Kembali mencuri

1009 Kata
"Ibu, Lily kangen sama ibu. Lily ingin bisa ketemu dengan ibu," rintih Lily melihat foto ibunya Melisa yang melihat Lily sedang nangis pun mulai menghampiri Lily, "Lily, kamu kangen banget ya sama ibu kamu?" Lily yang melihat Melisa mulai menghapus air matanya dan mengangguk dengan pelan. "Kamu yang sabar yah, kamu pasti akan bertemu kok dengan ibu kamu. Dan kamu bisa melihatnya dengan nyata." Hibur Melisa Lily pun mengangguk pelan, dan memeluk erat tubuh melisa. Lily merasa beruntung dikelilingi oleh beberapa orang baik. "Makasih yah Kak sudah mau membantu Lily." ujar Lily kepada Melisa Melisa pun tersenyum dan mengangguk dengan pelan. Dirinya mulai mengajak Lily untuk pergi mencari ibunya. Melisa dan Lily pun pergi menelusuri jalan. Mereka berdua berharap bisa bertemu dengan Santi. Sementara Ria dan Sindi sudah berkeliling mencari tahu keberadaan Santi lewat orang-orang yang mereka temui pun tak mendapatkan kabar yang baik. Setiap mereka bertanya, jawaban mereka adalah tidak tahu tentang keberadaan Santi yang entah dimana. Hingga akhirnya mereka berempat kembali bertemu. Mereka saling memberi kabar yang tidak baik bagi Lily. Lily merasa sedikit kecewa dengan hal itu, Namun, dirinya sendiri juga tak tahu harus berbuat seperti apa lagi. "Maafin aku Li, aku belum berhasil menemukan dan cari tahu dimana keberadaan dari ibu kamu." ujar Ria dengan bersujud memegang pundak Lily "Tak apa-apa kok kak, Kalian sudah mau membantu Lily mencari ibu Lily saja Lily sudah berterima kasih kepada kalian. Lily merasa senang bisa bertemu dan di kelilingi oleh orang-orang yang baik seperti kalian. Lily sayang sama kalian semua." ujar Lily mengungkapkan ketulusan hatinya Mereka pun tersenyum dan memeluk Lily. Kebersamaan mereka seperti halnya sebuah keluarga kecil yang bahagia. Bunyi telepon Sindi pun berbunyi, dia mendapatkan panggilan dari Hendri. Tak menunggu waktu lama pun segera mengangkat panggilan dari suami tersebut. "Halo, pah. Ada apa?" tanya Sindi "Mamah sekarang ada di mana sih, Papah bangun tidur nggak ada mamah di samping papah. Pagi-pagi seperti ini kamu pergi kemana sih emangnya?" tanya Hendri "Maaf yah pah, tadi nggak bilang sama kamu. Soalnya kamu masih tidur dengan pulas. Jadi aku nggak tega kalau harus bangunin kamu." ujar Sindi "Emangnya kamu lagi dimana?" "Aku sama Ria sedang mencari makanan pah buat kita sarapan." jawab Sindi "Kenapa nggak bangunin papah saja sih, kan biar ada yang jagain kalian berdua." "Ah papah, sudahlah ini lagi ngantri di dengerin banyak orang malu." Sindi pun mengucapkan salam dan menutup panggilannya ke Hendri. Sindi masih belum siap buat ceritain semua kepada Hendri. "Mah, Papah cariin kita yah?" tanya Ria "Iyah, papah khawatir karena pagi-pagi kita sudah pergi apalagi kita nggak pamit sama dia." jawab Sindi "Segitu khawatirnya yah Papah mah, di umur kalian masih bisa romantis saja." goda Ria kepada mamahnya "Ih dasar. Sudah ayok kita pergi ke warung terdekat sini untuk membeli makanan. Kita istirahat terlebih dahulu. Nanti sore atau kapan kita lanjutkan lagi." ujar Sindi Merekapun pergi mencari warung terdekat. Setelah memesan, mereka mencari tempat untuk makan. Mereka memilih tempat paling pojok, dimana mereka bisa leluasa ngobrol dengan Lily dan Melisa. Tak lama, mereka di datangi oleh seorang kakek-kakek yang mereka sendiri tak tahu siapa kakek tersebut. "Nak, apakah kakek boleh duduk disini?" tanya kakek tersebut kepada Sindi dan Ria Karena kasihan, mereka pun mengizinkan kakek tersebut untuk duduk di samping mereka. Tak lupa, Sindi pun memanggil pelayan untuk memesan sebuah makanan untuk sang kakek. "Apa kalian sudah lama saling kenal?" tanya kakek tersebut "Iyah lah kek, kan ini anak saya." jawab Sindi "Bukan kamu dan anak kamu, tapi kamu dengan mereka." ujar kakek menunjuk ke arah Lily dan Melisa Ria dan Sindi pun saling menatap mata, mereka tak. tahu jika kakek yang berada di depannya bisa melihat Lily dan Melisa. "Kenapa kalian diam? apakah kalian bingung kenapa aku bisa melihat mereka berdua?" tanya kakek tersebut "Emangnya sebenarnya kakek siapa? Dan apa tujuan kakek datang kemari?" tanya Ria penasaran terhadap kakek yang ada di hadapannya tersebut "Kamu tak perlu tahu siapa aku, tujuan nku kesini karena ingin membantu kalian untuk mencari ibu dari anak kecil ini." ujar kakek tersebut "Apa kakek serius? dan bagaimana cara kakek melakukannya?" tanya Lily yang penasaran "Bentar, kakek coba terlebih dahulu." Kakek tersebut pun menutup matanya dan meletakkan kedua tangannya di meja. Ia bukan nampak seperti orang yang biasa. Setelah beberapa menit dirinya diam dan menutup mata, Akhirnya sang kakek membuka matanya."Kamu harus senang nak, karena ibu kamu baik-baik saja. Dirinya selalu merindukan kamu dan kakak kamu di sampingnya. Ibu. kamu itu menyesal karena tidak bisa menyelamatkan nyawa kamu waktu di bunuh oleh ayah kamu." "Dimana dia tinggal kek?" tanya Lily yang mulai tersenyum. kembali "Dia tinggal di sebuah gubuk kecil di tengah-tengah sawah. Dirinya hidup sebatang kara." ujar Kakek tersebut "Apakah saya bisa meminta tolong agar kakek bisa kasih tahu secara jelas dimana keberadaan dari Ibu?" tanya LIly yang semakin nggak sabar untuk bertemu dengan orang tuanya. Tak berselang lama, ada suara perempuan yang sedang meminta tolong dengan keras. Karena merasa penasaran dengan apa yang terjadi, akhirnya mereka semua pergi mencari tahu akan hal tersebut. Dimana disana terlihat ibu-ibu dan sebuah jambret yang sedang rebutan tas. Berujung ada Satpam, penjahat tersebut pun di tangkap dan dibuka maskernya di hadapan semua orang. Betapa terkejutnya Sindi, Ria dan lainnya setelah melihat orang di balik topeng tersebut yang tak lain adalah Rio. "Ayah..." ucap Lily "Lepasin saya..." Rio berusaha melepaskan tangan satpam yang menahan dirinya Terlihat Rio mulai merogoh sebuah pisau yang ada di sakunya. Karena merasa takut, Satpam pun perlahan melepaskan tangannya tersebut. Dengan memanfaatkan benda di tangannya, Rio mengancam semua orang yang ada di sana untuk memberikan barang berharga milik mereka kepada Rio. Sindi pun mengambil HP-nya dan diam-diam menghubungi polisi. Semua orang memberikan barang miliknya kepada Rio. Mulai dari tas dan perhiasan berharga milik mereka. Sampai di hadapan Sindi dan lainnya, Rio tidak peduli dengan mereka. Yang Rio pedulikan sekarang adalah uang. "Berikan barang milik kamu sekarang juga!" ujar Rio dengan menyodorkan pisau ke arah Sindi "Gua nggak mau. Loh tuh masih muda Rio, harusnya lo tuh bisa berubah dengan bekerja yang lebih halal. Bukan jadi preman seperti sekarang. Kamu tahu nggak sih apa yang lily. rasakan sekarang?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN