"Nggak tahu lah mah, sebal banget aku sama kepala sekolahnya itu." ujar Ria
"Kayaknya sekolah kamu bakal nggak ada yang ngelirik lagi deh setelah berita ini tersebar." tebak Sindi
" Mah, Aku tahu kepala sekolahnya gimana. Dia pasti nggak akan tinggal diam dengan apa yang sudah terjadi." ucap Ria
"Walau berita ini di tutup dan dihapus. Sebagian yang sudah tahu pasti akan bilang ke lainnya agar tidak bersekolah di sana."
Ria mengangguk pelan dan mengambil makanan di depannya. Ria mulai makan makanan yang Sindi bawakan tersebut. Dimana makanan tersebut berisi Sepaket ayam geprek kesukaan Ria.
"Papah tahu banget yah mah, Ria ingin apa." ujar Ria
"Iyah dong, kamu kan memang sukanya itu, kalau nggak geprek ya murung. Kurang selera kalau makan."
Ria tertawa tipis, Sindi pun pergi meninggalkan Ria.
"Ria, apakah sekolah kamu seseram itu?" tanya Melisa kepada Ria
"Iyah, Di sana ada sosok hantu yang sepertinya memiliki dendam tersendiri kepada sekolah aku tersebut." ujar Ria
Tit... tit... Bunyi ponsel Ria pun berdering. Ria segera mengambil handphone nya tersebut. Dia melihat nama yang memanggilnya. Yang tak lain adalah Dita.
"Halo dit, ada apa?" tanya Ria
"Apa kamu sudah tahu soal berita yang tersebar? itu beneran adanya nggak sih?" tanya Dita
"Sepertinya Iyah deh Dit, Kan di group ada yang bahas. Dan salah satu teman kita pas lewat juga banyak polisi dan ambulance di sekolah kita."
"Ya ampun, gua makin was was deh. Sebesar apa sih dendam hantu tersebut kepada sekolah kita? Kok sampai segitunya."
"Ntahlah Dit, aku sendiri nggak tahu."
"Kamu masih di jogja apa?"
"Iyah ini masih. Kamu liburan di mana coba?"
"Aku di Sumatera ini. Ke rumah nenek aku. Tadi nggak sengaja main HP eh ada notifikasi tentang sekolah kita."
"Gua aja kaget setelah tahu dengan notifikasi tersebut. Mana seram lagi."
"Tapi tadi aku cari lagi beritanya sudah tidak ada Ri, sudah di take down."
"Mungkin nggak sih kalau kepala sekolah kita yang melakukan itu semua? secara dia kan nggak mau nama sekolahnya tercoreng. Kemarin ada yang pindah saja di suruh bayar beberapa juta."
"Sumpah gedek gua sama tuh kepala sekolah. Nggak ada habis-habisnya memeras muridnya."
"Mata duitan kan. Aku tadi disuruh mamah buat pindah dari sana. Tapi setelah tahu frekuensinya ya mamah suruh aku netap dan tetap berhati-hati."
"Keluarga gua juga desak supaya gua keluar dari sekolah itu loh. Tapi setelah dengar ini kayaknya mereka juga berfikir dua kali. Ya kali cuma pindah sekolah harus bayar beberapa juta terlebih dahulu."
"Makanya itu, kan mending buat shopping dan buka usaha. Ya kali harus bikin kaya kepala sekolah kita terus."
Terdengar Dita dipanggil oleh ibunya. Dita pun berpamitan menutup panggilannya tersebut.
Setelah teleponnya mati, Ria pun melanjutkan makannya tersebut.
"Aku penasaran deh sama sosok hantu yang sering meneror sekolah kamu itu Ri," ujar Melisa
"Kalau aku sudah masuk sekolah aku pasti akan ajak kamu ke sekolah kok." jawab Ria
"Waktu Lily ikut kakak, Lily tak melihat dia pun. Bahkan dia tak melakukan kejahatan sedikit pun." ujar Lily
"Aku pun nggak tahu. Aku saja heran pada waktu itu, kok bisa gitu dia nggak melakukan sesuatu yang merugikan di hari itu." ucap Ria
"Gua kok malah gedek sih dengar cerita kamu Ri, jahat banget. gitu tuh hantu."
"Eh ya, kalian pasti bisa dong bantu aku buat ngungkapin dendam yang selama ini di pendam oleh hantu tersebut." ujar Ria yang mulai menemukan ide
"Bisa kok, Kita pasti akan membantu sebisa kita." ujar Melisa
Lily pun mengangguk dengan tersenyum melihat Ria.
Ria pun semakin semangat untuk mencari. tahu identitas dari Alisa. Ria memeluk kedua sahabat hantunya tersebut.
Mereka sepakat bekerja sama untuk mengungkapkan misteri dibalik kejahatan dari Alisa.
"Mukanya menyeramkan nggak kak?" tanya Lily
"Iyah sih, muka dia dipenuhi dengan luka dan darah kalau lagi marah. Tapi, kalau sekedar menunjukkan penampakannya dia tuh cantik."
"Ouh gitu kak, kalau kakak masuk aku juga mau ikut ke sekolah kakak deh. Biar bisa lihat secara langsung muka si hantu yang meneror sekolah kakak tersebut." ujar Lily
Ria mengangguk pelan sembari tersenyum ke arah Lily.
"Kak, kapan kita bisa mencari ibu lagi?" tanya Lily
"Oh ya bentar deh, kan tadi kakek itu bilang kalau ibu kamu tinggal sebatang kara di salah satu rumah pencil di tengah-tengah sawah. Jadi kakak mau cari tahu dulu daerah-daerah sini yang ada persawahannya. Setelah ketemu kita bisa langsung ke sana." ucap Ria
Ria pun segera mengambil laptop nya. Dirinya segera mungkin membuka map untuk mengetahui daerah yang ada persawahannya. Dimana terlihat ada empat daerah yang ada sawahnya.
Ria pun menunjukkan daerah tersebut kepada Lily dan Melisa. Dimana daerah tersebut tak jauh jaraknya dari hotel yang mereka tinggali sekarang.
"Gimana nih? kita ke sana sekarang?" tanya Ria menawarkan
"Gapapa kan kak kalau sekarang? lily pingin banget cepat-cepat bertemu dengan ibu."
"Ya udah ayok."
Ria pun bergegas pergi ke kamar mandi untuk mandi. Selesai ganti baju, Ria pun mengajak mereka berdua untuk pergi mencari ibu Lily.
Untuk menempuh ke daerah A, Ria menggunakan ojek yang sedang mangkal di pinggir jalan.
Sepanjang jalan, Ria menikmati indahnya pemandangan dan sejuknya udara di jogja.
Sampai. di tujuan, Ria pun menelusuri jalan untuk menemukan daerah persawahan.
"Dimana yah letaknya. sawah di sini?" tanya Ria kepada Lily dan Melisa
"Nggak tahu kak, lom kelihatan juga."
Ria pun menghampiri ibu-ibu yang sedang berkumpul tersebut.
"Permisi bu, disini sawahnya dimana yah bu?" tanya Ria kepada ibu-ibu tersebut
"Ouh, di sana neng. Lurus terus nanti ketemu kok." jawab salah satu ibu dengan menunjukkan sebuah jalan setapak di depan Ria
"Emangnya eneng dari mana? Kok nanyanya sawah neng?" tanya salah satu ibu lainnya
"Saya bukan asli sini bu, kebetulan saya sedang ada tugas penelitian padi. Saya cari di. map dan daerah ini yang paling dekat dengan hotel yang saya tinggali." ujar Ria
"Owalah. Yaudah hati-hati. yah nak, Semoga mendapatkan hasil yang baik." ujar ibu tersebut
Ria pun tersenyum dan mengucapkan Terima kasih.
Ria tak menyangka jika di. daerah sana orang-orangnya begitu ramah dan welcome dengan orang yang baru mereka kenal.
Ria pun melanjutkan perjalanannya dengan mengikuti jalan setapak yang ada di depannya.
Mereka mengira jika jaraknya dekat, namun, beberapa kilo meter mereka berjalan masih belum melihat area persawahan.