Pembalasan untuk Rio

1005 Kata
"Lily mengira jika ayah hanya melukai Lily saja. Maafin ayah Lily yah Kak, Gara-gara ayah Lily kakak harus kehilangan nyawa kakak seperti ini." "Sudah kakak bilang kan, kamu nggak perlu meminta maaf atas kesalahan ayah kamu sendiri. Sudah sepantasnya ayah kamu menerima hukuman yang berhak ia dapatkan." Lily kembali memeluk erat hantu yang ada di depannya tersebut. "Kenapa yah Rio setelah menghilangkan nyawa banyak orang bukannya menyesal malah kayak orang yang nggak punya kesalahan sedikitpun di hidupnya," gumam Ria "Dia tuh seperti orang yang punya kelainan jiwa tahu nggak sih, makanya hidupnya nggak terbayang-bayang kesalahannya seditpun." ujar sosok hantu tersebut "Mungkin kali kak, ntahlah." Karena sudah larut malam, Ria pun tertidur pulas karena ngantuk. Namun, tidak dengan Lily dan sosok hantu tersebut. Sosok hantu tersebut mengajak Lily untuk pergi bertemu dengan ayah kandung Lily. Lily pun menyetujui ajakan hantu tersebut karena dirinya sendiri juga kangen dan ingin tahu dengan keadaan ayahnya. Lily dan gadis tersebut pun pergi menuju rumah sakit. Sampai di rumah sakit, mereka segera menuju ke ruangan dahlia, tempat Rio di rawat. Sampai di depan pintu, mereka mendengar suara tangisan dari sosok laki-laki yang tak lain adalah Rio. Lily dan gadis tersebut pun mencoba mendekati Rio yang sedang menangis tersedu-sedu tersebut. "Kenapa ya ayah kamu menangis?" tanya sosok hantu tersebut kepada Lily "Saya tak tahu kak penyebab ayah menangis karena apa," jawab Lily dengan mengangkat kedua bahunya "Betapa kejamnya aku di masa lalu, aku telah membunuh anak kandung aku sendiri. Dan sampai sekarang aku masih belum tahu cara untuk menjadi orang yang benar. Waktu hidupku aku habiskan dengan terus melakukan kesalahan. Namun kenapa bayangan kesalahan ini selalu datang ketika malam saja." isak Rio Mendengar omongan Rio, sosok gadis tersebut dan Lily saling pandang. Mereka tak menyangka jika Rio bisa berucap dengan demikian. "Kenapa sih ayah kamu tobatnya malam doang?" tanya sosok gadis tersebut "Jujur, saya kaget dengan omongan ayah aku kak, tapi aku juga merasa senang karena ayahku bisa menyesali beberapa kesalahannya di masa lalu." "Lily, apa kamu di sini? maafin ayah telah ngomong yang tidak-tidak tadi. Ayah tahu kamu merasa sakit hati karena omongan ayah tersebut. Ayah tahu kamu ada disini, ayah benar-benar minta maaf akan semua kesalahan ayah kepada kamu." ujar Rio menangis sesegukan Lily pun menampakkan dirinya, Rio yang melihat putri cantiknya ada di depannya pun semakin menangis, "Lily, apakah ini benar diri kamu?" Lily menganggukkan kepala, "Iyah ini Lily yah, apa ayah baik-baik saja. Maafin Lily yah yah, gara-gara Lily ayah jadi seperti ini." "Hah, maksud kamu apa?" tanya Rio yang kebingungan mendengar ucapan dari anaknya tersebut "Sebenarnya Lily yang telah membuat ayah seperti ini, gara-gara sakit hati mendengarkan ucapan ayah waktu itu, Lily langsung mendorong ayah. Namun, Lily telah menyesali itu semua yah, Lily minta maaf," jelas Lily menangis "Apa? jadi kamu yang bikin aku seperti ini? Kamu jadi anak nggak tahu diri banget yah. Andai ayah kenapa-napa gimana? loh mau bikin ayah mati? loh mau balas dendam gitu sama ayah?" bentak Rio Mendengar ucapan Rio yang keras membuat Lily tambah nangis. Dirinya tak menyangka jika harus mendengarkan ucapan keras dari ayahnya setelah senang mendengar ayahnya yang menyesali perbuatannya tersebut. "Bukankah ayah telah menyesali perbuatan ayah tadi? terus kenapa ayah jadi kasar lagi?" isak Lily "Kamu pikir di sini nggak butuh uang? gara-gara kamu, aku harus merasakan kesakitan dan nggak bebas seperti ini. Ini semua karena kamu, anak pembawa sial." teriak Rio Sosok hantu yang dari tadi menahan dirinya pun sekarang ikut tersulut emosi karena ucapan dan tindakan Rio yang kasar kepada anak kandungnya sendiri. Sosok hantu tersebut pun mulai menampakkan dirinya. Melihat hantu lain di samping Lily membuat Rio merasa terkejut, "Siapa kamu?" "Apa kamu sudah nggak ingat dengan saya? bukankah waktu itu kamu sendiri yang membuat saya jadi seperti ini?" "Maksud kamu apa? saya tak kenal sama kamu. Nggak kenal." "Apa kamu masih ingat disaat kamu menguburkan Ria, dan tanpa sengaja saya mengintip kamu hingga saya terpijak ranting kecil hingga membuat kamu membunuh saya?" Rio meresapi omongan gadis tersebut, dirinya mencoba mengingat-ingat apa yang di lakukannya di masa lalu. Setelah mengingat kejadian dimata ia memukul sosok gadis tersebut menggunakan batang kayu yang cukup besar hingga membuat badan gadis tersebut tak berdaya. Rio mencoba mundur dari posisi duduknya yang sekarang, Dia merasa ketakutan dan ingin beranjak pergi dari sana. Namun, keadaan dia yang seperti itu membuat Rio tak bisa melakukan apapun. Sosok gadis tersebut mencoba untuk mendekati Rio dengan tatapan yang mematikan, dirinya ingin membalaskan dendam terhadap kematiannya. Ketika hendak menghabisi Rio, Lily menahan gadis tersebut dan memohon kepada sosok gadis itu agar tidak membunuh ayahnya. Karena Lily begitu menyayangi ayahnya tersebut. "Li, orang seperti doa tuh nggak pantas buat kamu bela dan kamu sayangi. Dia nggak mencerminkan seorang ayah pun di diri dia." ujar gadis tersebut "Saya tahu kak, dosa dan perbuatan ayah begitu besar dan sulit untuk di maafkan. Tapi, aku mohon. Jangan sakiti ayah aku," pinta Lily dengan merangkul kaki gadis tersebut Melihat ketulusan dari Lily membuat gadis tersebut merasa kasihan terhadapnya. Niatnya untuk menghabisi Rio pada saat itu juga pun di pendam untuk sementara. Sosok gadis tersebut meminta Lily untuk berdiri, karena nggak sepantasnya dia harus mengemis kasihan. "Aduh, punya anak baik banget sih. Gitu dong jadi anak bisa diandalin dikit meskipun sudah meninggal. hahah." ujar Rio "Gila yah loh. Sumpah nggak habis pikir saya sama kamu. Kamu nggak malu apa dengan perbuatan loh sendiri." omel sosok gadis tersebut "Malu? buat apa malu. Sudah sepantasnya kalian tuh jadi hantu. Oh ya gimana rasanya sudah meninggal dan jadi hantu sekarang? enak kah? pasti kalian merasa enak kan. Harusnya kalian tuh Terima kasih sama saya, karena saya membunuh kalian, kalian bisa merasa bebas deh. Kalau mau nyolong atau ngapain nggak kelihatan. Harusnya kalian tuh membantu aku untuk nyolong uang dari orang-orang kaya. Biar aku. punya banyak uang." ujar Rio Mendengar ucapan Rio, gadis tersebut semakin naik pitam. Ia mengambil kaki Rio dan menyeretnya hingga tubuhnya jatuh ke lantai. Rio merasa terkejut dengan tindakan gadis tersebut. Rio yang semakin takut dirinya merasa terpojok, Rio meraih kaki Ria dan memohon untuk menolong dirinya dari serangan gadis tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN