Ria pun memberikan uang kepada penjual tersebut. Setelah mendapatkan boneka yang Lily inginkan, Ria memberi kode kepada Lily untuk segera pergi dari sana dan mengajaknya kembali ke hotel.
Sampai di kamar, Lily memainkan boneka barunya tersebut dan mengucapkan Terima kasih kepada Ria karena telah memberikan boneka yang ia inginkan.
"Kak makasih yah, dan maafin Lily karena Lily kakak jadi kehilangan uang kakak."
"Tak apa-apa Li, kakak senang kok bisa membelikan apa yang kamu inginkan."
Lily bermain lompat-lompatan bersama bonekanya di atas kasur. Ria mulai melanjutkan rutinitasnya kembali untuk menonton drakor.
"Kenapa kakak suka sekali nonton drakor?" tanya Lily
Ria tersenyum ke arah Lily, "Kenapa kamu suka mainan boneka?"
"Hem, karena boneka itu lucu kak. Jadi Lily menyukainya."
"Begitupun dengan kakak. Kakak memiliki alasan tersendiri. Menurut kakak, Drakor itu lebih bagus seru daripada film lokal."
"Kakak, kita harus mencintai buatan lokal."
"Tapi ya mohon maaf, kebanyakan film kita juga nggak mendidik. Banyak bertengkarnya."
Lily mengangguk pelan, Lily melanjutkan permainannya kembali.
Ria pun mulai mengambil makanan yang ia beli tadi. Ria memakan dikit demi dikit makanan yang ada di tangannya dan melanjutkan nonton drakor nya.
Karena terbawa suasana yang romantis, Ria mengambil guling untuk di peluknya. Lily yang melihat tingkah Ria, menggelengkan kepala.
"Kakak lucu deh, masak sampai segitu nontonya, hahaha."
"Kamu mah masih kecil Li, mana paham kamu dengan arti baper."
"Iyah deh kakak yang paling tahu, anak kecil seperti Lily mah taunya main doang."
Ria tertawa dan melanjutkan menonton film di depannya. Tiba-tiba minuman yang Ria letakkan di meja jatuh secara tiba-tiba.
Ria dan Lily pun saling pandang. Karena di sana cuma ada Lily dan Ria. Korden pun tertutup dengan rapat sehingga tak mungkin jika angin.
Mereka pun bodo amat dan membiarkan hal tersebut. Ria dan Lily kembali melanjutkan kegiatan mereka berdua. Dan lagi-lagi ada yang terjatuh ke lantai, namun kali ini adalah remot AC.
"Siapa sih jahil banget jadi orang."
Hantu tersebut menampakan wajahnya. Wajah penuh luka di sertai baju putih yang penuh akan darah. Hal itu membuat Ria terkejut dan tanpa sengaja HP yang berada di genggamannya terlepas dari tangannya.
"Siapa kamu?" tanya Ria
"Kamu tak perlu tahu siapa saya, yang jelas saya ada disini untuk menemui kamu."
"Apa yang kamu inginkan?"
"Bukankah kamu mempunyai teman hantu? terus kenapa kamu harus takut kepadaku?"
Ria bingung harus menjawab apa, karena dirinya sendiri takut akan wajah yang menyeramkan dari hantu yang ada di depannya tersebut.
"Jangan ganggu kakak aku!" seru Lily menghalangi tubuh Ria dengan tubuhnya dengan membentangkan kedua tangannya.
"Minggir kamu anak kecil, ini nggak ada urusannya sama kamu."
"Siapapun kamu aku nggak peduli, aku tak ingin ada seorang pun yang bisa menyakiti kakak aku."
"Gua tahu kamu siapa, dan orang yang kamu jaga itu bukanlah kakak kandung kamu. Kamu ingin tahu bukan kakak kamu ada dimana?"
Ria menurunkan kedua tangannya, dia menanyakan keberadaan kakaknya kepada hantu yang ada di depannya, "Dimana kakak? bagaimana kamu bisa tahu akan kakak aku?"
"Hahaha, saya tahu semua tentang kamu. Apalagi asal usul kamu."
"Sebenarnya kamu siapa sih? bagaimana kamu bisa mengetahui tentang Lily" tanya Ria
"Kamu tak perlu tahu siapa saya. Aku disini akan membantu Lily untuk mendapatkan keadilannya yang belum dia temukan di masa hidupnya."
Lily menghampiri sosok hantu tersebut, "Apa kakak serius dengan apa yang kakak omongan barusan?"
Hantu tersebut tersenyum dan membentangkan kedua tangannya, ia memberi kode kepada Lily untuk memeluk dirinya sebagai tanda pertemanan dan kedekatan mereka berdua.
Lily pun mendekati sosok hantu tersebut dan memeluknya. Hantu tersebut membalas pelukan Lily dengan begitu tulus.
Selesai Lily melepaskan pelukan hantu tersebut, hantu tersebut pun memutar. Seketika penampilannya berubah. Wajahnya tak terlihat seperti tadi yang penuh dengan luka dan darah. Gadis tersebut memiliki wajah yang begitu manis dengan wajah bibir pucat yang menghiasi wajahnya. Begitupun dengan baju yang ia kenakan tak tampak seperti tadi yang penuh dengan darah. Dimana sekarang berubah menjadi putih dan bersih.
"Kenapa kamu bisa berubah dengan cepat?" tanya Ria
"Saya tadi awalnya hanya bercanda. Ingin membuat kalian ketakutan dan menangis sejadi-jadinya. Namun, malah rencana saya gagal. Kalian tak ada rasa. takut dan khawatir sedikitpun melihat saya."
Ria tertawa mendengar ucapan gadis tersebut, "Saya aslinya tadi takut tahu, soalnya muka kamu menyeramkan seperti itu. Iyah kan Lily?"
Lily menoleh ke arah Ria dan menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Kamu mungkin tidak tahu aku, tapi aku tahu akan diri kamu dan kisah kamu."
"Kakak tahu darimana?" tanya Lily
"Sebenarnya pas kamu di kubur oleh ayah kamu di belakang rumah, Kakak menyasikkan kejadian tersebut. Namun, Pada waktu kakak ingin melaporkan kejadian tersebut kepada warga sekitar, kakak nggak sengaja menginjak kayu di depan kakak"
"Apa kakak ketahuan sama ayah?" tanya Lily
Sosok hantu tersebut mengangguk dengan pelan, "Iyah bunyi saya pinjak ranting pohon tersebut terdengar oleh telinga pak Rio. Hingga dia mengejar saya karena takut jika saya melaporkan dirinya ke kantor polisi."
"Terus apa yang selanjutnya terjadi sama kakak?" tanya Ria yang ikut mendengarkan cerita hantu tersebut
"Hingga kakak terjebak di tepi sungai yang airnya begitu deras pada saat itu. Ayah kamu mulai mengambil batang pohon yang kayunya lumayan besar, karena ketakutan kakak terus memohon agar Rio bisa melupakan kakak. Namun, dirinya malah mengangkat batang kayu yang ia pegang dan memukulkan ke kepala dan tubuh kakak. Kakak terus saja berteriak pada waktu itu, namun pukulan yang Rio berikan sangat keras hingga membuat kakak lemas tak berdaya karena kehabisan darah."
"Ya Allah, ayah jagat banget. Maafin ayah ya kak."
"Kamu nggak perlu minta maaf atas kejahatan ayah kamu. Ayah kamu memang seharusnya mendapatkan hukuman yang setimpal. Saya telah berusaha keras mencari ayah kamu dan sempat menghantui dirinya. Namun, dia tak ada kapoknya, malah dia bolak-balik pindah alamat untuk menghilangkan jejak dari semua kesalahannya di masa lalu."
"Ayah sedang berada di rumah sakit kak, dia di rawat karena keserempet oleh motor. Pada saat itu Lily benar-benar kesal sama ucapan ayah yang membuat Lily sakit hati, hingga tanpa sengaja Lily mendorong ayah hingga tertabrak motor."
"Asal kamu tahu, Ayah kamu seharusnya mendekap di penjara seumur hidupnya atau mendapatkan hukuman mati. Dengan keserempet motor pun ayah kamu nggak bakal merasa jera. Karena kakak tahu gimana watak asli Rio."