Usaha mencari Santi

1005 Kata
Suara ayam pun berkokok. Matahari di pagi hari turut menghiasi kamar Ria. Ria terbangun dari tidurnya yang pulas. Setelah membuka mata, ia melihat Lily dan Melisa yang ada dihadapannya. "Selamat pagi tuan putri." sapa mereka berdua "Kalian kok bisa di sini sih, Kalian semalaman ngelihatin aku mulu gitu?" tanya Ria "Ya nggaklah, masa kita lihatin kamu mulu sih. Yang ada kita capek tahu kalau lihat kamu dari malam hingga sekarang." jawab Lily Ria pun meminta maaf karena semalam ia ketiduran dan meninggalkan Lily dan Melisa. Lily dan Melisa pun membalas permintaan maaf Ria dengan senyuman manis di bibir mereka berdua. "Nggak apa-apa kok kak, tadi malam aku sama kak melisa pergi menemui ayah." ujar Lily dengan mendekap boneka beruang di tangannya "Terus ayah kamu gimana? kamu nggak di apa-apain kan sama ayah kamu?" tanya Ria yang merasa khawatir karena takut jika ayahnya berbuat kasar lagi kepanya "Lily nangis, Ayahnya ngomong yang nggak-nggak kepada dia. Ayahnya terus bilang jika ibunya sudah meninggal dunia." jawab Melisa "Apa benar ya kak kalau ibu sudah meninggal? di sisi lain Lily merasa kurang percaya akan hal tersebut." ujar Lily "Kakak yakin kalau ibu kamu tuh memang masih hidup Li, ayah kamu tuh berbohong sama kamu." ucap Ria mencoba menyakinkan Lily Ria pun beranjak dari tempat tidurnya dan pergi menuju kamar mandi. Setelah mandi, Ria menghampiri Lily dan Melisa, "Apa rencana kita di hari ini?" Melisa melirik Lily, "Apa nggak sebaiknya kita berusaha lagi untuk mencari tahu keberadaan dari ibu Lily." "Iyah kita harus mencari tahu dimana keberadaan dari ibu Lily. Soalnya kasihan dia terus memikirkan yang tidak-tidak kepada ibunya." saut Ria "tok, tok." suara ketukan dari luar pintu kamar Ria. Ria segera membuka pintu kamarnya tersebut. Dimana di hadapannya telah berdiri Sindi. "Mamah, selamat pagi." sapa Ria kepada mamahnya Sindi pun memberi sebuah kecupan kecil di dahi Ria. Sindi menoleh ke belakang Ria. Ia melihat sosok hantu yang belum pernah dia temui sebelumnya. Sindi pun menoleh ke arah Ria dan menanyakan siapa sosok hantu yang berdiri di samping Lily tersebut. Ria pun menjawab apa adanya. Jika melisa merupakan tetangga Lily yang tak sengaja melihat Rio yang sedang mengubur mayat Lily. Karena takut ketahuan, Rio pun membunuh Melisa, karena khawatir jika Melisa pergi melaporkan dirinya ke warga sekitar dan polisi. Sindi pun merasa terkejut dengan apa yang diomongkan oleh anaknya tersebut. Dirinya tak habis pikir jika korban Rio dahulu tidak hanya Lily, tapi juga Melisa yang tetangganya sendiri. "Gila yah tuh orang. Korbannya nggak cuma satu. Dengan korban yang lebih dari satu kok bisa segitunya yah dia nggak punya rasa bersalah maupun penyesalan sedikitpun gitu." ujar Sindi yang tak percaya Sindi pun mulai masuk kedalam dan menutup pintu kamar Ria. Sindi berjalan ke arah Melisa, "Kenapa Rio selalu membunuh anak yang tak berdosa." "Iyah jahat banget dia itu mah, tadi malam saja Lily dibikin nangis sama di lagi." ujar Ria Sindi yang terkejut pun membalikkan badannya. "Emang tadi malam dia ngapain Lily?" "Biasalah lah ngomong yang tidak-tidak soal ibunya Lily. Dan Lily pun menangis karena takut jika apa yang diomongkan oleh ayahnya itu benar." jelas Ria "Lily, berapa kali sih tante harus bilang. Jangan pernah mempercayai omongan ayah kamu itu, karena semua yang dia omongan tuh nggak ada yang benar. Dia hanya ingin kamu merasa terluka dan kecewa Li." ujar sindi memegang kedua bahu Ria Lily pun memeluk Sindi bagaikan dia memeluk ibunya sendiri, "Lily takut ibu kenapa-kenapa. Lily takut dengan ayah. Lily takut ayah apa-apain ibu Lily." Sindi mengelus punggung Lily dengan mencoba untuk menenangkan Lily dari rasa sedih nya tersebut. "Sudah lah Li, kamu nggak perlu mikir yang aneh-aneh terlebih dahulu. Kan nanti kita berusaha untuk menolong kamu mencari ibu kamu. Semoga saja ibu kamu bisa di temukan dengan cepat yah LI. agar kamu bisa merubah rasa sedih kamu itu menjadi sebuah senyuman manis di bibir kamu." ujar Melisa mencoba menghibur Lily Melisa telah menganggap Lily sebagai adik kandung dia sendiri. Jika Lily bersedih, dirinya akan ikut merasakan kesedihan yang Lily alami. Bahkan waktu melihat mayat Lily yang di potong-potong oleh ayahnya sendiri membuat Melisa merasa tak berdaya dan lemas. Sindi pun pamit pergi ke kamar dia untuk mengganti baju. Ia ingin ikut mereka bertiga mencari ibu Lily. Setelah selesai menganti baju, Sindi pun kembali ke kamar Ria dan mengajak mereka bertiga untuk pergi mencari ibu Lily. Namun, mereka tak mungkin bisa menemukan ibu Lily tanpa melihat wajah dari Santi tersebut. Melisa pun menawarkan diri untuk menggambarkan wajah dari Santi. Siapa sangka jika Melisa bakat dan ahli dalam menggambar. Melisa menggambarkan wajah Santi dengan lilai. Melisa mampu menggambar wajah manusia dengan detail sehingga bisa menyerupai aslinya. Selesai gambar jadi, Sindi menambahkan nomor dia di bagian bawah gambar tersebut. Agar siapapun yang menemui Santi bisa menghubungi nomor yang tersedia tersebut. Mereka mencari ibu Lily dengan berjalan kaki. Karena dengan berjalan kaki, mereka bisa lebih leluasan dan teliti untuk mencari ibu Lily. Untuk menambah kerjaan yang mereka lakukan, mereka berempat pergi menuju tukang fotocopy untuk memfotocopy gambaran dari melisa tersebut. Setelah selesai memfotocopy wajah Santi hingga beberapa bagian, mereka memasangkan hasil foto copy tersebut di batang pohon dan tiang listrik yang berada di pinggiran jalan. Tak lupa mereka pun membagikan hasil fotocopy ke orang-orang yang mereka temui dijalan raya. "Permisi pak, apakah bapak pernah melihat orang ini?" tanya Ria kepada bapak-bapak tukang becak "Maaf neng, nggak pernah lihat. Dan nggak pernah menemukan pelanggan yang mirip dengan ibu ini." jawab tukang becak tersebut "Ouh.yaudah makasih yah pak, oh ya ini lembaran tolong disimpan ya pak, siapa tahu nantinya bapak ketemu dengan orang ini." Ria memberikan lembaran foto copy tersebut kepada bapak-bapak yang ada di depannya Ria dan Sindi saling memisahkan diri agar lebih cepat menemukan ibu Lily. Ria mencoba menanyakan semua tukang ojek yang tepat berada di depannya, namun, tak sedikitpun dari mereka yang mengetahui keberadaan dari Santi. Walau begitu, Ria membagikan lembaran gambar tersebut satu persatu kepada bapak tukang ojek yang ada di depannya. Semetara Lily, menatap gambar ibunya yang tertempel di batang pohon dengan air mata yang menetes deras di pipinya. Dirinya begitu kangen dengan pelukan hangat dari. ibunya tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN