Omongan menyakitkan

1005 Kata
"Kak saya mohon, jangan sakiti ayah aku. Lily tahu jika ayah Lily salah, tolong maafin ayah Lily." pinta Lily kepada sosok hantu di depannya "Kenapa sih Li kamu masih baik sama dia? padahal dia habis marah-marahin kamu, kenapa kamu masih segitunya sih belain dia." "Lily tahu kak, tapi aku nggak ingin ayah aku kenapa-napa. Aku nggak mau melihat ayah aku terluka. Dia sudah merasakan kesakitan kak, untuk kali ini aku minta jangan sakiti ayah aku lagi." Sosok hantu tersebut mengangkat kedua tangannya, ia menuruti semua kemauan dari Lily. Dirinya mencoba untuk mengatur emosinya, karena ia tak ingin jika Lily menangis karena ulahnya. Rio pun berdiri dan kembali tidur di atas ranjang. Ia memegang tangan Lily dan mengucapkan Terima kasih karena telah menolongnya dari serangan hantu tersebut. "Kenapa sih Li, hati kamu begitu suci. Kamu tak ada sedikitpun rasa dendam maupun benci kepada ayah kamu itu, padahal dia yang telah membuat kamu harus merasakan penderitaan hingga kematian yang begitu tragis," batin sosok hantu tersebut melihat Lily yang memeluk ayahnya "Maafin Lily ya yah, karena Lily ayah harus berada di sini," isak Lily di dalam pelukan ayahnya tersebut "Li, ayah kamu yang berbuat kejahatan terus terhadap kamu saja nggak ada kata maaf pun yang keluar dari mulutnya, kenapa kamu yang cuma buat dia kayak gini saja sampai terus-terusan mengulangi kata maafmu itu sih Ri?" tanda gadis tersebut "Dia ayah aku kak, bagaimana pun sifat dia terhadapku, dia akan tetap menjadi ayah aku." "Gua nggak habis pikir Li dengan kamu, bagaimana sih kamu bisa memaafkan orang yang sudah membunuh kamu segitu mudahnya. Jika aku menjadi kamu, aku pasti nggak akan kuat dan setegar kamu Li," batin sosok tersebut yang terharu melihat sifat Lily "Kenapa kamu jadi bengong hah? lu pikir lo bisa melukai gua gitu?" ujar Rio menyombongkan diri "Nggak usah senang dulu deh kamu, harusnya kamu tuh makasih sama anak loh ini, kalau nggak ada dia mungkin nasib sudah berkata lain kepada kamu." "Sampai kapan pun Rio tak pernah bisa dikalahkan maupun dibunuh. Karena gua nggak selemah yang lain." Sosok tersebut pergi untuk menghindari rasa emosi dia. Dirinya mencoba untuk tenang. Kini di ruangan tersebut hanya sisa Rio dan Lily. "Yah, dimana ibu saat ini?" tanya Lily "Berapa kali sih ayah harus bilang ke kamu, kalau ibu kamu tuh sudah meninggal dunia. Heran aku, sudah dijawab masih terus bertanya juga." ujar Rio "Nggak, ayah pasti bohong kan? mana mungkin ibu aku telah meninggal dunia yah." ucap Lily tak percaya "Mau kamu percaya atau nggak itu urusan kamu yah, aku tak peduli. Sudah sana pergi! lihat ini pukul berapa. Aku mau istirahat." ujar Rio Lily pun pergi meninggalkan ayahnya tersebut. Dirinya tak ingin menganggu waktu istirahat ayahnya. Lily menangis tersedu-sedu, sosok hantu cewek yang melihat Lily sedang menangis di kursi depan rumah sakit, mencoba untuk menghampiri dirinya. "Li, kamu kenapa menangis seperti itu? kamu diapain oleh ayah kamu?" tanya hantu tersebut kepada Lily "Lily terus memikirkan omongan dari ayah kak, Ayah selalu bilang jika ibu Lily sudah meninggal dunia. Lily masih tak percaya jika hal itu benar terjadi adanya." isak Lily Sosok hantu tersebut merangkul Lily dari samping dan meletakkan kepala Lily di dadanya, "Kamu nggak perlu berfikir yang tidak-tidak yah. Kakak yakin kok jika ibu kamu. itu masih hidup. Pasti ibu kamu juga merindukan keberadaan kamu di samping dirinya." "Terus kenapa ayah selalu ngomong seperti itu yah kak? apa ayah sudah tidak sayang lagi sama ibu?" tanya Lily Di umur yang sekarang, Lily masih belum terlalu mengerti akan cinta dan masalah yang sedang dihadapi oleh keluarganya. "Jika ayah kamu cinta sama ibu kamu, dia tak mungkin menikah lagi Lily." Lily pun berlari meninggalkan sosok perempuan yang ada di depannya, Lily berlari dengan cepat menuju ruangan ayahnya. "Ayah, kenapa ayah begitu jahat?" ucap Lily "Apaan sih kamu, datang-datang langsung marah-marah seperti ini." "Apa benar jika ayah sudah menikah lagi?" tanya Lily dengan polosnya "Apa kamu buta kemarin? wanita yang ada di depan kamu kemarin tuh ibu tiri kamu alias istri papah yang baru. Dibandingkan ibu kamu mah ibu kamu kalah jauh." ujar Rio "Maksud ayah apa sih? Ibu itu cantik yah, kenapa ayah begitu jahat meninggalkan ibu sendiri yah?" "Heh, asal kamu tahu. Ibu kamu sendiri lah yang meninggalkan ayah duluan. Ibu. kamu pergi bersama kekasih barunya. Ia berkhianat. kepada ayah." "Nggak, itu semua bohong. Nggak mungkin ibu seperti itu. Aku tahu gimana d sifat ibu yah." "Serah lah. Dari dulu kan memang ibu kamu yang kamu percaya. Mana mungkin kamu pernah percaya dengan omongan ayah." Lily pun pergi meninggalkan ruangan ayahnya. Dirinya masih tak percaya jika ayahnya menjelekkan ibunya sendiri di hadapannya. Lily berlari mencari sosok hantu perempuan tersebut. Hingga Lily menemukannya di sebuah taman. Tak menunggu waktu lama Lily pun berlari dan memeluk gadis tersebut. "Kak, ayah tega. Ayah benar-benar tega." Lily menangis sesegukan di pelukan gadis tersebut "Ayah kamu apain kamu lagi? Terus kenapa kamu berlari meninggalkan kakak tadi?" Lily pun mencoba untuk menarik nafas dalam-dalam, agar. dirinya bisa bercerita dengan lancar. Lily pun menceritakan semua kepada sosok gadis tersebut. Jika ayahnya telah tega menjelek-jelekkan ibu kandung Lily dihadapannya sendiri. Ayahnya nggak ada belas kasihan dan pengertian sedikitpun kepada ibunya. "Sudah dong Li, nggak usah kamu pikirkan Lagi pula nih ya, Ayah kamu tuh kan memang nggak bisa dipercaya. Stres dia tuh. Sudahlah kita balik aja yuk, kamu itu. harus banyak istirahat. Nggak boleh mikir yang berat-berat dulu. Besok kakak akan bantu kamu mencari ibu kamu itu. Sekarang kita harus pulang terlebih dahulu yah." Sosok hantu tersebut mengajak Lily untuk balik ke kamar Ria. Sampai di sana, Ria masih terlihat tidur dengan pulas. Lily dan sosok hantu tersebut ( Melisa) mencoba untuk tidak berisik agar Ria tidak merasa terganggu dan terbangun. Lily dan melisa duduk di. sofa yang ada di pinggir kanan tempat tidur. Mereka berdua menatap Ria dengan puas. Mereka berdua merasa bersyukur bisa bertemu dengan manusia sebaik Ria. "Kakak Ria kalau bobok lucu yah kak." ujar Lily tersenyum ke arah Melisa "Iyah, lucu. Dia juga orangnya baik dan nggak sombong. Sampai-sampai dia relain pergi ke daerah lain menghabiskan banyak uang untuk membantu kamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN