjual untuk segera membungkusnya. Ria berniat untuk membelikan boneka tersebut untuk Lily.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN