Kematian Satpam sekolah

1006 Kata
"Anakmu sekarang lagi nangis karena melihat kelakuan kamu yang masih belum bisa berubah Rio." sambung Sindi "Nggak usah banyak omong deh kamu, gua tak punya urusan sama loh. Sekarang berikan harta loh ke gua." ancam Rio menyodorkan pisaunya Karena takut kenapa-napa, Lily mendorong ayahnya tersebut. Tubuh Rio pun tersungkur ke tanah. Melihat semua tas dan barang yang terlepas dari tangan Rio, semua orang berbondong-bondong mengambil barang miliknya tersebut. Ketika hendak berdiri, Polisi pun datang menangkap Rio. Karena takut hal kemarin terulang kembali, Polisi segera membronggol tangan Rio. Rio pun dibawa ke mobil polisi. Polisi pun mengajak Sindi untuk sebagai sanksi di kantor. Sindi pun mengikuti Polisi tersebut. Sampai di kantor, Sindi pun membuka suara soal apa yang dilakukan oleh Rio. Rio di tetapkan sebagai tersangka. Sindi pun tersenyum tipis ke arah Rio. Dirinya ingin Rio bisa menyesali perbuatannya. "Awas yah kamu Sindi." ujar Rio "Gua nggak peduli yah dengan ancaman kamu itu." ucap Sindi Sindi pun pamit pulang. Dirinya pun pergi dari sana bersama dengan Ria. Lily yang keluar dari sana pun nampak dengan murung. "Kamu kenapa murung Li?" tanya Lily "Aku kasihan sama ayah, dia sendirian di dalam penjara." jawab Lily "Ayah kamu pantas mendapatkan itu semua Li, Dia berhak mendapatkan apa yang sesuai dengan perbuatan nya." ujar Sindi Lily pun pergi bersama Sindi dan Ria kembali ke hotel. Sampai Di hotel, Sindi segera pergi ke kamarnya menemui Hendri. Hendri yang melihat istrinya datang pun langsung menghampirinya. "Kamu dari mana sih mah, Katanya beli makanan. Terus mana makanannya?" tanya Hendri "Sindi pun terkejut mendengar pertanyaan dari suaminya tersebut. Ia tak mungkin menyuruh Ria untuk pergi mencari makanan sendirian. " Tadi ada anak kecil yang kelaparan gitu pah di jalan, karena merasa iba, akhirnya mama memberikan makanan kita ke anak tersebut deh." bohong Sindi Hendri pun mengangguk pelan dan mulai mengambil HP-nya. Ia memesankan makanan untuk dirinya dan anak istrinya lewat grab. Sindi pun merasa tak enak hati karena terus-terusan membohongi suaminya tersebut. Sindi pun pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Di samping itu, Lily masih terlihat murung dan sedih. Lily menyangga kepalanya dengan kedua tangannya. "Lily, apa kamu masih memikirkan ayah kamu?" tanya Ria memegang pundak Lily "Tidak kak, Lily teringat akan ibu Lily. Lily ingin sekali bertemu dengan nya. Andai Ayah tak berbuat onar pada waktu itu, pasti kakek yang kita temui di cafe tadi sudah mengatakan dimana ibu berada." isak Lily Ria memeluk tubuh Lily dan berusaha untuk menenangkan dirinya. "Sudah dong Li, Sebentar lagi kita pasti menemui ibu kamu kok." "Iyah Li, kamu pasti akan bertemu dengan ibu dalam kurun waktu yang dekat." sambung Melisa "Apa kakak masih ingat dengan ucapan kakek tadi? dia bilang jika ibu hidup sebatang kara di sebuah rumah kecil. Lily merasa takut jika ibu kenapa-napa." ujar Lily "Kamu jangan mikir yang tidak-tidak dulu yah Li, Ibu kamu pasti bisa kok menjaga dirinya sendiri." ujar Ria berusaha menenangkan pikiran Lily Lily pun mengangguk dengan pelan. Dirinya mencoba untuk mengatur pikiran buruknya terhadap ibunya. Ia harus bisa yakin jika ibunya tersebut akan baik-baik saja. Bunyi Pesan di dalam HP Ria pun berbunyi dengan ramai. Ria segera membuka w******p nya tersebut. Banyak pesan baru yang ada di group sekolahnya. "Gila... sekolah kita sudah banyak terjadi pembunuhan." "Pembunuhan apa lagi ini. Kan kita nggak ada yang masuk sekolah. karena liburan sekolah." "Kamu tahu satpam yang sering kali melakukan patroli malam nggak sih?" "Iyah kenapa emangnya?" "Tadi aku lewat, ada banyak polisi disertai ambulan di sana. Yang ternyata mereka lagi mencari satpam yang sudah tak pulang ke rumah selama dua hari. Dan setelah mereka mencari di sekolah kemarin, ditemukan mayat satpam tersebut yang di sertai dengan darah yang berceceran di lantai." "Hah masak sih? ya ampun." "Gua makin takut deh sekolah di sana." "Iyah, pingin pindah rasanya." "Percuma kalian ngomong seperti itu. Karena itu nggak akan terjadi kecuali kalau kita sudah lulus." "Kok bisa. gitu kenapa emangnya?" "Masa kalian nggak tahu sih kalau kepala sekolah kita ini mata duitan. Kemarin ada yang mengajukan diri untuk pindah dari sana disuruh bayar lima puluh juta dulu baru di izinkan untuk keluar dari sekolahan tersebut." "Sumpah, gua merasa kepala sekolahnya ini memang stres tahu nggak sih. Nggak ngerti dengan suasana dan keadaan yang terjadi didepan matanya sendiri. Yang ia pentingkan hanyalah uang dan nama baik sekolahnya agar tidak tercoreng dan terus menjadi sekolah yang favorit." "Iyah, dulu gua sangka sekolah itu tuh enak, aman, damai. Eh tau-taunya menyimpan beberapa banyak misteri yang masih belum jelas." "Iyah weh, apalagi sudah banyak korban. Andai berita itu di sebar, pasti sekolah itu sudah di tutup kali. yah." Ria membaca chat dari. Teman-teman nya satu persatu dari atas. Dirinya merasa terkejut mendapat kabar buruk yang disampaikan oleh temannya tersebut. "Gila yah, Alisa nggak ada kapok-kapoknya membunuh orang yang ada di sekolah tersebut." batin Ria Tak berselang lama, Sindi pun masuk menemui Ria dengan membawa makanan yang ada di tangannya. "Nak, ini makanan buat kamu. Tadi ayah kamu pesan lewat grab karena tahu jika ibu tidak membawa makanan." ujar Sindi dengan memberikan makanan tersebut kepada Ria Ria pun mulai mengambil makanan tersebut dari tangan Sindi. "Terima kasih yah mah," Ketika Sindi hendak keluar, Dirinya kembali membalikkan badannya. "Eh nak, emang benar ya soal sekolah kamu yang lagi viral di medsos ini?" Tanya Sindi dengan menunjukkan berita yang ada di ponselnya. Ria pun merasa terkejut karena berita yang baru dia Terima dari temannya sudah viral di medsos. "Ria nggak tahu mah, tapi tadi dapat berita dari teman sih gitu." "Ke apa sih nak kamu masih mau bertahan saja sekolah di sana?" "Mah, tadi teman aku. bilang kalau mau pindah dari sana akan dipersulit. Katanya harus bayar lima puluh juta terlebih dahulu baru bisa pindah. Dan kebijakan kepala sekolah itu sudah ditetapkan dan nggak bisa diganggu gugat." "Gila apa Kepala sekolahmu itu. Bukannya keselamatan dari siswanya yang dipentingkan malah uang. Bisa-bisanya orang stres kayak gitu jadi kepala sekolah." "Ntahlah mah, Ria juga nggak ngerti lagi dengan kebijakan kepala sekolah Ria yang semakin lama semakin nggak jelas seperti itu." "Kepala sekolah kamu tuh buta apa? masak terjadi kecelakaan beberapa kali matanya nggak melek."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN